
ILUSTRASI
Oleh MARTIN ALEIDA
---
Yang kucemaskan menemukan pembenaran di tepi kanal Flevo Ziekenhuis. Berulang kali. Tak terhitung. “Mas..,” bujuknya sendu. Suaranya gemetar terpantul dari jendela kaca.
MENENANGKAN hati, sebagaimana biasa, aku merapat ke punggungnya. Mengikuti ke mana arah nanap matanya. Menggamit, membelai pundaknya, untuk mendamaikan gedebur gelombang perasaan yang tak kuasa dia arungi.
“Lihat Mas,” telunjuk mengarah ke kanal di bawah sana. “Itu Ibu..,” katanya untuk kesekian ratus kali dalam sekian tahun, sejak kami mendamparkan diri di Belanda ini. Dia membujuk pandangan mataku untuk menyisir sepanjang tubir tebing yang lengang. “Mas, lihat... Ribuan kawan-kawan Ibu berjejer menunggu kapal yang akan mengangkut mereka ke pulau pembuangan. Menggunakan kapal perang. Ke mana lagi kalau bukan ke Buru... ”
Matanya nanar, tak bergeser dari tepi kanal. “Lihat,” sebagaimana sebuah rutinitas yang sudah menahun, dia merengkuh bahuku. Menunjuk dengan jari gemetar, ucapnya dengan lenguh napas yang berdesakan. “Itu tuh... Yang itu, Ibu,” deru suaranya sambil merapatkan kening ke kaca jendela. “Ya, yang di tengah itu. Lihatlah. Yang kebayanya merah compang-camping. Cepat telepon, panggil polisi. Selamatkanlah Ibu, Mas! Ini kejahatan luar biasa di negara si penjajah ini.”
Lagi-lagi aku mengelak, walau tak mengucapkan barang sepatah kata pun. Dan tak bergerak memenuhi permintaan yang sudah tak terhitung berapa kali didesakkannya. Yang ditunjuknya di sepanjang kanal itu tak-lain-tak-bukan hanyalah tebing dengan pepohonan yang kesepian, sesekali diterpa riak yang keruh. Kalau musim dingin, tepi kanal itu berselimut salju. Di musim seperti itu, bukan salju benar yang dia lihat. Bukan pepohonan yang berjejer membeku. Tetapi, ibunya. Mertuaku. Yang keberadaannya entah di mana di hamparan pulau, nun jauh di bawah sengat khatulistiwa.
Rubiah tak kuasa mengatasi gelombang yang berdesakan di dalam dirinya, menyusul runtuhnya Tembok Berlin. Terutama setelah mendapat kabar yang sangat terlambat, tentang gerombolan massa yang dibiarkan tentara untuk menyudahi hidup ayahnya.
Kabar itu terlambat. Terlalu terlambat tibanya di Berlin Timur, tempat aku bekerja sebagai koresponden. Pekerjaan yang harus kutinggalkan sebagai dampak tercerai-berainya satelit Uni Soviet. Terutama untuk menghindari pengejaran oleh kekuasaan baru di Indonesia, yang mengirimkan dinas intelijen militer ke seluruh daratan di bumi ini, untuk membuat semua pembangkang ‘orde baru’ berlutut. Yang menyebarkan pandemi kematian berdarah di seluruh negeri.
Kabar yang terlalu terlambat. Getir. Tambah meremukkan batin Rubiah. Begini bunyinya. Supaya tak merepotkan, tentara menunggu ibunya melahirkan lebih dulu, barulah dijemput dengan bedil. Digiring ke luar rumah. Bersama bayi di dalam dekapan, dengan tali pusat yang belum mengering, Ibu dihardik supaya mempercepat langkah naik ke dalam truk terbuka. Dia dilarikan, kemudian dijorokkan ke dalam penjara Bukit Duri. Empat puluh hari kemudian, tante dari bayi perempuan itu dipaksa datang ke penjara untuk mengemong pulang keponakannya. Suka-atau-tidak si ibu harus diberangkatkan ke Plantungan. Si bayi disapih dari tetek suci yang menghidupinya. Ditinggalkan Ibunya, adik Rubiah paling bungsu itu terpaksa me-ngempeng pada tetek sapi yang datang dalam bentuk susu formula. Susu yang dibeli tantenya dengan mengutang atau bantuan sanak-saudara, yang mujur belum digerus oleh kekuasaan baru yang menyengsarakan.
Pulang ke negeri sendiri sudah menjadi angan-angan yang ujungnya sama dengan bunuh diri. Ibu Pertiwi sudah seperti negeri yang dikuasai jin. Tak siapa pun berani kembali, kecuali dalam angan-angan dengan bayang-bayang kengerian. Pikiran dan hati Rubiah rupanya tak kuasa menanggungkan guncangan yang meremukkan jiwanya.
Kenyataan lain yang dia hadapi adalah keharusan menyingkir dari rumah kami di Berlin Timur. Meninggalkan flat, dengan hati yang berat seperti ditindih batu, mencari negeri tempat berlindung, entah di mana di daratan Eropa ini.
Sesungguhnya Rubiah merasa nyaman hidup bersamaku. Apartemen yang kami tempati cukup besar. Bukan bandingan dengan rumah kontrakan kami yang berdinding setengah papan separuh gedek di Paseban, Jakarta. Berada di sampingku, dia yang pernah belajar jurnalistik, dapat menyaksikan dari dekat bagaimana mengumpulkan bahan berita, menulis, dan mengirimkannya dengan jalan paling cepat ketika itu: mesin teleks.
Tembok Berlin sudah tumbang. Tak terhitung berapa orang yang tewas melompati tembok itu untuk mencari kebebasan nyata atau sekadar fatamorgana. Sekarang, sudah tak perlu mempertaruhkan nyawa untuk menyeberang ke Barat. Aku tak tahu apa yang bergejolak di dalam dirinya. Rubiah menyetujui rencanaku, tanpa keragu-raguan barang sepatah kata pun. Barangkali dia mengira, itu pilihan terbaik untuk pada akhirnya dapat bergabung dengan Ibunya di atas truk menuju tanah pembuangan. Atau menitipkan kembang di arus air Bengawan Solo, berenang-renang mengantarkan wewangian untuk Ayahnya di surga.
Kami menumpang kereta api. Turun di stasiun Zoologische Garten. Benar saja, sebagaimana yang diceritakan kawan-kawan dari Afrika, di stasiun itu tak ada pemerikasaan. Kami melenggang sambil berpegangan tangan. Layaknya pengantin yang sudah lama ditunggu-tunggu melintas.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
