Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Agustus 2026 | 06.16 WIB

Kain Sisa Jadi Karya Seni Bernilai, PURANA Gandeng Seniman dalam ‘Renjana Perca’

Berkolaborasi dengan 12 seniman dari seluruh penjuru Indonesia, kain perca PURANA diubah menjadi kaya seni yang ‘apik’ dan unik. - Image

Berkolaborasi dengan 12 seniman dari seluruh penjuru Indonesia, kain perca PURANA diubah menjadi kaya seni yang ‘apik’ dan unik.

JawaPos.com – Kain sisa atau yang dikenal dengan perca memang menjadi salah satu limbah tekstil yang bisa menjadi barang bernilai. Seperti yang ditampilkan para seniman yang berkolaborasi dengan PURANA dalam pameran Renjana Perca.

Berkolaborasi dengan 12 seniman dari seluruh penjuru Indonesia, kain perca PURANA diubah menjadi kaya seni yang ‘apik’ dan unik. Tak sekadar instalasi visual tapi juga memberikan pemahaman kalau limbah tekstil bisa menjadi barang bernilai tinggi. Kain perca tersebut disusun, diwarnai, hingga dijahit, yang menonjolkan pesan ‘bisa menjadi apa saja asal mau diolah’.  

Ke 12 kolaborator yang terlibat antara lain Sutjipto Adi, Ruth Marbun, Agan Harahap, Hendra 'HeHe' Harsono, Sarkodit, Suanjaya Kencut, Anton Afganial, Francisca “Kika” Puspitasari (Founder Kaloka Pottery), Hana Surya (Founder THREADAPEUTIC), Rosyid Akhmadi (Founder Mohoi), Arief Susanto (Founder DusDukDuk), dan Savirra Lavinia (Founder FUGUKU).

Sebagai rumah mode dan gaya hidup kontemporer Indonesia, PURANA, tahu benar kalau kain perca perlu memiliki wadah yang tepat. Untuk itu, selama 17 tahun, PURANA senantiasa berkolaborasi erat dengan para seniman

Karya Hendra 'HeHe' Harsono.

Diungkapkan, Nonita Respati selaku Founder & Chief Creative Officer, PURANA, para seniman yang terlibat dalam gerakan 'Renjana Perca' hari ini adalah para sahabat karya yang telah tumbuh bersama kami selama 17 tahun.

Berlangsung dari 14 hingga 23 Agustus 2026 di Grand Indonesia, gerakan ini bukan sekadar perhelatan temporer, melainkan sebuah gerakan kebanggaan nasional menuju ekonomi sirkular. Ini sejalan dengan paradigma sustainable luxury yang saat ini menjadi standar utama di industri kreatif Eropa. 

“Mengikuti standar ekonomi sirkular Eropa, eksibisi ini dirancang bukan sebagai akhir, melainkan awal dari gerakan berkelanjutan yang diadopsi oleh komunitas yang lebih luas,” ujar Nonita baru-baru ini. 

Dalam kesempatan yang sama, Kanina Hanindita selaku General Manager Marketing Communications & Operations, Grand Indonesia, mengatakan, baginya pusat perbelanjaan adalah katalis yang mempertemukan komunitas, budaya, seni, dan inovasi sirkular. 

“Melalui kolaborasi ini, kami menegaskan komitmen kami dalam mendorong penerapan praktik ekonomi sirkular dan gaya hidup yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Arsitektur Kardus

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore