Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Agustus 2026 | 05.11 WIB

7 Tanda Pasangan Ingin Anda Berusaha Lebih untuk Mendapatkan Cintanya Menurut Psikologi

seseorang yang berusaha lebih untuk mendapatkan pasangan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Dalam sebuah hubungan, cinta tidak selalu ditunjukkan melalui kata-kata seperti “Aku mencintaimu” atau “Aku ingin bersamamu selamanya.” Terkadang, seseorang justru menyampaikan apa yang ia harapkan melalui sikap, respons, dan cara mereka memperlakukan pasangannya.


Ada orang yang secara terbuka meminta perhatian, kepastian, atau usaha lebih. Namun ada pula yang tidak mengatakannya secara langsung. Mereka mungkin menjadi sedikit lebih sulit didekati, mulai menjaga jarak, mengurangi inisiatif, atau memberikan kesempatan kepada pasangannya untuk menunjukkan seberapa besar keinginannya mempertahankan hubungan.

Dari sudut pandang psikologi hubungan, perilaku seperti ini tidak selalu berarti seseorang sedang bermain tarik-ulur atau sengaja membuat pasangannya mengejar. Bisa jadi, ia sedang mencari bukti bahwa hubungan tersebut benar-benar penting bagi pasangannya.

Yang perlu diperhatikan adalah pola perilakunya, bukan satu kejadian yang berdiri sendiri.

Jika pasanganmu memperlihatkan beberapa tanda berikut secara konsisten, mungkin ada pesan tersirat: “Aku ingin melihat seberapa besar kamu benar-benar menginginkan hubungan ini.”

Namun, penting untuk membedakan antara kebutuhan akan usaha yang sehat dengan permainan emosional. Hubungan yang sehat bukan tentang membuat seseorang terus-menerus mengejar, melainkan tentang kedua pihak yang bersedia menunjukkan perhatian dan komitmen.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (9/8), terdapat tujuh tanda yang patut diperhatikan.

1. Dia mulai berhenti selalu menjadi pihak yang memulai

Pada awal hubungan, mungkin pasanganmu sering menghubungi lebih dulu, mengajak bertemu, menanyakan kabarmu, atau mencari topik untuk mempertahankan percakapan.

Tetapi belakangan, ia mulai mengurangi inisiatif.

Bukan berarti ia benar-benar kehilangan ketertarikan. Bisa saja ia sedang memperhatikan apakah kamu akan mengambil langkah ketika dirinya berhenti melakukannya.

Dalam psikologi hubungan, keseimbangan timbal balik merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga kepuasan hubungan. Jika hanya satu orang yang terus memulai interaksi, lama-kelamaan orang tersebut dapat merasa bahwa hubungan itu lebih penting baginya daripada bagi pasangannya.

Karena itu, ketika seseorang yang sebelumnya sangat aktif tiba-tiba memberikan lebih banyak ruang, salah satu kemungkinan adalah ia sedang menunggu pasangannya menunjukkan inisiatif.

Ia mungkin berpikir:

“Selama ini aku yang selalu mencari dia. Kalau sekarang aku berhenti, apakah dia akan mencariku?”

Ini bukan berarti kamu harus mengejarnya secara berlebihan. Justru yang perlu dilihat adalah apakah kamu selama ini memang terlalu pasif.

Jika kamu menyadari bahwa pasanganmu hampir selalu menjadi pihak yang menghubungi lebih dulu, mengatur pertemuan, atau mempertahankan komunikasi, perubahan perilakunya bisa menjadi sinyal bahwa ia menginginkan usaha yang lebih seimbang.

Apa yang bisa kamu lakukan?

Mulailah mengambil inisiatif tanpa menunggu pasangan meminta.

Tanyakan kabarnya. Ajak bertemu. Rencanakan sesuatu yang sederhana. Tunjukkan bahwa perhatianmu bukan hanya muncul ketika dia terlebih dahulu mencarimu.

Sebab terkadang, seseorang tidak membutuhkan pasangan yang mengejar tanpa henti. Mereka hanya ingin merasakan bahwa dirinya juga dipilih.

2. Dia mulai lebih memperhatikan tindakan daripada kata-kata

Kamu mungkin sering mengatakan:

“Aku sayang kamu.”

“Aku serius sama kamu.”

“Aku akan selalu ada buat kamu.”

Tetapi pasanganmu tampaknya tidak lagi mudah puas dengan kata-kata tersebut.

Dia mulai melihat apakah tindakanmu sesuai dengan apa yang kamu katakan.

