
LUAS: Hamid Nabhan bersantai di rumah yang dibangun pada 1922. Kakeknya, Salim Nabhan, adalah orang Yaman yang datang ke Indonesia pada 1920.
JawaPos.com – Atmosfer kampung Arab sudah berbaur dengan modernisasi Metropolis. Penampakan itu terdapat pada gaya arsitektur sebagian kecil rumah penduduk yang dipertahankan sejak dulu. Salah satunya adalah rumah seniman yang juga keturunan Arab Yaman, Hamid Nabhan.
Sekilas, rumah di Jalan KH Mas Mansyur tersebut terlihat seperti rumah modern pada umumnya. Memang, sebagian rumah keluarga Hamid sudah mengalami perombakan. ”Dulu yang kali pertama tinggal di sini adalah kakek. Rumah itu dibangun pada 1922,” ucapnya ketika ditemui di kediamannya belum lama ini.
Kakek Hamid, Salim Nabhan, adalah pemilik salah satu percetakan tertua di Surabaya yang didirikan pada 1908. Letaknya di Jalan Panggung, tak jauh dari kediamannya. Salim merupakan pendatang dari Arab yang datang ke tanah air pada 1920. Dia menjalankan bisnis percetakan kitab-kitab berbahasa Arab hingga bisnisnya berkembang.
Salim memiliki empat anak yang selanjutnya menjadi generasi kedua penghuni rumah tersebut. Hamid adalah generasi ketiga. Dia merupakan bungsu di antara delapan bersaudara.
Meski lahir dan besar di Indonesia, sebagai keturunan Arab Yaman, keluarganya masih menyematkan tradisi. Salah satunya mempertahankan arsitektur rumah di bagian belakang. Di samping teras rumah, terdapat sebuah pintu sebagai akses menuju bagian belakang rumah.
Gemericik air terdengar sayup saat melewati jalan selebar 2 meter itu. Suara tersebut berasal air terjun buatan di kolam ikan koi. Rerumputan hijau membingkai kolam dan beberapa kursi diletakkan untuk bersantai. Kolam itu berada tepat di tengah deretan pilar-pilar yang dibangun pada 1922. Nuansa Arab menyeruak dari lekukan dinding, atap, dan ornamen yang menempel di pilar-pilar. ”Itu semua asli. Termasuk lantai dan beberapa kacanya,” ujar Hamid.
Salah satu yang menjadi ciri khas rumah Yaman adalah terdapat kamar mandi di depan. Posisinya tak jauh dari ruang tamu. ”Orang Yaman itu sangat menyukai tamu. Mereka menghormati tamu. Kamar mandi di depan itu disediakan untuk tamu,” terangnya.
Deretan foto juga terpajang rapi di ruang tamu. Uniknya, hanya ada foto dari keluarga laki-laki yang dipajang. Yakni, kakek dan ayahnya. ”Kami tidak memasang foto ibu. Untuk menghormati perempuan. Ada yang bilang kalau kecantikan perempuan hanya untuk suaminya,” lanjutnya.
Sambil berbincang, Hamid membakar wewangian, lalu meletakkannya di sudut ruangan. Bahan wewangian itu menggunakan kayu gaharu atau dupa. ”Itu salah satu tradisi. Bau harum membuat hati senang. Kalau ada tamu, kami biasanya membakar wangi-wangian. Kalau sedang tadarus (membaca Alquran, Red) juga,” ungkapnya. (esa/c16/jan/sep/JPG)

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
