Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Mei 2023, 14.30 WIB

Sua Kuasa Matra

MOON SERIES (EUN VIVIAN LEE, 2021) - Image

MOON SERIES (EUN VIVIAN LEE, 2021)

Pameran Perempuan di ISA Art Gallery, Jakarta

Di antara ramainya pameran oleh perupa perempuan akhir-akhir ini, ISA Art Gallery di Wisma 46, Jakarta, membawa suatu pameran yang penuh keragaman dan sungguh lain dari biasanya.

SEBANYAK 17 perempuan perupa berasal dari Indonesia dan beberapa negara lain kelahiran 1970 hingga 1998 menampilkan karyanya. Karya-karya mereka berangkat dari pemikiran juga upaya bereksplorasi dengan konten dan pemakaian media yang kompleks.

Menurut Deborah Carr Iskandar, pencipta dan pemimpin ISA Art Gallery, judul pameran Sua Kuasa Matra diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya beraneka kemampuan menyatu untuk mewujudkan bentuk yang nyata.

Simbolisme, mitologi, cerita dari masa lampau, sampai beragam teknik yang menggabungkan gaya Barat terkini dirangkum menjadi presentasi karya dengan makna dan gaya saat ini. Tentu katalog dan uraian kurator yang disediakan sangat membantu untuk dapat mengerti bagaimana karya-karya dapat terseleksi untuk pameran Sua Kuasa Matra.

Ketika masuk ke ruang pameran, karya seri Monsoon berbentuk lingkaran bundar yang diciptakan Eun Vivian Lee segera menangkap mata pengunjung. Tiga buah karya Monsoon yang konon berimajinasi bulan yang ingin merangkul matahari merupakan ciptaan perupa Korea-Amerika yang berdomisili di New York City dan Singapura itu. Eun Vivian Lee pernah belajar computer graphics di Pratt Institute, Brooklyn, New York. Ia juga lulusan interactive media telecommunications dari New York University, New York.

Pengaruh pendidikan tersebut jelas tampak pada karyanya, The Moon Series (2021) dan The Sakura Series. Masing-masing menampilkan satu lingkaran besar (122 x 122 cm) yang dipenuhi ratusan ribu titik yang berangsur-angsur berubah warna dari biru menjadi ungu. Menyerupai karya seni grafis, titik-titik yang diatur secara repetitif dan jelimet konon memberinya rasa kedamaian dalam menghadapi kondisi medis yang dideritanya, ADD (attention deficit disorder).

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Seperti yang dibuktikan Corinne de San Jose dari Filipina. Seorang pemenang desain sound sebagai sound engineer yang juga sound installations bergerak di printmaking, art video, patung, dan meminati film tua. Kini ia terlibat proyek mengenai bentuk-bentuk komunikasi yang sudah usang seperti film-film Filipina pertama dari periode 1919 yang tak terpelihara. Di tengah rongsokan seperti itu Corinne berinovasi, memakai bahan-bahan lapuk dan kedaluwarsa sebagai material dasar untuk membuat karya inovatif dengan cara alternatif.

Karya Rosa (version 4) dan Atang’s Hem di pameran ini merupakan hasil olahan melalui proses reprint atas digital negative dikolase menjadi cyanotype atas kertas watercolor yang menakjubkan.

Proses juga menjadi penting untuk perupa Liling Liu. Ia memotret langit pada jam-jam berlainan. Foto-foto bukan sebagai dokumentasi semata. Melainkan menjadi dasar untuk memunculkan berlapis-lapis warna pada print yang akhirnya tampak seperti vista angkasa yang berubah-ubah. Untuk memperoleh warna yang lebih saturated dan sesuai yang diinginkan, proses printing dapat dihentikan sejenak pada saat-saat tertentu. Akhirnya fotografi yang dikaitkan dengan multimedia dan ditambah lightbox memberikan karyanya suatu sentuhan yang luar biasa.

Citra Sasmita, perupa Bali kelahiran 1990, pemenang Gold Award UOB Painting of the Year 2017, dikenal dengan karya-karya berupa scrolls panjang yang dipenuhi adegan figur-figur perempuan yang tampak arkais.

Citra ingin mengimbangi cerita-cerita sejarah dan budaya patriarkal Bali yang biasanya berkiblat ke laki-laki sebagai pusat perhatian.

Namun, untuk pameran ini, ia membawa dua karya berjudul Almanac of Unknown Spirits. Menampilkan suatu simbolisme keseimbangan yang tidak mutlak diartikan sebagai masalah gender. Yakni wajah-wajah perempuan dalam semacam ”wadah” dedaunan yang dikelilingi dua ekor ular. Ini merujuk ke simbol keseimbangan seperti yang dijabarkan tantra Buddhisme. Namun bisa juga diartikan sebagai perlindungan bagi perempuan.

Meliantha Muliawan, pemenang UOB Painting of the Year 2021, juga merujuk ke isu simbolisme dan tradisi. Dalam hal ini tradisi budaya Tionghoa. Karyanya terinspirasi oleh cerita dari pemikir China bernama Zhuangzi yang dalam mimpi-mimpi secara filosofis mempertanyakan dirinya apakah dia itu kupu-kupu. Ataukah kupu-kupu yang bertransformasi menjadi manusia, atau malah sebaliknya?

Karyanya, One May Be the Other, terdiri atas kerangka persegi empat terbuat dari kayu teak yang secara minimalis memperlihatkan kupu-kupu kecil menyerupai chips yang terbuat dari bahan kaca yang hinggap atau beterbangan di kerangka kayu itu.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore