Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Desember 2016 | 00.42 WIB

Langkah Yuk-Yuk, Erinda Nabila Wulansari, di Level Nasional; Pelatih Paskibra yang Jabat Dua Duta

Erinda Nabila Wulansari - Image

Erinda Nabila Wulansari

PADA 2014 Erinda Nabila Wulansari terpilih sebagai wakil 1 Yuk Sidoarjo. Sejak itu, rutinitasnya berubah. Image tomboi perlahan mulai menghilang. Dia sudah mengenal perawatan, gincu, dan shading alis.



Dia pun mulai memakai heels. ’’Dulu dikenal tomboi saat masih ikut paskibra di SMAN 1 Krian. Karena ikut ini (pemilihan Duta Pariwisata Guk & Yuk, Red), saya harus bisa grooming dan anggun,’’ ujarnya. 



Gaya bicaranya juga mulai tertata. Anak pertama dari dua bersaudara itu telah berkali-kali mengikuti kelas public speaking. Peningkatan dua kemampuan tersebut lantas ditularkan di lingkungan sekitarnya.



Apalagi, dia juga melatih paskibra di SMAN 1 Krian. Dia ingin menerapkan pasukan pengibar bendera yang bisa dandan. Tidak hanya penampilan, prestasi Erninda juga melesat.



Pada Juli 2015 dia mengikuti Duta Museum Jawa Timur dan berhasil terpilih menjadi wakil 2. Jabatan itu disandangnya selama dua tahun dan berakhir pada 2017.



Anak pasangan Edy Rianto dan Nurul Lisak’ Adah tersebut pada Maret 2016 kembali mengikuti seleksi Duta Humas Polda Jatim. Akhirnya, dia terpilih menjadi runner-up.



”Jadi, sekarang menjabat dua duta. Senang sih malah karena jadi lebih banyak kontribusi untuk kebaikan,” ungkap gadis kelahiran Sidoarjo, 16 September 1997 itu.



Banyak ilmu yang dia dapat saat menjadi Yuk. Ilmu tersebut pun bisa dimanfaatkan kala dia menjadi Duta Museum Jatim dan Duta Humas Polda JatimAntara lain, ilmu bersosialisasi, koordinasi yang baik, serta manajerial.



Baik manajemen waktu maupun kegiatan. Pengetahuan tentang cara mengenal Sidoarjo dan beragam karakter masyarakat juga jadi nilai tambah tersendiri saat dia menjabat dua duta kini.



”Untuk menyelesaikan masalah di daerah atau masyarakat tertentu, kita kan harus mengenalnya dulu dengan baik,” kata gadis asal Desa Kramatjegu, Taman, itu.



Dia mencontohkan saat melakukan kunjungan ke museum-museum di Jogjakarta. Menurut dia, kegiatan tersebut tidak akan berimbas maksimal jika dia hanya melihat-lihat.



Karena itu, sebelum melakukan kunjungan, dia memetakan masalah di museum Jatim. Antara lain, penataan ruangan yang berbeda, pelayanannya, dan pendataan koleksinya.



Sehingga museum di sana bisa banyak dikunjungi. Setelah melakukan survei lengkap di museum sendiri, saat kunjungan, dia bisa membuat perbandingan lebih terperinci.



”Salah satu poin yang saya dapat, penataan museum itu harus menarik agar banyak dikunjungi,” ujarnya. Dengan konsep ruangan yang menarik, anak muda terpancing datang.



Walaupun hanya tertarik menjadikannya objek foto maupun selfie, mereka bakal melihat koleksinya. Biasanya, hasil jepretan akan diunggah di media sosial.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore