
DIBUKA: Pintu air Simo Pomahan menjadi akses masuk ke box culvert Banyu Urip. Ketinggian gorong-gorong itu mencapai 6 meter.
JawaPos.com – Pemprov Jatim meminta pemkot memantau ketat setiap box culvert. Terutama pada pembersihan. Sebab, tumpukan sedimen berpotensi menjadi masalah besar. Sedimen itu bisa berasal dari penguraian alami atau material tanah dan pasir yang terbawa roda kendaraan. Lewat celah yang ada, material tersebut akan memasuki box culvert. Lambat laun material mengeras dan mengurangi luasan penampang di dalam box culvert.
’’Jika luasan berkurang, debit air yang melintas bakal turun,’’ ujar Bambang Sadono, kepala dinas lingkungan hidup (DLH) Pemprov Jatim. Penurunan debit dapat berimbas pada lamanya air memasuki saluran ketika hujan turun. Akibatnya, jalan lebih lama tergenang. Tidak tertutup kemungkinan terjadi banjir.
Limbah rumah tangga juga bisa menjadi sumber masalah. Apalagi air buangan dari proses mencuci. Kandungan kimia dari bahan sabun atau detergen mengandung surfaktan yang sifatnya mengambil ketersediaan oksigen dalam air. Konstruksi box culvert yang tertutup membuat kandungan oksigen dalam air makin sedikit sehingga akan menimbulkan pergeseran ekosistem air. ’’Hewan dan tumbuhan yang hidup bakal berubah. Tidak seperti pada saluran yang terbuka,’’ katanya.
Bambang menyatakan, box culvert memicu kemungkinan rusaknya keseimbangan ekologis. Apalagi jika ekosistem mulai berganti. Tanpa perawatan yang baik, box culvert justru menjadi ancaman bagi lingkungan biota air.
Pakar geoteknik Universitas Kristen Petra Daniel Tjandra menegaskan, box culvert hanya solusi jangka pendek. ’’Lebih bagus kalau membuat tunnel (terowongan) sekalian,’’ tutur kepala departemen teknik sipil tersebut. Jika melihat contoh dari kota di negara-negara maju, pembangunan tidak difokuskan pada jalan. Justru mereka mengembangkan infrastruktur bawah tanah seperti MRT atau jalan terowongan.
Box culvert memang menguntungkan karena tidak memakan biaya sebesar pembuatan transportasi bawah tanah. Namun, lebarnya jalan malah membuat warga makin gemar menggunakan kendaraan pribadi. Lama-lama tentu jalan selebar apa pun tidak bisa menampung volume kendaraan.
Daniel menuturkan, akan lebih baik jika solusinya berupa transportasi publik. Tentu dengan perawatan yang baik dan harga tiket yang memadai. ’’Di luar negeri, bahkan rektor naik subway,’’ ungkapnya.
Tetapi, untuk masalah keawetan dan perawatan, Daniel yakin box culvert di Surabaya sudah memenuhi standar. ’’Sebelumnya, pasti dihitung daya dukung tanahnya berapa,’’ terang pria yang pernah menempuh pendidikan di Busan, Korea Selatan, tersebut.
Jenis tanah di Surabaya berbeda untuk setiap kawasan. Karena itu, jenis box culvert harus disesuaikan. Jika perhitungannya sudah pas, kemungkinan box culvert rusak karena penurunan tanah sangat kecil.
Cilcia Kusumatsuti, pakar drainase UK Petra, yakin box culvert di Surabaya tahan lama dan tidak mampet. ’’Yang ada itu endapan lumpurnya, bergantung jenis tanah dan kualitas air hujan,’’ jelasnya. Endapan tanahlah yang menjadi faktor utama pendangkalan dalam saluran. Karena itu, menurut Cilcia, perlu ada kontrol sedimen setidaknya setahun sekali.
Bila endapan tanah sudah tinggi, ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama, membuka lubang utama box culvert dan mengeruknya. ’’Box culvert harus punya main hole setiap beberapa puluh meter yang bisa dibuka,’’ paparnya. Kedua, penggelontoran air. Sedimen digerus dengan aliran air yang kuat dari ujung box culvert. Tentu cara kedua itu hanya bisa diaplikasikan bila endapan tidak terlalu tebal.
Cilcia mengungkapkan, masyarakat masih sering salah kaprah membedakan drainase dengan sungai. Dia lantas mencontohkan sungai yang siap dipasang box culvert di Jemur Andayani. Menurut dia, sungai tersebut sebenarnya adalah saluran. Karena itu, tidak seharusnya ada ekosistem di situ. ’’Kalau sungai itu seperti Wonokromo dan Kalimas,’’ terang lulusan Universitas Atma Jaya Jogjakarta tersebut.
Keberadaan makhluk hidup di drainase bisa disebabkan saluran yang memang terbuka. Hal itu memungkinkan bibit-bibit kehidupan tumbuh dan berkembang biak sehingga menciptakan ekosistem. ’’Itulah yang kadang membuat drainase kelihatan seperti sungai alami,’’ tuturnya.
Pernyataan lain disampaikan Suparto Wijoyo. Dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga tersebut menilai sungai-sungai kecil yang kini ditutupi box culvert itu bukan saluran buatan. Misalnya, sungai di sepanjang Banyu Urip hingga Benowo.
Suparto menyebutkan, Surabaya sebetulnya adalah kota berwawasan sungai. Bukan hanya yang besar, aliran-aliran yang berukuran lebih kecil termasuk cabang-cabang sungai. Dengan dibangunnya box culvert di atas aliran sungai, Suparto mengibaratkan Surabaya sebagai pemakaman kota. Air sungai sebagai sumber kehidupan zaman lampau kini ditutupi beton-beton penyangga jalan. ’’Air ditenggelamkan seolah-olah air ini adalah musuh kita,’’ ungkapnya.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
