Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 31 Oktober 2017 | 19.13 WIB

Blak-blakan Jual Akun Tuyul

Ilustrasi ponsel diretas hacker. - Image

Ilustrasi ponsel diretas hacker.


Arians membanderol akun bodong GoJek itu Rp 350 ribu. Akun tersebut memiliki identitas lengkap. Mulai foto profil, nomor telepon, serta jenis dan nopol kendaraan. Hacker bersandal jepit itu tidak membawa laptop saat bertemu Prima. Setelah mahar dibayarkan, Arians lantas meminjam handphone Prima untuk dioprek. Sekitar 10 menit kemudian, di dalam handphone Xiaomi Redmi Mi 5 itu sudah terpasang akun bodong. Di kalangan driver, akun itu kerap disebut sebagai tuyul. Tersembunyi. Tak terlihat. Tapi, menghasilkan duit nyata.


Cara penggunaannya sama saja dengan akun driver resmi. Namun, saat mengontak pelanggan, Prima harus menggunakan nomor lain. Arians terbilang blak-blakan. Dia sempat menawari Prima untuk kursus pembajakan akun. Sebulan dijamin mahir. Harganya Rp 600 ribu. ’’Dia bisa semuanya. Mau yang ojek motor sampai yang taksi online bisa dia bobol,” jelasnya.


Sejatinya, Prima tidak berniat untuk memanfaatkan akun bodong itu secara penuh. Toh, dia sudah terdaftar sebagai driver GoJek sejak akhir Desember 2016. ’’Saya pengin tahu cara kerjanya gimana, apa beneran bisa nyerobot order,” ungkapnya.


Pendiri Komunitas Bikers Ojek Online Indonesia (Kobooi) itu lantas mencobanya bersama beberapa rekan. Setelah aktif selama dua menit, orderan langsung masuk. Pelanggan yang dia jemput juga tidak curiga lantaran wajah dan nopol Prima yang berbeda. ’’Saya antar pelanggannya ke tujuan. Lancar saja. Di akhir baru kita coba main nakal,” ujarnya.


Kala itu, Prima menjajal akun bodong itu bersama tiga kawannya yang terus membuntuti saat Prima menerima order. Selesai mengantar, pria kelahiran Ponorogo tersebut coba tak menuruti perintah penyelesaian pengantaran pelanggan di aplikasi. Dia malah menekan opsi cancel order.


Ting! Sebuah notifikasi muncul di layar handphone. Order yang sebenarnya sudah diselesaikan itu pun meloncat ke handphone rekannya. Dengan demikian, ponsel sang kawan hanya menerima notifikasi pembatalan order. ’’Ini namanya kena kotoran burung. Menclok wis,” jelas Prima, lalu terkekeh.


Dua kali dia mengobservasi cara kerja akun bodong tersebut bersama tiga kawannya. Hasilnya, pengemudi sangat dirugikan jika ada aktivitas ’’kotoran burung” seperti itu. Mereka bisa kena penalti dan pengurangan performa lantaran dianggap tidak mau menjemput pelanggan.


Setelah puas menjajal akun bodong itu, Prima tidak pernah lagi mencobanya. Seluruh data pendukung di handphone-nya segera di-reset untuk menghapus aplikasi tersebut. ’’Namanya juga penasaran. Kalau sudah tahu gini, ya jadi pembelajaran,” ungkapnya.


Prima yang juga mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas swasta di Surabaya itu mengatakan, tingkat risiko paling tinggi justru bisa diderita pelanggan. Dia mengkhawatirkan peluang kriminalitas yang bisa terjadi. ”Misalnya, driver berakun bodong ini hanya mengincar pelanggan perempuan, gimana coba?” katanya.


Selain itu, para pengemudi ilegal tersebut bisa membawa lari pesanan pelanggan. Barang yang sejatinya harus dikirimkan bisa dibajak di tengah jalan. Hilang tak berbekas. Rahmadi punya kisah yang berbeda. Dia terpaksa membeli akun bodong itu lantaran akunnya ter-suspend. Pria 30 tahun tersebut mengaku kena penalti lantaran menolak sejumlah order pelanggan.


Dia membeli akun itu dari seorang kenalannya. Pria yang akrab disapa Adi tersebut tidak pernah bertatap muka langsung dengan penjual akun bodong itu. ”Nggak tahu siapa yang jual, handphone-nya saya titipkan ke temen,” katanya.


Rahmadi menebus akun bodong itu dengan harga Rp 150 ribu. Dia membelinya dua pekan lalu. Yang dia sesalkan, akun bodong tersebut tidak bisa menerima pembayaran via Go-Pay. ’’Ya, kan saya nggak tahu. Akhirnya, ya cari yang cash aja,” ujarnya.


Menurut Prima, kasus yang dialami Rahmadi jadi lecutan awal para driver untuk membeli akun bodong. Para pembeli akun bodong biasanya pemilik akun asli yang sedang digantung (suspend).


Dalam kondisi suspend, driver terpaksa berhenti bekerja. Seluruh order tidak akan singgah ke handphone-nya. Tahapnya berjenjang. Pembekuan sementara itu terjadi dalam hitungan menit hingga diputus kontrak. ’’Tergantung kesalahannya,” tandas Prima.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore