
DRAMA-THRILLER: Film Paranoia akan tayang 11 November. (Miles Films)
Ketakutan dan kekhawatiran. Dua rasa yang menghantui hati dan pikiran banyak orang pada awal pandemi Covid-19 merebak di Indonesia. Ketidakpastian menjadi satu-satunya hal yang pasti. Dina dan Laura menjalani masa-masa itu dalam film Paranoia.
---
ANGKA kasus persebaran Covid-19 melonjak. Pemerintah menggelontorkan sejumlah regulasi untuk mengentaskan pandemi. Salah satunya, pembebasan puluhan ribu narapidana untuk mencegah persebaran virus di penjara.
Hal tersebut justru menjadi mimpi buruk bagi Dina (Nirina Zubir). Suaminya, Gino (Lukman Sardi), masuk dalam daftar nama narapidana yang mendapat asimilasi. Menandakan bahwa pelarian Dina bersama putri semata wayang mereka, Laura (Caitlin North-Lewis), terancam.
Dina kabur tidak hanya membawa sang anak, tapi juga memboyong barang berharga milik Gino. Mencari keberadaan Dina, Laura, serta barang berharga tersebut menjadi prioritas Gino begitu menghirup udara bebas.
Dina dibayangi ketakutan. Curiga pada setiap orang yang ditemuinya. Begitu pula ketika Dina bertemu dengan Raka (Nicholas Saputra). Kehadiran Raka dengan kepribadiannya yang dingin menambah kesan menegangkan dalam cerita yang penuh kecemasan itu.
Karakter Dina dikisahkan menyimpan trauma mendalam terhadap sang suami. Psikologisnya terguncang setiap bertemu orang baru atau mendengar nama suaminya. Namun, dia tetap berusaha tenang dan seolah tak pernah terjadi apa-apa di hadapan orang lain.
Saat konferensi pers Kamis (4/11), Nirina menyatakan, berperan sebagai Dina menjadi tantangan sekaligus kebanggaan. ”Dapat kesempatan mengeksplorasi rasa, karakter, dan berperan menjadi orang lain itu luar biasa. I love Dina,’’ katanya.
Dia mengaku karakter serta latar belakang kehidupan Dina berbanding terbalik dengannya. Karena itu, perannya kali ini telah memberikan pelajaran serta pengalaman baru. ”Karena aku enggak pernah takut dan depresi. Tapi, Dina selalu ketakutan sampai anaknya menyebut dia parno,’’ jelas Nirina.
Karakter yang bertolak belakang dari kehidupan nyata juga harus dilakoni Lukman. Dia merupakan orang yang mengecam tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sedangkan, dalam project garapan Miles Films itu, dia harus berperangai kasar terhadap keluarganya. ”Sebagai bapak yang punya anak, iya sama. Tapi, Gino cukup keras. Inilah tugas aktor gimana caranya menghidupkan karakter itu,’’ kata Lukman.
Lukman melakukan observasi dan research mengenai hal-hal yang berbau kriminal dan thriller. Namun, itu bukanlah tantangan terbesar bagi suami Pricillia Pullunggono tersebut. Melainkan proses reading online. Menurut dia, mendalami karakter serta membangun chemistry dengan pemain lain semestinya dilakukan dengan tatap muka. Namun, itu tak bisa dilakukan mengingat proses praproduksi dikerjakan pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). ”Sulit banget. Awalnya tentu banyak tembok-tembok (rintangan, Red), tapi kan berproses,’’ ujar Lukman.
Sepanjang film, penonton akan dibuat ngeri dan merinding oleh akting Lukman. Dia berhasil menjiwai Gino dengan segala kejahatannya.
Nicholas Saputra menyatakan hal yang sama. Keterbatasan ruang gerak, persiapan waktu yang sebentar, serta membangun chemistry tanpa bertemu langsung menjadi tantangannya. Dia mesti mengatur waktu dan mengeksplorasi imajinasi seluas-luasnya.
”Harus tetap bisa efisien, cepat, banyak menggunakan imajinasi,’’ kata Nico.
Nico dikisahkan sebagai seorang ayah. Untuk mendapatkan soul dari perannya, dia banyak melihat teman-temannya yang sudah memiliki anak. ”Karena aktor modalnya juga empati ya. Dan tentunya dicampur dengan imajinasi,’’ ujarnya.
Karakter-karakter yang ada dibentuk dengan latar belakang kecemasan dari pengalaman yang berbeda. Penulis cerita sekaligus produser Mira Lesmana mengatakan bahwa proyek itu lahir akibat pandemi Covid-19.
Pengalaman akan ketakutan tertular, ketegangan saat bertemu orang, minimnya informasi tentang Covid-19, dan ketidakjelasan masa depan merupakan hal-hal yang ingin disajikan Paranoia. Istri aktor Mathias Muchus itu menumpahkan segala keparanoiannya dalam film tersebut. Dengan mengutamakan perasaan waswas, takut, dan khawatir dalam sebuah karya. ”Luar biasa banget memang memberanikan diri membuat sesuatu dan percaya bahwa film itu memang merekam masa,’’ papar Mira.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
