
Armada BBM Pertamina melintasi jalur terendam banjir dalam perjalanan dari Medan menuju Aceh Tamiang, Selasa (2/12/2025). (ANTARA/Tim Media Presiden Prabowo)
JawaPos.com - Bencana banjir bandang dan tanah longsor mengakibatkan rusaknya sejumlah fasilitas umum hingga jalur transportasi. Hal ini dirasakan oleh warga terdampak bencana pada tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Bencana yang menewaskan ratusan orang itu hingga kini masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Salah seorang warga Aceh, Erlanda Juliansyah Putra, mengungkapkan wilayah terdampak bencana hingga kini menghadapi krisis makanan, air bersih, listrik, serta akses komunikasi yang hampir lumpuh total.
Situasi yang berlangsung sejak beberapa hari terakhir membuat masyarakat mulai kehilangan harapan. Mereka mendesak pemerintah membuka akses bantuan internasional.
“Maaf Pak Presiden, kondisinya sudah tidak bisa ditolerir,” kata Erlanda dalam media sosial Instagram, Rabu (3/12).
Ia menilai, fokus penanganan bantuan yang terpecah di tiga provinsi membuat distribusi logistik semakin terhambat. Karena itu, ia meminta pemerintah pusat memberikan izin agar bantuan internasional dari negara-negara sahabat dapat masuk.
“Fokus bantuan terpecah di tiga provinsi. Izinkan Aceh dibuka akses untuk menerima bantuan internasional,” ucap Erlanda.
Menurut Erlanda, masyarakat di banyak titik kini kelaparan dan kehausan, karena seluruh jalur suplai terputus. Kondisi tersebut membuat bantuan logistik dari pemerintah maupun relawan sulit menjangkau wilayah pedalaman.
“Masyarakat lapar, mereka haus, akses terputus!” tegasnya.
Ia menyadari, pemerintah kerap dianggap salah dalam situasi darurat seperti ini. Namun, di lapangan, masyarakat benar-benar berada dalam kondisi ekstrem.
“Apa pun yang negara perbuat akan terlihat salah di mata masyarakat. Ketika negara dinilai tidak mampu menjamin kehidupan warganya, rakyat lapar, haus, gelap dan mencekam," tuturnya.
Erlanda menjelaskan, Aceh memiliki kondisi geografis yang luas dan kompleks, sehingga akses ke wilayah tengah, barat, dan timur berbeda-beda tingkat kesulitannya.
“Aceh itu luas dan untuk ke wilayah tengah, barat dan timur aksesnya itu berbeda,” urainya.
Ia pun menggambarkan, situasi di beberapa daerah begitu mengenaskan hingga membuat warga terpaksa menjarah demi bertahan hidup. Menurutnya, keadaan semakin mencekam terutama saat malam hari, karena tidak ada penerangan dan sinyal komunikasi terputus.
“Kami sudah seperti zombie menjarah untuk bertahan hidup,” ungkap Erlanda.
Bahkan, pada berbagai titik yang terisolasi, suasana digambarkan benar-benar gelap dan mengkhawatirkan. Ia menyebutkan sejumlah daerah terdampak parah, di antaranya Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Utara, Pidie Jaya, Bireuen, hingga Nagan Raya (Beutong).

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
