
COVER BUKU
Adegan demi adegan dalam novel ini tersaji dalam bentuk visual yang bergerak cepat. Selain padat adegan, yang paling mencolok adalah tokoh-tokohnya begitu absurd.
PERFORMATIF. Itulah kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan Lantak La: Dramaturgi Anonim-Anonim (Banana, 2023) karya Beri Hana, sebuah novel singkat dengan adegan yang padat memukau. Sedari awal cerita dibuka dengan adegan yang tidak biasa: sekelompok penyihir bangkit dari kematian melemparkan tombak api ke arah kuda-kuda yang berlari.
Adegan demi adegan dalam novel ini tersaji dalam bentuk visual yang bergerak cepat. Bagai sorot mata kamera, narator menyoroti setiap peristiwa tanpa memberi jeda pada deskripsi.
Tidak seperti kebanyakan novel, Lantak La tampak tidak peduli dengan deskripsi. Bahkan deskripsi terhadap tokoh-tokohnya sendiri. Padahal, tokohnya sangat banyak. Itu membuat pembaca perlu mengambil jeda untuk mengingat setiap tokoh dalam cerita.
Selain padat adegan, yang paling mencolok dari novel ini adalah tokoh-tokohnya begitu absurd. Tokoh-tokoh dalam cerita ini nyaris memiliki watak serupa; jika tidak jahat, mereka pasti bodoh, atau bahkan keduanya: jahat dan bodoh.
Tidak ada orang baik dalam Lantak La. Jikapun ada perbuatan baik yang dilakukan tokoh-tokohnya, pastilah ada motifnya. Misalnya, Yavuz ketika menolong Arka. Lelaki berkelamin ular piton ini menolong Arka bukan karena ia seorang yang baik budi pekertinya, melainkan karena ia ingin Arka membalas dendam atas kematian wanita yang dicintainya, Suzan Meralyevna, yang merupakan ibu dari Arka. Saat melakukan kebajikan itu, Yavuz membayangkan Suzan melihat apa yang dilakukannya kepada Arka.
Absurditas tokoh-tokohnya juga terlihat dari bagaimana mereka hidup. Para penyihir suka memotong kaki kuda dan hewan berkaki empat lainnya karena percaya hewan-hewan ini bisa terbang. Jadi, hewan-hewan ini tidak memerlukan kaki.
Apa yang dilakukan para penyihir ini membuat mereka dimusuhi banyak kelompok, termasuk juga kelompok Sigindo Rujumlamo yang merupakan pedagang binatang. Ada juga Sakang Kayumanis, guru silat berusia 260 tahun yang mati sia-sia setelah menguasai banyak jurus, tetapi tidak sekali pun menggunakannya. Ada juga Kaum Haret yang terus-menerus mencari Tuhan, berpindah dari Tuhan yang satu dan Tuhan lainnya setelah membuktikan Tuhan mereka ternyata bukanlah Tuhan.
Tokoh-tokoh penting dalam Lantak La hampir semuanya memiliki motif yang sama: balas dendam! Arka hidup hanya untuk membalas dendam pada Sultan Hayinam yang telah membunuh ayahnya.
Sultan Hayinam memotong tubuh ayahnya hingga serupa dadu kecil-kecil, kemudian membagikannya ke kampungnya seolah-olah itu adalah daging kurban. Ibunya langsung saja mengundang warga kampung untuk berpesta makan daging tanpa tahu daging itu berasal dari mana. Karena hal ini, Arka memendam dendam pada Sultan. Dendam itulah yang menggerakkan rangkaian peristiwa dalam cerita ini.
Selain Arka, dendam dimiliki Tagak Sikandung Batin. Pendekar ini dendam pada istri dan kekasih istrinya yang selingkuh di belakang punggungnya. Kemudian ia membunuh kekasih istrinya, menyihir istrinya jadi batu, dan membuang anak hasil perselingkuhan istrinya ke laut.
Anak ini nantinya digariskan menikah dengan Tagak Sikandung Batin demi menuntaskan dendamnya pada lelaki yang membunuh ayah dan ibunya. Dendam bagaikan sebuah kunci yang membuka pintu plot dalam cerita ini.
Meski menggunakan gaya narasi yang menyerupai dongeng, pengarang beberapa kali menyelipkan wacana-wacana kontemporer bernada satire. Feminisme, misalnya. Dalam suatu bagian cerita mengenai pernikahan, seorang ibu menasihati anak perempuannya seperti ini:
”Dengarkan aku, Laela, sebagai seorang istri, bersiaplah kau diperlakukan sebagaimana karang laut. Kadang dilihat, kadang dijamah, kadang ditinggalkan begitu saja. Kau pun harus tahu, dunia pernikahan adalah dunia penundukan, di mana kau harus mendahulukan suamimu di atas segalanya. Kau harus siap mengangkang, melayani suamimu sampai ia lemas padahal kau belum puas.”
Ada banyak strategi penceritaan yang digunakan pengarang, salah satunya bermain-main dengan mitos. Salah duanya adalah dengan membagi teks menjadi fragmen-fragmen kecil yang disusun secara tidak linier. Selain itu, pengarang kerap bermain dengan interteks: mengambil potongan teks dari cerita-cerita dongeng, cerita nabi, riwayat-riwayat sufi, bahkan potongan teks dari cerpen pengarang lain.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
