alexametrics

Keris Menguntit Sejarah

22 Maret 2020, 20:54:33 WIB

Dalam novelnya, Panji Sukma menjelmakan keris, benda mati itu, memiliki pandangan tak terbatas, dapat menerawang jauh, dan menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah.

MALAM Anugerah Sayembara Novel, Kritik Sastra, dan Cerita Anak digelar Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada Rabu, 4 Desember 2019, di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Para pemenang ketiga sayembara diumumkan malam itu.

Sampai ulasan ini ditulis, belum terlihat wujud novel pemenang pertama sayembara DKJ. Novel pemenang kedua, Panji Sukma, justru terbit lebih dulu dengan judul Sang Keris (2020).

”Naskah bertokoh sebilah keris, Kanjeng Kyai Karonsih, sebagai pengelana waktu yang berpindah-pindah tangan melintasi sejarah Indonesia,” terang juri sayembara DKJ. Pemilihan tokoh nonmanusia, entah berupa binatang, tumbuhan, atau benda –yang seharusnya– mati memang semakin sering terjadi dalam penulisan sastra mutakhir.

Saya ingat, Alfian Dippahatang pada salah satu cerpen dalam Bertarung dalam Sarung (2019) menggunakan tokoh sarung. Benda mati itu dihidupkan oleh Alfian dan diutusnya menjadi narator cerita.

Sarung tidak bisa berkomunikasi dengan tokoh-tokoh lain dalam cerita Alfian. Namun, sarung berkuasa atas kata-kata yang sampai ke para pembaca, memiliki ingatan seperti gajah, dan mengemukakan pikiran-pendapat tentang tokoh-tokoh lain yang Alfian munculkan. Sarung dalam cerpen Alfian berkarakter bak manusia, tetapi punya jangkauan indrawi agak lebih jauh.

Keris dalam novel Panji Sukma hampir seperti Tuhan.

Panji menjelmakan keris, benda mati itu, memiliki pandangan tak terbatas, dapat menerawang jauh, menembus sekat-sekat apa pun. Panji menyatakannya secara terang-terangan.

Manakala keris itu –pada satu adegan novel– tiba-tiba menjelma manusia, ia kehilangan segala kemampuannya. ”Kepanikan tak bisa kau elakkan ketika menyadari pandangan tak terbatasmu selama ini telah lenyap, pandanganmu tak mampu lagi menembus benda, tak lagi bisa menerawang jauh apa yang ada di balik benda yang kau tatap… kau tak bisa lagi melihat ke segala sisi.”

Keris Panji boleh dibilang sebagai saksi sejarah. Ia menguntit berbagai peristiwa penting sejak bangsa kita masih berupa kerajaan-kerajaan yang bertebaran di sana-sini hingga pada suatu masa hadir seseorang yang berucap, ”Pastiken semua siap. Besok kita akan jadi bangsa yang merdeka.” Keris Panji menyaksikan kelahiran suatu bangsa, yang ia kuntit sejak belum berwujud, memiliki sebutan berganti-ganti, hingga menyatakan diri ada.

Pandangan tak terbatas keris Panji memungkinkannya mengetahui segala macam peristiwa sepanjang sejarah Indonesia. Namun, keris Panji tidak bercerita dengan kata-katanya sendiri.

Panji memunculkan narator bersudut pandang orang kedua yang selalu menunjuk keris dengan sebutan ”kau”. Berbeda dari sarung Alfian, keris Panji seolah-olah tidak punya suara.

Kehendak keris pun tidak ia suarakan sendiri, melainkan hadir lewat kata-kata narator. ”Mungkin saat itu kau merasa menemukan momen yang tepat untuk menunjukkan siapa dirimu, di saat semua mata tertuju padamu, kau tak ingin melewatkannya. Harusnya kau lebih bijaksana.”

Keris Panji betul seperti Tuhan: tak terbatas, tetapi pendiam.

Sepanjang membaca novel Sang Keris, nuansa Jawa kental terasa. Sejak setelah kolofon, sebelum daftar isi, Panji mengawali novel dengan kalimat Jawa yang disertai dengan terjemahan, ”Kridhaning ati tan bisa mbedhah kuthaning pesthi, budi dayaning manungsa tan bisa ngungkuli garising Kang Kawasa (Sekuat apa pun kita berusaha mengubah suratan takdir, tidak akan mungkin melampaui ketetapan Yang Mahakuasa).” Para calon pembaca boleh mengingat-ingat kalimat itu, barangkali kelak menemukan tautannya pada bab-bab novel yang terasa fragmentaris.

Bahkan, syair berbahasa Jawa pun hadir dalam novel Panji. Terjemahan atau maksud istilah-istilah Jawa yang muncul dalam Sang Keris tertera di catatan kaki. Sembilan puluh catatan kaki menunjukkan betapa sering Panji menggunakan istilah-istilah Jawa dalam novelnya. Jumlah itu, saya kira, terlalu berlebihan.

Bukan karena mentang-mentang saya terlahir dari keluarga Jawa –sehingga sudah mengenal istilah-istilah Jawa yang Panji gunakan–, maka saya serta-merta mengatakan penggunaan catatan kaki dalam Sang Keris berlebihan. Tentu saja bukan karena itu.

Bahasa Jawa punya privilese lebih besar ketimbang bahasa-bahasa daerah lain dalam pembentukan bahasa Indonesia. Telah banyak kata dari bahasa Jawa yang diserap ke dalam bahasa Indonesia dan dilegitimasi melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Kata-kata seperti pamor, warangka, besalen, luk, pawana, candra, jaya, sabetan, kelir, dan sebagainya dapat ditemukan dalam KBBI –dengan demikian berarti sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Kata-kata itu, rasa-rasanya, tidak perlu lagi dicetak miring (italic) dan disertai terjemahan/maksud di catatan kaki. Saya kira, pembaca tidak perlu dianggap malas, dimanjakan dengan sekian banyak catatan kaki untuk kata-kata yang sebagian bahkan tidak begitu asing.

Namun, barangkali Panji –juga pihak editor/penerbit– sengaja mempertahankan kata-kata bercetak miring sebagai istilah Jawa, alih-alih dicetak biasa dan dianggap kata serapan. Dengan demikian, kesan kejawaan novel Panji ini terjaga betul. (*)


JUDUL BUKU: Sang Keris
PENULIS: Panji Sukma
PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama
TAHUN TERBIT: Februari 2020
TEBAL: 110 halaman


UDJI KAYANG
Editor buku dan penulis lepas, penulis buku Keping-Keping Kota (2019)

Editor : Ilham Safutra



Close Ads