Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 16 Agustus 2026 | 18.16 WIB

Jika Anda Melihat 7 Tanda Ini pada Pasangan, Dia Memiliki Kematangan Emosional Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki kematangan emosional. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Dalam hubungan, banyak orang mengira bahwa pasangan yang matang secara emosional adalah seseorang yang selalu tenang, tidak pernah marah, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan. Padahal, kematangan emosional bukan berarti seseorang tidak memiliki emosi negatif.


Manusia yang matang secara emosional tetap bisa marah, kecewa, cemburu, takut, atau sedih. Perbedaannya terletak pada bagaimana ia mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi tersebut tanpa menjadikan pasangannya sebagai sasaran.

Kematangan emosional juga tidak selalu terlihat dari kata-kata manis. Justru, tanda-tandanya sering muncul dalam situasi sehari-hari: ketika terjadi konflik, ketika keinginannya tidak terpenuhi, ketika Anda memiliki pendapat berbeda, atau ketika hubungan sedang berada dalam masa sulit.

Dilansir dari Psychology Today pada MInggu (16/8), jika Anda melihat beberapa tanda berikut pada pasangan, bisa jadi Anda sedang bersama seseorang yang memiliki kematangan emosional yang cukup baik.

1. Dia Bisa Mengakui Kesalahan Tanpa Selalu Mencari Alasan

Salah satu tanda paling kuat dari kematangan emosional adalah kemampuan untuk mengatakan, "Saya salah."

Bagi sebagian orang, mengakui kesalahan terasa seperti kehilangan harga diri. Mereka akan mencari pembenaran, menyalahkan keadaan, atau bahkan membalikkan kesalahan kepada pasangan.

Pasangan yang matang secara emosional memiliki pola yang berbeda.

Ketika menyadari bahwa dirinya melakukan sesuatu yang menyakiti Anda, ia tidak sibuk mempertahankan ego. Ia berusaha memahami dampak dari tindakannya.

Misalnya, ketika ia terlambat memberi kabar dan Anda merasa khawatir, respons yang tidak matang mungkin berbunyi:

"Kamu terlalu berlebihan. Cuma telat beberapa jam saja."

Sementara orang yang lebih matang mungkin berkata:

"Aku seharusnya memberi tahu dari awal. Aku mengerti kenapa kamu khawatir. Maaf."

Perhatikan perbedaannya.

Permintaan maaf yang matang bukan hanya tentang mengucapkan kata "maaf", tetapi juga tentang mengakui perilaku, memahami dampaknya, dan berusaha memperbaikinya.

Tentu saja, tidak semua kesalahan harus dipandang sebagai tanda buruk. Setiap orang bisa melakukan kesalahan. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah kesalahan tersebut terjadi.

Orang yang matang tidak berusaha menjadi manusia sempurna. Ia berusaha menjadi manusia yang mampu bertanggung jawab.

2. Dia Tidak Menghindari Percakapan Sulit

Hubungan yang sehat tidak berarti hubungan tanpa konflik.

Dua orang yang memiliki latar belakang, pengalaman, kebutuhan, dan cara berpikir berbeda pasti akan mengalami perbedaan pendapat. Yang membedakan hubungan yang sehat dengan hubungan yang tidak sehat adalah cara pasangan menghadapi perbedaan tersebut.

Pasangan yang matang secara emosional biasanya tidak langsung melarikan diri setiap kali muncul masalah.

Ia mungkin membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Itu wajar.

Namun, setelah emosinya lebih stabil, ia bersedia kembali membicarakan masalah tersebut.

Misalnya:

"Aku sedang terlalu emosi sekarang. Aku takut mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Kita bicara lagi nanti malam setelah aku lebih tenang."

Kalimat seperti ini menunjukkan sesuatu yang penting: dia tidak menggunakan diam sebagai hukuman, tetapi sebagai cara untuk mengatur emosinya.

Ada perbedaan besar antara mengambil waktu untuk menenangkan diri dengan sengaja mengabaikan pasangan agar pasangan merasa bersalah.

Kematangan emosional membuat seseorang memahami bahwa konflik bukan selalu ancaman terhadap hubungan. Konflik dapat menjadi kesempatan untuk memahami satu sama lain dengan lebih baik.

3. Dia Mampu Mendengarkan Tanpa Langsung Membela Diri

Mendengarkan pasangan terdengar sederhana, tetapi sebenarnya membutuhkan kemampuan emosional yang cukup besar.

Ketika seseorang merasa dituduh atau dikritik, respons alami yang sering muncul adalah membela diri.

"Tapi kamu juga pernah melakukan hal yang sama."

"Aku melakukan itu karena kamu..."

"Bukan cuma aku yang salah."

Respons semacam itu membuat percakapan berubah menjadi perlombaan untuk menentukan siapa yang paling bersalah.

Pasangan yang matang secara emosional lebih mampu menahan dorongan tersebut.

Ia bisa mendengarkan perasaan Anda terlebih dahulu tanpa langsung menyusun pembelaan.

Contohnya, ketika Anda berkata:

"Aku merasa akhir-akhir ini kamu kurang memperhatikanku."

Dia mungkin tidak langsung menjawab:

"Aku kan sibuk bekerja."

Sebaliknya, dia mungkin bertanya:

"Apa yang membuat kamu merasa seperti itu?"

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa ia mencoba memahami pengalaman emosional Anda sebelum mengambil kesimpulan.

Ini bukan berarti ia harus selalu setuju dengan Anda.

Mendengarkan bukan berarti menyetujui.

Seseorang dapat memahami perasaan pasangannya sekaligus memiliki pandangan yang berbeda. Kemampuan untuk melakukan keduanya merupakan bagian penting dari komunikasi emosional yang sehat.

4. Dia Tidak Menjadikan Emosi Sebagai Senjata

Semua orang memiliki emosi. Namun, orang yang matang secara emosional memahami bahwa perasaan pribadi tidak memberikan izin untuk menyakiti orang lain.

Marah bukan alasan untuk menghina.

Cemburu bukan alasan untuk mengontrol.

Kecewa bukan alasan untuk melakukan silent treatment berhari-hari.

Takut kehilangan pasangan bukan alasan untuk membatasi pergaulannya.

Pasangan yang matang mungkin mengatakan:

"Aku merasa cemburu dan tidak nyaman dengan situasi itu. Aku ingin membicarakannya denganmu."

Bukan:

"Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu tidak boleh berteman dengan dia."

Perbedaannya sangat penting.

Pada respons pertama, seseorang mengakui emosinya sebagai miliknya sendiri dan mengajak pasangan mencari solusi.

Pada respons kedua, emosi digunakan untuk mengendalikan perilaku pasangan.

Kematangan emosional bukan berarti seseorang tidak pernah merasa cemburu atau marah. Justru, orang yang matang mampu berkata:

"Aku sedang merasa cemburu."

alih-alih:

"Kamu yang membuat aku seperti ini."

Tanggung jawab emosional dimulai ketika seseorang menyadari bahwa ia memiliki tanggung jawab atas cara dirinya merespons perasaan tersebut.

5. Dia Menghormati Batasan Anda

Cinta yang sehat tidak menghapus batas pribadi.

Setiap orang tetap membutuhkan ruang untuk memiliki kehidupan, waktu, teman, pekerjaan, keluarga, hobi, dan kebutuhan pribadi.

Pasangan yang matang memahami bahwa dekat secara emosional tidak berarti harus mengontrol seluruh kehidupan pasangannya.

Jika Anda mengatakan bahwa Anda membutuhkan waktu sendiri, dia tidak otomatis menganggapnya sebagai penolakan.

Jika Anda mengatakan tidak nyaman dengan suatu perlakuan, dia bersedia mendengarkan.

Jika Anda memiliki batas tertentu, dia tidak sengaja melanggarnya hanya untuk menguji seberapa jauh Anda akan bertahan.

Yang menarik, kemampuan menghormati batasan juga berkaitan dengan kemampuan menerima kata "tidak."

Orang yang matang tidak selalu menyukai batasan yang diberikan kepadanya. Namun, ia dapat menghormatinya.

Misalnya:

"Aku memang kurang suka kamu memilih seperti itu, tetapi aku menghargai keputusanmu."

Itu jauh berbeda dengan:

"Kalau kamu mencintaiku, kamu pasti melakukan apa yang aku mau."

Cinta bukanlah kepemilikan.

Hubungan yang matang memberi ruang bagi dua individu untuk tetap menjadi dirinya sendiri sambil membangun kehidupan bersama.

6. Dia Tidak Mengharapkan Anda Menebak Semua Perasaannya

Salah satu sumber konflik dalam hubungan adalah harapan yang tidak pernah dikomunikasikan.

Seseorang merasa kecewa karena pasangannya tidak melakukan sesuatu, padahal pasangan tersebut tidak pernah tahu bahwa hal itu diharapkan.

Pasangan yang matang secara emosional cenderung lebih terbuka mengenai kebutuhannya.

Daripada berkata:

"Terserah."

padahal sebenarnya sangat kecewa, dia bisa berkata:

"Aku sebenarnya ingin kamu mengabariku ketika sampai rumah karena itu membuatku merasa diperhatikan."

Daripada sengaja menjauh agar pasangannya mengejar, dia bisa mengatakan:

"Aku sedang membutuhkan waktu untuk sendiri. Nanti setelah lebih tenang, aku ingin bicara."

Kemampuan mengungkapkan kebutuhan secara jelas merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.

Pasangan Anda bukan pembaca pikiran.

Tidak adil jika seseorang diharapkan selalu tahu apa yang Anda rasakan tanpa pernah diberi kesempatan untuk memahaminya.

Kematangan emosional membuat seseorang belajar mengubah emosi menjadi komunikasi.