Misalnya, kamu mengatakan bahwa dia penting bagimu, tetapi selalu membatalkan janji. Kamu mengatakan ingin membangun masa depan bersama, tetapi tidak pernah membicarakan langkah nyata. Kamu mengatakan peduli, tetapi tidak memperhatikan hal-hal kecil yang penting baginya.

Dalam situasi seperti ini, pasangan mungkin mulai berpikir bahwa cinta perlu dibuktikan melalui perilaku.

Ini berkaitan dengan prinsip penting dalam hubungan interpersonal: konsistensi antara ucapan dan tindakan membantu membangun kepercayaan.

Seseorang bisa mengatakan apa saja. Namun pasangan biasanya akan menilai ketulusan melalui pola perilaku yang berulang.

Karena itu, jika pasanganmu mulai berkata seperti:

"Kamu bilang begitu, tapi kenyataannya bagaimana?"

atau

"Aku nggak butuh kamu cuma ngomong."

jangan langsung menganggapnya terlalu menuntut.

Bisa jadi dia sedang memberi tahu bahwa kebutuhan emosionalnya tidak lagi dapat dipenuhi hanya dengan kata-kata.

Dia ingin melihat usaha yang konkret.

Misalnya, daripada berkata “Aku akan lebih perhatian,” kamu mulai benar-benar meluangkan waktu untuk mendengarkan.

Daripada mengatakan “Aku akan berubah,” kamu menunjukkan perubahan melalui perilaku yang konsisten.

Cinta yang terasa aman biasanya bukan berasal dari janji besar, melainkan dari tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.

3. Dia memberi ruang dan melihat apakah kamu akan mendekat

Ada perbedaan antara seseorang yang menjauh karena sudah tidak tertarik dan seseorang yang memberikan ruang karena ingin melihat respons pasangannya.

Masalahnya, dari luar keduanya bisa terlihat hampir sama.

Dia mungkin tidak lagi mengirim pesan sebanyak sebelumnya. Dia tidak selalu mengajak bertemu. Dia lebih sibuk dengan kehidupannya sendiri.

Jika kamu kemudian tidak melakukan apa pun, hubungan bisa semakin jauh.

Namun jika kamu menunjukkan perhatian yang wajar, dia mungkin kembali membuka diri.

Dalam hubungan yang sehat, setiap individu memang membutuhkan ruang pribadi. Pasangan yang matang tidak harus selalu bersama atau berkomunikasi setiap saat.

Tetapi ketika seseorang sengaja berhenti melakukan semua pekerjaan emosional dalam hubungan, perubahan itu patut diperhatikan.

Mungkin dia sedang bertanya secara diam-diam:

“Kalau aku tidak terus mengejarnya, apakah dia tetap akan memilihku?”

Ada alasan psikologis mengapa pertanyaan semacam ini bisa muncul.

Ketika seseorang merasa dirinya terus-menerus menjadi pihak yang berusaha mempertahankan hubungan, ia dapat mengalami kelelahan emosional. Pada titik tertentu, ia mungkin mundur sedikit untuk melihat apakah pasangannya akan mengambil tanggung jawab yang sama.

Jadi, jika pasanganmu memberikan ruang, jangan otomatis menganggap bahwa kamu harus mengejarnya tanpa batas.

Yang lebih sehat adalah menunjukkan bahwa kamu peduli sambil tetap menghormati ruangnya.

Kirim pesan ketika memang ingin berbicara. Ajak bertemu jika ingin menghabiskan waktu bersama. Tanyakan apakah ada sesuatu yang sedang mengganggunya.

Tetapi jangan mengubah hubungan menjadi perlombaan tentang siapa yang paling banyak mengejar.

4. Dia mulai menetapkan standar yang lebih jelas

Tanda lainnya adalah ketika pasanganmu mulai lebih tegas tentang apa yang ia inginkan.

Dulu mungkin dia mudah menerima apa pun.

Sekarang dia berkata:

"Aku ingin hubungan yang serius."

"Aku ingin komunikasi yang lebih baik."

"Aku tidak mau terus berada dalam hubungan yang tidak jelas."

"Kalau kita memang serius, aku ingin melihat arahnya."

Bagi sebagian orang, perubahan seperti ini terasa seperti tuntutan.

Padahal, bisa jadi pasanganmu sedang memperjelas standar yang sebelumnya hanya ia simpan dalam pikirannya.

Secara psikologis, batasan dan kebutuhan yang dikomunikasikan dengan jelas dapat membantu seseorang memahami apa yang diperlukan agar hubungan terasa aman dan memuaskan.

Masalah muncul ketika salah satu pihak menginginkan hubungan yang lebih serius sementara pihak lainnya terus bersikap ambigu.

Jika pasanganmu mulai menetapkan standar, pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Mengapa dia sekarang menjadi sulit?”

melainkan:

“Apakah aku memang siap memberikan apa yang dia butuhkan?”

Misalnya, jika dia menginginkan komitmen tetapi kamu terus menghindari pembicaraan tentang masa depan, mungkin masalahnya bukan dia terlalu menuntut.

Mungkin kalian memang menginginkan hal yang berbeda.

Sebaliknya, jika standarnya tidak masuk akal atau selalu berubah untuk mengontrolmu, itu tentu perlu dibicarakan.

Usaha dalam cinta harus tetap memiliki batas.

5. Dia mulai menunjukkan bahwa hidupnya tidak berpusat padamu

Ini adalah tanda yang sering disalahartikan.

Pasanganmu mungkin mulai lebih sibuk dengan pekerjaannya, teman-temannya, hobinya, keluarga, atau tujuan pribadinya.

Dia tidak lagi selalu tersedia ketika kamu menghubungi.

Dia memiliki dunianya sendiri.

Bagi seseorang yang terbiasa mendapatkan perhatian penuh, perubahan ini bisa terasa seperti kehilangan.

Namun dari sudut pandang hubungan yang sehat, memiliki kehidupan pribadi justru dapat menjadi sesuatu yang positif.

Seseorang yang memiliki identitas, aktivitas, dan tujuan sendiri tidak selalu berarti ia kurang mencintai pasangannya.

Sebaliknya, dia mungkin sedang menunjukkan bahwa cinta bukan satu-satunya pusat kehidupannya.

Dan terkadang, ketika pasangan mulai mandiri, kita justru menjadi lebih sadar bahwa hubungan membutuhkan usaha.

Jika sebelumnya kamu merasa dia akan selalu ada kapan pun kamu menginginkannya, kini kamu harus mulai merencanakan waktu, menghargai kesibukannya, dan menunjukkan bahwa kamu menghargai kesempatan untuk bersamanya.

Ini bukan tentang membuat dirimu sulit didapat.

Ini tentang menyadari bahwa kehadiran seseorang dalam hidupmu bukan sesuatu yang otomatis dan tidak terbatas.

Hubungan membutuhkan dua orang yang memilih untuk menyediakan ruang bagi satu sama lain, bukan satu orang yang selalu menunggu sementara yang lain datang ketika membutuhkan.

6. Dia mengingatkanmu tentang hal-hal yang pernah membuatnya kecewa

Terkadang pasangan tidak meminta usaha lebih secara langsung.

Sebaliknya, dia berulang kali mengingatkanmu tentang pengalaman yang membuatnya terluka.

Misalnya:

"Dulu waktu aku butuh kamu, kamu nggak ada."

"Aku sudah pernah bilang kalau aku nggak suka diperlakukan seperti itu."

"Aku ingin kamu lebih memperhatikan hal ini."

Jika hal tersebut terus muncul, mungkin ada kebutuhan emosional yang belum benar-benar terpenuhi.

Dalam hubungan, konflik yang berulang sering kali bukan hanya mengenai peristiwa terakhir. Bisa jadi ada kebutuhan yang lebih dalam yang belum terselesaikan.

Misalnya, pertengkaran tentang pesan yang terlambat dibalas sebenarnya mungkin bukan tentang pesan itu sendiri.

Yang dirasakan pasangan bisa jadi:

“Aku tidak merasa menjadi prioritas.”

Atau pertengkaran tentang janji yang dibatalkan mungkin sebenarnya berkaitan dengan:

“Aku tidak merasa kamu menghargai waktuku.”

Karena itu, jangan hanya menjawab masalah di permukaan.

Cobalah memahami pesan emosional di balik keluhannya.

Tanyakan:

"Sebenarnya apa yang membuat kamu paling terluka dari kejadian itu?"

Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membuka percakapan yang jauh lebih bermakna daripada sekadar berdebat tentang siapa yang benar.

Jika pasangan terus mengungkit hal yang sama, mungkin dia tidak membutuhkan pembelaan.

Dia membutuhkan bukti bahwa kamu benar-benar memahami dan bersedia memperbaiki pola yang membuatnya terluka.

7. Dia memberi kesempatan, tetapi tidak akan menunggu selamanya

Ini mungkin tanda yang paling penting.

Seseorang bisa mencintaimu dan tetap memiliki batas.

Dia mungkin masih memberi kesempatan. Masih mau berbicara. Masih bersedia bertemu. Masih mencoba memperbaiki hubungan.

Tetapi pada saat yang sama, dia mulai menunjukkan bahwa kesabarannya memiliki batas.

Misalnya, dia berkata:

"Aku masih ingin kita bersama, tapi aku tidak bisa terus seperti ini."

atau:

"Aku ingin hubungan ini berhasil, tapi aku juga butuh kamu berusaha."

