Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 19 Juni 2025 | 17.42 WIB

28 Years Later: Menggugah di Awal, Kehilangan Arah di Akhir

Adegan film 28 Years Later. (Istimewa) - Image

Adegan film 28 Years Later. (Istimewa)

JawaPos.com - Dua dekade lalu, tepatnya tahun 2004, dunia film kedatangan sebuah judul berjudul 28 Days Later. Film tentang infeksi virus yang membuat manusia menjadi zombie haus darah ini disebut banyak orang sebagai salah satu film zombie terbaik pada masanya.

Kesuksesan film yang disutradarai Danny Boyle dan penulis Alex Garland ini kemudian disusul oleh sekuelnya yang hadir pada 2007 dengan judul 28 Weeks Later yang ditukangi oleh sineas Juan Carlos Fresnadillo. Meski tidak semeledak film pertamanya, film kedua dari franchise tersebut masih mendapat banyak apresiasi dari para penggemar film.

Tahun ini, 21 tahun sejak perilisan film pertamanya, Danny Boyle dan Alex Garland kembali menggarap film ketiganya yang berjudul 28 Years Later.

Sayang, dari sudut pandang pribadi, film ini gagal memenuhi ekspektasi.

Sesuai judul, latar waktu 28 Years Later terjadi 28 tahun setelah film pertamanya, di mana virus yang kelak disebut dengan istilah Rage Virus terus menggila dan menjangkiti manusia di seluruh daratan Eropa. Kondisi ini memaksa sejumlah daerah untuk hidup layaknya zaman abad pertengahan, di mana mereka hidup di dalam sebuah benteng dan hanya bersenjatakan panah.

28 Years Later mengisahkan sebuah keluarga yang terdiri dari pasangan suami-istri Jamie (Aaron Taylor-Johnson) dan Isla (Jodie Comer) serta anak tunggal mereka, Spikey (Alfie Williams). Ketiganya hidup di sebuah pulau kecil yang terisolasi dari daratan utama, dan hanya bisa keluar dari pulau pada waktu tertentu ketika air laut sedang surut.

Suatu hari, Jamie mengajak Spikey melakukan perjalanan pertamanya ke daratan utama untuk melatihnya membunuh zombie dan sembari mengumpulkan bahan-bahan yang mereka perlukan untuk bertahan hidup di pulau. Isla tidak ikut serta karena sedang terbaring sakit dan tak kunjung sembuh lantaran tidak ada seorang dokter di pulau itu.

Setelah melewati malam yang mencekam dan mendebarkan, Jamie dan Spikey akhirnya pulang kembali ke pulau tersebut. Bersama warga pulau lainnya, mereka merayakan keberhasilan perjalanan perdana Spikey.

Namun, di tengah hiruk pikuk pesta, Spikey menemukan sebuah fakta bahwa hidup seorang dokter bernama Ian Kelson (Ralph Fiennes) di daratan utama. Dokter yang diasingkan dari peradaban karena dianggap aneh dan berbeda.

Berbekal dorongan rasa penasaran dan ingin menyembuhkan Isla dari sakitnya, Spikey pun melakukan perjalanan berbahaya bersama sang ibu ke jantung daratan utama.

Sebelum masuk ke masalah utama, harus diakui bahwa 28 Years Later berhasil menggugah para penonton di awal-awal film. Danny Boyle dan Alex Garland berhasil mengemas kembali kengerian yang dihadapi umat manusia dalam 20 tahun terakhir dengan sangat baik.

Narasi audio puisi berjudul 'Boots' karya Rudyard Kipling merupakan sebuah pilihan yang amat cerdas dan efektif dalam membuat psikologi penonton benar-benar larut dalam keputusasaan yang dialami umat manusia di film ini.

Akting ketiga lakon utama film ini juga harus mendapat apresiasi. Kiprah Alfie Williams yang harus mengemban tugas sebagai protagonis utama pun layak diacungi jempol.

Sayang, segala hal positif ini kemudian runtuh begitu saja setelah memasuki pertengahan film. Entah apa yang terjadi di balik proses pembuatan 28 Years Later, film ini mendadak kehilangan arah.

Plot ceritanya menjadi kacau, tidak fokus dan bahkan sulit untuk dinalar untuk konteks film fiksi.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore