Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 April 2026 | 02.43 WIB

Perempuan yang Menikahi Orang yang Salah Sering Mengatakan Mereka Mengabaikan 8 Firasat Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang menikahi orang yang salah (Freepik/Jcomp) - Image

Ilustrasi seseorang yang menikahi orang yang salah (Freepik/Jcomp)

JawaPos.com - Pernikahan sering dianggap sebagai keputusan terbesar dalam hidup seseorang. Namun, tidak semua pernikahan berakhir bahagia. Banyak perempuan yang akhirnya menyadari bahwa mereka menikahi orang yang salah, dan yang lebih menyakitkan, mereka sering mengakui bahwa sebenarnya mereka sudah "merasakan sesuatu yang tidak beres" sejak awal.

Dalam psikologi, firasat atau intuisi bukan sekadar perasaan tanpa dasar. Itu adalah hasil dari pengalaman, pola yang dikenali otak, serta sinyal emosional yang muncul secara bawah sadar. Sayangnya, banyak orang mengabaikannya demi cinta, harapan, atau tekanan sosial.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (15/4), terdapat 8 firasat yang paling sering diabaikan oleh perempuan sebelum menikah dengan orang yang ternyata tidak tepat.

1. Merasa Tidak Sepenuhnya Menjadi Diri Sendiri

Salah satu tanda paling awal adalah ketika seseorang merasa harus "berubah" agar diterima oleh pasangannya.

Dalam hubungan yang sehat, seseorang seharusnya merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Namun, perempuan yang menikahi orang yang salah sering menyadari bahwa mereka:

Menyembunyikan pendapat
Mengubah kepribadian
Takut menunjukkan sisi asli diri

Psikologi menyebut ini sebagai kehilangan autentisitas, yang dalam jangka panjang bisa menyebabkan stres dan ketidakbahagiaan.

2. Ada Perasaan Tidak Nyaman yang Tidak Bisa Dijelaskan

Banyak perempuan mengatakan, "Aku tidak tahu kenapa, tapi ada yang terasa salah."

Ini adalah intuisi bekerja. Otak menangkap sinyal-sinyal kecil seperti:

Nada bicara
Bahasa tubuh
Inkonsistensi perilaku

Namun karena tidak bisa dijelaskan secara logis, firasat ini sering diabaikan.

3. Terlalu Sering Memberi Alasan untuk Perilaku Pasangan

Ketika seseorang terus-menerus berkata:

"Dia sebenarnya baik kok…"
"Dia cuma lagi stres…"
"Nanti juga berubah…"

Ini adalah tanda rasionalisasi berlebihan.

Dalam psikologi, ini disebut cognitive dissonance, usaha untuk menenangkan diri saat realitas tidak sesuai dengan harapan.

4. Nilai Hidup yang Tidak Sejalan

Perbedaan kecil itu normal. Tapi perbedaan dalam hal fundamental seperti:

Cara memandang keluarga
Keuangan
Komitmen
Agama atau prinsip hidup adalah sesuatu yang sangat krusial.

Banyak perempuan mengabaikan ini karena berpikir cinta bisa mengatasi segalanya. Namun dalam jangka panjang, ketidaksejajaran nilai adalah salah satu penyebab utama konflik pernikahan.

5. Merasa Lebih Sering Cemas daripada Tenang

Hubungan yang sehat memberikan rasa aman, bukan kecemasan.

Jika sebelum menikah seseorang sering merasa:

Gelisah
Takut kehilangan
Khawatir berlebihan terhadap pasangan

Ini bisa menjadi tanda hubungan yang tidak stabil secara emosional.

Psikologi hubungan menyebut ini sebagai anxious attachment pattern, yang sering berujung pada hubungan yang tidak sehat.

6. Mengabaikan "Red Flags" karena Takut Kehilangan

"Red flags" adalah tanda bahaya seperti:

Sifat posesif
Kurang menghargai
Mudah marah
Tidak konsisten

Namun banyak perempuan mengabaikannya dengan alasan:

Sudah terlalu lama bersama
Takut mulai dari awal lagi
Tekanan usia atau keluarga

Ini dikenal sebagai sunk cost fallacy, bertahan hanya karena sudah banyak berinvestasi, bukan karena hubungan itu sehat.

7. Lingkungan Terdekat Memberi Peringatan

Sering kali, teman atau keluarga melihat sesuatu yang tidak kita lihat.

Kalimat seperti:

"Kamu yakin sama dia?"
"Ada yang aneh dari dia," sering diabaikan karena dianggap tidak memahami hubungan tersebut.

Padahal, perspektif luar bisa lebih objektif dan bebas dari bias emosional.

Baca Juga:Jika Seorang Perempuan Sangat Mencintaimu, Dia Hampir Selalu Akan Melakukan 8 Hal Ini Tanpa Mengucapkan Sepatah Katapun Menurut Psikologi

8. Lebih Jatuh Cinta pada Potensi daripada Realita

Banyak perempuan tidak jatuh cinta pada siapa pasangan mereka saat ini, tetapi pada siapa mereka "bisa menjadi."

Mereka berpikir:

"Dia akan berubah nanti"
"Aku bisa memperbaikinya"
"Kalau sudah menikah, dia pasti beda"

Dalam psikologi, ini disebut idealization bias, melihat seseorang bukan apa adanya, tapi versi ideal yang diharapkan.

Masalahnya, perubahan tidak bisa dipaksakan. Dan menikah dengan harapan perubahan sering berujung pada kekecewaan.

Kenapa Firasat Ini Sering Diabaikan?

Ada beberapa alasan psikologis mengapa perempuan tetap melanjutkan hubungan meski sudah merasa ragu:

Takut sendirian
Tekanan sosial untuk menikah
Harapan bahwa cinta akan mengubah segalanya
Self-esteem yang rendah
Pengalaman masa lalu yang membentuk toleransi terhadap hubungan tidak sehat

Semua ini membuat intuisi yang sebenarnya kuat menjadi teredam.

Penutup: Belajar Mendengarkan Diri Sendiri

Firasat bukanlah sesuatu yang harus diabaikan. Dalam banyak kasus, itu adalah "alarm internal" yang mencoba melindungi kita.

Perempuan yang akhirnya menikahi orang yang salah sering berkata:

"Aku sebenarnya sudah tahu dari awal… tapi aku memilih untuk tidak mendengarkan."

Pelajaran pentingnya adalah:

Jangan abaikan rasa tidak nyaman
Jangan menukar ketenangan dengan harapan kosong
Jangan menikah hanya karena takut kehilangan waktu

Karena pada akhirnya, keputusan terbesar dalam hidup seharusnya dibuat dengan kejelasan, bukan keraguan.
 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore