seseorang yang lebih memilih kerja remote. (Magnific)
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah, “Mana yang lebih baik, kerja remote atau on-site?” Melainkan, “Lingkungan kerja seperti apa yang paling sesuai dengan kebiasaan dan cara saya bekerja?”
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (21/8), dalam psikologi kerja, perilaku sehari-hari dapat memberikan petunjuk mengenai lingkungan yang kemungkinan besar membuat seseorang lebih nyaman dan produktif. Dua orang dengan kemampuan yang sama bisa menunjukkan performa yang berbeda ketika ditempatkan dalam lingkungan kerja yang berbeda.
Jika saat ini Anda sedang bingung memilih pekerjaan remote atau on-site, coba kenali tujuh kebiasaan berikut. Jawaban Anda terhadap kebiasaan-kebiasaan ini bisa menjadi bahan pertimbangan penting sebelum mengambil keputusan.
1. Anda Lebih Produktif Ketika Memiliki Rutinitas yang Jelas
Coba perhatikan bagaimana Anda bekerja ketika tidak ada yang mengawasi.
Apakah Anda tetap bangun tepat waktu, mulai bekerja sesuai jadwal, menyelesaikan tugas satu per satu, dan berhenti bekerja ketika waktunya selesai?
Atau justru Anda sering menunda pekerjaan, berpindah-pindah aktivitas, membuka media sosial, kemudian baru bekerja serius ketika tenggat waktu sudah semakin dekat?
Jika Anda termasuk orang yang membutuhkan struktur eksternal agar tetap konsisten, lingkungan kerja on-site mungkin lebih cocok.
Bagi sebagian orang, pergi ke kantor menciptakan semacam "ritual" psikologis. Bangun pagi, mandi, berpakaian, melakukan perjalanan ke kantor, kemudian duduk di meja kerja memberikan sinyal kepada otak bahwa waktunya memasuki mode bekerja.
Sebaliknya, ketika bekerja dari rumah, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi bisa menjadi lebih samar.
Laptop berada beberapa langkah dari tempat tidur. Pekerjaan dapat dilakukan sambil duduk di sofa. Bahkan seseorang bisa saja bekerja sambil menonton televisi atau sesekali melakukan pekerjaan rumah.
Bagi orang yang memiliki disiplin diri tinggi, fleksibilitas tersebut bisa menjadi keuntungan.
Namun bagi orang yang membutuhkan struktur, fleksibilitas berlebihan justru dapat berubah menjadi distraksi.
Jadi, jika Anda tahu bahwa rutinitas yang jelas membantu Anda tetap fokus, jangan menganggap kebutuhan tersebut sebagai kelemahan. Bisa jadi Anda hanya membutuhkan lingkungan kerja yang memberikan struktur lebih kuat.
2. Anda Mudah Terdistraksi oleh Lingkungan Sekitar
Kebiasaan kedua yang perlu diperhatikan adalah kemampuan mempertahankan konsentrasi.
Saat bekerja, apakah Anda bisa tetap fokus meskipun ada suara orang berbicara, telepon berdering, atau rekan kerja berlalu-lalang?
Atau Anda membutuhkan suasana yang relatif tenang agar bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik?
Menariknya, preferensi terhadap lingkungan kerja sangat individual.
Ada orang yang justru merasa lebih hidup ketika bekerja di tengah banyak orang. Suara percakapan dan aktivitas di sekitar mereka tidak dianggap sebagai gangguan. Kehadiran orang lain bahkan dapat membuat mereka merasa lebih bersemangat.
Namun ada juga orang yang sangat sensitif terhadap gangguan lingkungan.
Bagi mereka, percakapan kecil di sebelah meja bisa memecah konsentrasi selama beberapa menit. Setelah perhatian teralihkan, mereka membutuhkan waktu untuk kembali masuk ke pekerjaan yang sebelumnya sedang dikerjakan.
Jika Anda termasuk kelompok kedua, kerja remote dapat memberikan keuntungan karena Anda memiliki kontrol lebih besar terhadap lingkungan.
Anda dapat memilih ruangan, mengatur pencahayaan, menggunakan headphone, mengatur suhu, dan mengurangi gangguan yang tidak diperlukan.
Tetapi ada satu catatan penting.
Rumah juga belum tentu menjadi tempat yang tenang.
Pasangan, anak, keluarga, tetangga, pekerjaan rumah tangga, notifikasi ponsel, bahkan keinginan untuk berbaring sebentar dapat menjadi gangguan.
Jadi, pertanyaannya bukan sekadar apakah Anda suka suasana tenang, tetapi apakah Anda mampu menciptakan ruang kerja yang cukup kondusif di rumah?
Jika jawabannya tidak, kantor mungkin justru menjadi lingkungan yang lebih mendukung produktivitas Anda.
3. Anda Mendapat Energi dari Interaksi Sosial atau Justru Kehilangan Energi Karenanya
Kebiasaan ketiga berkaitan dengan kebutuhan sosial.
Sebagian orang merasa lebih bersemangat setelah berbicara dengan rekan kerja. Mereka menikmati diskusi spontan, makan siang bersama, bertukar ide, atau sekadar menyapa orang lain di kantor.
Bagi mereka, pekerjaan bukan hanya tentang menyelesaikan tugas. Interaksi sosial juga menjadi bagian dari pengalaman bekerja.
Jika terlalu lama bekerja sendirian, mereka bisa merasa bosan, kehilangan motivasi, atau merasa terisolasi.
Dalam situasi seperti ini, pekerjaan on-site mungkin memberikan keuntungan.
Lingkungan kantor menyediakan banyak kesempatan untuk berinteraksi secara langsung. Bahkan percakapan singkat di sela pekerjaan terkadang dapat membantu seseorang merasa menjadi bagian dari kelompok.
Sebaliknya, ada orang yang merasa lebih nyaman bekerja secara mandiri.
Mereka tidak membutuhkan percakapan terus-menerus untuk merasa produktif. Bahkan terlalu banyak interaksi dapat membuat mereka cepat lelah dan kesulitan mempertahankan fokus.
Jika Anda termasuk tipe seperti ini, remote working mungkin terasa lebih nyaman.
Namun penting untuk tidak menyederhanakannya menjadi sekadar "introvert versus ekstrovert".
Kepribadian manusia jauh lebih kompleks.
Seseorang bisa sangat nyaman bersosialisasi tetapi tetap membutuhkan waktu kerja yang tenang. Sebaliknya, seseorang yang pendiam bisa saja menikmati diskusi profesional yang mendalam.
Yang perlu Anda tanyakan adalah:
“Apakah interaksi dengan orang lain biasanya membantu saya bekerja lebih baik, atau justru menguras energi saya?”
Jawaban jujur terhadap pertanyaan tersebut dapat membantu menentukan lingkungan kerja yang lebih sesuai.
4. Anda Bisa Memisahkan Waktu Kerja dan Kehidupan Pribadi
Salah satu tantangan terbesar kerja remote adalah batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Bayangkan Anda bekerja dari kamar sendiri.
Pukul lima sore seharusnya pekerjaan selesai. Namun laptop masih berada di meja. Ada satu email masuk. Kemudian Anda membalasnya.
Setelah itu muncul pesan dari rekan kerja.
Anda membalas lagi.
Tanpa sadar, jam kerja yang seharusnya selesai pukul lima berubah menjadi pukul tujuh malam.
Bagi sebagian orang, situasi seperti ini dapat terjadi berulang kali.
Karena tempat kerja dan tempat tinggal berada di lokasi yang sama, otak mungkin lebih sulit mendapatkan sinyal bahwa hari kerja telah berakhir.
Sebaliknya, perjalanan pulang dari kantor dapat berfungsi sebagai semacam transisi psikologis. Setelah meninggalkan kantor, seseorang memiliki waktu untuk melepaskan pikiran dari pekerjaan sebelum kembali ke kehidupan pribadi.
Jika Anda memiliki kebiasaan membawa pekerjaan ke mana pun Anda pergi, kerja on-site mungkin memberikan batas yang lebih jelas.
Namun jika Anda mampu menetapkan aturan seperti tidak membuka email setelah jam kerja, memiliki ruang khusus untuk bekerja, dan mematikan perangkat kerja setelah selesai, remote dapat menjadi pilihan yang sangat baik.
Dengan kata lain, bukan hanya jenis pekerjaannya yang penting.
Kemampuan menetapkan batas juga sangat menentukan.
5. Anda Lebih Mudah Termotivasi oleh Pengawasan atau Target Pribadi
Coba bayangkan dua situasi.
Dalam situasi pertama, atasan Anda berada tidak jauh dari meja. Ada jadwal rapat yang jelas, rekan kerja berada di sekitar Anda, dan progres pekerjaan relatif mudah terlihat.
Dalam situasi kedua, Anda bekerja sendiri. Atasan mungkin hanya berkomunikasi melalui chat atau video call. Tidak ada yang benar-benar melihat apakah Anda sedang bekerja atau beristirahat.
Situasi mana yang membuat Anda bekerja lebih baik?
Jika keberadaan struktur eksternal membuat Anda lebih konsisten, kantor mungkin terasa lebih cocok.
Sebaliknya, jika Anda tetap bekerja dengan baik meskipun tidak ada yang mengawasi secara langsung, remote dapat memberi Anda kebebasan yang sangat besar.
Ini berkaitan dengan kemampuan regulasi diri.
Orang dengan regulasi diri yang baik cenderung mampu menetapkan tujuan, mengatur waktu, memonitor kemajuan, dan mengendalikan dorongan untuk melakukan aktivitas yang kurang penting.
Mereka tidak selalu membutuhkan seseorang untuk mengingatkan bahwa sebuah pekerjaan harus diselesaikan.
Namun jangan salah memahami hal ini.
Membutuhkan struktur bukan berarti Anda malas.
Setiap orang memiliki kebutuhan lingkungan yang berbeda. Yang penting adalah mengetahui kondisi yang membantu Anda menghasilkan performa terbaik.
Jika Anda sering berpikir, “Kalau tidak ada yang mengingatkan, saya sulit mulai bekerja,” mungkin Anda akan lebih nyaman berada di lingkungan kerja dengan struktur yang kuat.
6. Anda Sering Menunda Pekerjaan Ketika Memiliki Kebebasan Terlalu Besar
Fleksibilitas terdengar menyenangkan.
Tidak ada perjalanan ke kantor. Tidak perlu mengikuti aturan berpakaian yang ketat. Bisa memilih kapan menyelesaikan pekerjaan tertentu. Bahkan mungkin bisa mengatur jam kerja sesuai ritme pribadi.
Namun kebebasan juga membutuhkan tanggung jawab.
Perhatikan kebiasaan Anda dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika memiliki waktu luang, apakah Anda cenderung langsung menyelesaikan sesuatu atau berkata, “Nanti saja, masih ada waktu”?
Jika kecenderungannya adalah menunda, remote working mungkin membutuhkan perhatian lebih besar.
Prokrastinasi sering kali bukan sekadar persoalan malas. Seseorang dapat menunda pekerjaan karena tugas terasa membosankan, terlalu sulit, tidak jelas, atau menimbulkan ketidaknyamanan emosional.
Ketika bekerja dari rumah, banyak alternatif yang lebih menyenangkan tersedia dalam jarak dekat.
Anda bisa membuka media sosial, menonton video, bermain gim, tidur sebentar, memasak, atau melakukan aktivitas lainnya.
Semua itu membuat godaan untuk menunda menjadi semakin besar.
Sebaliknya, lingkungan kantor biasanya memiliki lebih banyak "isyarat pekerjaan". Melihat rekan kerja bekerja, mengikuti jadwal rapat, dan berada di ruang profesional dapat membantu mempertahankan orientasi terhadap tugas.
Namun lagi-lagi, remote bukan berarti buruk bagi orang yang pernah mengalami prokrastinasi.
Justru Anda bisa mengatasinya dengan strategi tertentu: membuat jadwal, menggunakan daftar prioritas, membagi tugas besar menjadi pekerjaan kecil, menggunakan teknik time blocking, dan menetapkan waktu khusus untuk memeriksa pesan.
Jadi, pertanyaannya adalah apakah Anda mampu mengelola kebebasan tersebut.
7. Anda Membutuhkan Pemisahan yang Tegas antara "Rumah" dan "Tempat Kerja"
Kebiasaan terakhir mungkin terlihat sederhana, tetapi pengaruhnya cukup besar.
Apakah Anda nyaman jika tempat tinggal sekaligus menjadi tempat bekerja?
Bagi sebagian orang, hal tersebut ideal.
Mereka dapat bekerja tanpa perjalanan panjang, menghemat waktu, dan mengatur ruang sesuai keinginan.
Tetapi bagi sebagian lainnya, rumah memiliki fungsi psikologis yang berbeda.
Rumah adalah tempat untuk beristirahat.
Begitu berada di rumah, mereka ingin meninggalkan urusan pekerjaan. Jika meja kerja, laptop, dokumen, dan notifikasi pekerjaan selalu terlihat, mereka merasa sulit benar-benar rileks.
Jika Anda termasuk orang yang membutuhkan pemisahan ruang dan aktivitas secara jelas, pekerjaan on-site mungkin memberikan manfaat psikologis.
Sebaliknya, jika Anda merasa nyaman bekerja di rumah dan mampu menciptakan ruang khusus untuk pekerjaan, remote working dapat memberikan fleksibilitas yang luar biasa.
Bahkan jika memungkinkan, Anda dapat membuat "ritual" sendiri untuk menggantikan perjalanan ke kantor.
Misalnya, bangun pada waktu yang konsisten, mandi dan berpakaian seperti hendak bekerja, berjalan kaki sebentar sebelum memulai pekerjaan, kemudian masuk ke ruang kerja.
Setelah pekerjaan selesai, tutup laptop, rapikan meja, dan tinggalkan ruangan tersebut.
Kebiasaan sederhana semacam ini dapat membantu menciptakan batas psikologis antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Jadi, Mana yang Lebih Cocok untuk Anda?
Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua orang.
Kerja remote bukan otomatis lebih nyaman.
Kerja on-site juga bukan otomatis lebih produktif.
Keduanya memiliki keuntungan dan tantangan yang berbeda.
Jika Anda memiliki disiplin diri tinggi, mampu mengatur waktu, membutuhkan ketenangan, nyaman bekerja secara mandiri, dan mampu memisahkan kehidupan pribadi dari pekerjaan, remote working mungkin sangat cocok.
Sebaliknya, jika Anda berkembang melalui interaksi sosial, membutuhkan struktur yang jelas, mudah terdistraksi ketika bekerja sendirian, atau kesulitan memulai pekerjaan tanpa tekanan eksternal, lingkungan on-site mungkin lebih membantu.
Yang menarik, preferensi ini juga dapat berubah seiring waktu.
Seseorang yang awalnya menyukai remote bisa merasa membutuhkan interaksi sosial setelah beberapa tahun. Orang yang terbiasa bekerja di kantor juga mungkin menemukan bahwa dirinya ternyata jauh lebih produktif ketika mendapatkan fleksibilitas.
Karena itu, jangan memilih hanya berdasarkan tren.
Jangan memilih remote hanya karena terlihat nyaman.
Jangan pula memilih on-site hanya karena menganggapnya lebih "serius".
Pilih berdasarkan cara Anda bekerja yang sebenarnya.
Cobalah mengingat pengalaman kerja atau belajar Anda sebelumnya. Dalam kondisi seperti apa Anda paling mudah berkonsentrasi? Kapan Anda biasanya menyelesaikan pekerjaan lebih cepat? Apa yang membuat Anda kehilangan motivasi? Apakah Anda membutuhkan orang lain untuk menjaga ritme? Dan apakah Anda mampu berhenti bekerja ketika hari kerja telah selesai?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih berguna daripada sekadar mengikuti pendapat orang lain.
Pada akhirnya, lingkungan kerja yang ideal adalah lingkungan yang membuat Anda dapat bekerja secara produktif tanpa terus-menerus mengorbankan kesehatan, hubungan sosial, dan kehidupan pribadi.
Jadi, sebelum menerima tawaran kerja berikutnya, jangan hanya bertanya tentang gaji, jabatan, atau fasilitas.
Tanyakan juga kepada diri sendiri:
“Dalam lingkungan seperti apa saya bisa menjadi versi diri saya yang paling produktif dan paling sehat dalam bekerja?”
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Thailand vs Vietnam Leg 1 Final Piala AFF 2026: Gajah Perang Terlalu Perkasa di Rajama
Jadi Tersangka, Ini Kronologi Penipuan yang Dilakukan Ruben Onsu
Ruben Onsu Jadi Tersangka, Begini Reaksi Pengacara Minola Sebayang
Prediksi Skor Marseille vs Strasbourg: Rekor 15 Laga Jadi Modal Les Phoceens
Respons Tantangan Wagub Kalbar, Gubernur Jabar KDM: Mohon Maaf, Tak Maksud Membandingkan
Pemerintah Bakal Menata Guru, PGRI Sebut Ada Harapan Baru bagi Pendidikan Indonesia
Ruben Onsu Ditetapkan Tersangka Kasus Penipuan dan Penggelapan, Dipanggil Minggu Depan
Prediksi Skor Ipswich vs Sunderland: The Black Cats Berpeluang Curi Poin di Portman Road
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Ribuan Ojol Hadiri Kopdar Kebangsaan Jaga Jakarta, Ada Perpanjangan SIM Gratis
