
Salah satu adegan Julia Roberts di film Eat Pray Love.
JawaPos.com - Aktor, penulis, sutradara, sekaligus produser film Indonesia, Tino Saroengallo tutup usia hari ini, jumat (27/7). Dia tutup usia 17 hari setelah ulang tahunnya yang ke 60 pada 10 Juli lalu. Lalu siapakah Tino? Berikut perjalanan karirnya.
1. Sempat Menjadi Salesman
Sebelum menjadi seorang sineas kenamaan, perjalanan karirnya tidaklah mudah. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Sastra Jurusan Asia Timur Program Studi Cina, Universitas Indonesia (UI) di 1986, dia sempat menjadi salesman door to door di perusahaan elektronik selama enam bulan.
2. Menjadi Jurnalis
Bekal interaksi dengan banyak orang selama menjadi salesman membuatnya menjadi seorang yang luwes dan cekatan. Ditambah memiliki hobi menulis, Tino muda mulai berkecimpung di pelbagai profesi berkaitan dengan media mulai tahun 1987.
Di mulai dari reporter di tabloid dwi-mingguan Mutiara, majalah berita dwi-mingguan X’tra, majalah berita bergambar Jakarta-Jakarta, penulis lepas di berbagai media hingga akhirnya masuk ke dunia audio-visual pada saat stasiun televisi swasta RCTI berdiri tahun 1988.
3. Menjadi Sutradara Iklan Indomie
Dari program televisi, Tino merambah ke produksi film iklan dan film cerita. Salah satu iklan yang pernah dibuatnya adalah, iklan Indomie 50 tahun merdeka. Sejak itu, dia memutuskan untuk lebih menekuni profesi Asisten Sutradara dan Manajer Produksi.
4. Menjadi Manajer Produksi
Di dunia film, dia lebih banyak berkecimpung di departemen produksi menjadi Manajer Produksi, Manajer Lokasi, Produser. Film cerita yang pernah dikerjakan sebagai bagian dari departemen produksi adalah Victory (Mark Peploe, 1995), Last to Surrender (David Mitchell, 1999), Pasir Berbisik (Nan T. Achnas, 2001), Ca-bau-kan (Nia Dinata, 2002), The Fall (Tarsem Singh, 2006), Jermal (Ravi L. Bharwani, Rayya Makarim, Orlow Seunke, 2008), Eat Pray Love (Ryan Murphy, 2010), Sang Penari (Ifa Ifansyah, 2011) dan terakhir The Philosophers (John Huddles, 2013).
5. Menjajal Sebagai Aktor Sekelebat
Berperan apik dibalik layar, Tino juga menjajal peran di depan layar. Dia kemudian terjun sebagai aktor. Di beberapa film dia tampil sebagai figuran, cameo ataupun peran pendukung. Di antaranya, Petualangan Sherina (Riri Riza, 2000), Arisan (Nia diNata, 2003), Pesan Dari Surga (Sekar Ayu Asmara, 2006), Dunia Mereka (Lasya Fauzia, 2006), Quickie Express (Dimas Djayadiningrat, 2007), Tri Mas Getir (Rako Prijanto, 2008), MBA (Winalda, 2008), Jagad X-Code (Herwin Novianto, 2009), Pintu Terlarang (Joko Anwar, 2009), Kabayan Jadi Miliuner (Guntur Soeharjanto, 2010), Rayya: Cahaya Di Atas Cahaya (Viva Westi, 2012), Soedirman (Viva Westi, 2015), Alim Lam Mim (Anggy Umbara, 2015), The Fighters (Monty Tiwa, 2015) dan Bis Malam (Emil Heradi, 2016). Dia pun menyebut dirinya sebagai spesialis peran sekelebat.
6. Spesialis Film Dokumenter
Di dunia film dokumenter, dia pernah memproduksi sebuah film dokumenter sejarah politik Indonesia berjudul Student Movement in Indonesia: they forced them to be violent yang mendapatkan penghargaan sebagai Film Pendek Terbaik dalam Asia Pacific Film Festival ke-47 di Seoul pada bulan Oktober 2002 dan Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Terbaik dalam Festival Film Indonesia di Jakarta pada tahun 2004.
Tino juga banyak terlibat dalam pembuatan film dokumenter televisi tentang Indonesia maupun peliputan berita stasiun televisi ARD-TV Jerman di Indonesia. Pada awal November 2011, dia merilis film dokumenter tentang upacara pemakaman di Tana Toraja berjudul Hidup Untuk Mati (They Love to Die).

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
