
MENCEKAM: Akting James McAvoy (kanan) dalam film Split. Film ini memberikan twist pada ending yang dijamin bikin penonton shocked.
JawaPos.com – M. Night Shyamalan is back. Split, film thriller psikologis yang menjadi spesialisasinya, langsung disambut sangat antusias. Shyamalan menjawab sambutan tersebut dengan satu hal: ending super mengejutkan yang bikin penonton ternganga. Bahkan setelah lama meninggalkan bioskop. Formula twist ending itu sukses berat. Split menghajar xXx: Return of Xander Cage di box office.
Split yang dibintangi James McAvoy membuka weekend dengan perolehan USD 14,6 juta. Angka tersebut hampir dua kali lipat pendapatan xXx: Return of Xander Cage, film Vin Diesel yang diset menjadi blockbuster pekan ketiga Januari. Sekuel ketiga xXx itu hanya meraup USD 7,1 juta.
’’Ini belum pernah terjadi sebelumnya dan belum pernah terbayang. M. Night Shyamalan mengalahkan Vin Diesel di box office,’’ kata Anita Busch, kolumnis Deadline.
Deadline memperkirakan, selama tiga hari akhir pekan, film yang digarap dengan bujet USD 9 juta tersebut akan meraup total pendapatan USD 33,5 juta–USD 34,1 juta. Atau bahkan mencapai USD 39 juta jika mau perkiraan liar. Sementara itu, xXx: Return of Xander Cage hanya diprediksi meraih maksimal USD 20 juta.
Memangnya sebagus apa Split? Oh. Film itu dahsyat. Banyak pengamat menyebutnya sebagai karya terbaik Shyamalan. Kalaupun bukan film terbaik, ia adalah comeback yang sempurna buat sutradara asal India tersebut. Sejak lama, dia tidak menghasilkan karya yang mengguncang setara Unbreakable dan The Sixth Sense.
Split mengisahkan seorang pria (McAvoy) yang mengidap dissociative identity disorder (DID), gangguan kejiwaan yang dulu disebut multiple personalities disorder. Intinya sama, seseorang yang memiliki lebih dari satu kepribadian. Tokoh yang diperankan McAvoy punya 23 identitas!
Suatu hari salah satu identitas si pria yang bernama Kevin membuat ulah. Dia menculik tiga gadis dari sebuah tempat parkir. Ketiganya disekap dalam ruang bawah tanah tanpa jendela. Dalam upaya hampir putus asa mencari cara membebaskan diri, tiga gadis itu bertemu dengan beberapa kepribadian lain Kevin.
Ada kalanya yang datang adalah Barry, seorang desainer flamboyan. Busananya rapi dan tutur katanya santun. Pada hari lain, yang mengunjungi mereka adalah Hedwig, bocah 9 tahun yang terobsesi kepada Kanye West. Sekali waktu mereka dijenguk Miss Patricia, perempuan tengah baya dengan disiplin ala sekolah asrama yang hobi mengenakan sweter turtlenecks dan syal.
’’Mereka adalah pribadi-pribadi yang spesial. Mereka tidak seperti kita,’’ kata Shyamalan kepada Time. ’’Mereka tidak lahir karena orang tua mereka berhubungan seks. Mereka lahir untuk menjalankan suatu fungsi dalam tubuh dan pikiran Kevin,’’ papar sutradara 46 tahun tersebut.
Menurut Shyamalan, membangun 23 karakter itu tidak didasarkan pada masa lalu Kevin seperti kasus DID pada umumnya. ’’Tapi, lebih ke arah apa yang harus mereka lakukan?’’ jelasnya.
Film dengan latar belakang DID sudah lama diimpikan Shyamalan. Bahkan, karakter Kevin lahir di benaknya setelah The Sixth Sense diturunkan dari layar bioskop. Dia memiliki teori sendiri soal gangguan tersebut. ’’Pikiran pasien mampu memproteksi diri sendiri. Mereka mampu melakukan apa yang kita tidak bisa. Lalu, bagaimana bisa disebut disorder?’’ tegas Shyamalan.
Selama 15 tahun berikutnya, dia mempelajari segala literatur tentang DID. Tidak mengherankan, dia mampu meracik Split dengan sangat brilian. McAvoy bisa berakting sempurna (yang luwes mengenakan high heels Mrs Patricia dan sangat mengancam ketika memerankan penculik) berkat skenario yang menunjukkan pemahaman mendalam Shyamalan tentang DID.
Bagaimana dengan ending yang tadi disebut-sebut? Sejatinya ending itulah yang menjadi kekuatan terbesar Split. Khas Shyamalan. Tentu kita tidak akan membahasnya di sini. Satu hint kecil, Split berada di universe yang sama dengan film Shyamalan yang lain. Setting lokasinya sama, di sebuah kota di Pantai Timur AS.
’’Kevin ada sejak lama. Dia sudah ada dan selalu ada saat saya menulis salah satu film saya yang dulu. Dia bisa dibilang karakter orisinal dari film tersebut,’’ ungkap Shyamalan kepada Collider setelah premiere pada Jumat (20/1). Shyamalan melakukannya lagi. Membikin kita penasaran setengah mati dan meninggalkan kita ternganga di bagian akhir. (c14/na/tia)

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
