Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Agustus 2026 | 00.46 WIB

Anak Sulit Makan? Coba 7 Cara Ini untuk Mendukungnya Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki anak yang sulit makan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Memiliki anak yang sulit makan sering kali membuat orang tua merasa khawatir, frustrasi, bahkan kehilangan kesabaran. Setiap waktu makan bisa berubah menjadi negosiasi panjang: anak menolak sayur, hanya mau makanan tertentu, mengemut makanan terlalu lama, atau bahkan menangis ketika melihat makanan yang tidak disukainya.


Dalam situasi seperti ini, banyak orang tua spontan berpikir, “Anak saya memang susah makan.” Padahal, perilaku makan anak tidak selalu sesederhana soal suka atau tidak suka makanan. Ada anak yang sensitif terhadap tekstur, aroma, warna, atau suhu makanan. Ada pula yang kehilangan nafsu makan karena terlalu banyak camilan, merasa tertekan saat makan, atau sedang berada dalam fase perkembangan tertentu.

Dari sudut pandang psikologi perkembangan, cara orang tua merespons kesulitan makan juga dapat memengaruhi hubungan anak dengan makanan. Tekanan yang berlebihan, ancaman, atau memaksa anak menghabiskan makanan dapat membuat waktu makan semakin identik dengan konflik.

Karena itu, tujuan orang tua bukan sekadar membuat anak “mau makan”, tetapi membantu anak membangun hubungan yang sehat, aman, dan positif dengan makanan.

Dilansir dari PSychology Today pada Minggu (16/8), terdapat tujuh cara yang dapat dilakukan.

1. Kurangi Tekanan dan Jangan Menjadikan Makan sebagai Pertarungan

Salah satu kesalahan yang cukup umum adalah memaksa anak makan ketika mereka menolak.

“Harus habis!”

“Kalau tidak makan, tidak boleh bermain.”

“Satu suap lagi saja.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin muncul karena orang tua khawatir anak tidak mendapatkan cukup nutrisi. Namun, semakin besar tekanan yang diberikan, makan justru dapat menjadi pengalaman yang penuh kecemasan bagi anak.

Anak kemudian dapat belajar bahwa waktu makan adalah saat ketika ia harus berhadapan dengan tuntutan orang tua.

Sebaliknya, cobalah menciptakan suasana yang lebih tenang. Orang tua dapat menawarkan makanan, tetapi tidak perlu mengubah setiap penolakan menjadi konflik.

Misalnya, daripada mengatakan:

“Kamu harus makan sayurnya!”

cobalah:

“Ini ada sayur di piringmu. Kamu boleh mencobanya kalau kamu mau.”

Perubahan kecil dalam cara berbicara dapat membantu mengurangi ketegangan.

Ini bukan berarti orang tua membiarkan anak tidak makan sama sekali. Orang tua tetap perlu menyediakan jadwal makan yang teratur dan makanan yang sesuai kebutuhan anak. Namun, tekanan untuk “harus makan sekarang” dapat dikurangi.

2. Berikan Anak Kesempatan untuk Mengenal Makanan Secara Bertahap

Anak tidak selalu langsung menyukai makanan baru.

Bagi orang dewasa, mencoba makanan baru mungkin terasa sederhana. Namun bagi anak, makanan baru bisa menjadi pengalaman yang asing. Bentuk, bau, tekstur, warna, dan rasa semuanya dapat terasa berbeda.

Karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa anak tidak menyukai suatu makanan hanya karena ia menolaknya sekali.

Pengenalan makanan dapat dilakukan secara bertahap.

Misalnya, jika anak tidak mau makan brokoli, orang tua tidak harus langsung memaksanya menghabiskan brokoli. Anak dapat terlebih dahulu melihatnya, menyentuhnya, mencium aromanya, kemudian mungkin mencicipinya dalam jumlah kecil.

Orang tua juga dapat menyajikan makanan baru bersama makanan yang sudah familiar bagi anak.

Contohnya:

nasi + telur yang biasa dimakan + sedikit sayur baru;
roti favorit + potongan buah baru;
pasta yang disukai + sedikit bahan makanan yang belum familiar.

Pendekatan bertahap membuat makanan baru terasa tidak terlalu mengancam.

Yang penting, jangan menjadikan setiap kesempatan makan sebagai ujian. Anak membutuhkan waktu untuk membangun rasa nyaman.

3. Berikan Pilihan, tetapi Tetap dengan Batas yang Jelas

Anak juga membutuhkan rasa memiliki kendali.

Ketika orang tua menentukan seluruh isi makanan tanpa memberikan ruang bagi anak untuk memilih, sebagian anak dapat merespons dengan penolakan.

Namun, memberikan kebebasan tanpa batas juga bukan solusi.

Pendekatan yang lebih seimbang adalah memberikan pilihan terbatas.

Misalnya:

“Kamu mau makan telur atau ayam?”

atau:

“Kamu mau pisang atau apel?”

Dengan cara ini, orang tua tetap menentukan pilihan makanan yang tersedia, sementara anak diberi kesempatan untuk menentukan pilihannya.

Dalam psikologi perkembangan, kesempatan mengambil keputusan sederhana dapat membantu anak merasa memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri.

Untuk anak kecil, pertanyaan seperti “Mau makan apa?” mungkin terlalu luas. Anak bisa menjawab “tidak mau makan”.

Sebaliknya, berikan dua pilihan yang sama-sama dapat diterima.

“Mau makan sekarang atau lima menit lagi?”

“Mau pakai sendok kecil atau sendok besar?”

Pilihan sederhana seperti ini dapat mengurangi kebutuhan anak untuk memperoleh kendali melalui penolakan makanan.

4. Jangan Menggunakan Makanan sebagai Hadiah atau Hukuman

“Kalau kamu habiskan sayur, nanti boleh makan cokelat.”

“Kalau tidak makan, tidak boleh dapat makanan penutup.”

Strategi seperti ini memang kadang berhasil dalam jangka pendek. Anak akhirnya mau makan makanan yang tidak disukainya karena menginginkan hadiah.

Namun, ada konsekuensi yang perlu diperhatikan.

Ketika makanan tertentu terus-menerus ditempatkan sebagai “hadiah”, anak dapat menganggap makanan tersebut jauh lebih menarik. Sementara makanan yang harus dimakan terlebih dahulu dianggap sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan.

Misalnya, jika setiap kali sayur disebut sebagai syarat untuk mendapatkan es krim, anak bisa semakin melihat sayur sebagai makanan yang tidak enak dan es krim sebagai hadiah yang sangat berharga.

Lebih baik makanan diberikan sebagai bagian normal dari rutinitas makan, bukan sebagai alat untuk mengendalikan perilaku.

Orang tua juga sebaiknya berhati-hati dengan label seperti:

“makanan nakal”;
“makanan jelek”;
“makanan yang bikin kamu gemuk”;
“kamu anak pintar kalau mau makan.”

Anak perlu belajar bahwa makanan adalah bagian dari kebutuhan tubuh, bukan alat untuk menentukan apakah dirinya “baik” atau “buruk”.

5. Jadilah Contoh, Bukan Sekadar Pemberi Perintah

Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat.

Jika orang tua meminta anak makan sayur sambil berkata, “Sayur itu sehat,” tetapi orang tua sendiri selalu menghindari sayur, anak mungkin tidak mendapatkan contoh yang konsisten.

Karena itu, sebisa mungkin makan bersama anak.

Biarkan anak melihat orang tua menikmati berbagai makanan.

Tidak perlu berlebihan mengatakan:

“Lihat, Mama makan brokoli. Kamu juga harus makan!”

Lebih baik menunjukkan pengalaman makan yang positif secara alami.

Misalnya:

“Wah, brokolinya renyah.”

atau:

“Ayah suka rasa sup ini.”

Anak kemudian mendapatkan kesempatan untuk mengamati tanpa merasa sedang diperintah.

Makan bersama juga memberikan manfaat sosial. Meja makan dapat menjadi tempat berbicara, berbagi cerita, dan membangun hubungan keluarga, bukan sekadar tempat untuk memastikan berapa banyak makanan yang masuk ke mulut anak.

6. Perhatikan Sensitivitas Anak terhadap Tekstur, Aroma, dan Lingkungan

Tidak semua anak yang sulit makan sekadar “pilih-pilih”.

Sebagian anak mungkin memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap karakteristik sensorik makanan.

Misalnya, anak menolak makanan karena:

teksturnya terlalu lembek;
makanan terasa terlalu lengket;
ada campuran beberapa tekstur;
aroma makanan terlalu kuat;
makanan terlalu panas atau dingin;
bentuk makanan tertentu membuatnya tidak nyaman.

Ada juga anak yang lebih sulit makan ketika lingkungan terlalu ramai, berisik, atau penuh distraksi.

Karena itu, orang tua perlu mengamati pola.

Daripada hanya bertanya, “Kenapa kamu tidak mau makan?”, perhatikan:

Apa yang ditolak?

Bagaimana teksturnya?

Apakah makanan tersebut berbau kuat?

Apakah anak menolak makanan yang sama dalam bentuk berbeda?

Apakah penolakan terjadi pada waktu tertentu?

Pengamatan seperti ini dapat membantu orang tua memahami bahwa perilaku makan anak mungkin memiliki alasan tertentu.

Jika anak memiliki daftar makanan yang sangat terbatas, sangat cemas terhadap makanan baru, sering tersedak atau muntah ketika makan, mengalami kesulitan mengunyah atau menelan, pertumbuhan terganggu, atau masalah makan berlangsung berat dan menetap, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak atau tenaga profesional yang memahami masalah makan pada anak.

7. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Berapa Banyak yang Dimakan

Orang tua tentu ingin anak mendapatkan nutrisi yang cukup. Tetapi jika setiap waktu makan hanya dinilai berdasarkan jumlah makanan yang berhasil dihabiskan, suasana makan dapat menjadi penuh tekanan.

Cobalah memperhatikan kemajuan kecil.

Hari ini anak mungkin belum mau memakan wortel, tetapi ia mau menyentuhnya.

Besok ia mungkin mau mencium aromanya.

Beberapa waktu kemudian ia mungkin mau menggigit sedikit.

Kemajuan seperti itu tetap berarti.

Orang tua dapat memberikan respons positif tanpa memberikan tekanan.

“Kamu berani mencobanya.”

“Tadi kamu mau mencicipi sedikit.”

“Kamu mencoba makanan baru hari ini.”

Pujian sebaiknya berfokus pada keberanian mencoba dan proses eksplorasi, bukan pada jumlah makanan yang dihabiskan.

Dengan begitu, anak belajar bahwa mencoba makanan adalah pengalaman yang aman.

Yang Perlu Diingat Orang Tua

Anak yang sulit makan tidak selalu membutuhkan orang tua yang lebih keras. Sering kali, mereka justru membutuhkan orang tua yang lebih tenang, konsisten, dan peka terhadap kebutuhan mereka.

Tujuh pendekatan di atas dapat diringkas menjadi prinsip sederhana:

Orang tua menyediakan makanan dan lingkungan makan yang baik; anak secara bertahap belajar menentukan apa dan berapa banyak yang sanggup ia makan.

Tentu, pendekatan ini bukan berarti setiap penolakan harus dibiarkan. Anak tetap membutuhkan struktur: jadwal makan yang konsisten, pilihan makanan yang beragam, suasana makan yang nyaman, dan batasan yang sehat.

Namun, struktur tidak harus berarti tekanan.

Ada perbedaan antara:

“Kita makan bersama sekarang. Ini makanan yang tersedia.”

dan:

“Kamu harus menghabiskan semuanya atau tidak boleh melakukan apa pun.”

Yang pertama memberikan struktur. Yang kedua dapat menciptakan pertarungan.

Kesabaran adalah Bagian dari Proses

Perubahan kebiasaan makan anak biasanya tidak terjadi dalam satu atau dua kali makan.

Orang tua mungkin sudah menawarkan makanan baru beberapa kali dan anak tetap menolak. Hal itu tidak selalu berarti pendekatannya gagal.

Yang perlu dibangun adalah pengalaman berulang bahwa makanan baru dapat hadir tanpa paksaan, tanpa rasa takut, dan tanpa konflik besar.

Pada akhirnya, tujuan yang lebih penting bukan membuat anak makan sebanyak mungkin hari ini.

Tujuannya adalah membantu anak tumbuh menjadi seseorang yang mampu mengenali rasa lapar dan kenyang, berani mengenal berbagai jenis makanan, serta memiliki hubungan yang sehat dengan makanan.

Dan dalam proses tersebut, satu hal yang sangat penting untuk diingat orang tua adalah:

anak yang sulit makan tidak selalu sedang melawan Anda. Bisa jadi, mereka sedang berusaha memahami tubuh, rasa, tekstur, dan dunia baru di sekitar mereka.

Dengan pendekatan yang penuh kesabaran, konsistensi, dan empati, waktu makan perlahan dapat berubah dari medan pertengkaran menjadi kesempatan untuk belajar dan membangun hubungan yang lebih baik antara anak dan orang tua.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore