seseorang yang membuat tugasnya tidak membosankan / foto: Magnific/nampix
Membalas email, menyusun laporan, membersihkan kamar, menginput data, membaca dokumen panjang, mengerjakan pekerjaan administratif, atau belajar materi yang terasa monoton sering kali bukan masalah kemampuan. Masalahnya adalah otak tidak menemukan cukup alasan untuk merasa tertarik.
Ketika sebuah aktivitas dianggap membosankan, kita cenderung mencari sesuatu yang memberikan stimulasi lebih cepat. Akibatnya, tangan ingin membuka media sosial, mengecek pesan, menonton video, atau melakukan hal lain yang terasa lebih menyenangkan.
Menariknya, psikologi menunjukkan bahwa kita tidak selalu harus mengubah tugasnya agar menjadi menyenangkan. Kita bisa mengubah cara otak memandang dan menjalankan tugas tersebut.
Dengan beberapa strategi sederhana, tugas yang membosankan bisa terasa lebih ringan, lebih menarik, bahkan terkadang memunculkan rasa puas setelah diselesaikan.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (13/8), terdapat tujuh cara yang bisa dicoba.
1. Ubah Tugas Besar Menjadi Tantangan-Tantangan Kecil
Salah satu alasan tugas terasa membosankan adalah karena kita melihatnya sebagai sesuatu yang terlalu besar.
Misalnya, Anda melihat sebuah laporan yang terdiri dari puluhan halaman. Pikiran langsung menangkapnya sebagai satu pekerjaan besar: "Saya harus menyelesaikan laporan ini."
Kalimat tersebut terdengar berat.
Cobalah mengubahnya menjadi beberapa tantangan kecil:
Membaca tiga halaman pertama.
Menandai poin penting.
Menulis lima poin utama.
Membuat kerangka laporan.
Menyelesaikan satu bagian.
Memeriksa hasil tulisan.
Secara psikologis, tugas yang lebih kecil terasa lebih mudah dikendalikan.
Otak juga lebih mudah mendapatkan pengalaman "berhasil" ketika kita menyelesaikan unit-unit kecil. Setiap keberhasilan tersebut dapat menjadi dorongan untuk melanjutkan ke bagian berikutnya.
Daripada berpikir:
"Saya harus menyelesaikan semuanya."
ubah menjadi:
"Saya hanya perlu menyelesaikan bagian pertama."
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dapat mengubah respons mental terhadap tugas tersebut.
Gunakan prinsip "satu langkah berikutnya"
Saat merasa malas, jangan bertanya:
"Bagaimana saya bisa menyelesaikan semuanya?"
Tanyakan:
"Apa satu hal paling kecil yang bisa saya lakukan sekarang?"
Jika harus mengerjakan presentasi, misalnya, langkah pertama tidak harus membuat seluruh presentasi. Anda cukup membuka dokumen dan menulis judulnya.
Setelah itu, buat satu slide.
Kemudian slide berikutnya.
Tugas yang awalnya terasa seperti gunung akhirnya berubah menjadi serangkaian langkah kecil.
2. Buat Sistem Poin agar Tugas Terasa Seperti Permainan
Manusia memiliki kecenderungan menyukai kemajuan yang terlihat.
Inilah salah satu alasan sistem poin, level, progress bar, dan tantangan sering digunakan dalam permainan.
Prinsip yang sama bisa diterapkan pada pekerjaan sehari-hari.
Misalnya, Anda memiliki tugas administratif yang sangat monoton. Daripada hanya mengatakan "saya harus mengerjakan semuanya", buat sistem sederhana:
10 email selesai = 1 poin.
20 data berhasil dimasukkan = 1 poin.
30 menit fokus = 1 poin.
Satu bagian laporan selesai = 2 poin.
Kemudian tentukan target.
Misalnya:
Target hari ini: 10 poin.
Sekarang tugas tersebut tidak lagi hanya berupa pekerjaan monoton. Ada elemen permainan: berapa banyak poin yang bisa dikumpulkan?
Anda bahkan bisa membuat beberapa level:
Level 1: 5 poin
Level 2: 10 poin
Level 3: 15 poin
Level 4: 20 poin
Strategi ini memanfaatkan prinsip psikologi yang berkaitan dengan progress dan feedback. Ketika kemajuan terlihat jelas, seseorang lebih mudah mempertahankan motivasi karena usahanya terasa menghasilkan sesuatu.
Namun, jangan membuat sistemnya terlalu rumit.
Tujuan gamifikasi bukan membuat Anda sibuk mengatur sistem produktivitas. Tujuannya adalah membuat tugas terasa sedikit lebih menarik.
3. Gunakan Batas Waktu sebagai Tantangan
Tugas yang tidak memiliki batas akhir yang jelas sering terasa semakin membosankan.
Bayangkan dua situasi.
Situasi pertama:
"Saya harus mengerjakan laporan ini hari ini."
Situasi kedua:
"Saya akan mencoba menyelesaikan bagian pertama dalam 20 menit."
Situasi kedua biasanya terasa lebih konkret.
Batas waktu dapat menciptakan semacam tantangan. Anda tidak hanya mengerjakan tugas, tetapi juga mencoba melihat seberapa banyak yang dapat diselesaikan dalam waktu tertentu.
Contohnya:
"Berapa banyak paragraf yang bisa saya rapikan dalam 15 menit?"
Atau:
"Bisakah saya menyelesaikan lima email dalam 10 menit?"
Perhatikan bahwa tujuannya bukan selalu bekerja secepat mungkin.
Yang penting adalah memberikan struktur dan tekanan ringan pada aktivitas yang sebelumnya terasa tidak memiliki ujung.
Jangan menggunakan target yang terlalu ekstrem
Jika Anda menetapkan waktu yang tidak realistis, strategi ini justru dapat membuat stres.
Gunakan batas waktu yang cukup menantang tetapi masih masuk akal.
Misalnya:
25 menit fokus + 5 menit istirahat.
Setelah 25 menit, Anda boleh berhenti sejenak dan menentukan apakah ingin melanjutkan.
Dengan begitu, otak tidak merasa sedang menghadapi pekerjaan tanpa akhir.
4. Gabungkan Tugas Membosankan dengan Sesuatu yang Anda Sukai
Cara lain untuk mengubah pengalaman terhadap tugas adalah menggunakan temptation bundling, yaitu menggabungkan aktivitas yang harus dilakukan dengan aktivitas yang Anda sukai.
Misalnya:
Membersihkan rumah sambil mendengarkan podcast.
Berjalan di treadmill sambil menonton acara tertentu.
Merapikan file sambil mendengarkan musik.
Memasak sambil mendengarkan audiobook.
Melakukan pekerjaan rutin sambil menikmati minuman favorit.
Dengan cara tersebut, aktivitas yang membosankan tidak berdiri sendirian.
Ada sesuatu yang menyenangkan yang ikut menemani prosesnya.
Tetapi ada satu hal penting: strategi ini paling cocok untuk pekerjaan yang tidak membutuhkan konsentrasi tinggi.
Jika Anda sedang menulis laporan penting atau mempelajari materi yang sulit, musik atau podcast justru dapat mengganggu perhatian.
Jadi, sesuaikan dengan jenis tugasnya.
Untuk pekerjaan rutin → hiburan ringan bisa membantu.
Untuk pekerjaan yang membutuhkan pemikiran mendalam → lingkungan yang minim gangguan biasanya lebih efektif.
5. Beri Diri Anda Kebebasan Memilih Cara Mengerjakannya
Tugas terasa lebih membosankan ketika kita merasa tidak memiliki kendali.
Misalnya, Anda berpikir:
"Saya harus mengerjakan ini dengan cara seperti ini."
Padahal mungkin ada beberapa cara untuk menyelesaikannya.
Cobalah memberikan pilihan kepada diri sendiri.
Misalnya:
"Saya mau mulai dari bagian mana?"
"Saya mau mengerjakannya pagi atau sore?"
"Saya lebih nyaman menggunakan laptop atau menulis tangan?"
"Saya mau menyelesaikan tugas ini dalam dua sesi atau tiga sesi?"
Pilihan kecil dapat membuat seseorang merasa memiliki kontrol terhadap aktivitasnya.
Dan rasa memiliki kontrol tersebut penting untuk motivasi.
Perhatikan perbedaannya:
"Saya harus mengerjakan tugas ini selama dua jam."
dibandingkan:
"Saya memilih menyelesaikan tugas ini dalam empat sesi masing-masing 30 menit."
Tugasnya sama.
Tetapi cara Anda memandangnya berbeda.
Jangan memberi terlalu banyak pilihan
Ironisnya, terlalu banyak pilihan juga bisa membuat kita bingung.
Cukup berikan dua atau tiga alternatif.
Misalnya:
"Mulai dari laporan atau email?"
Setelah memilih, langsung mulai.
6. Hubungkan Tugas dengan Tujuan yang Lebih Besar
Tugas yang membosankan sering terasa tidak berarti karena kita hanya melihat aktivitasnya, bukan manfaat akhirnya.
Misalnya, seseorang mungkin tidak suka membuat laporan.
Jika yang dipikirkan hanya:
"Saya harus duduk dan mengetik laporan."
tentu saja aktivitas itu terdengar membosankan.
Tetapi bagaimana jika kita mengubah perspektif?
"Laporan ini membantu tim mengetahui apa yang sudah dikerjakan."
Atau:
"Saya menyelesaikan tugas ini agar pekerjaan saya besok tidak menumpuk."
Atau:
"Saya mengerjakan ini karena kemampuan tersebut penting untuk pekerjaan yang saya inginkan."
Sekarang tugas tersebut memiliki konteks.
Dalam psikologi motivasi, memahami mengapa sebuah aktivitas penting dapat membantu seseorang mempertahankan usaha, terutama ketika aktivitas tersebut sendiri tidak terlalu menyenangkan.
Karena itu, ketika menghadapi pekerjaan yang terasa membosankan, tanyakan:
"Untuk apa saya melakukan ini?"
Kemudian cari hubungan antara tugas kecil tersebut dengan tujuan yang lebih besar.
Membersihkan meja bukan hanya tentang meja.
Merapikan file bukan hanya tentang file.
Belajar satu bab bukan hanya tentang satu bab.
Menyelesaikan satu laporan bukan hanya tentang dokumen.
Sering kali, tugas-tugas kecil tersebut merupakan bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.
7. Berikan Hadiah Setelah Menyelesaikannya
Terakhir, Anda bisa menggunakan sistem penghargaan sederhana.
Bukan berarti setiap pekerjaan harus selalu diberi hadiah besar.
Hadiah bisa sangat sederhana:
Minum kopi setelah menyelesaikan satu bagian.
Menonton satu episode setelah tugas selesai.
Berjalan-jalan sebentar.
Bermain game selama beberapa menit.
Mendengarkan musik favorit.
Beristirahat tanpa rasa bersalah.
Menikmati makanan yang disukai.
Kuncinya adalah hadiah diberikan setelah usaha atau target tercapai, bukan sebelum tugas dimulai.
Misalnya:
"Setelah menyelesaikan 30 menit pekerjaan, saya boleh istirahat 10 menit."
Ini membuat aktivitas memiliki titik akhir yang jelas.
Namun, berhati-hatilah dengan hadiah yang terlalu mudah mengalihkan perhatian.
Jika hadiah Anda adalah membuka media sosial "sebentar", bisa saja 10 menit berubah menjadi satu jam.
Karena itu, pilih hadiah yang benar-benar bisa Anda kendalikan durasinya.
Mengapa Tugas Membosankan Terasa Begitu Berat?
Pada dasarnya, kebosanan tidak selalu berarti kita malas.
Kebosanan dapat muncul ketika aktivitas memberikan stimulasi yang rendah, terlalu repetitif, terlalu mudah, terlalu sulit, atau terasa tidak bermakna.
Itulah sebabnya seseorang bisa menghabiskan satu jam bermain game tanpa merasa bosan, tetapi baru 10 menit mengerjakan spreadsheet sudah merasa ingin berhenti.
Game biasanya memberikan tujuan yang jelas, tantangan, umpan balik, pilihan, kemajuan, dan penghargaan.
Pekerjaan sehari-hari sering kali tidak.
Kabar baiknya, beberapa unsur tersebut dapat kita ciptakan sendiri.
Kita bisa membuat progress.
Kita bisa membuat tantangan.
Kita bisa memberikan pilihan.
Kita bisa membagi tugas.
Kita bisa memberikan penghargaan.
Dan yang paling penting, kita bisa mengingat kembali alasan mengapa tugas tersebut perlu dilakukan.
Jangan Menunggu Tugas Menjadi Menyenangkan
Kesalahan yang sering terjadi adalah menunggu munculnya motivasi sebelum mulai bekerja.
Kita berpikir:
"Nanti kalau sudah mood, saya kerjakan."
Masalahnya, mood tidak selalu datang lebih dulu.
Dalam banyak situasi, tindakan justru dapat mendahului motivasi.
Anda mulai mengerjakan selama lima menit.
Kemudian menyelesaikan satu bagian.
Kemudian melihat kemajuan.
Setelah itu, pekerjaan mulai terasa lebih mudah.
Karena itu, jangan selalu menuntut diri sendiri untuk merasa bersemangat sebelum memulai.
Cobalah membuat tugas tersebut cukup mudah untuk dimulai.
Tidak perlu langsung menyelesaikannya.
Cukup buka dokumen.
Tulis satu kalimat.
Baca satu halaman.
Masukkan lima data.
Rapikan satu bagian.
Sering kali, hambatan terbesar bukan menyelesaikan tugas.
Hambatan terbesar adalah memulai.
Kesimpulan
Tugas yang membosankan mungkin tidak bisa selalu diubah menjadi aktivitas yang benar-benar menyenangkan. Namun, cara kita menjalankannya bisa diubah.
Tujuh strategi yang dapat dicoba adalah:
Pecah tugas besar menjadi tantangan kecil.
Gunakan sistem poin atau progress untuk menciptakan rasa bermain.
Buat batas waktu sebagai tantangan.
Gabungkan tugas rutin dengan aktivitas yang Anda sukai.
Berikan diri sendiri pilihan dalam cara mengerjakan tugas.
Hubungkan tugas dengan tujuan yang lebih besar.
Berikan penghargaan setelah target tercapai.
Intinya bukan memaksa diri untuk menyukai semua pekerjaan.
Tujuannya adalah membuat otak mendapatkan sesuatu yang biasanya tidak diberikan oleh tugas membosankan: kemajuan, tantangan, kendali, makna, dan penghargaan.
Jadi, ketika besok Anda berhadapan dengan pekerjaan yang terasa membosankan, jangan langsung berkata:
"Saya tidak punya motivasi."
Coba ubah pertanyaannya menjadi:
"Bagaimana saya bisa membuat tugas ini sedikit lebih menarik untuk dikerjakan?"
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
