
ILUSTRASI
”Aku bukan menolak konsep poligami yang diperbolehkan dalam syariah. Itu bukan hal yang buruk selama memenuhi syarat, hak dan kewajiban. Hanya, aku sendiri yang tak sanggup menjalaninya. Hatiku tidak sesuci itu!” kembali menarik punggung, membukakan tutup stoples berisi kastengel dan nastar kurma, lalu mengangsurkannya padaku bergantian.
Kuambil satu kastengel tanpa minat memakannya.
”Orang boleh minta apa pun dariku, asal jangan minta berbagi suami.” Kau masih bisa menjaga nada suaramu sedatar mungkin, seperti air sungai yang tampak diam tanpa gerak.
Kuakui kau memang pemurah hati. Terbiasa berbagi apa pun yang kaumiliki, walaupun itu sudah menjadi peraturan tak tertulis kalau di pondok. Setiap mendapat kiriman, berbagai macam makanan dan camilan yang dibawakan orang tuamu dibagi-bagikan, tanpa berpikir menyisakan untuk besok.
Bahkan hingga sekarang, ketika kau memintaku datang karena ingin menjahit pakaian, bagasi mobil yang mengantarku pulang hampir penuh dari berbagai macam pemberianmu. Entah itu pisang, beras, sayur, ubi, kacang tanah yang masih dengan kulitnya. Katamu, itu hasil oleh-oleh dari para tamu.
Jika petani sekitar selesai panen tanam, hasil terbaik yang dihaturkan padamu tak lupa kausisihkan sebagian untukku. Dua santrimu yang mengantarkannya ke rumah.
”Perlakuan adil mungkin bisa dilakukan, tapi kasih sayang tidak akan pernah terbagi rata, karena itu soal rasa.”
”Itukah sebabnya, ingin melahirkan anak lelaki meskipun harus hamil sampai sekian kali?”
Seharusnya aku bisa menahan tatapan dan menekan tinggi suaraku, sebab di sini para santri dan tamu-tamumu biasa menunduk dan bersuara kecil setengah berbisik.
”Jika itu sanggup kulakukan, kenapa tidak?”
”Kalau nanti masih lahir perempuan?” kejarku menahan jengkel.
”Selama masih bisa hamil, bisa dicoba lagi.”
Ipeeeeeeh! Sampai kapan kau akan jadi mesin peternak? Itu konyol sekali! Memangnya melahirkan anak itu seperti kuis? Umpatan itu hanya merusuh dalam hati.
Andai Sanot ada di sini, aku yakin dia juga akan mengomelimu sebagaimana sering dilakukan ketika kau susah sekali dibangunkan. Dia pasti akan menceramahimu tentang risiko kehamilan di usia 40-an. Atau, mungkin saja memberi pandangan lain mengenai posisi perempuan yang tecermin dalam sejarah Islam.
Sesama teman seangkatan, seasrama, dan sekelas yang sama-sama belajar mandiri juga beradaptasi sejak hari-hari pertama menjadi santri di usia tak lebih dari 13 tahun, banyak hal yang sudah kita lalui bersama. Mencuci dan memasak merupakan pekerjaan baru yang sama-sama kita lakukan dengan canggung dan serbakeliru. Ketiduran pada jam-jam kajian, terlambat bangun sebelum subuh, disuruh membersihkan toilet akibat tidak salat Tahajud, menjadi tali yang saling mengikat satu sama lain.

Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
Dugaan Penipuan Lowongan Kerja Libatkan Eks Camat Pakal, DPRD Surabaya Desak Pengawasan ASN Diperketat
Kecewa Berat! Francisco Rivera Ungkap Kondisi Ruang Ganti Persebaya Surabaya Usai Kalah dari Madura United
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
Kick-off Sempat Dimajukan! Ini Jadwal Resmi Persib Bandung vs Arema FC di GBLA
Tak Ada Timnas Indonesia U-17! Klasemen Runner-up Terbaik Piala AFF U-17 2026 Usai Thailand Dikalahkan Laos
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
