Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Agustus 2026 | 04.02 WIB

Orang yang Benar-Benar Tenang Biasanya Menggunakan 10 Frasa Ini dalam Percakapan

Ilustrasi orang yang tenang (magnific/benzoix)

 

 
JawaPos.com - Ada orang yang tetap mampu berpikir jernih ketika situasi mulai memanas. Mereka bukan berarti tidak pernah merasa marah, cemas, kecewa, atau frustrasi. Namun, mereka mampu mengelola emosi sehingga tidak mudah bereaksi secara berlebihan. 
 
Salah satu tanda yang menarik dapat terlihat dari cara mereka berbicara. Dalam situasi yang membuat orang lain panik atau terbawa emosi, orang yang benar-benar tenang cenderung menggunakan kalimat sederhana untuk meredakan keadaan dan mengingatkan diri sendiri tentang hal-hal yang penting.
 
Dikutip dari laman YourTango, berikut 10 frasa yang sering digunakan orang yang memiliki ketenangan batin.
 
1. “Aku tidak masalah dengan apa pun”
 
Bagi orang yang tenang, menerima keadaan bukan berarti mereka menyetujui semua hal. Mereka tetap mempunyai prinsip dan akan menyampaikan keberatan ketika sesuatu bertentangan dengan nilai yang diyakini.
 
Namun, mereka memahami bahwa tidak semua hal perlu dikendalikan. Setelah melalui berbagai pengalaman, mereka belajar membedakan persoalan yang memang perlu diperjuangkan dan hal-hal yang lebih baik dilepaskan. 
 
Mereka menyadari bahwa manusia tidak mungkin mengendalikan seluruh keadaan di luar dirinya. Karena itu, melepaskan ekspektasi yang tidak realistis dapat membantu menjaga ketenangan.
 
2. “Aku tidak terlalu khawatir tentang itu”
 
Orang yang tenang memahami bahwa kekhawatiran berlebihan tidak otomatis menyelesaikan masalah. Daripada terus memikirkan kemungkinan buruk, mereka berusaha mempercayai diri sendiri dan menghadapi keadaan ketika waktunya tiba.
 
Sikap tersebut bukan berarti mereka tidak peduli. Mereka hanya memilih untuk tidak menghabiskan energi pada sesuatu yang belum tentu terjadi.
 
Bahkan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan, mereka berusaha tidak membiarkan kekecewaan menguasai pikiran.
 
3. “Jangan stres, semuanya akan beres dengan sendirinya”
 
Ketenangan orang-orang ini sering kali ikut dirasakan oleh orang di sekitarnya. Mereka dapat menjadi sosok yang menenangkan ketika orang lain sedang panik atau menghadapi tekanan. 
 
Kalimat tersebut mencerminkan optimisme sederhana. Selama tidak digunakan untuk mengabaikan masalah yang serius, melihat sisi positif dapat membantu seseorang menjaga pola pikir tetap sehat.
 
Orang yang tenang biasanya memahami bahwa terlalu mencemaskan sesuatu yang belum diketahui justru dapat membuat keadaan terasa semakin berat.
 
4. “Tidak apa-apa, saya mengerti”
 
Selain tenang, mereka cenderung memiliki empati. Mereka tidak terburu-buru menyalahkan orang lain atau mengambil kesimpulan berdasarkan sudut pandangnya sendiri. 
 
Mereka memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ketika mengalami penolakan, kegagalan, atau gangguan kecil, mereka berusaha menerimanya tanpa melampiaskan emosi kepada orang lain.
 
Sikap sabar dan penuh pengertian seperti ini juga dapat menciptakan suasana yang lebih positif dalam hubungan dengan orang lain.
 
5. “Aku mengerti maksudmu”
 
Orang yang benar-benar tenang tidak selalu merasa harus menjadi pihak yang paling benar. Mereka lebih mengutamakan penyelesaian masalah daripada sekadar memenangkan perdebatan. 
 
Mereka bersedia mendengarkan sudut pandang yang berbeda, bahkan ketika pada akhirnya tetap tidak setuju. Bagi mereka, memahami perspektif orang lain tidak sama dengan harus mengikuti pendapat tersebut.
 
Dalam hubungan, kemampuan untuk mendengarkan dan berkompromi juga dapat membantu menciptakan kedekatan emosional yang lebih baik.
 
6. “Kita bisa membicarakannya nanti”
 
Ketika emosi sedang tinggi, orang yang tenang tidak merasa harus menyelesaikan semua persoalan saat itu juga. Mereka tahu bahwa percakapan dalam kondisi penuh amarah berisiko menghasilkan kata-kata yang nantinya disesali. 
 
Karena itu, mengambil jeda menjadi salah satu cara mereka menjaga situasi agar tidak semakin buruk.
 
Dengan memberi waktu untuk menenangkan diri, kedua pihak memiliki kesempatan untuk kembali berpikir secara lebih rasional dan menyampaikan perasaan tanpa saling memicu emosi.
 
7. “Jangan khawatir”
 
Hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari terkadang cukup untuk membuat seseorang kehilangan kesabaran. Namun, orang yang tenang berusaha memiliki cara sendiri untuk mengelola tekanan.
 
Menulis jurnal, bermeditasi, atau mengambil waktu untuk beristirahat merupakan beberapa cara yang dapat membantu mereka kembali mengendalikan emosi. 
 
Karena itu, ketika menghadapi masalah, mereka lebih mudah mengatakan “jangan khawatir” dengan sungguh-sungguh. Mereka menerima bahwa kehidupan memang tidak selalu mudah dan tidak semua persoalan harus dibesar-besarkan.
 
8. “Saya bisa mengatasi itu”
 
Orang yang tenang tidak selalu memaksakan kehendak. Mereka lebih memilih mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama.
 
Selama sebuah kompromi tidak bertentangan dengan prinsip moral atau membahayakan orang lain, mereka bersedia menyesuaikan diri. 
 
Bagi mereka, tujuan utama sebuah perbedaan pendapat bukanlah memenangkan pertarungan, melainkan menemukan solusi.
 
Mereka mungkin tidak memperoleh semua yang diinginkan, tetapi dapat menerima hasil yang dirasa cukup adil.
 
9. “Kita punya waktu”
 
Kebiasaan terburu-buru dapat membuat seseorang semakin panik. Orang yang tenang memahami hal tersebut sehingga mereka berusaha memberi diri sendiri waktu untuk bernapas dan berpikir. 
 
Kalimat “kita masih punya waktu” bukan berarti mereka tidak peduli terhadap waktu. Sebaliknya, mereka berusaha menghindari kepanikan agar dapat menyelesaikan sesuatu secara lebih efektif.
 
Daripada memulai hari dengan terburu-buru, mereka cenderung memilih mempersiapkan diri lebih awal sehingga tekanan yang tidak perlu dapat dikurangi.
 
10. “Bukan masalah besar”
 
Orang yang tenang tidak mudah terganggu oleh persoalan kecil. Mereka juga tidak merasa harus mendapatkan pujian dari orang lain atas setiap hal yang berhasil dilakukan. 
 
Mereka memahami bagaimana rasanya kewalahan dan memilih untuk tidak terus mengulangi pola tersebut.
 
Dengan menerima kenyataan serta melepaskan hal-hal yang tidak penting, mereka dapat menjalani hidup dengan lebih ringan.
 
Pada akhirnya, ketenangan bukan berarti seseorang tidak pernah menghadapi masalah. Ketenangan lebih berkaitan dengan kemampuan untuk menentukan bagaimana harus merespons ketika masalah datang.
 
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore