Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 April 2022 | 02.07 WIB

Menertawakan Sekelumit Realita Hidup Nicolas Cage Sebagai Nicolas Cage

Nicolas Cage as Nic Cage in The Unbearable Weight of Massive Talent. Photo Credit: Katalin Vermes/Lionsgate - Image

Nicolas Cage as Nic Cage in The Unbearable Weight of Massive Talent. Photo Credit: Katalin Vermes/Lionsgate

JawaPos.com - Setelah diganjar Piala Oscar berkat film Leaving Las Vegas dan sepak terjangnya yang memukau di Con Air dan Face/Off pada 1996, sulit rasanya mengafiliasikan aktor Nicolas Cage dengan film box office. Kalaupun ada satu atau dua film yang sukses meledak di pasaran dan ia terlibat di dalamnya, Cage hanya kebagian peran tokoh minor di situ.

Kejadian ini memang dialami oleh Cage di dunia nyata. Gilanya, hal ini kemudian diangkat ke layar lebar dalam sebuah film action-comedy berjudul The Unbearable Weight of Massive Talent di mana Cage harus berperan, tak lain dan tak bukan, sebagai dirinya sendiri.

Disutradarai oleh Tom Gormican, The Unbearable Weight of Massive Talent menyuguhkan petualangan tak terduga Cage sebagai seorang aktor tua yang sudah tidak laku. Dalam sesi wawancara yang dilakukan beberapa waktu lalu, dikutip dari berbagai sumber, Cage sendiri awalnya tidak mau terlibat dalam film ini karena takut film tersebut akan menjadi bumerang yang justru menjatuhkan reputasinya.

Namun, sutradara Tom Gormican akhirnya berhasil meyakinkan aktor berusia 58 tahun tersebut untuk menjadi lakon utama di sini.

The Unbearable Weight of Massive Talent bercerita tentang betapa depresinya seorang Nicolas Cage (Nicolas Cage) yang tak kunjung mendapatkan peran utama dari tiap casting film yang ia jalani. Ambisi dan kecintaannya pada dunia akting yang berlebihan juga membuat ia ditinggal oleh sang istri, Olivia Cage (Sharon Horgan) dan putri semata wayangnya, Addy Cage (Lily Mo Sheen).

Nasib Cage yang begitu nahas mendadak berubah 180 derajat ketika kawan yang juga agennya, Richard Fink (Neil Patrick Harris) menawarinya sebuah undangan untuk tampil di pesta ulang tahun seorang konglomerat bernama Javi Gutierrez (Pedro Pascal) di Mallorca, Spanyol.

Bukan tanpa alasan Javi ingin mengundang Cage di pesta ulang tahunnya. Ia adalah penggemar berat Cage dan film-filmnya. Sebagai orang dengan uang yang tidak berseri, ia bahkan memiliki satu ruangan khusus yang berisi segala koleksi dan pernak-pernik yang berhubungan dengan Cage.

Cage awalnya tidak mau menerima tawaran tersebut. Namun, penolakan yang ia terima dari sutradara film tempat ia melakukan casting dan adanya imbalan USD 1 juta dari acara ulang tahun tersebut akhirnya mengubah pikirannya.

Cage pun akhirnya terbang ke Mallorca, tanpa mengetahui bahwa sebuah petualangan yang ia tak sangka-sangka sudah menunggunya di sana.

Keputusan yang diambil Cage untuk menerima tawaran bermain di The Unbearable Weight of Massive Talent ternyata tidak salah. Walau jauh sekali dari standar film pemenang Piala Oscar, film ini boleh dibilang sebagai karya yang menghibur, khususnya untuk penonton yang cukup fasih dengan perjalanan karir Cage.

Walau adegan aksi di dalamnya sama sekali tidak ada yang istimewa, premis utama yang mengisahkan bagaimana perjuangan Cage bertahan hidup dan mengais rezeki dengan menjalani casting demi casting untuk peran utama adalah ide yang absurd, namun brilian di sisi lain.

Yang menarik, Cage sama sekali tidak berusaha terlihat keren di film ini. Ia justru tampil konyol, komikal, dan bodoh. Alih-alih menjadi sebuah film narsistik, The Unbearable Weight of Massive Talent justru membawa penonton untuk menertawakan nasibnya sebagai seorang aktor senjakala yang tidak dilirik lagi.

Beberapa elemen dari film-film terdahulu Cage yang dihadirkan di sini juga sukses mengajak penonton bernostalgia. Di beberapa adegan, Cage malah ikut memperagakan beberapa adegan dari judul-judul film sebelumnya yang dianggap begitu buruk dan memalukan bagi para kritikus film. Ia seolah-olah ikut menertawakan apa yang pernah ia kerjakan.

Pada akhirnya, film ini seperti mengajak penonton untuk memahami silang sengkarut kehidupan seorang Nicolas Cage sebagai dirinya sendiri dari sudut pandang komedi. Bila dipikirkan lebih jauh, rasanya sah-sah saja untuk mengatakan bahwa Cage pun memiliki hati yang cukup besar untuk mempermalukan dirinya sendiri di film ini.

Bicara kekurangan, The Unbearable Weight of Massive Talent tentu tidak luput dari itu. Para pemain pendukung lain yang hadir di sini tampak begitu 'lemah'. Penokohan mereka tidak kuat, dan mudah sekali untuk dilupakan. Lily Mo Sheen yang berperan sebagai putri Cage pun nyaris tampil tanpa ekspresi di sepanjang film.

Lemahnya jalan cerita dan begitu mudah ditebaknya plot film ini juga menjadi nilai minus. Andai saja unsur komedi film ini tidak kuat, The Unbearable Weight of Massive Talent bisa menjadi film yang sangat membosankan dan mendatangkan kantuk.

Untungnya, hal itu tidak terjadi. Setidaknya, dari sudut pandang pribadi.

Secara keseluruhan, The Unbearable Weight of Massive Talent adalah film menghibur yang layak ditonton. Bagi para penggemar Nick Cage, film ini bisa menawarkan sesuatu yang cukup unik. Sementara untuk Anda yang tidak menyukai Cage sebagai aktor dan hanya melihat sosoknya sebagai lelucon belaka, film ini mungkin bisa menjadi kesempatan bagi Anda untuk menertawakan realita kehidupannya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore