Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 16 Agustus 2026 | 19.19 WIB

Cara Bagaimana Pemimpin Hebat Membuat Anggota Tim Merasa Dihargai Menurut Psikologi, Apa Sajakah?

seseorang yang menjadi pemimpin yang hebat. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Menjadi pemimpin yang hebat bukan hanya tentang mampu memberikan arahan, mengambil keputusan, atau mencapai target. Kepemimpinan juga berkaitan erat dengan kemampuan membuat orang-orang di dalam tim merasa bahwa keberadaan mereka penting.


Seorang anggota tim yang merasa dihargai cenderung memiliki hubungan yang lebih positif dengan pekerjaannya. Mereka tidak sekadar bekerja karena kewajiban, tetapi dapat merasa memiliki kontribusi terhadap sesuatu yang lebih besar. Sebaliknya, ketika seseorang merasa diabaikan, tidak didengarkan, atau hanya dianggap sebagai "alat" untuk mencapai target, motivasi dan keterikatannya terhadap organisasi dapat menurun.

Menariknya, banyak perilaku sederhana yang dapat membuat seseorang merasa dihargai. Pemimpin tidak selalu harus memberikan bonus besar, hadiah mahal, atau promosi untuk menunjukkan apresiasi. Sering kali, cara berbicara, cara mendengarkan, cara memberikan kepercayaan, dan cara mengakui kontribusi seseorang justru memiliki dampak psikologis yang sangat kuat.

Dalam psikologi organisasi, hal ini berkaitan dengan berbagai konsep seperti kebutuhan akan kompetensi, keterhubungan sosial, rasa memiliki, psychological safety, keadilan, serta motivasi intrinsik.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (16/8), terdapat delapan cara yang dapat dilakukan pemimpin untuk membuat anggota tim merasa dihargai.

1. Dengarkan Mereka dengan Sungguh-Sungguh

Salah satu bentuk penghargaan paling sederhana tetapi sering dilupakan adalah mendengarkan.

Banyak pemimpin merasa bahwa tugas mereka adalah berbicara: memberikan instruksi, menyampaikan target, menjelaskan strategi, dan mengambil keputusan. Padahal, pemimpin yang efektif juga perlu menyediakan ruang agar anggota tim dapat berbicara.

Mendengarkan bukan sekadar diam ketika orang lain berbicara. Mendengarkan berarti memberikan perhatian, mencoba memahami perspektif orang tersebut, dan tidak terburu-buru menghakimi atau memotong pembicaraan.

Bayangkan seorang anggota tim menyampaikan bahwa ia mengalami kesulitan dalam menyelesaikan sebuah proyek. Respons pemimpin yang buruk mungkin:

"Pokoknya harus selesai besok."

Respons tersebut mungkin menyelesaikan percakapan, tetapi belum tentu menyelesaikan masalah.

Pemimpin yang lebih baik dapat bertanya:

"Bagian mana yang paling menghambatmu?"

Pertanyaan sederhana ini menunjukkan bahwa pemimpin tidak hanya peduli terhadap hasil, tetapi juga terhadap pengalaman orang yang mengerjakan pekerjaan tersebut.

Mengapa hal ini penting secara psikologis?

Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa didengar dan dipahami. Ketika seseorang merasa bahwa pendapatnya diperhatikan, ia mendapatkan sinyal sosial bahwa dirinya memiliki nilai dalam kelompok.

Dalam lingkungan kerja, kebiasaan mendengarkan juga dapat meningkatkan keterbukaan. Anggota tim menjadi lebih mungkin menyampaikan masalah sebelum masalah tersebut berkembang menjadi lebih besar.

Karena itu, pemimpin sebaiknya tidak hanya bertanya, "Apakah target sudah tercapai?" tetapi juga sesekali bertanya:

"Bagaimana keadaanmu dalam mengerjakan ini?"

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi maknanya sangat besar.

2. Berikan Pengakuan yang Spesifik, Bukan Sekadar Pujian Umum

Semua orang senang mendapatkan apresiasi. Namun, tidak semua bentuk pujian memiliki dampak yang sama.

Kalimat seperti:

"Kerja bagus."

memang positif, tetapi masih terlalu umum.

Pemimpin dapat memberikan penghargaan yang jauh lebih bermakna dengan menyebutkan apa yang sebenarnya dilakukan dengan baik.

Misalnya:

"Presentasimu tadi sangat membantu karena kamu menyederhanakan data yang rumit menjadi tiga poin utama. Klien jadi lebih mudah memahami rekomendasi kita."

Pujian tersebut jauh lebih kuat karena anggota tim mengetahui perilaku spesifik yang dianggap bernilai.

Mengapa pujian spesifik lebih efektif?

Secara psikologis, manusia membutuhkan informasi mengenai kompetensinya. Ketika seseorang menerima umpan balik yang konkret, ia dapat memahami bahwa kontribusinya benar-benar diperhatikan.

Selain itu, apresiasi yang spesifik terasa lebih autentik.

Bandingkan:

"Kamu hebat."

dengan:

"Aku menghargai caramu menangani komplain pelanggan tadi. Kamu tetap tenang dan tidak defensif, sehingga masalah bisa diselesaikan tanpa memperburuk situasi."

Kalimat kedua menunjukkan bahwa pemimpin benar-benar memperhatikan pekerjaan anggota tim.

Inilah salah satu ciri pemimpin yang membuat orang merasa dihargai: mereka memperhatikan usaha, proses, dan kontribusi seseorang, bukan hanya hasil akhirnya.

3. Berikan Kepercayaan dan Ruang untuk Mengambil Keputusan

Ada pemimpin yang ingin mengontrol hampir semua hal.

Warna presentasi harus sesuai keinginannya. Cara mengirim email harus mengikuti caranya. Setiap keputusan kecil harus mendapatkan persetujuannya.

Masalahnya, kontrol berlebihan dapat membuat anggota tim merasa bahwa pemimpin tidak mempercayai kemampuan mereka.

Pemimpin yang baik memahami bahwa memberikan tanggung jawab adalah salah satu bentuk penghargaan.

Misalnya, daripada mengatakan:

"Lakukan persis seperti yang saya katakan."

pemimpin dapat mengatakan:

"Ini tujuan yang ingin kita capai. Menurutmu, pendekatan terbaik untuk mencapainya seperti apa?"

Perbedaannya adalah pada tingkat kepercayaan.

Mengapa kepercayaan penting?

Dalam psikologi motivasi, manusia memiliki kebutuhan untuk merasa kompeten dan memiliki kendali tertentu atas tindakannya. Ketika seseorang diberikan kesempatan untuk mengambil keputusan, ia dapat merasa bahwa kemampuannya dipercaya.

Tentu saja, memberikan kepercayaan bukan berarti membiarkan anggota tim bekerja tanpa arah.

Pemimpin tetap perlu memberikan:

tujuan yang jelas,
batasan yang diperlukan,
sumber daya,
dukungan,
serta evaluasi.

Namun, di dalam batas tersebut, berikan ruang bagi anggota tim untuk berpikir dan bertindak.

Seorang pemimpin tidak perlu menjadi orang yang selalu memiliki jawaban.

Kadang-kadang, mengatakan:

"Menurutmu bagaimana?"

justru merupakan salah satu bentuk kepemimpinan yang paling kuat.

4. Jangan Hanya Memperhatikan Hasil, Hargai Juga Proses dan Usaha

Dunia kerja sering kali terlalu fokus pada hasil.

Target tercapai: bagus.

Target tidak tercapai: buruk.

Padahal, hasil akhir tidak selalu menggambarkan keseluruhan usaha seseorang.

Ada anggota tim yang mungkin gagal mencapai target karena menghadapi kondisi yang sangat sulit, tetapi telah bekerja keras dan menemukan banyak perbaikan. Ada pula orang yang mencapai target dengan cara yang sebenarnya merusak kerja sama tim.

Pemimpin yang bijaksana mampu melihat lebih jauh daripada angka.

Misalnya, seorang anggota tim gagal mendapatkan proyek dari klien. Daripada langsung mengatakan:

"Kenapa kamu gagal?"

pemimpin dapat mengevaluasi:

"Apa yang kita pelajari dari proses ini? Bagian mana yang menurutmu sudah berjalan baik, dan apa yang perlu kita ubah?"

Pendekatan tersebut tidak berarti mengabaikan hasil. Hasil tetap penting. Namun, proses juga perlu dihargai karena di sanalah pembelajaran dan perkembangan terjadi.

Mengapa pendekatan ini penting?

Ketika anggota tim merasa bahwa kesalahan akan selalu berujung pada hukuman atau penghinaan, mereka cenderung menyembunyikan masalah.

Sebaliknya, ketika pemimpin menciptakan ruang untuk belajar dari kesalahan, anggota tim dapat lebih terbuka.

Inilah yang berkaitan dengan konsep psychological safety, yaitu kondisi ketika seseorang merasa cukup aman untuk menyampaikan ide, pertanyaan, kekhawatiran, atau kesalahan tanpa takut dipermalukan.

Pemimpin yang membuat orang merasa dihargai tidak mengatakan bahwa semua kesalahan boleh dibiarkan.

Mereka justru mengatakan:

"Kita bertanggung jawab atas kesalahan, tetapi kita juga belajar darinya."

5. Kenali Anggota Tim sebagai Manusia, Bukan Sekadar Jabatan

Salah satu kesalahan dalam kepemimpinan adalah memperlakukan anggota tim hanya berdasarkan perannya.

"Dia staf marketing."

"Dia programmer."

"Dia sales."

"Dia bagian keuangan."

Padahal, di balik setiap jabatan terdapat manusia dengan aspirasi, kekhawatiran, minat, kekuatan, dan kebutuhan yang berbeda.

Pemimpin tidak perlu mengetahui seluruh kehidupan pribadi anggota tim. Namun, menunjukkan ketertarikan yang tulus terhadap mereka sebagai manusia dapat membuat hubungan kerja menjadi lebih bermakna.

Misalnya, pemimpin mengingat bahwa seorang anggota tim sedang mengembangkan keterampilan tertentu. Beberapa minggu kemudian, pemimpin bertanya:

"Bagaimana perkembangan kursus yang kemarin kamu ceritakan?"

Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi memberikan pesan:

"Saya mendengarkanmu. Saya mengingat apa yang penting bagimu."

Mengapa ini berpengaruh?

Manusia membutuhkan rasa keterhubungan dengan orang lain. Dalam lingkungan kerja, hubungan interpersonal yang sehat dapat membantu menciptakan rasa memiliki.

Pemimpin yang mengenal anggota tim juga akan lebih mudah memahami cara setiap orang bekerja.

Ada orang yang berkembang ketika diberi tantangan. Ada yang membutuhkan struktur jelas. Ada yang lebih nyaman mendapatkan umpan balik secara pribadi daripada di depan kelompok.

Memahami perbedaan ini membuat kepemimpinan menjadi lebih manusiawi.

Namun, penting untuk menjaga batas profesional. Mengenal anggota tim bukan berarti mencampuri kehidupan pribadi mereka.

Prinsip sederhananya:

Peduli tanpa mengontrol.

6. Berikan Kesempatan untuk Berkembang

Salah satu cara paling kuat untuk menunjukkan bahwa seseorang dihargai adalah dengan menunjukkan bahwa masa depannya juga dianggap penting.

Pemimpin yang hanya memberikan pekerjaan tetapi tidak memberikan kesempatan berkembang secara tidak langsung dapat membuat anggota tim merasa bahwa mereka hanya dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas.

Sebaliknya, pemimpin dapat bertanya:

"Keterampilan apa yang ingin kamu kembangkan tahun ini?"

atau:

"Proyek seperti apa yang ingin kamu coba berikutnya?"

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pemimpin melihat potensi, bukan hanya kemampuan seseorang saat ini.

Mengapa perkembangan begitu penting?

Manusia pada umumnya tidak hanya membutuhkan imbalan eksternal. Mereka juga ingin merasa berkembang dan semakin mampu.

Ketika seseorang memperoleh kesempatan belajar, mengambil tanggung jawab baru, atau mengembangkan keterampilan, pekerjaan dapat terasa lebih bermakna.

Pengembangan tidak harus selalu berupa pelatihan formal.

Bentuknya bisa berupa:

memberikan proyek baru,
melibatkan seseorang dalam rapat strategis,
memberikan mentor,
meminta mereka memimpin presentasi,
memberikan kesempatan mencoba peran baru,
atau memberikan tanggung jawab yang sedikit lebih besar.

Tentu saja, tantangan harus disesuaikan dengan kemampuan dan kesiapan.

Memberikan tantangan yang terlalu besar tanpa dukungan bukanlah penghargaan. Itu justru dapat menjadi sumber stres.

Pemimpin yang baik memberikan tantangan sekaligus dukungan.

7. Perlakukan Semua Orang dengan Adil dan Konsisten

Seseorang akan sulit merasa dihargai jika ia melihat adanya perlakuan tidak adil.

Misalnya, seorang pemimpin meminta anggota tim datang tepat waktu, tetapi membiarkan orang tertentu selalu terlambat.

Atau, satu orang mendapatkan kesempatan berkembang berkali-kali, sementara anggota lain selalu diabaikan tanpa penjelasan.

Dalam situasi seperti itu, masalahnya bukan hanya tentang fasilitas atau kesempatan. Masalahnya adalah persepsi mengenai keadilan.

Keadilan tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang persis sama

Setiap anggota tim mungkin memiliki kebutuhan dan tanggung jawab yang berbeda.

Keadilan lebih berkaitan dengan bagaimana keputusan dibuat dan apakah orang merasa diperlakukan secara wajar.

Karena itu, pemimpin perlu transparan mengenai alasan di balik keputusan tertentu.

Jika seseorang tidak mendapatkan promosi, misalnya, bukan berarti pemimpin harus memberikan informasi pribadi mengenai kandidat lain. Tetapi pemimpin dapat memberikan penjelasan mengenai kompetensi apa yang masih perlu dikembangkan.

Dengan begitu, anggota tim memahami bahwa keputusan bukan sekadar berdasarkan favoritisme.

Hindari favoritisme

Pemimpin tentu bisa memiliki orang yang lebih dekat secara personal. Namun, kedekatan pribadi tidak boleh menentukan akses terhadap kesempatan profesional.

Ketika anggota tim melihat bahwa penghargaan diberikan berdasarkan kontribusi, kompetensi, dan perilaku yang jelas, rasa percaya terhadap pemimpin cenderung menjadi lebih kuat.

Sebaliknya, favoritisme dapat menghancurkan motivasi bahkan bagi orang-orang yang sebelumnya sangat bersemangat.

8. Ucapkan Terima Kasih dengan Tulus

Terakhir, jangan meremehkan kekuatan dua kata sederhana:

"Terima kasih."

Dalam lingkungan kerja yang sibuk, orang sering terbiasa mengejar pekerjaan berikutnya tanpa berhenti untuk mengakui apa yang telah dilakukan orang lain.

Seorang anggota tim menyelesaikan laporan malam hari.

Seorang rekan membantu menyelesaikan masalah pelanggan.

Seseorang menggantikan rekannya yang sedang berhalangan.

Semua itu mungkin dianggap sebagai bagian dari pekerjaan.

Memang benar, sebagian aktivitas tersebut merupakan tanggung jawab pekerjaan. Tetapi mengucapkan terima kasih tetap memiliki nilai.

Misalnya:

"Terima kasih sudah membantu menyelesaikan laporan ini. Saya tahu waktunya cukup sempit, dan bantuanmu membuat tim bisa memenuhi deadline."

Ucapan tersebut tidak menghilangkan standar profesional. Justru menunjukkan bahwa pemimpin memperhatikan kontribusi orang lain.

Apresiasi tidak harus mahal

Banyak pemimpin mengira penghargaan selalu membutuhkan anggaran.

Padahal, apresiasi bisa berupa:

ucapan terima kasih secara langsung,
pesan pribadi,
menyebut kontribusi seseorang dalam rapat,
memberikan kesempatan mempresentasikan hasil kerja,
memberikan waktu untuk beristirahat setelah periode yang sangat padat,
atau sekadar mengatakan bahwa usaha mereka terlihat.

Yang paling penting adalah ketulusan dan ketepatan.

Penghargaan yang diberikan secara otomatis dan terus-menerus tanpa makna dapat kehilangan dampaknya.

Sebaliknya, apresiasi yang spesifik dan diberikan pada saat yang tepat dapat terasa sangat berarti.

Pemimpin Hebat Membuat Orang Merasa "Saya Penting di Sini"

Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya tentang membuat orang bekerja lebih keras.

Pemimpin hebat membantu orang merasa:

"Kontribusi saya berarti."

"Pendapat saya didengar."

"Kemampuan saya dipercaya."

"Saya punya kesempatan untuk berkembang."

"Pemimpin saya melihat saya sebagai manusia, bukan sekadar pekerja."

Inilah yang membuat penghargaan dalam kepemimpinan jauh lebih dalam daripada sekadar memberikan hadiah atau bonus.

Pemimpin yang mampu menciptakan pengalaman tersebut akan lebih mudah membangun kepercayaan, keterikatan, komunikasi terbuka, dan rasa memiliki di dalam tim.

Delapan cara tersebut sebenarnya tidak membutuhkan teknik yang rumit. Yang dibutuhkan adalah konsistensi.

Dengarkan anggota tim.

Akui kontribusi mereka.

Berikan kepercayaan.

Hargai proses.

Kenali mereka sebagai manusia.

Bantu mereka berkembang.

Bersikap adil.

Dan jangan lupa mengucapkan terima kasih.

Karena sering kali, anggota tim tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna.

Mereka membutuhkan pemimpin yang melihat mereka, mendengarkan mereka, mempercayai mereka, dan menghargai kontribusi mereka.

Dan ketika seseorang merasa dihargai, ia tidak lagi sekadar merasa sebagai bagian dari organisasi.

Ia mulai merasa bahwa dirinya benar-benar memiliki tempat di dalamnya.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore