Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 September 2026 | 12.43 WIB

7 Tanda Pasanganmu Mulai Punya Perasaan pada Orang Lain Menurut Psikologi

seseorang yang mulai jatuh cinta kepada orang lain. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa pasanganmu masih berada di sampingmu, tetapi entah mengapa terasa semakin jauh?

Dia masih membalas pesanmu. Masih makan bersamamu. Masih mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, ada sesuatu yang berubah. Perhatiannya tidak lagi sama. Cara dia berbicara terasa berbeda. Bahkan ketika kalian sedang bersama, kamu merasa seperti sedang sendirian.

Perasaan seperti ini sering kali membuat seseorang bertanya-tanya:

"Apakah dia sudah tidak mencintaiku?"

Atau pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan:

"Apakah ada orang lain?"

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (8/9), dalam hubungan, perubahan perilaku memang tidak selalu berarti seseorang sedang jatuh cinta kepada orang lain. Seseorang bisa menjadi lebih pendiam karena stres, masalah pekerjaan, kelelahan, konflik pribadi, atau persoalan emosional lainnya.

Namun, psikologi hubungan menunjukkan bahwa ketika ketertarikan emosional seseorang mulai bergeser, biasanya ada perubahan tertentu dalam cara dia memberikan perhatian, membangun kedekatan, dan berinvestasi dalam hubungan.

Karena itu, jika kamu melihat beberapa tanda berikut muncul secara bersamaan dan berlangsung terus-menerus, mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

Bukan untuk langsung menuduh.

Bukan pula untuk mencari-cari kesalahan.

Tetapi untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hubunganmu.

1. Dia Mulai Menarik Diri Secara Emosional

Salah satu tanda yang paling terasa bukanlah berkurangnya komunikasi, melainkan berkurangnya kedekatan emosional.

Dulu, dia mungkin selalu bercerita kepadamu tentang berbagai hal.

Tentang pekerjaan.

Tentang teman-temannya.

Tentang masalah kecil yang terjadi sepanjang hari.

Bahkan hal-hal sederhana seperti melihat sesuatu yang lucu di jalan pun ingin dia ceritakan kepadamu.

Tetapi sekarang semuanya berubah.

Ketika kamu bertanya, jawabannya semakin singkat.

"Nggak ada apa-apa."

"Biasa aja."

"Capek."

"Nanti aja ceritanya."

Sesekali tentu saja normal.

Setiap orang memiliki hari ketika mereka tidak ingin berbicara.

Namun, jika perubahan tersebut menjadi pola dan berlangsung cukup lama, hal itu bisa menunjukkan adanya emotional distancing, yaitu proses ketika seseorang mulai mengurangi keterlibatan emosionalnya dalam hubungan.

Dalam hubungan yang sehat, pasangan biasanya menjadi salah satu tempat utama untuk berbagi pengalaman emosional.

Ketika seseorang mulai mendapatkan kepuasan emosional dari tempat lain—misalnya dari pertemanan tertentu, lingkungan baru, atau seseorang yang mulai menarik perhatiannya—keterlibatan emosionalnya terhadap pasangan bisa ikut berubah.

Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sering dia berbicara.

Tetapi apa yang dia pilih untuk tidak lagi dibagikan kepadamu.

Jika dulu kamu adalah orang pertama yang ingin dia ceritakan sesuatu, tetapi sekarang kamu justru menjadi orang terakhir yang mengetahuinya, perubahan itu layak diperhatikan.

2. Dia Tiba-Tiba Menjadi Sangat Menjaga Privasi

Privasi dan kerahasiaan adalah dua hal yang berbeda.

Dalam hubungan yang sehat, seseorang tetap berhak memiliki ruang pribadi.

Memiliki ponsel sendiri bukan tanda perselingkuhan.

Memiliki teman sendiri juga bukan tanda bahwa seseorang sedang jatuh cinta kepada orang lain.

Namun, masalah muncul ketika tingkat kerahasiaan berubah secara drastis tanpa alasan yang jelas.

Misalnya, sebelumnya dia biasa meninggalkan ponselnya di meja.

Sekarang ponselnya selalu dibawa ke mana-mana.

Dulu dia tidak keberatan ketika kamu berada di dekatnya saat menerima pesan.

Sekarang dia tiba-tiba menjauh.

Notifikasi yang sebelumnya biasa saja mulai disembunyikan.

Password berubah tanpa penjelasan.

Atau dia menjadi sangat defensif ketika kamu bertanya tentang aktivitasnya.

Sekali lagi, ini bukan bukti bahwa dia berselingkuh.

Ada banyak alasan seseorang menjadi lebih protektif terhadap privasinya.

Tetapi dalam psikologi hubungan, perubahan perilaku yang mendadak bisa menjadi lebih penting daripada perilaku itu sendiri.

Pertanyaannya bukan:

"Kenapa dia punya password?"

Melainkan:

"Mengapa sesuatu yang sebelumnya biasa saja sekarang tiba-tiba menjadi sangat rahasia?"

Perubahan pola adalah hal yang perlu diperhatikan.

3. Dia Mulai Sering Membicarakan Seseorang Tertentu

Ada sebuah fenomena sederhana dalam ketertarikan romantis: ketika seseorang mulai tertarik kepada orang lain, pikirannya cenderung lebih sering memproses orang tersebut.

Akibatnya, nama orang itu bisa muncul dalam percakapan tanpa sengaja.

Awalnya mungkin terlihat sepele.

"Tadi di kantor ada si A yang bilang..."

Kemudian:

"Si A ternyata suka film itu juga."

Lalu beberapa minggu kemudian, kamu mulai menyadari bahwa orang yang sama semakin sering muncul dalam cerita pasanganmu.

Bukan hanya namanya.

Tetapi pendapatnya.

Kebiasaannya.

Humornya.

Cara berpikirnya.

Hal-hal kecil tentang dirinya.

Yang perlu diperhatikan bukan semata-mata frekuensi penyebutan nama tersebut.

Seseorang bisa sering membicarakan rekan kerja karena memang mereka bekerja bersama setiap hari.

Yang lebih penting adalah muatan emosional di balik pembicaraan tersebut.

Apakah pasanganmu terlihat sangat antusias ketika membicarakannya?

Apakah dia mengingat detail-detail kecil tentang orang tersebut?

Apakah dia sering membandingkan orang tersebut dengan orang lain?

Apakah dia mulai mengatakan hal-hal seperti:

"Dia benar-benar mengerti aku."

atau

"Kalau ngobrol sama dia tuh enak."

Kalimat seperti itu tidak otomatis berarti cinta.

Tetapi ketika perhatian emosional terhadap seseorang di luar hubungan mulai meningkat, hal tersebut bisa menjadi sesuatu yang patut dibicarakan.

4. Dia Mulai Membandingkanmu dengan Orang Lain

Perbandingan dalam hubungan bisa menjadi tanda adanya perubahan cara seseorang melihat pasangannya.

Contohnya:

"Dia lebih pengertian."

"Temanku kalau diajak ngobrol nggak pernah marah."

"Kenapa kamu nggak bisa seperti dia?"

Perbandingan sesekali bisa terjadi dalam hubungan apa pun.

Tetapi jika pasangan mulai sering membandingkanmu dengan seseorang tertentu, terutama dalam aspek emosional, perhatian, penampilan, atau cara berkomunikasi, kamu mungkin sedang melihat perubahan dalam standar yang dia gunakan untuk mengevaluasi hubungan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika orang ketiga mulai ditempatkan dalam posisi ideal.

Orang tersebut selalu terlihat lebih sabar.

Lebih lucu.

Lebih perhatian.

Lebih memahami.

Lebih menarik.

Sementara kekuranganmu menjadi semakin mudah terlihat.

Dalam psikologi, ketertarikan baru sering kali membuat seseorang melihat orang yang disukainya melalui sudut pandang yang lebih positif.

Sebaliknya, ketika kepuasan dalam hubungan menurun, kekurangan pasangan dapat terasa jauh lebih besar.

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang yang sedang mengalami ketertarikan baru bisa tanpa sadar mulai membandingkan pasangan dengan orang lain.

5. Dia Tidak Lagi Berusaha Memperbaiki Hubungan Ketika Terjadi Konflik

Ini adalah salah satu tanda yang sering diabaikan.

Bukan seberapa sering kalian bertengkar.

Tetapi seberapa besar keinginan untuk memperbaiki hubungan setelah pertengkaran terjadi.

Dalam hubungan yang masih memiliki keterikatan kuat, konflik biasanya tetap diikuti oleh usaha untuk memperbaiki keadaan.

Mungkin pasangan meminta maaf.

Mungkin dia mencoba menjelaskan.

Mungkin kalian membutuhkan waktu untuk tenang.

Tetapi pada akhirnya ada usaha untuk kembali terhubung.

Jika seseorang mulai kehilangan keterikatan emosional, konflik terkadang terasa berbeda.

Dia mungkin mulai berpikir:

"Terserah."

"Mau putus juga nggak apa-apa."

"Aku sudah capek."

Tidak semua kalimat tersebut berarti ada orang ketiga.

Bisa saja seseorang memang sudah kelelahan karena konflik yang tidak pernah selesai.

Namun, jika sikap tidak peduli tersebut muncul bersamaan dengan tanda-tanda lain—seperti semakin dekat dengan orang lain, semakin merahasiakan aktivitas, dan semakin menarik diri secara emosional—maka pola tersebut menjadi lebih signifikan.

Hubungan tidak hanya membutuhkan cinta.

Hubungan juga membutuhkan kemauan untuk mempertahankan dan memperbaikinya.

Ketika usaha itu mulai hilang, sesuatu mungkin sedang berubah.

6. Perhatiannya kepada Orang Lain Terlihat Lebih Besar daripada Perhatiannya Kepadamu

Bayangkan pasanganmu mendapatkan kabar dari seseorang.

Wajahnya langsung berubah.

Dia tersenyum.

Dia terlihat bersemangat.

Dia membalas pesan dengan cepat.

Tetapi ketika kamu mengirim pesan, balasannya hanya:

"Iya."

"Oke."

"Nanti."

Perbedaan seperti ini mungkin terasa kecil.

Namun, perhatian adalah salah satu bentuk investasi dalam hubungan.

Kita cenderung memberikan waktu, energi, dan perhatian lebih besar kepada sesuatu atau seseorang yang dianggap penting.

Karena itu, perubahan distribusi perhatian bisa menjadi sesuatu yang menarik untuk diamati.

Apakah dia masih antusias ketika menghabiskan waktu bersamamu?

Apakah dia masih penasaran dengan ceritamu?

Apakah dia masih ingin tahu bagaimana harimu?

Atau justru energi terbaiknya diberikan kepada orang lain, sementara kamu mendapatkan sisa energinya?

Hal ini menjadi lebih penting jika terjadi terus-menerus.

Seseorang tidak harus selalu menjadikan pasangannya sebagai prioritas nomor satu setiap detik.

Tetapi dalam hubungan yang sehat, biasanya ada keseimbangan dalam memberikan perhatian.

Ketika seseorang secara konsisten menunjukkan antusiasme emosional yang jauh lebih besar kepada orang tertentu di luar hubungan, wajar jika pasangannya mulai bertanya-tanya.

7. Kamu Merasa Ada Sesuatu yang Berubah, tetapi Sulit Menjelaskannya

Tanda terakhir justru sering dianggap paling tidak masuk akal:

perasaanmu sendiri.

Kamu mungkin tidak memiliki bukti.

Tidak ada pesan romantis yang kamu lihat.

Tidak ada pengakuan.

Tidak ada sesuatu yang bisa kamu tunjuk dan katakan:

"Ini buktinya."

Tetapi kamu merasa hubungan tersebut tidak lagi seperti dulu.

Dalam psikologi, manusia memang mampu menangkap perubahan kecil dalam pola perilaku orang lain.

Nada bicara.

Ekspresi wajah.

Kontak mata.

Respons terhadap sentuhan.

Cara seseorang menjawab pertanyaan.

Frekuensi komunikasi.

Semua perubahan kecil tersebut dapat membentuk sebuah kesan keseluruhan.

Namun, di sinilah kita harus berhati-hati.

Perasaan bukan selalu fakta.

Rasa curiga bisa muncul karena perubahan nyata dalam hubungan.

Tetapi rasa curiga juga bisa diperkuat oleh pengalaman masa lalu, rasa tidak aman, kecemasan, atau ketakutan kehilangan pasangan.

Jadi, jangan gunakan intuisi sebagai bukti untuk menuduh.

Gunakan intuisi sebagai alasan untuk mengamati dan berkomunikasi.

Jadi, Apakah 7 Tanda Ini Berarti Dia Sudah Jatuh Cinta kepada Orang Lain?

Belum tentu.

Ini bagian yang sangat penting.

Tidak ada satu pun tanda di atas yang dapat membuktikan bahwa pasanganmu sedang jatuh cinta kepada orang lain.

Seseorang yang menjadi lebih pendiam mungkin sedang mengalami tekanan pekerjaan.

Seseorang yang menjaga ponselnya mungkin sedang membutuhkan privasi.

Seseorang yang sering berbicara tentang teman tertentu mungkin memang memiliki hubungan pertemanan yang dekat.

Dan seseorang yang merasa jauh dari pasangan mungkin sedang mengalami masalah dalam hubungan yang sama sekali tidak berkaitan dengan orang ketiga.

Karena itu, jangan mengambil satu perilaku lalu langsung membuat kesimpulan besar.

Yang lebih penting adalah pola.

Satu perubahan kecil biasanya tidak berarti banyak.

Tetapi ketika beberapa perubahan muncul secara bersamaan dan bertahan dalam waktu yang cukup lama, percakapan serius mungkin diperlukan.

Jangan Langsung Menuduh, Cobalah Bertanya

Ketika kamu mulai merasa pasangan berubah, respons pertama yang muncul biasanya adalah mencari kepastian.

"Kamu punya orang lain?"

"Siapa yang sering chat kamu?"

"Kamu sebenarnya suka sama dia?"

Masalahnya, pertanyaan yang bernada tuduhan sering membuat seseorang langsung defensif.

Alih-alih mendapatkan kejujuran, kamu mungkin justru mendapatkan pertengkaran.

Cobalah memulai dari pengalamanmu sendiri.

Misalnya:

"Aku merasa akhir-akhir ini kita agak jauh. Aku nggak bermaksud menuduh kamu apa-apa, tapi aku merasa ada perubahan dalam hubungan kita. Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang sedang kamu rasakan."

Kalimat seperti ini membuka ruang untuk percakapan.

Bukan pemeriksaan.

Bukan interogasi.

Karena tujuan sebenarnya bukan menemukan kesalahan.

Tujuannya adalah mengetahui apakah kalian masih berada dalam hubungan yang sama secara emosional.

Perhatikan Responsnya, Bukan Hanya Jawabannya

Ketika kamu membicarakan kekhawatiranmu, jangan hanya mendengarkan kata-katanya.

Perhatikan bagaimana dia merespons.

Apakah dia mencoba memahami perasaanmu?

Apakah dia bersedia berdiskusi?

Apakah dia menjelaskan situasinya dengan terbuka?

Apakah dia menunjukkan keinginan untuk memperbaiki hubungan?

Atau justru dia terus-menerus meremehkan perasaanmu, menghindari semua pembicaraan, dan menolak membahas perubahan yang terjadi?

Respons seseorang terhadap kekhawatiran pasangan sering kali lebih informatif daripada jawaban singkat seperti:

"Nggak ada apa-apa."

Hubungan yang sehat memungkinkan dua orang membicarakan ketidaknyamanan tanpa harus takut bahwa setiap percakapan akan berubah menjadi perang.

Pada Akhirnya, Bukan Orang Ketiganya yang Paling Penting

Kadang-kadang kita terlalu fokus pada pertanyaan:

"Siapa orangnya?"

Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

"Apa yang sedang terjadi dengan hubungan kita?"

Jika pasanganmu benar-benar mulai memiliki perasaan kepada orang lain, masalahnya bukan hanya tentang orang ketiga.

Masalahnya adalah bagaimana dia memilih memperlakukan hubungan yang sedang dijalaninya.

Apakah dia jujur?

Apakah dia menjaga batasan?

Apakah dia masih menghargai komitmen?

Apakah dia masih mau memperbaiki hubungan?

Begitu juga dengan dirimu.

Jangan sampai ketakutan kehilangan seseorang membuatmu kehilangan dirimu sendiri.

Kamu tidak perlu menjadi detektif setiap hari.

Tidak perlu memeriksa setiap notifikasi.

Tidak perlu mencari-cari tanda di setiap percakapan.

Dan tidak perlu hidup dalam kecemasan hanya karena pasanganmu mengalami perubahan perilaku.

Jika ada sesuatu yang berubah, bicarakan.

Jika ada masalah, hadapi.

Jika kepercayaan mulai rusak, cari tahu penyebabnya.

Dan jika ternyata hubungan tersebut memang sudah tidak memiliki arah yang sama, kamu berhak mendapatkan kejelasan.

Karena dalam sebuah hubungan, dicintai bukan hanya tentang seseorang yang mengatakan "aku sayang kamu."

Tetapi tentang seseorang yang membuatmu merasa aman, dihargai, dipilih, dan tidak harus terus-menerus mempertanyakan tempatmu di dalam hidupnya.

Jadi, jika kamu melihat tujuh tanda di atas, jangan langsung menyimpulkan bahwa pasanganmu telah jatuh cinta kepada orang lain.

Gunakan tanda-tanda tersebut sebagai kesempatan untuk melihat kembali hubunganmu.

Sebab terkadang, tanda bahwa hubungan sedang bermasalah bukanlah hadirnya orang ketiga.

Melainkan ketika dua orang yang dulu begitu dekat mulai berhenti berusaha untuk benar-benar memahami satu sama lain.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore