Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Februari 2017 | 19.13 WIB

Menengok UMKM Desa Kepatihan, Kirim Tradisi hingga Luar Pulau

GENERASI KEDUA: Ila Finuril menyusun ayam yang hendak dipanggang Selasa (14/2) di rumah produksinya. - Image

GENERASI KEDUA: Ila Finuril menyusun ayam yang hendak dipanggang Selasa (14/2) di rumah produksinya.

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Desa Kepatihan, Kecamatan Tulangan, telah bertahan dari generasi ke generasi. Mereka pun berkembang hingga pasarnya bukan hanya Sidoarjo. Kualitas dan ciri khas produk menjadi andalan.



ASAP mengepul dari sebuah rumah berpagar biru. Dari dalam rumah yang berada di RT 2, RW 2, Desa Kepatihan, Tulangan, itu terdengar suara beberapa orang bercakap-cakap. Ketika memasuki halaman rumah, ada sebuah plakat kayu bertulis ’’Ayam Panggang Abah Misadi’’. Selasa (14/2) Jawa Pos mendapat kesempatan bertandang ke sana. Saat pukul 10.00, para pekerja sudah menyelesaikan sekitar 30 ayam panggang. Atim Supriyanto adalah salah seorang karyawan yang bertugas memanggang. Tiap tusuk merupakan satu ekor ayam utuh yang sudah dipilih kualitasnya oleh sang pemilik, Misadi, atau yang lebih dikenal dengan Abah Misadi. Bahan baku harus ayam jantan yang belum jago atau betina yang belum bertelur. Istilahnya lancur atau yang masih muda.


Abah Misadi mulai membangun usaha itu pada 2000. Kuliner tersebut menjadi andalan Desa Kepatihan. Semua tamu dan acara desa bakal merasakan masakan  keluarga Abah Misadi. ’’Biasanya buat acara ruwah desa atau pengajian rutin itu pesan di sini,’’ ujar Kasi Pemerintahan Desa Kepatihan Satuman.


Karena kondisi kesehatan Abah Misadi, saat ini usaha tersebut lebih banyak dikelola putri keduanya, Ila Finuril. Kemarin Ila sibuk mencelupkan ayam yang sudah dikukus dan ditusuk bambu yang sudah dipotongi dengan panjang tertentu. Bumbu racikan keluarga yang sudah turun-temurun itu diwadahi dalam wajan besar. Jadi, saat Ila mencelupkan ayam, tak ada satu bagian pun yang luput dari olesan bumbu. ’’Supaya bumbunya rata,’’ kata Ila.


Selain dijual dalam bentuk ayam panggang, Ila mengkreasikan ayam panggang dengan nasi kemaron. Yaitu, nasi yang khas sebagai tradisi di Desa Kepatihan saat mengadakan pengajian atau tasyakuran. Isinya perpaduan antara nasi kuning, sate kelapa, opor ayam, dan sayuran. ’’Banyak pelanggan yang minta ditambahkan ayam panggang, cuma dipisah,’’ ujar Ila.


Kemasan nasi kemaron pun terbilang unik. Yakni, semacam pot atau mangkuk besar dari tanah liat yang dilapisi daun. Dalam sehari, Ila yang dibantu delapan pekerja bisa memanggang paling sedikit 100 dan terbanyak 300 ekor ayam. Seluruh proses dilakukan para pekerja sejak ayam hidup. Dengan begitu, kebersihan dan kehalalan ayam olahan rumah produksi Abah Misadi pasti terjaga. Proses mencabuti bulu-bulu ayam juga dilakukan dengan menggunakan mesin perontok khusus.


Di dapur produksi ayam panggang tersebut tidak terlihat ada ceceran bulu ayam atau darah. Bau khas ayam yang terkadang apek pun nihil. ’’Beratnya juga hampir sama tiap ekornya. Rata-rata 1,4 ons per ekor supaya konsumen mendapat rata,’’ imbuh Ila.



Karena standar dan kualitas itu, Ila bisa mempertahankan pelanggan. Tak terkecuali pemerintah desa yang kerap memesan tumpeng atau nasi kemaron saat ada acara. Setiap hari usaha itu bisa mengantongi omzet Rp 5–10 juta. Penggemar kelezatan ayam panggang pun sampai pulau lain. ’’Pernah dipesan buat dikirim ke Bali, Kalimantan, sama Madura. Selain itu, konsumen paling banyak Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, sama Mojokerto,’’ terang Ila sembari melayani pembeli eceran yang langsung datang ke rumahnya. (via/c19/dio/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore