Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Agustus 2025 | 21.08 WIB

Sinopsis Film The Prince of Egypt: Perjalanan dari Pangeran Menjadi Pemimpin yang Membelah Lautan

Ralph Fiennes dan Val Kilmer dalam The Prince of Egypt (Dok. IMDb) - Image

Ralph Fiennes dan Val Kilmer dalam The Prince of Egypt (Dok. IMDb)

JawaPos.com - The Prince of Egypt adalah sebuah animasi musikal drama Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 1998.

Produksi perdana DreamWorks Pictures dan DreamWorks Animation ini menampilkan kisah epik masa lalu berdasarkan Kitab Keluaran di Alkitab, dengan durasi 99 menit dan dibalut dengan lagu-lagu orisinal yang menggetarkan hati penonton.

Film ini disutradarai bersama oleh Brenda Chapman, Steve Hickner, dan Simon Wells, serta diproduseri oleh Jeffrey Katzenberg, Penney Finkelman Cox, dan Sandra Rabins.

Naskah ditulis oleh Philip LaZebnik, sedangkan Hans Zimmer bertanggung jawab atas penataan musik yang menambah megah nuansa kisah nabi Musa. Universal Studios mendistribusikan film ini ke pasar global dengan anggaran sekitar 60 juta dolar AS.

Pada prolog cerita, kita menyaksikan bangsa Ibrani bekerja paksa membangun monumen Mesir kuno di tepi Sungai Nil, di bawah tekanan dan ancaman cambuk para pengawas.

Adegan kerumunan budak yang separuh tenggelam dalam terik gurun dan bayangan patung Sphinx raksasa menciptakan atmosfer epik dan mencekam bagi penonton masa kini.

Seorang ibu Ibrani, Yocheved, menyelundupkan bayinya ke dalam keranjang dan meletakkannya di Sungai Nil untuk menyelamatkannya dari perintah pembunuhan bayi laki-laki oleh Firaun.

Keranjang itu terbawa arus hingga ditemukan oleh Permaisuri Tuya, yang kemudian menamai bayi itu Musa dan membesarkannya sebagai putra angkat kerajaan.

Musa tumbuh menjadi pangeran Mesir yang cakap, bersahabat dekat dengan Rameses, putra kandung Firaun.

Persahabatan keduanya diuji ketika Musa tanpa sengaja mengetahui identitas aslinya sebagai Ibrani dan melihat penderitaan kaumnya di tanah Mesir.

Ketika kemarahan yang terpendam memuncak, Musa melindungi seorang pekerja Ibrani yang dianiaya, hingga secara tidak sengaja menewaskan seorang pengawas Mesir. Rasa bersalah dan ketakutan membuatnya melarikan diri dari istana ke padang gurun, mengakhiri statusnya sebagai pangeran Mesir.

Dalam pengasingan di tanah Midian, Musa bertemu Jethro dan menikahi putrinya, Tzipporah. Hidup sederhana sebagai penggembala, ia dipanggil Tuhan melalui semak yang terbakar namun tidak hangus, yang menugaskannya memimpin umat Ibrani keluar dari perbudakan.

Berbekal janji ilahi, Musa kembali ke Mesir bersama Tzipporah dan saudaranya, Harun, menentang Firaun Rameses untuk membebaskan bangsa Ibrani. Penolakan Sang Raja memicu serangkaian tulah dahsyat: air Nil berubah menjadi darah, banjir katak, hujan belalang, dan wabah penyakit yang mengerikan menimpa Mesir satu per satu.

Tulah terakhir, kematian anak sulung Mesir, akhirnya memaksa Rameses melepas umat Ibrani. Namun penyesalan membuatnya mengejar mereka dengan pasukan hingga terperangkap antara tentara Mesir dan Laut Merah.

Dalam klimaks yang memukau, Musa membelah laut, memuluskan jalan keselamatan bagi bangsa yang ditindas, sementara air menutup kembali mengepung pasukan kejam Rameses.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore