Seseorang yang memiliki anak yang meledak-ledak. (Magnific)
Bagi orang dewasa, reaksi tersebut mungkin terlihat berlebihan. Kita mungkin berpikir bahwa anak itu terlalu manja, keras kepala, tidak tahu aturan, atau sengaja membuat keributan untuk mendapatkan perhatian. Tidak sedikit pula orang tua yang langsung merespons dengan kemarahan, bentakan, ancaman, atau hukuman agar anak segera menghentikan perilakunya.
Namun, psikologi perkembangan anak menawarkan sudut pandang yang berbeda. Ledakan kemarahan pada anak tidak selalu berarti bahwa mereka memiliki karakter buruk atau sengaja bersikap nakal. Sering kali, kemarahan merupakan bentuk komunikasi dari seorang anak yang belum mampu memahami, mengelola, dan mengungkapkan perasaannya dengan cara yang lebih sehat.
Anak-anak masih berada dalam proses perkembangan kemampuan mengendalikan impuls, mengatur emosi, memahami kekecewaan, dan menghadapi tekanan. Bagian otak yang berperan dalam perencanaan, pengambilan keputusan, serta pengendalian diri, terutama korteks prefrontal, juga masih berkembang selama masa kanak-kanak dan remaja.
Itulah sebabnya, situasi yang tampaknya kecil bagi orang dewasa dapat terasa sangat besar bagi seorang anak.
Lalu, mengapa begitu banyak anak mudah meledak-ledak dalam kemarahan?
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (6/11), terdapat enam alasan yang dapat menjelaskannya menurut perspektif psikologi.
1. Anak Belum Memiliki Kemampuan Mengelola Emosi dengan Baik
Salah satu alasan paling mendasar mengapa anak mudah meledak dalam kemarahan adalah karena kemampuan mereka dalam mengatur emosi belum berkembang secara matang.
Dalam psikologi, kemampuan ini dikenal sebagai emotional regulation atau regulasi emosi. Regulasi emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, mengendalikan, dan mengekspresikan perasaannya secara tepat.
Pada orang dewasa, ketika menghadapi sesuatu yang mengecewakan, biasanya terdapat beberapa pilihan respons. Kita bisa menarik napas, berpikir sejenak, mempertimbangkan situasi, kemudian memutuskan bagaimana harus bertindak.
Namun, anak-anak belum tentu memiliki kemampuan tersebut.
Ketika mainannya diambil, permintaannya ditolak, atau keinginannya tidak terpenuhi, mereka mungkin langsung merasakan frustrasi yang sangat kuat. Perasaan itu kemudian keluar dalam bentuk tangisan, teriakan, amukan, atau perilaku agresif.
Bukan berarti anak tidak memiliki perasaan yang bisa dikendalikan. Masalahnya adalah mereka belum sepenuhnya memiliki keterampilan untuk mengendalikan perasaan tersebut.
Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa kemampuan mengatur emosi berkembang secara bertahap. Pada awal kehidupan, anak sangat bergantung pada orang dewasa untuk membantu menenangkan dirinya. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, mereka mulai belajar melakukan hal tersebut secara mandiri.
Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting.
Ketika anak sedang marah, orang tua dapat membantu dengan memberikan nama pada emosi yang sedang dirasakan.
Misalnya, mengatakan, "Kamu sedang kecewa karena tidak boleh bermain lebih lama, ya?"
Kalimat sederhana tersebut membantu anak memahami bahwa perasaan yang dialaminya memiliki nama dan dapat dijelaskan melalui kata-kata.
Anak juga perlu belajar bahwa marah adalah perasaan yang wajar, tetapi memukul, merusak barang, atau menyakiti orang lain bukanlah cara yang dapat dibenarkan untuk mengekspresikannya.
Semakin sering anak mendapatkan pendampingan emosional yang konsisten, semakin besar kesempatan mereka mengembangkan keterampilan mengendalikan diri.
2. Anak Merasa Tidak Didengarkan dan Tidak Dipahami oleh Orang Tuanya
Alasan kedua berkaitan dengan kebutuhan emosional anak untuk didengarkan, diperhatikan, dan dipahami.
Bagi orang dewasa, masalah yang dihadapi anak terkadang terlihat sepele. Ketika seorang anak menangis karena gambar buatannya rusak, misalnya, orang tua mungkin berkata, "Sudahlah, cuma gambar begitu saja."
Padahal, bagi anak tersebut, gambar itu mungkin merupakan hasil usaha yang sangat berarti. Ia telah menghabiskan waktu untuk membuatnya, merasa bangga terhadap hasilnya, dan berharap orang lain menghargainya.
Ketika orang tua meremehkan perasaannya, anak dapat merasa bahwa pengalaman emosionalnya tidak penting.
Dalam psikologi, pengalaman seperti ini berkaitan dengan konsep emotional invalidation, yaitu kondisi ketika perasaan seseorang diabaikan, ditolak, diremehkan, atau dianggap tidak pantas.
Jika hal ini terjadi berulang kali, anak mungkin kesulitan mengungkapkan perasaannya melalui komunikasi yang tenang.
Sebagian anak akhirnya belajar bahwa menangis keras, berteriak, atau mengamuk merupakan satu-satunya cara agar orang dewasa memperhatikan mereka.
Perlu dipahami bahwa tidak semua ledakan kemarahan merupakan upaya sadar untuk mencari perhatian. Bisa jadi anak memang sedang mengalami tekanan emosional yang belum mampu dijelaskan.
Misalnya, seorang anak pulang sekolah dalam keadaan mudah tersinggung. Ketika ditanya, ia hanya menjawab bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, beberapa menit kemudian ia marah besar hanya karena diminta merapikan mainan.
Bisa jadi, kemarahan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh mainan. Ada pengalaman lain yang belum berhasil ia ceritakan, seperti konflik dengan teman, merasa dipermalukan, atau mengalami kesulitan mengikuti pelajaran.
Karena itu, orang tua perlu belajar mendengarkan sebelum menghakimi.
Cobalah memberikan perhatian penuh ketika anak bercerita. Hindari langsung memotong pembicaraan, menyalahkan, atau membandingkan perasaannya dengan pengalaman orang lain.
Anak yang merasa didengarkan akan memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar mengomunikasikan perasaannya tanpa harus selalu menggunakan kemarahan.
3. Anak Terlalu Sering Mengalami Tekanan dan Stres
Tidak semua orang menyadari bahwa anak-anak juga dapat mengalami stres.
Bahkan, dalam beberapa keadaan, tekanan yang dialami anak bisa sangat besar meskipun orang dewasa tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang serius.
Tuntutan akademis, jadwal kegiatan yang terlalu padat, konflik keluarga, perubahan lingkungan, masalah pertemanan, hingga ekspektasi orang tua dapat menjadi sumber tekanan emosional.
Dalam psikologi, stres merupakan respons tubuh dan pikiran ketika seseorang menghadapi tuntutan atau situasi yang dirasakan melebihi kemampuannya untuk mengatasi keadaan tersebut.
Pada anak-anak, stres tidak selalu terlihat dalam bentuk kesedihan atau kecemasan.
Sebagian anak justru menunjukkan stres melalui perilaku mudah marah, membantah, menangis, menolak perintah, sulit berkonsentrasi, atau sering mengalami ledakan emosi.
Contohnya, seorang anak yang setiap hari harus mengikuti kegiatan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, mengikuti les tambahan, dan memenuhi berbagai tuntutan akademis mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat.
Ketika tubuh dan pikirannya sudah kelelahan, kemampuan mengendalikan emosi dapat menurun.
Akibatnya, hal kecil seperti kehilangan pensil atau diminta mengulang pekerjaan rumah bisa memicu ledakan kemarahan.
Ada pula anak yang mengalami tekanan karena situasi keluarga. Pertengkaran orang tua, ketidakstabilan hubungan keluarga, perubahan tempat tinggal, atau kurangnya rasa aman dapat memengaruhi kondisi emosional mereka.
Anak mungkin tidak memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi, tetapi mereka dapat merasakan ketegangan di lingkungan sekitarnya.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku anak, bukan hanya menilai perilaku yang terlihat.
Jika anak semakin sering marah, cobalah mengevaluasi apakah mereka mendapatkan cukup waktu tidur, waktu bermain, perhatian, dan kesempatan untuk beristirahat.
Terkadang, yang dibutuhkan anak bukanlah hukuman tambahan, melainkan lingkungan yang lebih tenang dan rutinitas yang lebih seimbang.
4. Anak Meniru Cara Orang Dewasa Mengekspresikan Kemarahan
Salah satu prinsip penting dalam psikologi perkembangan adalah bahwa anak banyak belajar melalui pengamatan.
Konsep ini berkaitan dengan Social Learning Theory atau teori belajar sosial yang dikembangkan oleh psikolog Albert Bandura.
Menurut teori tersebut, manusia dapat mempelajari perilaku dengan mengamati tindakan orang lain, kemudian meniru perilaku yang dianggap sebagai contoh.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua merupakan salah satu model perilaku yang paling berpengaruh bagi anak.
Bayangkan seorang anak yang setiap hari melihat orang tuanya berteriak ketika menghadapi masalah. Ketika marah, orang tuanya membanting pintu, mengeluarkan kata-kata kasar, atau mengancam orang lain.
Anak mungkin akan menyerap pola tersebut sebagai cara yang normal untuk mengekspresikan kemarahan.
Ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, ia kemudian melakukan hal serupa.
Misalnya, ketika adiknya mengambil mainan, ia langsung berteriak. Ketika permintaannya ditolak, ia membanting barang. Ketika merasa tidak dihargai, ia menggunakan kata-kata kasar.
Anak tidak selalu memahami bahwa perilaku tersebut salah. Ia mungkin hanya sedang mengulangi pola yang sering dilihatnya di rumah.
Pengaruh ini tidak hanya berasal dari orang tua. Anak juga dapat meniru perilaku saudara kandung, teman sebaya, tokoh dalam tontonan, maupun konten digital yang sering mereka konsumsi.
Namun, hal ini bukan berarti orang tua harus menjadi manusia sempurna yang tidak pernah marah.
Orang tua tetap bisa merasa kesal, kecewa, dan frustrasi. Hal terpenting adalah bagaimana mereka mengelola emosi tersebut.
Ketika orang tua terlanjur membentak, mereka dapat memberikan contoh tanggung jawab emosional dengan meminta maaf dan menjelaskan bahwa berteriak bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
Misalnya, "Ayah tadi marah dan berbicara terlalu keras. Ayah seharusnya menyampaikan dengan lebih tenang."
Tindakan seperti ini mengajarkan bahwa seseorang dapat melakukan kesalahan, mengakui kesalahannya, dan memperbaiki perilakunya.
Anak tidak hanya membutuhkan nasihat tentang cara mengendalikan kemarahan. Mereka juga membutuhkan contoh nyata dari orang dewasa di sekitarnya.
5. Anak Terlalu Sering Mendapatkan Apa yang Diinginkannya Tanpa Belajar Menghadapi Kekecewaan
Alasan kelima berkaitan dengan kemampuan anak menghadapi frustrasi.
Dalam psikologi, kemampuan untuk menoleransi kekecewaan dikenal sebagai frustration tolerance.
Kemampuan ini sangat penting karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan seseorang.
Ada kalanya anak harus menunggu, berbagi, menerima penolakan, mengikuti aturan, atau menghadapi kegagalan.
Namun, jika anak terlalu sering mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa pernah belajar menghadapi batasan, ia mungkin mengalami kesulitan ketika harus menerima kenyataan bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi.
Contohnya, seorang anak selalu mendapatkan mainan baru setiap kali menangis di toko. Orang tua mungkin melakukan hal tersebut karena tidak ingin anak membuat keributan.
Pada awalnya, cara tersebut tampak berhasil. Anak berhenti menangis, orang tua merasa lebih tenang, dan situasi kembali terkendali.
Namun, ada kemungkinan anak mempelajari hubungan antara perilaku dan hasil: ketika ia menangis atau mengamuk, keinginannya akan dipenuhi.
Dalam psikologi perilaku, pola ini dapat berkaitan dengan reinforcement atau penguatan perilaku.
Ketika suatu perilaku berulang kali diikuti oleh hasil yang diinginkan, kemungkinan perilaku tersebut muncul kembali dapat meningkat.
Bukan berarti setiap anak yang sering mengamuk pasti dimanjakan. Ada banyak faktor lain yang dapat menyebabkan ledakan emosi.
Namun, konsistensi dalam memberikan batasan tetap penting.
Anak perlu belajar bahwa orang tua dapat memahami perasaannya tanpa harus selalu memenuhi seluruh permintaannya.
Misalnya, ketika anak marah karena tidak dibelikan mainan, orang tua dapat mengatakan:
"Ibu tahu kamu sangat menginginkan mainan itu. Kamu boleh merasa kecewa, tetapi hari ini kita tidak akan membelinya."
Dengan demikian, anak belajar dua hal sekaligus: perasaannya diterima, tetapi batasan tetap berlaku.
Menghadapi kekecewaan merupakan keterampilan yang perlu dilatih sejak dini. Anak yang belajar menerima penolakan secara sehat akan memiliki bekal yang lebih baik untuk menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.
6. Penggunaan Gadget Berlebihan dan Kurangnya Aktivitas yang Mendukung Perkembangan Emosi
Alasan terakhir yang patut diperhatikan adalah pola penggunaan teknologi digital dalam kehidupan anak.
Saat ini, gadget telah menjadi bagian dari keseharian banyak keluarga. Anak dapat mengakses video, permainan digital, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan hanya melalui satu perangkat.
Teknologi sebenarnya tidak selalu buruk. Konten digital yang sesuai usia dapat memberikan manfaat pendidikan dan hiburan.
Namun, penggunaan gadget yang berlebihan, terutama ketika menggantikan waktu tidur, aktivitas fisik, interaksi sosial, dan permainan langsung, dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kesulitan regulasi emosi.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Pertama, anak dapat terbiasa mendapatkan hiburan secara instan. Dalam permainan digital, misalnya, mereka sering memperoleh respons langsung berupa poin, hadiah, suara, atau perubahan visual.
Ketika perangkat tiba-tiba dihentikan, anak mungkin mengalami kesulitan menghadapi perubahan aktivitas tersebut.
Kedua, penggunaan layar menjelang waktu tidur dapat mengganggu rutinitas istirahat. Padahal, kurang tidur dapat membuat anak lebih mudah tersinggung, impulsif, dan sulit mengendalikan emosi.
Ketiga, waktu yang terlalu banyak dihabiskan di depan layar dapat mengurangi kesempatan anak berlatih keterampilan sosial secara langsung.
Melalui permainan bersama teman, anak sebenarnya sedang belajar banyak hal: menunggu giliran, menerima kekalahan, berbagi, menyelesaikan konflik, dan memahami perasaan orang lain.
Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan bagian penting dari perkembangan emosional.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya berfokus pada berapa lama anak menggunakan gadget, tetapi juga memperhatikan apa yang dikorbankan karena penggunaan tersebut.
Apakah anak masih memiliki waktu bermain di luar rumah? Apakah mereka cukup tidur? Apakah mereka masih berinteraksi dengan keluarga? Apakah mereka memiliki kesempatan untuk bermain kreatif tanpa layar?
Membuat aturan penggunaan gadget yang konsisten, menyediakan aktivitas alternatif, serta mendampingi anak ketika mengakses konten digital dapat membantu menciptakan keseimbangan yang lebih sehat.
Penting untuk diingat bahwa gadget bukan satu-satunya penyebab anak mudah marah. Hubungan antara penggunaan layar dan regulasi emosi juga dapat bersifat dua arah: anak yang sudah mengalami kesulitan mengelola emosi mungkin lebih sering mencari pelarian melalui layar.
Bagaimana Seharusnya Orang Tua Menghadapi Anak yang Mudah Meledak dalam Kemarahan?
Setelah memahami berbagai alasan di atas, kita perlu menyadari bahwa menghadapi anak yang mudah marah membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pemahaman terhadap perkembangan psikologisnya.
Berikut beberapa pendekatan yang dapat diterapkan orang tua.
1. Tetap tenang ketika anak sedang mengamuk.
Ketika anak berteriak, orang tua sebaiknya tidak langsung membalas dengan teriakan. Respons yang lebih tenang dapat membantu mengurangi ketegangan. Pastikan anak dan orang di sekitarnya tetap aman.
2. Akui perasaan anak tanpa membenarkan perilaku yang salah.
Katakan bahwa anak boleh merasa marah atau kecewa, tetapi tidak boleh memukul, menendang, atau menyakiti orang lain.
3. Ajarkan anak mengenali emosinya.
Bantu anak memahami perbedaan antara marah, sedih, kecewa, takut, dan frustrasi. Semakin baik kemampuan mereka mengenali emosi, semakin mudah mereka mengomunikasikannya.
4. Berikan batasan yang jelas dan konsisten.
Jangan mengubah aturan hanya karena anak mengamuk. Namun, sampaikan aturan dengan penuh penghargaan dan tanpa mempermalukan anak.
5. Perhatikan kebutuhan dasar anak.
Pastikan anak mendapatkan tidur yang cukup, makanan yang memadai, aktivitas fisik, waktu bermain, dan perhatian emosional.
6. Jadilah contoh dalam mengelola emosi.
Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, melainkan juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Jika ledakan kemarahan sangat sering terjadi, berlangsung lama, membahayakan diri sendiri atau orang lain, atau mengganggu kehidupan sekolah dan hubungan sosial, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog anak atau tenaga kesehatan profesional.
Kesimpulan: Anak yang Mudah Marah Tidak Selalu Membutuhkan Hukuman, tetapi Membutuhkan Pemahaman
Ledakan kemarahan pada anak merupakan fenomena yang perlu dipahami secara lebih mendalam. Di balik perilaku berteriak, menangis, membanting barang, atau menolak perintah, mungkin terdapat kemampuan regulasi emosi yang belum matang, kebutuhan emosional yang belum terpenuhi, tekanan psikologis, pengaruh lingkungan, kesulitan menghadapi kekecewaan, atau pola penggunaan teknologi yang kurang seimbang.
Enam alasan tersebut menunjukkan bahwa perilaku anak tidak dapat dinilai hanya dari apa yang terlihat di permukaan.
Anak yang mengamuk belum tentu anak yang nakal. Anak yang membantah belum tentu anak yang tidak menghormati orang tuanya. Dan anak yang sulit mengendalikan kemarahan belum tentu memiliki karakter buruk.
Sering kali, mereka sedang belajar menghadapi emosi yang bahkan belum sepenuhnya mereka pahami.
Tugas orang tua bukan sekadar menghentikan kemarahan anak, melainkan membantu mereka memahami apa yang sedang dirasakan dan mengajarkan cara mengekspresikannya dengan lebih sehat.
Sebab, anak tidak dilahirkan dengan kemampuan mengendalikan emosi yang sempurna. Kemampuan tersebut berkembang melalui pengalaman, hubungan yang aman, bimbingan, dan contoh dari orang-orang dewasa di sekitarnya.
Pada akhirnya, anak yang belajar mengelola kemarahan bukanlah anak yang tidak pernah marah. Mereka adalah anak yang perlahan-lahan belajar bahwa kemarahan boleh dirasakan, tetapi tidak harus dilampiaskan dengan menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Prediksi Skor Lillestrom SK vs Viktoria Plzen di Liga Europa: Duel Berpotensi Berjalan Terbuka
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Prediksi Skor Lion City Sailors vs Adelaide United di ACL Two: Tuan Rumah Diunggulkan Menang Lagi

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022