Bukan sekadar:

"Aku kesal."

tetapi:

"Aku kesal karena ketika aku sedang bercerita, aku merasa kamu tidak benar-benar mendengarkan. Aku ingin kita mencoba meletakkan ponsel ketika sedang membicarakan hal penting."

Semakin jelas kebutuhan disampaikan, semakin besar kemungkinan pasangan dapat merespons dengan tepat.

7. Dia Konsisten, Bukan Hanya Pandai Berbicara

Tanda terakhir yang sering kali paling mudah diamati adalah konsistensi antara perkataan dan perilaku.

Seseorang dapat berbicara tentang komunikasi yang sehat, tetapi bagaimana perilakunya ketika benar-benar menghadapi konflik?

Seseorang dapat mengatakan bahwa ia menghargai Anda, tetapi bagaimana ia memperlakukan Anda ketika sedang marah?

Seseorang dapat berjanji akan berubah, tetapi apakah ada perubahan nyata dalam perilakunya?

Kematangan emosional tidak hanya terlihat dari kata-kata.

Ia terlihat dari pola yang berulang.

Jika seseorang melakukan kesalahan, meminta maaf, lalu berusaha memperbaikinya, itu menunjukkan tanggung jawab.

Jika seseorang berkali-kali melakukan hal yang sama, meminta maaf, kemudian mengulanginya tanpa usaha memperbaiki diri, maka kata-kata tersebut perlu dilihat secara lebih kritis.

Hubungan yang sehat dibangun melalui perilaku yang konsisten.

Bukan berarti pasangan harus selalu berhasil. Perubahan membutuhkan waktu dan manusia bisa kembali melakukan kesalahan.

Namun, secara umum, Anda dapat melihat adanya usaha nyata untuk belajar dari pengalaman.

Itulah yang membedakan seseorang yang sekadar mengatakan "aku akan berubah" dengan seseorang yang benar-benar berusaha berubah.

Kematangan Emosional Bukan Berarti Tidak Pernah Bertengkar

Penting untuk memahami satu hal.

Jangan menggunakan daftar tanda di atas sebagai standar bahwa pasangan yang matang harus selalu tenang, selalu sabar, dan tidak pernah melakukan kesalahan.

Itu bukan gambaran manusia yang realistis.

Orang yang matang secara emosional tetap bisa kehilangan kesabaran. Mereka tetap bisa salah memahami pasangan. Mereka tetap bisa merasa cemburu, kecewa, atau marah.

Yang lebih penting adalah kemampuan untuk kembali memperbaiki keadaan setelah emosi muncul.

Misalnya, seseorang mungkin mengatakan sesuatu yang kasar ketika sedang marah. Kematangan emosional kemudian terlihat ketika ia mampu menyadari:

"Tadi aku bicara terlalu kasar. Aku masih marah, tetapi caraku menyampaikannya tidak benar. Aku minta maaf."

Inilah salah satu alasan mengapa kematangan emosional sebaiknya dinilai dari pola perilaku, bukan satu kejadian.

Satu pertengkaran tidak selalu menggambarkan keseluruhan karakter seseorang.

Sebaliknya, pola yang terus berulang jauh lebih bermakna.

Jadi, Apakah Pasangan Anda Sudah Matang Secara Emosional?

Coba lihat kembali hubungan Anda.

Ketika terjadi konflik, apakah dia berusaha mencari solusi atau justru mencari siapa yang harus disalahkan?

Ketika melakukan kesalahan, apakah dia mampu meminta maaf?

Ketika Anda menyampaikan perasaan, apakah dia mendengarkan?

Ketika sedang marah, apakah dia tetap menjaga batas agar tidak menyakiti Anda?

Ketika Anda mengatakan "tidak", apakah dia menghormatinya?

Dan yang tidak kalah penting, apakah perilakunya konsisten dengan apa yang dia katakan?

Jika sebagian besar jawabannya adalah "ya", Anda mungkin sedang berhadapan dengan seseorang yang memiliki fondasi kematangan emosional yang baik.

Namun, jangan lupa bahwa kematangan emosional bukanlah sebuah label permanen.

Seseorang dapat terus berkembang. Hubungan juga dapat menjadi tempat bagi dua orang untuk belajar mengenali diri sendiri, mengelola emosi, berkomunikasi dengan lebih baik, dan memperbaiki kesalahan.

Pada akhirnya, pasangan yang matang bukanlah orang yang tidak pernah membuat Anda kecewa.

Ia adalah seseorang yang ketika terjadi kekecewaan, bersedia mendengarkan, bertanggung jawab, memperbaiki diri, dan mencari jalan keluar bersama Anda.

Karena dalam hubungan yang sehat, tujuan akhirnya bukan memenangkan setiap pertengkaran.

Tujuannya adalah menjaga hubungan tanpa kehilangan rasa hormat terhadap diri sendiri maupun pasangan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore