seseorang yang memiliki anak yang sedang mengalami kesulitan. (Magnific)
JawaPos.com - Menjadi orang tua tidak berarti berhenti merasa khawatir ketika anak sudah dewasa. Justru, ketika anak memasuki usia dewasa dan menghadapi masalah pekerjaan, keuangan, hubungan, kesehatan emosional, atau masa depan, banyak orang tua merasa terdorong untuk turun tangan. Niatnya biasanya baik: ingin membantu, melindungi, dan memastikan anak tidak membuat keputusan yang dianggap salah.
Namun, bantuan yang diberikan dengan cara yang kurang tepat justru dapat membuat anak dewasa semakin tertekan. Dalam psikologi, dukungan terhadap anak yang sudah dewasa membutuhkan keseimbangan antara kepedulian dan penghormatan terhadap kemandirian. Anak dewasa tetap membutuhkan tempat untuk pulang secara emosional, tetapi mereka juga membutuhkan kesempatan untuk menyelesaikan persoalannya sendiri.
Tidak semua nasihat orang tua buruk. Tidak pula semua bentuk campur tangan selalu salah. Persoalannya terletak pada cara, waktu, intensitas, dan kebutuhan anak yang sebenarnya.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (21/8), terdapat tujuh kesalahan besar yang sebaiknya dihindari orang tua ketika anak dewasa sedang mengalami kesulitan.
1. Terlalu Cepat Memberikan Nasihat Tanpa Mendengarkan
Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan orang tua adalah langsung memberikan solusi ketika anak mulai bercerita.
Anak mengatakan, "Aku sedang kesulitan di pekerjaan."
Orang tua mungkin langsung menjawab, "Ya sudah, cari pekerjaan lain."
Atau ketika anak berkata, "Aku sedang bingung dengan hubungan ini," orang tua segera mengatakan, "Putus saja."
Bagi orang tua, respons tersebut mungkin terdengar praktis. Namun, bagi anak yang sedang mengalami tekanan, respons semacam itu bisa membuat mereka merasa bahwa emosinya tidak benar-benar didengarkan.
Dalam psikologi, mendengarkan secara aktif merupakan bagian penting dari komunikasi yang sehat. Seseorang yang sedang menghadapi masalah terkadang tidak langsung membutuhkan solusi. Ia mungkin hanya membutuhkan ruang untuk mengungkapkan perasaan, mengatur pikirannya, dan merasa bahwa pengalaman yang dialaminya dipahami.
Karena itu, sebelum memberikan nasihat, orang tua dapat bertanya:
"Kamu ingin Ibu/Ayah mendengarkan saja, atau kamu ingin pendapat?"
Pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah suasana percakapan.
Anak akan merasa bahwa dirinya dihargai sebagai orang dewasa yang memiliki hak untuk menentukan apa yang dibutuhkannya.
Mendengarkan bukan berarti orang tua harus menyetujui semua keputusan anak. Mendengarkan berarti memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan pikirannya tanpa langsung dihakimi.
Kadang-kadang, setelah didengarkan dengan tenang, anak justru mampu menemukan solusinya sendiri.
2. Membandingkan Anak dengan Orang Lain
"Temanmu sudah punya rumah."
"Adikmu lebih cepat sukses."
"Anak tetangga sudah menikah dan punya pekerjaan bagus."
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi dapat menjadi sangat menyakitkan bagi seseorang yang sedang berjuang.
Perbandingan sering kali dimaksudkan sebagai motivasi. Orang tua mungkin berpikir bahwa anak akan terdorong ketika melihat keberhasilan orang lain.
Namun, ketika seseorang sedang mengalami kegagalan atau ketidakpastian, perbandingan justru dapat memperkuat rasa tidak mampu.
Anak mungkin mulai berpikir:
"Berarti aku memang tertinggal."
"Kenapa hidupku tidak seperti mereka?"
"Mungkin aku mengecewakan orang tua."
Padahal, perjalanan hidup setiap orang berbeda. Ada orang yang berhasil lebih cepat dalam karier, sementara orang lain membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang menikah muda, ada yang memilih menunggu. Ada yang langsung menemukan bidang pekerjaan yang cocok, sementara yang lain harus mencoba beberapa kali.
Orang tua sebaiknya menghindari menjadikan kehidupan orang lain sebagai alat ukur harga diri anak.
Alih-alih mengatakan:
"Lihat temanmu, dia sudah sukses."
lebih baik mengatakan:
"Ayah/Ibu tahu kamu sedang berusaha. Menurutmu, bagian mana yang paling sulit sekarang?"
Perbedaan kalimat tersebut sangat besar.
Kalimat pertama membuat anak melihat dirinya melalui pencapaian orang lain. Kalimat kedua mengarahkan perhatian pada masalah yang sedang dihadapi dan kemungkinan langkah berikutnya.
3. Menganggap Kesulitan Anak sebagai Bentuk Kemalasan
Kesalahan berikutnya adalah menganggap anak yang sedang mengalami kesulitan sebagai orang yang kurang berusaha.
"Kalau kamu mau berusaha, pasti bisa."
"Jangan malas."
"Kamu terlalu banyak berpikir."
"Zaman dulu orang tua jauh lebih susah, tetapi tetap bisa bertahan."
Kalimat seperti ini sering muncul karena orang tua ingin membentuk mental anak agar kuat.
Namun, kekuatan mental tidak selalu terbentuk melalui tekanan.
Setiap orang memiliki kapasitas berbeda dalam menghadapi stres. Anak dewasa mungkin sedang berhadapan dengan kegagalan, ketidakpastian, tekanan pekerjaan, konflik hubungan, masalah finansial, atau perubahan besar dalam hidupnya. Dari luar, orang tua mungkin hanya melihat anak "tidak melakukan apa-apa". Padahal, di dalam pikirannya bisa terjadi pergulatan yang panjang.
Karena itu, sebelum menyimpulkan bahwa anak malas, orang tua sebaiknya mencoba memahami situasinya.
Pertanyaan seperti:
"Apa yang membuatmu sulit memulai?"
atau
"Apa yang paling membuatmu kepikiran akhir-akhir ini?"
dapat membuka percakapan yang lebih sehat.
Anak dewasa tidak selalu membutuhkan ceramah tentang kerja keras. Terkadang mereka membutuhkan seseorang yang membantu mereka melihat masalah dengan lebih jernih.
4. Terlalu Banyak Mengontrol Kehidupan Anak
Ketika anak mengalami kesulitan, naluri orang tua untuk melindungi bisa meningkat.
Orang tua mulai bertanya setiap hari:
"Kapan melamar kerja?"
"Sudah menghubungi siapa?"
"Kenapa belum mengambil keputusan?"
"Kenapa tidak mengikuti saran Ayah?"
"Harusnya kamu melakukan ini."
Masalahnya, anak yang sudah dewasa tetap memiliki kebutuhan terhadap otonomi.
Dalam psikologi perkembangan, kemandirian merupakan bagian penting dari kehidupan dewasa. Seseorang perlu memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan, menghadapi konsekuensi, mengevaluasi kesalahan, dan belajar dari pengalaman.
Jika orang tua terlalu mengontrol, anak mungkin memang terlihat lebih aman untuk sementara waktu. Namun, dalam jangka panjang, ia dapat merasa bahwa dirinya tidak dipercaya.
Bantuan yang sehat seharusnya tidak selalu berbentuk mengambil alih.
Misalnya, daripada langsung mencari pekerjaan untuk anak, orang tua dapat berkata:
"Kalau kamu membutuhkan bantuan membuat CV, Ayah/Ibu siap membantu."
Daripada menentukan keputusan hubungan anak, orang tua dapat berkata:
"Ayah/Ibu punya kekhawatiran, tetapi keputusan akhirnya tetap milikmu."
Pesan yang disampaikan adalah:
"Kami peduli kepadamu, tetapi kami tetap percaya bahwa kamu mampu menjalani hidupmu."
Ini merupakan bentuk dukungan yang jauh lebih sehat daripada kontrol.
5. Mengungkit Semua Kesalahan Masa Lalu
Ketika anak sedang menghadapi masalah, beberapa orang tua menggunakan kesalahan masa lalu sebagai bahan pembicaraan.
"Dulu sudah dibilang jangan seperti itu."
"Makanya, waktu itu kamu tidak mau mendengarkan."
"Kalau dulu kamu mengikuti nasihat kami, sekarang tidak akan begini."
Secara logika, orang tua mungkin merasa bahwa mereka sedang menunjukkan hubungan sebab-akibat.
Namun, ketika seseorang sedang berada dalam kondisi sulit, mengungkit masa lalu dengan nada menyalahkan sering kali tidak membantu.
Kesalahan yang sudah terjadi tidak dapat diubah. Yang dapat dilakukan adalah memahami apa yang terjadi dan menentukan langkah berikutnya.
Jika anak sudah menyadari bahwa keputusannya dahulu kurang tepat, mengingatkannya berkali-kali hanya dapat menambah rasa bersalah.
Orang tua dapat mengubah fokus dari:
"Kenapa dulu kamu melakukan itu?"
menjadi:
"Sekarang, apa yang bisa kita lakukan dari kondisi ini?"
Perubahan fokus tersebut membantu anak bergerak dari penyesalan menuju pemecahan masalah.
Orang tua tetap boleh membicarakan kesalahan masa lalu jika memang relevan. Namun, tujuannya sebaiknya untuk belajar, bukan mempermalukan.
6. Menggunakan Rasa Bersalah agar Anak Menuruti Keinginan Orang Tua
Ini merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering tidak disadari.
Misalnya:
"Setelah semua yang orang tua lakukan untukmu, masa kamu tidak mau mendengarkan?"
"Ibu cuma ingin yang terbaik, kenapa kamu selalu membantah?"
"Ayah sudah banyak berkorban, setidaknya turuti nasihat Ayah."
Kalimat seperti ini dapat membuat anak merasa memiliki utang emosional.
Anak mungkin akhirnya mengikuti keinginan orang tua, tetapi bukan karena ia memahami atau menyetujuinya. Ia melakukannya karena merasa bersalah.
Dalam hubungan orang tua dan anak dewasa, rasa terima kasih seharusnya tidak berubah menjadi kewajiban untuk menyerahkan seluruh kendali atas kehidupan.
Orang tua tentu boleh menyampaikan kekhawatiran. Bahkan, dalam situasi tertentu, mereka perlu memberikan batasan atau mengatakan bahwa mereka tidak setuju.
Namun, menyampaikan pendapat berbeda dengan memanipulasi perasaan anak.
Contohnya:
"Ayah/Ibu tidak setuju dengan pilihan itu karena ada beberapa hal yang membuat kami khawatir. Tetapi kami ingin mendengar alasanmu."
Ini lebih sehat daripada:
"Kalau kamu mencintai orang tua, kamu pasti mengikuti nasihat kami."
Anak dewasa perlu belajar mengambil keputusan berdasarkan nilai, pertimbangan, dan konsekuensi, bukan semata-mata berdasarkan rasa takut mengecewakan orang tua.
7. Menganggap Masalah Anak sebagai Kegagalan Orang Tua
Ini adalah kesalahan yang sangat manusiawi.
Ketika anak dewasa mengalami kegagalan, sebagian orang tua merasa bahwa mereka juga ikut gagal.
Mereka mungkin berpikir:
"Apa yang salah dengan cara kami membesarkannya?"
"Kenapa anak kami belum berhasil?"
"Apa kata orang lain nanti?"
Perasaan tersebut dapat membuat orang tua menjadi terlalu cemas dan akhirnya semakin menekan anak.
Padahal, ketika anak sudah dewasa, kehidupannya tidak sepenuhnya berada di bawah kendali orang tua.
Anak akan membuat keputusan sendiri. Ia akan mengalami keberhasilan dan kegagalan. Ia akan bertemu dengan orang yang tepat maupun yang tidak tepat. Ia akan memilih jalan yang mungkin berbeda dari harapan keluarga.
Kegagalan anak tidak otomatis berarti kegagalan orang tua.
Demikian pula, keberhasilan anak bukan satu-satunya bukti bahwa orang tua berhasil mendidiknya.
Peran orang tua pada tahap kehidupan ini perlahan berubah. Dari seseorang yang banyak menentukan arah kehidupan anak menjadi seseorang yang memberikan dukungan, perspektif, dan tempat aman ketika dibutuhkan.
Kadang-kadang bentuk kasih sayang terbaik bukan menyelesaikan masalah anak, tetapi mengatakan:
"Kami percaya kamu bisa melewati ini. Kalau kamu membutuhkan bantuan, kami ada."
Kalimat sederhana seperti itu dapat memberikan rasa aman tanpa mengambil alih kehidupan anak.
Lalu, Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua?
Ketika anak dewasa sedang mengalami kesulitan, orang tua tidak harus menjadi penyelamat.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan.
Dengarkan sebelum memberikan nasihat
Biarkan anak menjelaskan apa yang sedang terjadi. Jangan buru-buru menyela atau mencari solusi.
Tanyakan bantuan seperti apa yang dibutuhkan
Tidak semua masalah membutuhkan campur tangan langsung.
Tanyakan:
"Kamu ingin didengarkan, diberi pendapat, atau dibantu mencari solusi?"
Hormati keputusan anak
Memberikan pendapat tidak sama dengan memaksa anak mengikutinya.
Hindari membandingkan
Fokuslah pada perjalanan anak sendiri, bukan pencapaian orang lain.
Berikan dukungan yang konkret
Jika anak memang membutuhkan bantuan, tawarkan sesuatu yang jelas dan realistis.
Misalnya membantu menyusun rencana, memberikan dukungan finansial dalam batas kemampuan, atau sekadar menyediakan tempat untuk berbicara.
Berikan ruang
Anak dewasa membutuhkan kesempatan untuk belajar dari kehidupannya sendiri.
Orang tua tetap dapat menjadi tempat pulang tanpa harus menjadi pengendali seluruh perjalanan.
Anak Dewasa Tidak Selalu Membutuhkan Orang Tua untuk Memperbaiki Hidupnya
Salah satu hal tersulit bagi orang tua adalah menerima bahwa anak yang sudah dewasa tidak selalu membutuhkan solusi dari mereka.
Kadang-kadang, anak hanya membutuhkan seseorang yang mengatakan:
"Aku tahu ini berat."
"Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini."
"Kalau kamu ingin bercerita, aku akan mendengarkan."
"Aku mungkin punya pendapat berbeda, tetapi aku tetap menghargai keputusanmu."
Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan sesuatu yang sangat penting: kasih sayang tidak harus selalu berbentuk nasihat.
Hubungan yang sehat antara orang tua dan anak dewasa bukan hubungan di mana orang tua selalu benar dan anak selalu mengikuti. Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana keduanya dapat berbicara secara terbuka, saling menghormati, dan tetap memiliki batas yang sehat.
Anak dewasa boleh mengalami kegagalan tanpa merasa dirinya menjadi sumber kekecewaan keluarga.
Ia boleh membutuhkan waktu.
Ia boleh mengubah arah hidup.
Ia boleh mengambil keputusan yang berbeda dari harapan orang tua.
Dan orang tua tetap dapat mencintainya.
Pada akhirnya, ketika anak dewasa sedang mengalami kesulitan, pertanyaan terpenting bukanlah:
"Bagaimana caranya membuat anak mengikuti apa yang menurut kita benar?"
Melainkan:
"Bagaimana caranya membuat anak tahu bahwa ia tidak sendirian, tanpa membuatnya kehilangan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri?"
Itulah salah satu bentuk kedewasaan dalam hubungan antara orang tua dan anak: tetap hadir, tetapi tidak menguasai; tetap peduli, tetapi tidak menghakimi; tetap memberi arahan, tetapi tidak mengambil alih kehidupan anak.
Karena terkadang, bantuan terbaik yang dapat diberikan orang tua bukanlah membuka jalan untuk anak, melainkan berdiri di sampingnya ketika ia sedang berusaha menemukan jalannya sendiri.
***