seseorang yang kerap bertengkar soal pekerjaan rumah tangga. (magnific)
"Kenapa aku lagi yang harus mengerjakan ini?"
Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya sering ada persoalan yang jauh lebih besar: rasa tidak dihargai, kelelahan, ketidakadilan, atau perasaan bahwa pasangan tidak peduli.
Menurut psikologi hubungan, konflik mengenai pekerjaan rumah tangga sebenarnya jarang hanya tentang pekerjaan rumah tangga itu sendiri. Yang dipermasalahkan sering kali adalah beban, tanggung jawab, perhatian, dan rasa menjadi satu tim.
Ketika satu orang merasa terus-menerus harus mengingatkan, mengatur, dan menyelesaikan pekerjaan rumah, sementara yang lain merasa sudah "membantu", konflik pun mudah berulang.
Kabar baiknya, pola tersebut bisa diubah.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (9/9), terdapat tujuh cara yang dapat membantu pasangan mengurangi pertengkaran mengenai pekerjaan rumah tangga dan membangun pembagian tanggung jawab yang lebih sehat.
1. Berhenti membahas siapa yang paling banyak bekerja
Salah satu jebakan paling umum dalam konflik rumah tangga adalah mengubah pembicaraan menjadi kompetisi.
"Aku lebih capek."
"Aku juga kerja seharian."
"Kamu pikir aku tidak melakukan apa-apa?"
"Aku setiap hari sudah mencuci."
Percakapan seperti ini biasanya tidak menghasilkan solusi. Sebaliknya, masing-masing orang sibuk membuktikan bahwa dirinya lebih lelah dan lebih berjasa.
Dalam psikologi konflik, pola semacam ini dapat membuat pasangan masuk ke dalam siklus defensif. Ketika seseorang merasa disalahkan, ia cenderung membela diri. Pasangan kemudian merasa tidak didengarkan dan meningkatkan tekanan. Orang pertama semakin defensif, dan pertengkaran pun membesar.
Karena itu, cobalah mengubah pertanyaan.
Bukan:
"Siapa yang paling banyak melakukan pekerjaan rumah?"
Melainkan:
"Bagaimana supaya pekerjaan rumah ini terasa lebih adil bagi kita berdua?"
Perubahan kecil dalam cara bertanya dapat mengubah arah percakapan.
Tujuannya bukan menentukan pemenang. Tujuannya adalah mencari sistem yang membuat kehidupan bersama menjadi lebih ringan.
2. Bedakan antara "membantu" dan "bertanggung jawab"
Ini adalah salah satu sumber konflik yang sering tidak disadari.
Misalnya, seorang pasangan berkata:
"Aku kan sudah membantu mencuci piring."
Kata membantu bisa menjadi masalah ketika pekerjaan rumah sebenarnya merupakan tanggung jawab bersama.
Jika satu orang harus selalu mengatakan:
"Tolong cuci piring."
"Tolong buang sampah."
"Jangan lupa jemur pakaian."
"Tolong bersihkan kamar mandi."
maka beban orang tersebut bukan hanya mengerjakan pekerjaan fisik. Ia juga memikul pekerjaan mental berupa mengingat, merencanakan, dan mengawasi.
Inilah yang sering disebut sebagai mental load atau beban kognitif dalam kehidupan rumah tangga.
Karena itu, pembagian yang lebih sehat bukan sekadar:
"Aku mengerjakan ini kalau kamu meminta."
Melainkan:
"Aku bertanggung jawab atas bagian ini."
Perbedaannya sangat besar.
Contohnya, daripada satu pasangan selalu mengingatkan tentang cucian, pasangan lainnya dapat mengambil tanggung jawab penuh atas urusan pakaian: mengumpulkan, mencuci, menjemur, melipat, hingga menyimpan.
Dengan begitu, tidak ada satu orang yang harus bertindak seperti manajer rumah tangga dan terus memberikan instruksi.
3. Buat pembagian tugas yang konkret
Banyak pasangan mengatakan, "Kita sudah berbagi pekerjaan rumah."
Namun, ketika ditanya siapa melakukan apa, jawabannya masih samar.
"Aku biasanya bantu di rumah."
"Aku melakukan banyak hal juga."
Masalahnya, kata "banyak" bisa berarti berbeda bagi setiap orang.
Karena itu, buat daftar pekerjaan rumah yang benar-benar ada.
Misalnya:
mencuci piring;
memasak;
membeli bahan makanan;
mencuci pakaian;
menjemur pakaian;
melipat pakaian;
membersihkan kamar;
membersihkan kamar mandi;
menyapu dan mengepel;
membuang sampah;
merawat anak;
mengurus kebutuhan rumah;
membayar tagihan;
mengatur belanja mingguan.
Setelah itu, tentukan siapa yang menjadi penanggung jawab utama masing-masing pekerjaan.
Tidak harus selalu 50:50 secara matematis.
Yang lebih penting adalah adil berdasarkan kondisi kehidupan masing-masing.
Jika salah satu pasangan sedang bekerja lebih lama, menjalani masa yang sangat sibuk, atau memiliki tanggung jawab lain, pembagian tugas dapat disesuaikan.
Keadilan dalam hubungan tidak selalu berarti melakukan hal yang persis sama. Keadilan berarti kedua orang merasa kontribusinya masuk akal dan dihargai.
4. Bicarakan pekerjaan rumah ketika sedang tenang
Kesalahan yang sering dilakukan pasangan adalah membahas masalah pada saat emosi sudah tinggi.
Piring belum dicuci.
Seseorang pulang dalam keadaan lelah.
Kemudian melihat rumah berantakan.
"Kenapa kamu tidak melakukan apa-apa?"
"Kenapa harus marah-marah terus?"
Lalu konflik berkembang menjadi pertengkaran tentang masalah lama.
Padahal, pembicaraan mengenai pembagian tugas sebaiknya dilakukan ketika kedua orang sedang relatif tenang.
Pilih waktu khusus.
Misalnya:
"Besok malam setelah makan, kita ngobrol sebentar soal pembagian pekerjaan rumah, ya. Aku ingin kita cari sistem yang lebih enak untuk kita berdua."
Dengan cara ini, percakapan tidak terasa seperti serangan mendadak.
Saat berbicara, gunakan kalimat yang menjelaskan pengalaman pribadi daripada menuduh karakter pasangan.
Daripada:
"Kamu malas."
Coba:
"Aku merasa kewalahan ketika sebagian besar pekerjaan rumah akhirnya harus kuingat dan kuurus sendiri."
Daripada:
"Kamu tidak pernah peduli."
Coba:
"Aku ingin merasa bahwa urusan rumah adalah tanggung jawab kita berdua."
Fokuslah pada masalah, bukan menyerang pribadi.
5. Jangan menunggu pasangan "menyadari sendiri"
Ini terdengar romantis, tetapi dalam kehidupan nyata sering menimbulkan masalah.
Seseorang mungkin berpikir:
"Kalau dia peduli, seharusnya dia tahu aku sedang capek."
Atau:
"Kalau dia melihat rumah berantakan, seharusnya dia langsung membersihkannya."
Masalahnya, pasangan tidak selalu memiliki standar, kebiasaan, atau tingkat kepekaan yang sama.
Apa yang menurutmu sangat jelas mungkin tidak dianggap mendesak oleh pasangan.
Daripada berharap pasangan membaca pikiran, komunikasikan kebutuhan secara langsung.
Misalnya:
"Aku sedang sangat lelah minggu ini. Bisa kamu yang mengurus makan malam sampai akhir pekan?"
Atau:
"Menurutku kamar mandi sudah perlu dibersihkan. Bisa kamu ambil bagian itu?"
Komunikasi langsung bukan berarti hubungan kurang romantis.
Justru komunikasi yang jelas dapat mengurangi asumsi, kekecewaan, dan rasa kesal yang menumpuk.
6. Berhenti mengejar standar rumah yang sempurna
Terkadang konflik pekerjaan rumah bukan semata-mata karena pembagian tugas, tetapi karena pasangan memiliki standar kebersihan yang berbeda.
Satu orang merasa lantai harus selalu bersih.
Yang lain merasa tidak masalah jika lantai baru dibersihkan besok.
Satu orang ingin pakaian langsung dilipat.
Yang lain merasa pakaian yang bersih boleh ditumpuk sementara.
Jika perbedaan ini tidak dibicarakan, keduanya dapat menganggap pasangannya tidak bertanggung jawab.
Karena itu, tentukan mana yang benar-benar penting dan mana yang bisa ditoleransi.
Tanyakan:
"Apa pekerjaan rumah yang memang harus dilakukan setiap hari?"
Apa yang cukup dilakukan beberapa kali seminggu?
Apa yang bisa dilakukan ketika ada waktu?
Dan apa yang sebenarnya tidak terlalu penting?
Tidak semua pekerjaan rumah memiliki tingkat urgensi yang sama.
Kadang, hubungan justru menjadi lebih damai ketika pasangan sepakat bahwa rumah tidak harus selalu sempurna.
Rumah adalah tempat untuk hidup, bukan ruang pamer.
7. Ingat bahwa masalahnya bukan "rumah", tetapi hubungan
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Ketika konflik tentang piring, pakaian, atau sampah terjadi berulang kali, cobalah melihat persoalan yang lebih dalam.
Apakah salah satu merasa tidak dihargai?
Apakah ada pasangan yang merasa sendirian menghadapi tanggung jawab keluarga?
Apakah komunikasi selama ini penuh kritik?
Apakah ada kebiasaan menghindari tanggung jawab?
Atau apakah sebenarnya keduanya sedang kelelahan karena pekerjaan, anak, masalah keuangan, dan tekanan hidup lainnya?
Pekerjaan rumah terkadang hanya menjadi "panggung" tempat semua tekanan tersebut muncul.
Karena itu, jangan hanya menyelesaikan masalah piring.
Selesaikan juga pesan emosional di balik pertengkaran tersebut.
Misalnya, seseorang mungkin sebenarnya sedang berkata:
"Aku ingin merasa bahwa kita menghadapi kehidupan ini bersama-sama."
Sementara pasangannya mungkin sebenarnya sedang berkata:
"Aku juga ingin usahaku dihargai."
Ketika kebutuhan emosional tersebut mulai terlihat, pembicaraan bisa berubah dari saling menyalahkan menjadi saling memahami.
Yang Perlu Dihindari Saat Bertengkar
Selain menerapkan tujuh cara di atas, ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya dihindari.
Jangan menggunakan kata "selalu" dan "tidak pernah"
Kalimat seperti:
"Kamu selalu malas."
"Kamu tidak pernah membantu."
sering membuat pasangan fokus membantah kata "selalu" atau "tidak pernah", bukan menyelesaikan masalah.
Lebih baik membicarakan perilaku yang spesifik.
"Beberapa minggu terakhir aku yang lebih sering mengurus cucian."
Jangan mengungkit semua kesalahan masa lalu
Ketika sedang marah karena piring, jangan langsung membawa masalah dari tiga bulan lalu.
Jika setiap konflik membuka sepuluh konflik lama, pasangan akan merasa tidak mungkin menyelesaikan apa pun.
Selesaikan satu masalah pada satu waktu.
Jangan menggunakan diam sebagai hukuman
Mengambil waktu untuk menenangkan diri berbeda dengan sengaja mendiamkan pasangan agar ia merasa bersalah.
Jika membutuhkan jeda, katakan dengan jelas:
"Aku sedang terlalu emosi. Aku ingin menenangkan diri dulu. Kita lanjutkan pembicaraan malam ini."
Jeda seperti ini dapat membantu mencegah percakapan berubah menjadi pertengkaran yang semakin buruk.
Pada Akhirnya, Pekerjaan Rumah Adalah Soal Kerja Sama
Tidak ada hubungan yang bebas dari perbedaan.
Pasangan bisa memiliki standar kebersihan yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, dan cara berkomunikasi yang berbeda.
Namun, pertengkaran mengenai pekerjaan rumah tidak harus menjadi konflik yang tidak pernah selesai.
Kuncinya bukan mencari pasangan yang selalu melakukan semuanya dengan benar.
Kuncinya adalah membangun sistem yang membuat keduanya merasa didengar, dihargai, dan memiliki tanggung jawab yang jelas.
Mulailah dengan tujuh langkah sederhana:
Berhenti berkompetisi tentang siapa yang paling lelah.
Ubah konsep "membantu" menjadi tanggung jawab bersama.
Bagi pekerjaan rumah secara konkret.
Bicarakan masalah ketika emosi sudah tenang.
Komunikasikan kebutuhan tanpa berharap pasangan membaca pikiran.
Sepakati standar rumah yang realistis.
Cari kebutuhan emosional di balik pertengkaran.
Dan yang paling penting, jangan menunggu sampai salah satu pasangan benar-benar kehabisan tenaga baru membicarakannya.
Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana dua orang mampu melihat konflik sebagai masalah yang harus mereka hadapi bersama, bukan sebagai alasan untuk saling menyerang.
Karena pada akhirnya, piring yang menumpuk bisa dicuci.
Pakaian yang belum dilipat bisa dibereskan.
Rumah yang berantakan bisa dibersihkan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Fenerbahce vs Roma di Liga Champions: Duel Seru Berpotensi Seri
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Shakhtar Donetsk di Liga Champions: Kans Boeren Amankan 3 Poin
Rombongan Badan Pangan Ditembaki di Papua Pegunungan, 3 Orang Tewas
Viral Pernyataan Pribadi Deputi Bakom soal Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di Indonesia
Prediksi Skor Sporting Lisbon vs Galatasaray di Liga Champions: Leões Sikat Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Slavia Prague vs Lens di Liga Champions: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Como vs RB Leipzig di Liga Champions: I Lariani Siap Libas Tim Tamu di Sinigaglia

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022