Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Agustus 2024 | 19.53 WIB

Sama dengan Film 'Vina', Anggy Umbara Juga Sampaikan Pesan Penting di Film 'Kromoleo'

Anggy Umbara mengaku senang karena film Vina: Sebelum 7 Hari ternyata membawa dampak besar bagi sejumlah orang. (Abdul Rahman/JawaPos.com)

JawaPos.com - Sutradara Anggy Umbara tidak mau sekedar membuat film untuk tujuan menghibur penonton namun tanpa ada pesan penting di dalamnya. Dia mengusahakan membuat film dengan pesan penting yang dapat disampaikannya ke penonton lewat film.
 
Hal itu diperlihatkan Anggy Umbara lewat film Vina: Sebelum 7 Hari yang mengangkat isu tentang penegakan hukum dan keadilan yang belum tercapai mengingat kasus kematian Vina Cirebon belum tuntas proses hukumnya diduga melibatkan sosok kuat.
 
Hal serupa juga dilakukan Anggy Umbara saat membuat film Kromoleo. Ceritanya diangkat dari kisah urban legend dengan pesan penting tentang kasus pelanggaran HAM masa lalu.
 
 
"Sejarah kelam di Indonesia tentang pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia, dan kita menolak lupa untuk itu. Sejarah terlupakan itu perlu diperhatikan. Sebelumnya kan juga dari kisah nyata (kasus Vina) yang belum mendapat keadilan," ujar Anggy Umbara di bilangan Epicentrum Rasuna Said Jakarta Selatan, belum lama ini.
 
Film Kromoleo mengambil latar belakang legenda urban di  Jawa Tengah terkait penampakan yang kerap terjadi. Yaitu rombongan hantu pembawa keranda jenazah bernama Kromoleo. 
 
Anggy Umbara berusaha mengangkat legenda dan kekayaan kebudayaan Indonesia ke dalam film dengan cerita tentang pelanggaran HAM masa lalu.
 
 
"Kita bisa analogikan dari mulai negara sampai ke keluarga yang mencoba menutupi masa lalu dari orang-orang terdahulu. Jadi apa pun yang disembunyikan, suatu saat nanti pasti akan terbongkar," paparnya.
 
Menariknya, di dalam film Kromoleo, Anggy Umbara menggunakan treatment berbeda dari sejumlah film garapannya sebelumnya. Dia menggunakan teknik pengambilan kamera yang cukup kasar dan beberapa kali memainkan zoom.
 
"Ini gak ada cosmetic lighting sama sekali. Kamera tidak pernah menyentuh tripod, handheld semua dengan zoom-zoom yg kasar kadang fokus kadang gelap. Pengen bikin film yang independen, kasar, dan kelam banget juga," tuturnya.
Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore