seseorang yang menjadi pemimpin tanpa berusaha keras. (Magnific)
Sering kali, orang yang paling dihormati di dalam sebuah tim bukanlah orang yang memiliki posisi tertinggi. Mereka mungkin bukan manajer, supervisor, atau kepala departemen. Namun ketika ada masalah, orang-orang datang kepada mereka. Ketika keputusan sulit harus dibuat, pendapat mereka dicari. Ketika suasana kerja mulai kacau, keberadaan mereka membuat keadaan terasa lebih tenang.
Menariknya, orang-orang seperti ini biasanya tidak terlihat seperti sedang berusaha menjadi pemimpin.
Mereka tidak terus-menerus berbicara dalam rapat. Mereka tidak memaksakan pendapat. Mereka tidak berusaha membuat semua orang tahu betapa sibuknya mereka. Bahkan, dalam banyak situasi, mereka justru terlihat biasa saja.
Namun ada sesuatu yang berbeda dari cara mereka bertindak.
Mereka memiliki kebiasaan-kebiasaan kecil yang secara psikologis membangun kepercayaan, kredibilitas, rasa aman, dan pengaruh.
Itulah mengapa jika kamu ingin menjadi sosok yang dianggap layak memimpin di tempat kerja, kamu tidak harus bekerja dua kali lebih keras daripada orang lain.
Kamu perlu bekerja dengan cara yang membuat orang lain percaya bahwa kamu mampu membawa keadaan menjadi lebih baik.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (9/10), terdapat enam kebiasaan sederhana yang bisa kamu lakukan setiap hari.
1. Biasakan Mendengarkan Lebih Banyak Daripada Berbicara
Salah satu kesalahan terbesar orang yang ingin terlihat sebagai pemimpin adalah merasa bahwa mereka harus selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan.
Dalam rapat, mereka buru-buru memberikan pendapat.
Dalam diskusi, mereka memotong pembicaraan.
Ketika rekan kerja menceritakan masalah, mereka langsung memberikan solusi.
Padahal, psikologi manusia menunjukkan bahwa seseorang bisa mendapatkan pengaruh yang jauh lebih besar ketika ia membuat orang lain merasa didengar dan dipahami.
Seorang pemimpin tidak harus menjadi orang yang paling banyak bicara.
Sering kali, pemimpin justru menjadi orang yang paling mampu mendengarkan apa yang tidak dikatakan orang lain.
Bayangkan ada seorang rekan kerja yang datang kepadamu dan berkata:
"Aku sepertinya kesulitan menyelesaikan proyek ini."
Respons yang biasa diberikan mungkin:
"Coba kamu kerjakan bagian A dulu, setelah itu bagian B."
Respons yang lebih kuat adalah:
"Bagian mana yang paling membuatmu kesulitan?"
Pertanyaan sederhana itu mengubah posisi kamu.
Kamu tidak langsung menjadi orang yang memberi perintah. Kamu menjadi orang yang membantu orang lain memahami masalahnya sendiri.
Ini penting karena manusia cenderung lebih menghargai seseorang yang membuat mereka merasa dipahami, bukan sekadar seseorang yang memberi nasihat.
Praktik sederhana setiap hari
Mulai sekarang, ketika seseorang berbicara kepadamu, tahan keinginan untuk langsung memberikan solusi.
Gunakan tiga kebiasaan:
Dengarkan.
Ajukan pertanyaan.
Baru berikan pendapat jika memang diperlukan.
Cobalah bertanya:
"Menurutmu, apa penyebab utamanya?"
"Bagian mana yang paling sulit?"
"Kalau kamu punya lebih banyak waktu, apa yang ingin kamu ubah?"
"Menurutmu, solusi terbaiknya seperti apa?"
Kamu mungkin akan terkejut.
Semakin banyak kamu mendengarkan, semakin banyak informasi yang kamu dapatkan.
Dan semakin banyak informasi yang kamu miliki, semakin baik keputusan yang bisa kamu buat.
Itulah salah satu fondasi kepemimpinan.
2. Jadilah Orang yang Tetap Tenang Ketika Situasi Mulai Kacau
Perhatikan lingkungan kerja di sekitarmu.
Ketika semuanya berjalan lancar, hampir semua orang terlihat profesional.
Tetapi ketika terjadi kesalahan?
Di situlah karakter seseorang mulai terlihat.
Ada orang yang langsung panik.
Ada yang mencari siapa yang harus disalahkan.
Ada yang mulai meninggikan suara.
Ada pula yang justru menjadi lebih tenang.
Orang terakhir inilah yang sering kali secara alami dianggap memiliki kualitas kepemimpinan.
Mengapa?
Karena manusia secara psikologis mencari stabilitas ketika berada dalam situasi yang tidak pasti.
Ketika keadaan kacau, orang tidak hanya mencari solusi.
Mereka juga mencari seseorang yang memberikan sinyal:
"Kita masih bisa mengatasi ini."
Kamu tidak perlu berpura-pura tidak memiliki emosi.
Kamu juga tidak harus selalu tenang seperti robot.
Yang penting adalah belajar mengendalikan reaksi pertamamu.
Misalnya sebuah laporan mengalami kesalahan dan atasan mulai mempertanyakan apa yang terjadi.
Alih-alih berkata:
"Saya juga tidak tahu kenapa bisa begini."
Cobalah:
"Baik, kita cek dulu sumber masalahnya. Setelah itu kita tentukan langkah perbaikannya."
Perbedaannya kecil.
Tetapi efek psikologisnya besar.
Kalimat pertama menunjukkan ketidakberdayaan.
Kalimat kedua menunjukkan kendali.
Gunakan aturan sederhana: jangan langsung bereaksi
Ketika sesuatu membuatmu kesal, berhenti selama beberapa detik.
Tarik napas.
Tanyakan:
"Respons seperti apa yang akan membuat situasi ini menjadi lebih baik?"
Bukan:
"Apa yang ingin saya katakan sekarang?"
Kebiasaan kecil ini bisa mengubah bagaimana orang melihatmu.
Karena orang biasanya tidak mengingat semua kata-kata yang kamu ucapkan.
Namun mereka mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berada di dekatmu.
Jika kehadiranmu membuat keadaan terasa lebih tenang, secara perlahan orang akan mulai melihatmu sebagai seseorang yang bisa diandalkan.
Dan keandalan adalah salah satu mata uang terbesar dalam kepemimpinan.
3. Tepati Janji-Janji Kecil
Banyak orang berpikir bahwa untuk mendapatkan reputasi yang kuat, mereka harus melakukan sesuatu yang besar.
Padahal, reputasi biasanya dibangun melalui hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali.
Kamu mengatakan akan mengirim laporan hari ini?
Kirim.
Kamu mengatakan akan menghubungi seseorang setelah rapat?
Hubungi.
Kamu berjanji akan menyelesaikan bagian pekerjaan tertentu sebelum sore?
Selesaikan.
Kedengarannya sederhana.
Tetapi justru karena sederhana, banyak orang meremehkannya.
Di tempat kerja, orang akan terus memperhatikan pola.
Bukan hanya apa yang kamu katakan hari ini, tetapi apakah perkataanmu biasanya sesuai dengan tindakanmu.
Inilah yang membuat seseorang menjadi kredibel.
Kamu tidak perlu mengatakan:
"Kalian bisa percaya kepada saya."
Biarkan perilakumu yang mengatakannya.
Misalnya selama berbulan-bulan kamu selalu menyelesaikan tugas sesuai komitmen. Ketika kamu mengatakan sesuatu, orang tahu bahwa itu kemungkinan besar akan terjadi.
Akhirnya, tanpa kamu minta, reputasimu berubah.
Orang mulai berpikir:
"Kalau dia yang menangani, kemungkinan besar akan beres."
Itulah pengaruh.
Dan pengaruh jauh lebih kuat daripada sekadar jabatan.
Mulai dari komitmen kecil
Jangan membuat janji yang tidak perlu.
Jangan berkata:
"Nanti saya urus."
Jika sebenarnya kamu tidak yakin bisa mengurusnya.
Lebih baik katakan:
"Saya akan cek hari ini dan memberi kabar sebelum pukul 4."
Kemudian lakukan.
Semakin sering kamu melakukan apa yang kamu katakan, semakin kuat kepercayaan orang terhadapmu.
Kepemimpinan sering kali bukan tentang membuat janji besar.
Kepemimpinan adalah tentang membuat orang yakin bahwa ketika kamu mengatakan sesuatu, kamu akan berusaha menepatinya.
4. Berikan Kredit kepada Orang Lain, Jangan Selalu Mencari Pengakuan
Ada orang yang ingin menjadi pemimpin dengan cara memastikan semua orang tahu bahwa merekalah yang melakukan sesuatu.
Jika sebuah proyek berhasil, mereka ingin namanya disebut.
Jika sebuah ide berhasil, mereka ingin orang tahu bahwa ide tersebut berasal dari mereka.
Jika ada masalah, mereka ingin menjelaskan mengapa itu bukan kesalahan mereka.
Ironisnya, perilaku seperti ini justru bisa membuat seseorang terlihat kurang matang sebagai pemimpin.
Sebaliknya, pemimpin yang kuat biasanya tidak terlalu takut kehilangan sorotan.
Mereka mampu berkata:
"Ide ini sebenarnya datang dari Rina."
Atau:
"Tim kita bekerja sangat baik untuk menyelesaikan ini."
Atau bahkan:
"Bagian itu saya tidak kerjakan sendiri. Andi yang banyak membantu."
Mengapa ini efektif?
Karena manusia senang berada di sekitar orang yang membuat mereka merasa dihargai.
Ketika kamu memberikan kredit kepada orang lain, kamu tidak kehilangan status.
Dalam banyak kasus, justru sebaliknya.
Kamu menunjukkan bahwa kamu cukup percaya diri sehingga tidak harus mengambil semua pujian untuk dirimu sendiri.
Ini adalah sinyal sosial yang sangat kuat.
Orang mulai melihatmu sebagai seseorang yang:
tidak egois,
aman dengan kemampuannya,
menghargai kontribusi orang lain,
dan mampu melihat keberhasilan sebagai hasil kerja bersama.
Cobalah satu kebiasaan sederhana
Setiap hari, cari satu kesempatan untuk mengakui kontribusi orang lain.
Tidak perlu berlebihan.
Katakan:
"Terima kasih, bagian yang kamu kerjakan tadi sangat membantu."
Atau:
"Presentasinya jadi jauh lebih jelas karena data yang kamu siapkan."
Atau:
"Saya suka cara kamu menangani masalah tadi."
Kalimat sederhana seperti itu bisa memiliki efek besar.
Dan yang paling penting, lakukan dengan tulus.
Jangan memuji seseorang hanya untuk mendapatkan sesuatu dari mereka.
Pemimpin yang baik tidak membuat orang merasa digunakan.
Mereka membuat orang merasa berarti.
5. Datang ke Masalah dengan Solusi, Bukan Hanya Keluhan
Di hampir setiap tempat kerja, kamu akan menemukan dua tipe orang.
Tipe pertama selalu datang membawa masalah.
"Ini tidak bisa."
"Departemen sebelah bikin semuanya sulit."
"Deadline-nya tidak masuk akal."
"Sistemnya memang jelek."
Kadang-kadang masalah mereka memang benar.
Namun ada tipe kedua.
Mereka juga melihat masalah.
Tetapi setelah menjelaskan masalahnya, mereka menambahkan:
"Ada dua opsi yang mungkin bisa kita coba."
Perbedaannya sangat besar.
Orang kedua tidak berarti selalu memiliki jawaban yang benar.
Namun ia menunjukkan pola berpikir yang lebih konstruktif.
Dan itulah yang sering diasosiasikan dengan kepemimpinan.
Kamu tidak harus menyelesaikan semua masalah sendirian.
Bahkan, seorang pemimpin yang baik tahu bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan olehnya.
Tetapi ketika kamu membawa masalah, biasakan membawa setidaknya satu kemungkinan solusi.
Misalnya:
"Kita punya masalah dengan deadline ini karena data dari tim X belum masuk. Ada dua opsi: kita tunggu sampai besok atau menggunakan data sementara yang sudah tersedia. Menurut saya opsi kedua lebih realistis."
Perhatikan perbedaannya.
Kamu tidak hanya mengatakan:
"Ada masalah."
Kamu mengatakan:
"Ada masalah, saya sudah memikirkannya, dan berikut beberapa kemungkinan langkah."
Secara psikologis, ini mengubah persepsi orang terhadapmu.
Kamu mulai terlihat sebagai seseorang yang membantu menggerakkan keadaan, bukan hanya seseorang yang mengomentari keadaan.
6. Biasakan Bertanya: "Apa yang Bisa Saya Bantu?"
Ini mungkin kebiasaan yang paling sederhana sekaligus paling kuat.
Bayangkan kamu melihat seorang rekan kerja sedang kewalahan.
Kamu bisa saja mengabaikannya.
Atau kamu bisa mengatakan:
"Ada yang bisa saya bantu?"
Pertanyaan ini terlihat kecil.
Tetapi dalam lingkungan kerja, orang yang secara konsisten membantu tim bergerak maju akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan.
Namun ada satu hal penting.
Membantu bukan berarti selalu mengambil alih pekerjaan orang lain.
Justru jika dilakukan dengan benar, membantu berarti membuat orang lain menjadi lebih mampu.
Misalnya daripada langsung mengerjakan tugas rekanmu, kamu bisa bertanya:
"Bagian mana yang paling memakan waktumu?"
Kemudian:
"Kalau saya bantu bagian itu, apakah akan membuat pekerjaanmu lebih ringan?"
Dengan cara tersebut, kamu tidak menjadi penyelamat yang membuat semua orang bergantung kepadamu.
Kamu menjadi seseorang yang meningkatkan kemampuan tim.
Dan itu adalah bentuk kepemimpinan yang jauh lebih sehat.
Jangan menjadi orang yang selalu berkata "ya"
Ada perbedaan antara membantu dan mengorbankan diri.
Kamu tidak harus menyelesaikan semua pekerjaan orang lain.
Kamu juga tidak perlu selalu tersedia.
Kepemimpinan bukan berarti mengatakan "ya" kepada semua permintaan.
Kepemimpinan berarti memahami:
Kapan harus membantu, kapan harus mendelegasikan, dan kapan harus mengatakan tidak.
Jika seseorang meminta bantuan ketika kamu sedang memiliki prioritas penting, kamu bisa berkata:
"Saya ingin membantu, tetapi saya sedang menyelesaikan X. Saya bisa melihatnya setelah itu."
Itu bukan egois.
Itu adalah kemampuan mengelola batasan.
Mengapa Keenam Kebiasaan Ini Bisa Membuatmu Terlihat Seperti Pemimpin?
Sekarang mari kita lihat polanya.
Enam kebiasaan tadi sebenarnya membangun enam kualitas yang sangat penting dalam kepemimpinan.
Mendengarkan membangun kepercayaan.
Tetap tenang membangun rasa aman.
Menepati janji membangun kredibilitas.
Memberikan kredit membangun hubungan.
Membawa solusi membangun persepsi kompetensi.
Membantu orang lain membangun pengaruh.
Tidak ada satu pun yang membutuhkanmu untuk terus-menerus mengatakan:
"Saya ingin menjadi pemimpin."
Karena kepemimpinan yang paling kuat sering kali tidak perlu diumumkan.
Orang lain yang menyimpulkannya.
Mereka mulai berkata:
"Coba tanya dia."
"Menurut kamu bagaimana?"
"Bisa minta dia yang menangani?"
"Saya percaya dia bisa."
Dan ketika kalimat-kalimat seperti itu mulai muncul, sesuatu yang penting sedang terjadi.
Pengaruhmu sedang tumbuh.
Jangan Terlalu Sibuk Terlihat Seperti Pemimpin
Ada jebakan yang sering terjadi ketika seseorang mulai belajar tentang kepemimpinan.
Mereka mencoba terlihat seperti pemimpin.
Mereka mulai berbicara lebih tegas.
Berusaha selalu terlihat percaya diri.
Memberikan nasihat meskipun tidak diminta.
Mengambil alih percakapan.
Mencoba menjadi orang yang paling dominan dalam ruangan.
Padahal, kepemimpinan bukan kompetisi untuk menjadi orang paling dominan.
Pemimpin yang matang tidak selalu menjadi orang dengan suara paling keras.
Kadang-kadang dia adalah orang yang bertanya ketika semua orang terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Kadang-kadang dia adalah orang yang mengakui kesalahan ketika orang lain sedang mencari kambing hitam.
Kadang-kadang dia adalah orang yang memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.
Dan kadang-kadang dia adalah orang yang berkata:
"Saya tidak tahu. Mari kita cari tahu."
Kalimat itu bukan tanda kelemahan.
Dalam konteks yang tepat, itu justru menunjukkan kepercayaan diri.
Orang yang benar-benar percaya pada kemampuannya tidak harus berpura-pura mengetahui semuanya.
Kepemimpinan Bukan Tentang Bekerja Lebih Keras
Jika kamu ingin menjadi pemimpin di tempat kerja, mungkin kamu tidak perlu menambah sepuluh jam kerja setiap minggu.
Kamu mungkin perlu mengubah cara kamu hadir di tempat kerja.
Alih-alih bertanya:
"Bagaimana supaya saya terlihat paling sibuk?"
Tanyakan:
"Bagaimana supaya keberadaan saya membuat tim bekerja lebih baik?"
Alih-alih bertanya:
"Bagaimana supaya atasan melihat saya?"
Tanyakan:
"Bagaimana supaya orang-orang percaya kepada saya?"
Alih-alih bertanya:
"Bagaimana supaya saya mendapatkan semua pujian?"
Tanyakan:
"Bagaimana supaya orang lain juga berkembang?"
Perubahan cara berpikir ini sangat penting.
Karena kepemimpinan bukan sekadar tentang mendapatkan posisi.
Kepemimpinan adalah tentang membangun pengaruh yang membuat orang lain bersedia mendengarkan, mempercayai, dan bekerja bersamamu.
Dan pengaruh seperti itu tidak dibangun dalam satu hari.
Ia dibangun melalui kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.
Mulai Besok Pagi dengan 6 Kebiasaan Ini
Kamu tidak perlu mengubah seluruh kepribadianmu.
Cukup mulai dengan enam hal sederhana:
1. Dengarkan sebelum memberikan pendapat.
2. Tetap tenang ketika orang lain mulai panik.
3. Tepati janji-janji kecil.
4. Berikan penghargaan kepada orang lain atas kontribusinya.
5. Ketika membawa masalah, pikirkan juga kemungkinan solusinya.
6. Cari satu kesempatan setiap hari untuk membantu orang lain menjadi lebih baik.
Lakukan berulang kali.
Bukan selama tiga hari.
Bukan hanya ketika bos sedang melihat.
Tetapi sebagai bagian dari cara kamu bekerja.
Lama-kelamaan, sesuatu yang menarik akan terjadi.
Kamu tidak perlu lagi berusaha keras untuk terlihat seperti pemimpin.
Orang lain akan mulai memperlakukanmu seperti seseorang yang layak dipercaya.
Mereka akan datang kepadamu ketika membutuhkan perspektif.
Mereka akan meminta bantuan ketika menghadapi masalah.
Mereka akan mempertimbangkan pendapatmu ketika mengambil keputusan.
Dan mungkin suatu hari, ketika perusahaan mencari seseorang untuk memimpin sebuah proyek atau tim, namamu muncul secara alami.
Bukan karena kamu paling keras meminta kesempatan.
Bukan karena kamu paling sering memamerkan pencapaian.
Tetapi karena selama ini kamu sudah menunjukkan satu hal yang paling penting:
Kamu membuat orang lain merasa lebih aman, lebih jelas, dan lebih mampu ketika bekerja bersamamu.
Itulah salah satu bentuk kepemimpinan yang paling kuat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022