Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 April 2017 | 20.55 WIB

Korban Kecelakaan Mendominasi, Rujukan RSUD Ibnu Sina dan RS Semen

Jumlah Korban Kecelakaan di Gresik* - Image

Jumlah Korban Kecelakaan di Gresik*

JawaPos.com – Kecelakaan (laka) lalu lintas (lantas) mendominasi kasus yang ditangani tenaga medis instalasi gawat darurat (IGD). Dalam tiga bulan terakhir, ada ratusan korban laka lantas yang dirujuk ke RS.


Di RSUD Ibnu Sina, misalnya. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, terdapat 374 korban laka lantas. Sementara itu, di RS Semen Gresik, jumlah korban laka yang dirawat mencapai 151 pasien.


Selain laka lantas, jumlah kasus laka rumah tangga cukup banyak. Mulai jatuh dari tangga hingga kontak dengan kaca atau pisau dapur. Dalam kurun waktu yang sama, tenaga medis RSUD Ibnu Sina menangani 312 pasien laka rumah tangga. Di RS Semen Gresik, terdapat 65 korban laka rumah tangga.


Kepala IGD RSUD Ibnu Sina dr Mohammad Rusydi menyatakan, kasus laka rumah tangga tergolong ringan. Tidak banyak kasus yang sampai membahayakan nyawa. Dia mencontohkan kasus jarum yang tidak sengaja tertelan. Meski cukup mengkhawatirkan, belum pernah ada yang sampai menjalani operasi. ’’Yang penting, jarumnya tidak menusuk organ dalam, nanti keluar bersama feses,’’ jelasnya. Kasus seperti itu, lanjut Rusydi, sering ditemui pada perempuan berhijab. Sebelum mengenakan hijab, perempuan punya kebiasaan yang berbahaya. Yakni, meletakkan jarum di bibir sambil menata hijab. ’’Ketika diajak bicara, otomatis mulut membuka dan jarum tertelan,’’ katanya.


Yang patut diwaspadai adalah laka lantas. Sebab, Gresik memiliki beberapa jalur yang tergolong rawan kecelakaan (jalur tengkorak). Di antaranya, jalan raya Driyorejo dan Duduksampeyan yang sering menelan korban. Rusydi mengungkapkan, beberapa pasien laka lantas datang dengan kondisi yang sudah parah. ’’Bahkan, tidak sedikit yang meninggal beberapa saat sebelum ditangani,’’ ucapnya.


Kondisi tersebut bisa disebabkan beberapa hal. Salah satunya adalah keterlambatan penanganan di TKP (tempat kejadian perkara). Selain itu, salah memberikan pertolongan pertama. ’’Memang belum pernah diteliti sampai sejauh itu. Tapi, ada kemungkinan terjadinya kesalahan saat pertolongan pertama,’’ ungkapnya. Menurut Rusydi, pertolongan pertama pada korban kecelakaan harus tepat. Salah memberikan pertolongan justru memperparah kondisi korban. ’’Ada caranya, tidak boleh asal-asalan,’’ ujarnya.


Kepala IGD RS Petrokimia dr Eko Priyanto menambahkan, ada teknik khusus dalam memberikan pertolongan kepada korban kecelakaan. Misalnya, pada korban yang kehilangan kesadaran. Harus dipastikan keadaan napas dan jantungnya. Kalau tidak ada tanda-tanda napas serta detak jantung, sebaiknya segera dilakukan resusitasi jantung paru (RJP). Juga, tidak lupa mencari bantuan. ’’RJP dilakukan 100 kali per menit. Dibutuhkan lebih dari satu orang,’’ tuturnya.


Selain itu, tidak boleh sembarangan memindahkan korban laka lantas. Dibutuhkan minimal tiga orang untuk menolong korban. Satu orang memegang kepala, sedangkan dua lainnya mengangkat badan dan kaki. ’’Tidak banyak yang paham cara mengangkat korban kecelakaan,’’ jelasnya.



Eko menyebutkan, bagian tubuh yang harus diperhatikan adalah tulang leher. Bagian tersebut menjadi titik paling vital. Harus ada orang yang menyangga bagian itu ketika hendak memindahkan korban. Jika tidak ada yang menyangga, dikhawatirkan terjadi patah tulang leher. Akibatnya fatal. Korban bisa lebih cepat kehilangan nyawa. ’’Jika patah tulang leher paling ujung (dekat tengkorak), harapan hidup korban tinggal 24 jam,’’ katanya. (adi/c23/ai/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore