Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 Januari 2017 | 02.36 WIB

Cerobong Tua PG Candi Baru Sidoarjo Tak Manja

MASIH KUKUH: Salah satu bangunan asli yang berdiri sejak 1832 sesuai angka yang tertera di sisi atas tembok dindingnya. Saat ini berfungsi sebagai gudang penyimpanan gula hasil produksi PG Candi Baru. - Image

MASIH KUKUH: Salah satu bangunan asli yang berdiri sejak 1832 sesuai angka yang tertera di sisi atas tembok dindingnya. Saat ini berfungsi sebagai gudang penyimpanan gula hasil produksi PG Candi Baru.

Di masa lalu, Sidoarjo pernah menjadi salah satu pusat industri gula di Jatim. Setidaknya ada 16 pabrik yang berdiri. Kini yang masih bertahan hanya empat pabrik. Salah satunya Pabrik Gula (PG) Candi Baru.



ARISKI PRASETYO HADI-CHANDRA SATWIKA



DARI kejauhan, tiga cerobong asap milik PG Candi Baru yang tinggi menjulang itu terlihat jelas. Usia pabrik gula yang berdiri tepat di pinggir Jalan Raya Candi tersebut menginjak 185 tahun.


Kedatangan kami disambut hangat oleh Muhammad Wahyudi, staf bagian pabrikasi PT Pabrik Gula (PG) Candi Baru. Pria 50 tahun tersebut bekerja di PG Candi Baru sejak 1988. Dia mengawali karirnya sebagai karyawan tidak tetap yang hanya bekerja setiap musim giling. Bersama Wahyudi, kami menelusuri berbagai sudut pabrik legendaris yang didirikan pada 1832 oleh keluarga The Goen Tjing itu.


Semula, namanya N.V Suiker Fabriek Tjandi. Keluarga The Goen Tjing menguasai perusahaan selama 79 tahun. Pada 1911 kepemilikan pabrik berpindah tangan. Keluarga The Goen Tjing menyerahkan perusahaan kepada keluarga Kapten Tjoa. Perang Dunia II menjadi masa yang sulit bagi PG Candi Baru. Pabrik bergonta-ganti pemilik. Bahkan, pabrik sempat dikuasai Perusahaan Perkebunan XXII. Belakangan, kepemilikan dikembalikan lagi ke keluarga Kapten Tjoa.


Jalan pahit sempat dihadapi perusahaan pembuat gula tersebut. Periode 1941–1950, pabrik sempat mandek. Tutup. Pada 1951 pabrik kembali dihidupkan warga Belanda. Industri gula pun kembali berdenyut. Pemerintah sempat menasionalisasikan pabrik itu pada 1962. Nama perusahaan berubah menjadi Pabrik Gula Tjandi.


Pada 1963 kepemilikan pabrik jatuh ke tangan pengusaha Indonesia Wirontono Bakrie. Keluarga pengusaha itu menguasai saham mayoritas hingga 1991. Setelah itu, pabrik kembali berpindah tangan. PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) mengambil alih seluruh saham pabrik. Sejak 1993, Pabrik Gula Tjandi berganti nama menjadi PT PG Candi Baru.


PT PG Candi Baru menjadi destinasi pertama kami. Rabu (18/1) suasananya tidak terlalu ’’meriah’’. Maklum, musim giling memang baru mulai sekitar Mei. Musim tersebut berlangsung selama enam bulan atau sampai Oktober.


***


Tak mudah bagi orang luar untuk bisa bebas mondar-mandir di dalam pabrik gula tersebut. Kami termasuk beruntung. Bersama Wahyudi sebagai tour guide, kami bisa melihat secara langsung berbagai jejak dari masa lalu. Rasanya seperti kembali ke masa lampau.


Dari gerbang utama, kami disambut bangunan berpostur tinggi. Di atasnya menggantung mesin crane yang berbentuk melengkung dengan rantai panjang. Fungsinya mengangkut tebu dari lori. Tebu yang sudah ditimbang diangkat dengan crane, lalu masuk ke mesin penggilingan. Crane merupakan barang baru bagi pabrik tebu. Sebab, dulu, dari kebun menuju mesin gilingan, tebu diangkut tenaga manusia.


Setelah melewati mesin pengangkut tebu, kami disambut bangunan gedung yang berukuran besar. Mirip gudang penyimpanan. Atapnya terbuat dari seng. Temboknya bercat putih. Kesan arsitektur khas zaman kolonial Belanda terlihat dari hiasan berbentuk segitiga dan bulatan yang menempel di dinding bangunan. Pucuk atapnya berbentuk lancip. Bukti lawasnya bangunan itu terlihat dari goresan tahun yang menempel di dinding gedung. 1832.


Bangunan tersebut masih terawat dengan baik. Tidak ada bagian yang bopeng. Pihak pabrik, tampaknya, benar-benar menjaga heritage itu. Perawatan dilakukan dengan mengecat ulang bangunan. Karena itu, tidak ada kesan kumuh.


Wahyudi menjelaskan, ada lima bangunan era awal PG Candi Baru yang masih bertahan hingga kini. Misalnya, gedung berukuran besar yang barusan kami masuki dan cerobong asap. Di PG Candi Baru, ada tiga cerobong asap. Satu di antaranya asli peninggalan Belanda. Dua sisanya bangunan baru. Cerobong yang asli terbuat dari batu bata. Cerobong diberi warna putih setrip merah. Wahyudi menyatakan, tinggi cerobong lebih dari 100 meter. Menjulang ke langit. Yang bangunan baru terbuat dari lempengan besi. Sekilas lebih kurus. ”Kalau yang tua awet. Yang baru harus dirawat setiap tahun,” katanya.


Cerobong asap memang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan pabrik gula. Selain menjadi tempat pembuangan asap sisa pembakaran, cerobong asap menjadi penanda pergantian sif. Ketika musim giling, dengan mengatur volume keluarnya asap sedemikian rupa, cerobong asap tersebut bisa mengeluarkan bunyi keras. COSSSS. Ada tiga sif, yaitu pukul 06.00, pukul 14.00, dan pukul 22.00.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore