
Ralph Fiennes dan Val Kilmer dalam The Prince of Egypt (Dok. IMDb)
JawaPos.com - The Prince of Egypt adalah sebuah animasi musikal drama Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 1998.
Produksi perdana DreamWorks Pictures dan DreamWorks Animation ini menampilkan kisah epik masa lalu berdasarkan Kitab Keluaran di Alkitab, dengan durasi 99 menit dan dibalut dengan lagu-lagu orisinal yang menggetarkan hati penonton.
Film ini disutradarai bersama oleh Brenda Chapman, Steve Hickner, dan Simon Wells, serta diproduseri oleh Jeffrey Katzenberg, Penney Finkelman Cox, dan Sandra Rabins.
Naskah ditulis oleh Philip LaZebnik, sedangkan Hans Zimmer bertanggung jawab atas penataan musik yang menambah megah nuansa kisah nabi Musa. Universal Studios mendistribusikan film ini ke pasar global dengan anggaran sekitar 60 juta dolar AS.
Pada prolog cerita, kita menyaksikan bangsa Ibrani bekerja paksa membangun monumen Mesir kuno di tepi Sungai Nil, di bawah tekanan dan ancaman cambuk para pengawas.
Adegan kerumunan budak yang separuh tenggelam dalam terik gurun dan bayangan patung Sphinx raksasa menciptakan atmosfer epik dan mencekam bagi penonton masa kini.
Seorang ibu Ibrani, Yocheved, menyelundupkan bayinya ke dalam keranjang dan meletakkannya di Sungai Nil untuk menyelamatkannya dari perintah pembunuhan bayi laki-laki oleh Firaun.
Keranjang itu terbawa arus hingga ditemukan oleh Permaisuri Tuya, yang kemudian menamai bayi itu Musa dan membesarkannya sebagai putra angkat kerajaan.
Musa tumbuh menjadi pangeran Mesir yang cakap, bersahabat dekat dengan Rameses, putra kandung Firaun.
Persahabatan keduanya diuji ketika Musa tanpa sengaja mengetahui identitas aslinya sebagai Ibrani dan melihat penderitaan kaumnya di tanah Mesir.
Ketika kemarahan yang terpendam memuncak, Musa melindungi seorang pekerja Ibrani yang dianiaya, hingga secara tidak sengaja menewaskan seorang pengawas Mesir. Rasa bersalah dan ketakutan membuatnya melarikan diri dari istana ke padang gurun, mengakhiri statusnya sebagai pangeran Mesir.
Dalam pengasingan di tanah Midian, Musa bertemu Jethro dan menikahi putrinya, Tzipporah. Hidup sederhana sebagai penggembala, ia dipanggil Tuhan melalui semak yang terbakar namun tidak hangus, yang menugaskannya memimpin umat Ibrani keluar dari perbudakan.
Berbekal janji ilahi, Musa kembali ke Mesir bersama Tzipporah dan saudaranya, Harun, menentang Firaun Rameses untuk membebaskan bangsa Ibrani. Penolakan Sang Raja memicu serangkaian tulah dahsyat: air Nil berubah menjadi darah, banjir katak, hujan belalang, dan wabah penyakit yang mengerikan menimpa Mesir satu per satu.
Tulah terakhir, kematian anak sulung Mesir, akhirnya memaksa Rameses melepas umat Ibrani. Namun penyesalan membuatnya mengejar mereka dengan pasukan hingga terperangkap antara tentara Mesir dan Laut Merah.
Dalam klimaks yang memukau, Musa membelah laut, memuluskan jalan keselamatan bagi bangsa yang ditindas, sementara air menutup kembali mengepung pasukan kejam Rameses.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