Kalimat semacam itu sebaiknya tidak dianggap sebagai ancaman.

Bisa jadi itu adalah bentuk kejujuran.

Dalam hubungan dewasa, cinta tidak berarti seseorang harus menerima perlakuan yang sama selamanya hanya karena masih memiliki perasaan.

Seseorang dapat sangat mencintaimu sekaligus menyadari bahwa hubungan tersebut tidak bisa dipertahankan tanpa perubahan dari kedua belah pihak.

Karena itu, ketika pasanganmu masih memberikan kesempatan tetapi mulai menetapkan batas, jangan hanya fokus pada ketakutan kehilangan dirinya.

Fokuslah pada pertanyaan yang lebih penting:

“Apa yang sebenarnya perlu aku lakukan agar hubungan ini menjadi lebih sehat?”

Jika kamu memang mencintainya, perubahan tidak seharusnya dilakukan hanya karena takut ditinggalkan.

Perubahan yang paling berarti terjadi ketika kamu menyadari bahwa pasanganmu memang layak mendapatkan versi dirimu yang lebih matang.

Tetapi Hati-Hati: “Mengupayakan Lebih” Bukan Berarti Harus Mengejar Tanpa Batas

Ada satu hal penting yang perlu dipahami.

Artikel tentang tanda-tanda pasangan menginginkan usaha lebih mudah disalahgunakan untuk membenarkan perilaku tarik-ulur.

Padahal, psikologi hubungan tidak mengatakan bahwa cinta yang sehat harus membuat seseorang terus mengejar.

Ada perbedaan besar antara:

“Aku ingin kamu menunjukkan bahwa hubungan ini penting bagimu.”

dan

“Aku sengaja membuatmu cemas supaya kamu terus mengejarku.”

Yang pertama dapat menjadi kebutuhan emosional yang wajar.

Yang kedua dapat menjadi pola yang tidak sehat.

Jika pasangan sengaja menghilang, membuatmu cemburu, memberikan perhatian lalu menariknya kembali, atau terus memindahkan standar agar kamu tidak pernah merasa cukup, itu bukan sekadar permintaan agar kamu berusaha lebih.

Hubungan yang sehat membutuhkan timbal balik.

Kamu boleh berusaha.

Tetapi pasanganmu juga harus berusaha.

Kamu boleh menunjukkan cinta.

Tetapi kamu juga berhak menerima cinta.

Kamu boleh memperbaiki kesalahan.

Tetapi kamu tidak harus terus membuktikan nilai dirimu kepada seseorang yang sengaja membuatmu merasa tidak pernah cukup.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Diinginkan Pasanganmu?

Jika kamu melihat tujuh tanda di atas, jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa pasanganmu ingin dikejar.

Lebih baik lakukan sesuatu yang jauh lebih dewasa: tanyakan secara langsung.

Kamu bisa berkata:

"Aku merasa akhir-akhir ini kamu membutuhkan lebih banyak usaha dariku. Aku ingin memahami kamu dengan lebih baik. Apa yang sebenarnya kamu butuhkan dariku dalam hubungan ini?"

Pertanyaan seperti itu menunjukkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar.

Kematangan emosional.

Sebab cinta bukan permainan tebak-tebakan.

Pasanganmu tidak seharusnya harus membuat dirinya sulit agar kamu menyadari nilainya. Dan kamu juga tidak seharusnya harus kehilangan harga diri untuk membuktikan bahwa kamu mencintainya.

Usaha terbaik dalam hubungan bukanlah usaha yang paling dramatis.

Bukan bunga paling mahal.

Bukan pesan panjang setiap malam.

Bukan mengejar seseorang sampai dia akhirnya menyerah.

Usaha terbaik adalah konsistensi.

Mendengarkan ketika pasangan berbicara.

Menghargai batasannya.

Menepati janji.

Meluangkan waktu.

Mengakui kesalahan.

Memperbaiki perilaku.

Dan yang paling penting, menunjukkan melalui tindakan bahwa hubungan tersebut memang memiliki tempat penting dalam hidupmu.

Pada akhirnya, seseorang yang mencintaimu mungkin memang ingin melihatmu berusaha lebih.

Tetapi cinta yang sehat tidak membuatmu harus terus mengejar seseorang hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian.

Cinta yang sehat membuat dua orang sama-sama berkata:

“Aku memilihmu, dan aku juga bersedia berusaha mempertahankan kita.”

Itulah perbedaan antara mengejar cinta dan membangun cinta.

Yang pertama melelahkan jika hanya dilakukan oleh satu orang.

Yang kedua menjadi kuat ketika dilakukan bersama.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore