
Salah satu adegan dalam film Five Nights at Freddy
JawaPos.com - Walau tidak semuanya bernasib setali tiga uang, sudah jadi 'tradisi' bahwa film yang merupakan adaptasi dari video game biasanya akan berakhir flop. Five Nights at Freddy's lagi-lagi membuktikan hal tersebut.
Dalam video game-nya yang boleh dibilang sukses besar, Five Nights at Freddy's secara garis besar bercerita tentang seorang sekuriti jaga malam yang ditugaskan untuk menjaga sebuah restoran pizza bernama Freddy Fazbear's Pizza. Restoran keluarga tersebut terkenal dengan boneka-boneka animatroniknya yang lucu dan kerap menghibur pengunjung yang datang.
Kengerian muncul ketika boneka-boneka tersebut ternyata bisa berjalan sendiri pada malam hari dan terus berusaha membunuh sang sekuriti. Sang sekuriti harus bertahan hingga pukul 06.00 pagi selama 5 hari beruntun untuk tetap hidup.
Berangkat dari premis yang sederhana dan konsep menarik itu, sutradara Emma Tammi kemudian mengangkatnya ke layar lebar dengan menggaet sejumlah aktor seperti Josh Hutcherson, Matthew Lillard, Elizabeth Lail, Piper Rubio dan lainnya.
Sangat disayangkan, eksekusinya boleh dibilang sangat acak-acakan akibat alur cerita yang ngalor ngidul ngetan ngulon.
Five Nights at Freddy's mengisahkan kehidupan Mike Schmidt (Hutcherson), seorang pemuda problematik yang memiliki gangguan tidur akibat trauma masa lalunya. Hal ini membuat Mike kerap kali dipecat dari tempatnya bekerja. Padahal, di sisi lain, ia juga harus menghidupi adik perempuannya, Abby (Rubio).
Suatu hari, di tengah keputusasaannya, Mike mendapat tawaran pekerjaan dari konsultan karirnya, Steve Raglan (Lillard) untuk menjadi sekuriti jaga malam di sebuah restoran terbengkalai bernama Freddy Fazbear's Pizza. Tidak punya opsi pekerjaan yang lebih baik, Mike akhirnya menyanggupi tawaran tersebut.
Mike tidak menyadari bahwa keputusannya itu kelak akan membuat hidupnya terancam oleh boneka-boneka animatronik di restoran tersebut yang, secara misterius, bisa bergerak sendiri di malam hari dan berusaha membunuh siapa pun yang ada di sana.
Five Nights at Freddy's sebetulnya diawali dengan cukup baik dan menjanjikan. Sayangnya, semua hancur begitu saja begitu film ini memasuki inti ceritanya.
Entah karena kurang referensi atau tidak mendalami cerita dari video game-nya, sutradara Emma Tammi tidak hanya gagal menyajikan kengerian di film ini, tapi juga gagal membuat alur ceritanya bisa dinalar dengan baik.
Tanda-tanda flop-nya film ini sudah dimulai dari tidak logisnya premis dasar film ini: Buat apa sebuah restoran yang sudah ditutup permanen dan ditinggalkan puluhan tahun masih harus dijaga?
Tanpa bermaksud memberikan spoiler, pertanyaan ini pada akhirnya memang terkuak menjelang film berakhir. Namun, tetap saja jawabannya sama sekali tidak memuaskan karena begitu banyak plot hole dalam kisahnya.
Padahal, Emma Tammi bisa saja membuat Five Nights at Freddy's berjalan layaknya alur asli di video game-nya, yakni dengan memposisikan Freddy Fazbear's Pizza sebagai restoran kondang yang ramai dikunjungi konsumen pada siang hari, namun berubah menjadi ajang perburuan manusia di malam hari.
Emma Tammi juga memasukkan unsur klenik dalam Five Nights at Freddy's dengan praktik pemindahan roh anak kecil ke dalam boneka-boneka animatronik. Ide ini sebetulnya sah-sah saja jika motif di baliknya bisa dijelaskan dengan gamblang dan menarik. Sayangnya, sampai film berakhir, penjelasan itu tidak pernah ada. Alhasil, penonton tetap merasa kebingungan dan tidak bisa mencerna maksud dan tujuannya.
Para boneka animatronik di film ini; yakni Freddy Fazbear si beruang, Bonnie si kelinci biru, Chica si bebek, dan Foxy si rubah bermata satu; juga boleh dibilang gagal menyuguhkan suasana horor yang dijanjikan, apalagi bagi mereka yang memainkan game-nya. Alih-alih merasa takut, penonton justru dibuat antiklimaks oleh sejumlah adegan yang semestinya bisa membuat jantung berdegup kencang menjadi adegan yang begitu datar dan monoton.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
