
ILUSTRASI
Di tataran produksi, film yang skripnya dirancang oleh AI berbicara layaknya makhluk dari planet asing. Begitu ganjil, dingin, dan tidak manusiawi.
SEDANGKAN di tataran distribusi, AI bisa mewujudkan diri layaknya seorang teman baik yang tahu betul tontonan macam apa yang kamu suka. Tampak sedemikian akrab, hangat, dan dekat.
Pada 2016, Sunspring, film pendek pertama yang seluruh skripnya ditulis oleh AI (artificial intelligence), rilis. AI tersebut menamai dirinya sendiri Benjamin. Singkat cerita, tim produksi menjejali Benjamin dengan ribuan naskah film sci-fi dan menginstruksikannya untuk menuliskan satu naskah baru. Hasilnya? Bisa dibilang mengerikan.
Satu waktu Benjamin menulis: ”I don’t know what you’re talking about,” yang lalu dibalas sekenanya dengan ”That’s right”. Lewat sepotong dialog tersebut, Benjamin –yang memang difokuskan hanya untuk memproses teks– secara komikal justru berhasil menangkap kegagapan AI dalam memahami elemen terpenting dari audiovisual storytelling, yaitu absennya kemampuan untuk tak sepenuhnya bergantung pada kata-kata.
Pada tahap produksi film, spesifiknya dalam penulisan naskah, kita masih punya banyak argumen untuk membantah klise yang percaya pada keniscayaan bahwa robot akan menggantikan peran manusia –meski pilihan untuk hidup berdampingan jelas tetap dan akan terus ada. Ambil contoh Date Night (2021) yang masih memerlukan tangan manusia untuk menuntun arah cerita. Mulai input awal pembuka naskah hingga penyeleksian sekian premis yang dirasa paling masuk akal ketika disusun menjadi kesatuan cerita.
Meski tak seganjil Sunspring, Date Night tetap meracau dan tampak kepayahan untuk sekadar berjalan di atas satu logika yang utuh. Menjelang akhir film, AI di balik Date Night bahkan berbicara tentang film itu sendiri. Dialognya mengacu pada peristiwa fiksi di awal dan meletakkan kedua karakternya dalam situasi meta –sadar bahwa mereka tak lebih dari sekadar karakter yang bermain peran dalam sebuah fiksi. Hal terakhir bisa jadi menarik selama penonton paham bahwa film ini ditulis oleh AI. Namun, tanpa fakta tersebut, lakon ini terasa tak ubahnya punchline picisan dalam film-film komedi lokal yang mengharuskan audiens untuk memahami persona aktor di luar konteks film itu sendiri.
Logika otomatisasi pengumpulan dan pemrosesan set data yang besar, setidaknya untuk sekarang, masih kesulitan dalam mencerna bagaimana cerita bekerja. Di luar manipulasi audiovisual, paling mentok, AI dikerahkan dalam urusan strategi distribusi dan promosi yang bertumpu pada variabel yang dapat diprediksi. Terutama demi menentukan apakah sebuah film mampu mencengkeram ceruk pasar yang luas sedari ide awal hingga pengemasannya.
Ambil contoh Cinelytic, start-up asal Los Angeles yang memprediksi keberhasilan film berdasar analisis dari sekian tontonan sejenis, cast yang terlibat, dan kriteria lain. Atau Scriptbook, start-up asal Belgia yang melakukan hal serupa bahkan pada tahap yang lebih awal –menginstruksikan AI mereka untuk membaca dan menganalisis peluang keberhasilan film hanya dari naskahnya.
Pada platform ekshibisi, utamanya VOD online semacam Netflix, AI umumnya dimanfaatkan untuk mengamplifikasi familiaritas seseorang terhadap hal yang sudah-sudah. Baik lewat algoritma rekomendasi yang mengacu pada anotasi tiap film (genre, emosi, negara produksi, dll), kecenderungan viewership di suatu kawasan atau demografi tertentu, pemilihan poster, maupun still yang berpotensi menuai klik terbanyak, dst.
Dalam strategi seperti ini, AI dilatih untuk membaca dan menginterpretasikan seperangkat data demi memprediksi hal-hal yang mungkin terjadi agar bisa dieksploitasi. Data-data tersebut bisa saja diperbarui secara berkala. Namun, selama variabel penentu keberhasilan film di lapangan tak berubah, opsi yang ditawarkan AI pada akhirnya hanya akan membungkuk di hadapan pola konsumsi yang telah mapan. Satu dari sekian faktor yang setidaknya bisa menjawab kenapa katalog film arus utama begitu doyan merilis sekuel, prekuel, atau cinematic universe dari sebuah franchise film, yang di Amerika Serikat selama satu dekade terakhir mengalami peningkatan jumlah produksi dari 9 persen menjadi lebih dari 30 persen.
Dengan atau tanpa bantuan mesin sekalipun, repetisi demi menggaet audiens luas sebenarnya telah lazim dipraktikkan. Kecenderungan komposisi visual dalam poster film dengan protagonis dan antagonis yang kentara, misalnya, telah menegaskan oranye dan biru (dua warna dengan spektrum berlawanan) sebagai hal yang seakan wajib disertakan. Atau pemilihan aktor berbasis jumlah keanggotaan fans. Hingga serangkaian film dengan tema serupa yang saling berparade menyusul kesuksesan pendahulunya.
AI boleh jadi diklaim sebagai kebaruan bagi industri perfilman dengan label yang kerap didagangkan dengan retorik berisi kata-kata seperti: ringkas, cepat, personal, dan intuitif. Tapi, dalam sistem kapitalisme yang –meminjam kalimat Bernard Stiegler– diatur oleh konsumsi alih-alih produksi, pola seperti ini hanya akan menghasilkan siklus yang adiktif. Sehingga sekian data yang diproses demi memprediksi masa depan hanya akan bernyanyi di tangga nada yang sama selama praktik distribusi utama tetap mengedepankan keseragaman. (*)
DWIKI APRINALDI, Pemerhati film dan penulis Gender, Muslim, & Sinema (Warning Books, 2022

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
