seseorang yang selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri. (Magnific)
JawaPos.com - Ada orang yang tanpa sadar menghitung hampir segala sesuatu dalam hidup berdasarkan keuntungan.
“Kalau saya membantu dia, saya dapat apa?”
“Kalau saya datang ke acara itu, apakah ada manfaatnya untuk saya?”
“Kalau saya berbuat baik, apakah orang itu akan membalasnya?”
“Kalau saya harus mengalah, bukankah saya yang akan dirugikan?”
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (28/8), memikirkan kepentingan diri sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Dalam psikologi, manusia memang memiliki kebutuhan untuk melindungi diri, memenuhi kebutuhan, mencari keamanan, dan mendapatkan sesuatu yang dianggap bernilai.
Masalahnya muncul ketika setiap hubungan, kebaikan, bantuan, atau interaksi selalu dipandang sebagai transaksi.
Kita mulai sulit melakukan sesuatu tanpa imbalan. Sulit membantu tanpa berharap dibalas. Sulit memberi tanpa menghitung apa yang akan kembali. Bahkan hubungan dengan orang terdekat pun perlahan terasa seperti pertukaran kepentingan.
Pada titik tertentu, seseorang mungkin menyadari:
“Saya tidak ingin menjadi orang yang selalu bertanya apa yang bisa saya dapatkan. Saya ingin belajar menjadi seseorang yang juga mampu memberi.”
Keinginan seperti itu bukan berarti Anda harus menjadi orang yang mudah dimanfaatkan.
Justru sebaliknya.
Belajar tidak selalu mencari keuntungan berarti membangun kemampuan untuk tetap peduli terhadap orang lain tanpa kehilangan batas diri.
Jika Anda sedang melatih diri ke arah tersebut, berikut tujuh cara yang dapat dilakukan.
1. Mulailah dengan Mengamati Motif di Balik Setiap Tindakan
Langkah pertama bukan langsung memaksa diri menjadi orang yang altruistik.
Langkah pertama adalah menyadari apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri sendiri.
Sebelum melakukan sesuatu untuk orang lain, coba berhenti sejenak dan bertanya:
“Mengapa saya melakukan ini?”
Apakah karena memang ingin membantu?
Atau karena ingin dipuji?
Apakah karena peduli?
Atau karena berharap suatu hari orang tersebut membalasnya?
Apakah Anda memberikan sesuatu dengan tulus?
Atau sebenarnya Anda sedang membuat “investasi” dalam sebuah hubungan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu seseorang mengenali pola pikirnya.
Misalnya, Anda membantu rekan kerja menyelesaikan pekerjaannya.
Tidak ada yang salah dengan berharap suatu hari dia membantu Anda.
Tetapi jika dalam pikiran Anda sudah muncul:
“Saya sudah membantu dia. Berarti nanti dia wajib membantu saya.”
Maka bantuan tersebut mungkin sudah berubah menjadi transaksi psikologis.
Kesadaran bukan berarti Anda harus menghakimi diri sendiri.
Jangan berkata, “Saya ternyata orang egois.”
Cukup katakan:
“Saya menyadari bahwa saya sering mengharapkan imbalan dari apa yang saya berikan.”
Kesadaran seperti ini adalah titik awal perubahan.
Latihan sederhana
Setiap malam, pilih satu tindakan yang Anda lakukan hari itu untuk orang lain.
Kemudian tanyakan:
Apa yang saya lakukan?
Mengapa saya melakukannya?
Apa yang saya harapkan setelah melakukannya?
Bagaimana perasaan saya jika tidak mendapatkan balasan apa pun?
Pertanyaan terakhir sangat penting.
Karena terkadang kita baru menyadari bahwa kita mengharapkan sesuatu ketika kemungkinan tidak mendapatkan balasan membuat kita merasa kecewa.
2. Latih Diri Melakukan Kebaikan Kecil yang Tidak Perlu Diketahui Orang
Salah satu cara yang menarik untuk melatih ketulusan adalah melakukan kebaikan yang tidak memberikan keuntungan sosial kepada Anda.
Misalnya:
membantu seseorang tanpa menceritakannya kepada orang lain,
memberikan bantuan tanpa mengunggahnya di media sosial,
melakukan pekerjaan kecil di rumah tanpa menunggu pujian,
memberikan kesempatan kepada orang lain tanpa berharap dipuji,
atau membantu seseorang yang kemungkinan besar tidak akan mampu membalas Anda.
Mengapa ini penting?
Karena manusia tidak hanya mencari keuntungan material.
Kita juga dapat mencari keuntungan psikologis seperti:
pujian,
pengakuan,
status,
rasa superior,
perhatian,
atau validasi.
Ketika kita berbuat baik tetapi kemudian menceritakannya kepada banyak orang agar mendapatkan pengakuan, kita mungkin tetap melakukan sesuatu yang positif. Namun, jika tujuan Anda adalah melatih ketulusan, sesekali cobalah melakukan sesuatu yang tidak menghasilkan penghargaan sosial.
Tidak perlu besar.
Justru kebaikan kecil lebih mudah dilatih secara konsisten.
Bayangkan Anda melihat seseorang kesulitan membawa barang.
Anda membantu.
Kemudian selesai.
Tidak ada foto.
Tidak ada cerita.
Tidak ada orang yang tahu.
Hanya Anda yang tahu bahwa hari itu Anda memilih untuk membantu.
Latihan seperti ini dapat mengajarkan sesuatu yang penting:
Tidak semua hal baik harus menghasilkan pengakuan.
Dan semakin sering seseorang mengalami bahwa melakukan kebaikan tanpa pujian tetap memberikan kepuasan batin, semakin kecil kebutuhan untuk selalu mendapatkan validasi dari luar.
3. Belajar Membedakan “Untung” dengan “Bernilai”
Ini adalah perubahan cara berpikir yang sangat penting.
Banyak orang menganggap sesuatu hanya bernilai jika memberikan keuntungan langsung.
Padahal keuntungan dan nilai tidak selalu sama.
Misalnya, menghabiskan waktu bersama orang tua mungkin tidak menghasilkan uang.
Mendengarkan cerita seorang teman mungkin tidak memberikan manfaat karier.
Mengajarkan sesuatu kepada orang lain mungkin membuat Anda kehilangan waktu.
Memberikan kesempatan kepada seseorang mungkin tidak menghasilkan apa-apa bagi Anda.
Jika semuanya dinilai berdasarkan keuntungan, banyak hal penting dalam kehidupan akan terlihat seperti pemborosan.
Padahal kehidupan manusia tidak hanya dibangun oleh transaksi.
Ada hal-hal yang memiliki nilai karena:
mempererat hubungan,
menciptakan rasa percaya,
memberikan makna,
membangun karakter,
menghadirkan kedamaian,
atau membuat hidup terasa lebih manusiawi.
Cobalah mengganti pertanyaan:
“Apa keuntungan saya?”
menjadi:
“Apa nilai dari tindakan ini?”
Perbedaannya sangat besar.
Misalnya Anda menemani teman yang sedang mengalami masa sulit.
Jika Anda bertanya:
“Apa keuntungan saya menemani dia?”
Mungkin jawabannya tidak ada.
Tetapi jika Anda bertanya:
“Apa nilai dari kehadiran saya untuk seseorang yang sedang membutuhkan?”
Jawabannya bisa sangat berbeda.
Anda tidak sedang kehilangan sesuatu.
Anda sedang memberikan sesuatu yang memiliki nilai.
4. Berlatih Memberi Tanpa Membuat Perhitungan yang Terlalu Detail
Ada orang yang sangat mengingat apa yang sudah mereka berikan.
“Saya sudah tiga kali membantu dia.”
“Saya yang selalu menghubungi dulu.”
“Saya pernah membayar ini.”
“Saya sudah memberikan banyak kesempatan.”
Tidak selalu salah mengingat hal-hal tersebut.
Dalam beberapa situasi, perhitungan memang diperlukan agar seseorang tidak terus-menerus dimanfaatkan.
Namun ada perbedaan antara menjaga keseimbangan dan menghitung setiap kebaikan sebagai utang.
Hubungan manusia tidak selalu bisa dihitung dengan kalkulator.
Hari ini mungkin Anda lebih banyak memberi.
Besok mungkin Anda yang membutuhkan bantuan.
Dalam hubungan yang sehat, keseimbangan tidak selalu terjadi dalam satu hari atau satu minggu.
Ada masa ketika seseorang menjadi lebih kuat.
Ada masa ketika orang tersebut menjadi lebih lemah.
Ada masa ketika kita membantu.
Ada masa ketika kita dibantu.
Karena itu, cobalah memberikan sesuatu tanpa langsung memasukkannya ke dalam “catatan utang”.
Bukan berarti Anda harus memberikan segalanya.
Tetap memiliki batas.
Tetapi ketika Anda memilih untuk membantu, lakukan karena Anda memang memilih untuk membantu.
Bukan karena sedang membuat seseorang berutang kepada Anda.
Kalimat sederhana yang dapat dilatih adalah:
“Saya memberikan ini karena saya memang ingin memberikannya. Saya tidak harus mendapatkan sesuatu kembali.”
Jika suatu saat orang tersebut membantu Anda, syukuri.
Jika tidak, Anda tetap dapat belajar menerima bahwa tidak semua pemberian harus kembali dalam bentuk yang sama.
5. Latih Empati Sebelum Menilai Orang Lain
Orang yang terlalu berorientasi pada keuntungan terkadang mudah menilai seseorang berdasarkan apa yang bisa diberikan orang tersebut.
Orang yang memiliki koneksi dianggap penting.
Orang yang memiliki uang dianggap menarik.
Orang yang memiliki jabatan dianggap layak didekati.
Sementara orang yang dianggap tidak memiliki manfaat sering kali diabaikan.
Jika Anda menyadari pola seperti ini dalam diri sendiri, latihan empati dapat membantu.
Sebelum menilai seseorang berdasarkan manfaatnya bagi Anda, cobalah melihatnya sebagai manusia.
Tanyakan:
“Apa yang mungkin sedang dia rasakan?”
“Apa yang sedang dia perjuangkan?”
“Apa yang mungkin tidak saya ketahui tentang hidupnya?”
Empati membuat kita berhenti melihat manusia hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Ketika Anda mendengarkan seseorang, misalnya, jangan langsung mencari kesempatan untuk memberikan nasihat atau mendapatkan informasi.
Cobalah benar-benar mendengarkan.
Perhatikan emosinya.
Perhatikan apa yang tidak dia katakan.
Berikan ruang.
Karena terkadang bentuk kebaikan yang paling sederhana bukan memberikan sesuatu.
Melainkan hadir dan benar-benar memperhatikan.
6. Biasakan Bertanya, “Apa yang Bisa Saya Berikan?”
Perubahan pola pikir sering kali dimulai dari perubahan pertanyaan.
Orang yang terbiasa mencari keuntungan cenderung bertanya:
“Apa yang bisa saya dapatkan dari situasi ini?”
Sekarang coba perlahan ubah menjadi:
“Apa yang bisa saya berikan dalam situasi ini?”
Misalnya dalam pekerjaan.
Daripada hanya berpikir:
“Bagaimana saya bisa terlihat paling menonjol?”
Coba tanyakan:
“Bagaimana saya bisa membuat pekerjaan tim menjadi lebih baik?”
Dalam pertemanan:
“Apakah teman ini berguna bagi saya?”
ubah menjadi:
“Bagaimana saya bisa menjadi teman yang baik?”
Dalam keluarga:
“Apa yang mereka berikan kepada saya?”
ubah menjadi:
“Apa yang bisa saya lakukan agar mereka merasa dihargai?”
Perubahan pertanyaan ini tidak berarti menghapus kepentingan pribadi.
Anda tetap boleh memikirkan karier.
Tetap boleh mencari penghasilan.
Tetap boleh mencari hubungan yang sehat.
Tetap boleh menolak sesuatu yang merugikan.
Namun, Anda tidak lagi melihat dunia hanya dari satu arah.
Bukan hanya:
“Apa yang saya dapat?”
Tetapi juga:
“Apa yang dapat saya kontribusikan?”
Inilah salah satu perubahan mental yang membuat hubungan terasa lebih manusiawi.
7. Tetap Miliki Batas: Tidak Mencari Keuntungan Bukan Berarti Membiarkan Diri Dimanfaatkan
Ini bagian yang sangat penting.
Ketika membaca tentang ketulusan, kebaikan, dan memberi, sebagian orang mungkin salah memahami pesannya.
Mereka berpikir:
“Kalau saya ingin menjadi orang baik, berarti saya harus selalu mengalah.”
Tidak.
Menjadi tulus bukan berarti menjadi naif.
Anda boleh berkata tidak.
Anda boleh menolak permintaan.
Anda boleh menjaga uang Anda.
Anda boleh menjaga waktu.
Anda boleh menjauh dari hubungan yang merusak.
Anda boleh meminta penghargaan yang layak atas pekerjaan Anda.
Anda boleh memperjuangkan kepentingan diri sendiri.
Bahkan, kemampuan menetapkan batas merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.
Tujuan dari latihan ini bukan membuat Anda berhenti memikirkan keuntungan sama sekali.
Tujuannya adalah agar keuntungan tidak menjadi satu-satunya alasan Anda melakukan sesuatu.
Ada perbedaan besar antara:
“Saya harus mendapatkan sesuatu dari orang ini.”
dan:
“Saya akan membantu jika saya mampu, tetapi saya juga tahu kapan harus mengatakan tidak.”
Yang pertama cenderung melihat hubungan sebagai transaksi.
Yang kedua menunjukkan adanya keseimbangan antara kepedulian terhadap orang lain dan penghargaan terhadap diri sendiri.
Jangan Berusaha Menjadi Orang yang Sama Sekali Tidak Egois
Ada satu hal yang perlu dipahami.
Manusia tidak mungkin sepenuhnya terbebas dari kepentingan pribadi.
Kita memiliki kebutuhan.
Kita memiliki tujuan.
Kita ingin aman.
Kita ingin dihargai.
Kita ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Semua itu manusiawi.
Karena itu, tujuan yang lebih realistis bukan:
“Saya tidak boleh memikirkan keuntungan sama sekali.”
Melainkan:
“Saya tidak ingin setiap keputusan saya hanya didasarkan pada keuntungan pribadi.”
Ada saatnya Anda mengambil sesuatu untuk diri sendiri.
Ada saatnya Anda memberi kepada orang lain.
Ada saatnya Anda memperjuangkan kepentingan sendiri.
Ada saatnya Anda mengalah.
Kedewasaan bukan memilih salah satu secara ekstrem.
Kedewasaan adalah mengetahui kapan harus memberi dan kapan harus menjaga diri.
Pada Akhirnya, Ketulusan Adalah Sesuatu yang Dilatih
Tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi sangat tulus hanya karena membaca satu artikel.
Kebiasaan mencari keuntungan terbentuk dari pengalaman, lingkungan, pola hubungan, cara berpikir, dan kebiasaan yang berlangsung lama.
Karena itu, perubahan juga membutuhkan waktu.
Mulailah dari hal kecil.
Hari ini, bantu seseorang tanpa berharap dipuji.
Besok, dengarkan seseorang tanpa memikirkan apa yang bisa Anda dapatkan.
Lusa, berikan sesuatu tanpa membuat perhitungan.
Di hari lain, tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah saya sedang memperlakukan orang ini sebagai manusia, atau hanya sebagai sesuatu yang berguna bagi saya?”
Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana.
Namun jika dilakukan terus-menerus, ia dapat mengubah cara kita memandang hubungan.
Anda mungkin akan mulai menyadari bahwa tidak semua kebaikan harus dibalas.
Tidak semua hubungan harus menghasilkan keuntungan.
Tidak semua waktu yang diberikan kepada orang lain adalah waktu yang terbuang.
Dan tidak semua hal berharga dalam hidup dapat diukur dengan materi.
Pada akhirnya, menjadi seseorang yang tidak selalu mencari keuntungan bukan berarti menjadi orang yang kehilangan kepentingan diri.
Justru Anda sedang belajar sesuatu yang lebih sulit:
memiliki kepentingan pribadi tanpa kehilangan kepedulian terhadap orang lain.
Anda tetap bisa memiliki ambisi, tetapi tidak harus mengorbankan semua orang demi mencapainya.
Anda tetap bisa mencari keberhasilan, tetapi tidak harus mengukur nilai seseorang berdasarkan manfaatnya.
Anda tetap bisa menerima sesuatu dari orang lain, tetapi juga belajar memberi.
Dan mungkin, salah satu tanda bahwa Anda mulai berubah adalah ketika Anda bisa melakukan sesuatu yang baik, lalu pergi tanpa merasa perlu berkata:
“Sekarang, apa yang akan saya dapatkan sebagai gantinya?”
Karena pada saat itu, Anda mulai memahami bahwa tidak semua kebaikan adalah investasi. Ada kebaikan yang memang dilakukan karena kita memilih untuk menjadi manusia yang lebih baik.***