Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 31 Agustus 2026 | 19.47 WIB

10 Frasa yang Kerap Dilontarkan Orang-orang yang Pikirannya Tidak Bisa Santai dan Melambat

Ilustrasi orang yang terus berpikir dan enggan melambat (Magnific) - Image

Ilustrasi orang yang terus berpikir dan enggan melambat (Magnific)

 

JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa tubuh sudah beristirahat, tetapi pikiran justru masih sibuk memikirkan berbagai hal? 

Kondisi seperti ini cukup umum terjadi ketika seseorang terbiasa menjalani hidup dengan ritme cepat, memiliki banyak tanggung jawab, atau terus merasa harus memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pikiran yang sulit santai dan melambat terkadang dapat terlihat dari cara seseorang berbicara. 

Mereka mungkin sering menggunakan kalimat yang menunjukkan ketidaksabaran, kebutuhan untuk terus produktif, atau kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan.

Dirangkum dari laman YourTango,  inilah sepuluh frasa yang sering diucapkan orang-orang dengan pikiran yang sulit tenang dan melambat, mulai dari kebiasaan terburu-buru hingga terus memikirkan berbagai hal.

Namun perlu diingat, frasa-frasa berikut bukan diagnosis psikologis dan tidak berarti setiap orang yang mengucapkannya memiliki masalah tertentu. Konteks, frekuensi, serta kondisi seseorang tetap perlu dipertimbangkan.

1. “Aku Harus Menyelesaikan Ini Sekarang.”

Orang yang sulit memperlambat pikirannya sering merasa bahwa setiap persoalan harus segera mendapatkan penyelesaian.

Bahkan ketika sebenarnya masih tersedia banyak waktu, mereka dapat merasa tidak nyaman jika ada pekerjaan yang belum selesai.

Dorongan untuk segera menyelesaikan segala sesuatu dapat berasal dari rasa tanggung jawab yang tinggi. Namun, jika berlangsung terus-menerus, seseorang mungkin kesulitan menikmati waktu istirahat karena pikirannya selalu mencari tugas berikutnya.

Belajar menentukan mana yang benar-benar mendesak dan mana yang masih dapat ditunda dapat membantu mengurangi tekanan.

Tidak semua pekerjaan harus selesai hari ini.

2. “Nanti Saja Istirahatnya.”

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi dapat menggambarkan kebiasaan mengutamakan produktivitas daripada pemulihan diri.

Seseorang mungkin merasa bahwa istirahat adalah sesuatu yang harus dilakukan setelah seluruh pekerjaan selesai. Masalahnya, daftar pekerjaan sering kali tidak pernah benar-benar habis.

Akibatnya, waktu untuk tidur, bersantai, atau melakukan aktivitas menyenangkan terus dikorbankan.

Istirahat bukan hadiah setelah seseorang menjadi produktif. Istirahat merupakan bagian dari proses agar tubuh dan pikiran tetap mampu bekerja secara optimal.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore