seseorang yang belajar mengelola emosi. (Magnific)
Nanti kalau pekerjaan sudah tidak terlalu sibuk.
Nanti kalau uang sudah cukup.
Nanti kalau karier sudah lebih mapan.
Nanti kalau punya lebih banyak waktu untuk keluarga.
Nanti kalau hidup sudah lebih tenang.
Masalahnya, "nanti" sering kali tidak pernah benar-benar datang.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tiba-tiba kita sudah memasuki paruh kedua tahun, lalu mulai bertanya kepada diri sendiri:
"Sebenarnya, tahun ini saya sudah melakukan apa?"
Bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya. Kita mungkin sangat sibuk.
Bangun pagi, bekerja, menyelesaikan tugas, membalas pesan, menghadiri rapat, mengurus keluarga, mengejar target, menghadapi masalah, lalu tidur dengan tubuh lelah. Besok semuanya diulang kembali.
Kita produktif, tetapi belum tentu merasa hidup.
Kita sibuk, tetapi belum tentu bertumbuh.
Kita mencapai banyak hal, tetapi belum tentu merasa bahwa semua itu berarti.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (9/8), psikologi memberi kita sebuah sudut pandang menarik: kehidupan yang bermakna tidak selalu dibangun melalui perubahan besar. Sering kali, makna tumbuh dari kemampuan-kemampuan kecil yang kita latih secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Anda tidak harus mengubah hidup secara drastis sebelum akhir tahun.
Anda tidak perlu membaca puluhan buku, bangun pukul 5 pagi, pergi ke gym setiap hari, atau membuat daftar 50 target baru.
Mungkin yang Anda butuhkan justru adalah menguasai beberapa keterampilan yang membuat Anda lebih mampu mengelola diri, membangun hubungan, menghadapi kesulitan, dan memilih apa yang benar-benar penting.
Jika Anda ingin sisa tahun ini terasa lebih berarti, berikut enam keterampilan yang layak mulai dilatih—bahkan di sela kesibukan.
1. Belajar Mengelola Emosi, Bukan Menjadi Budaknya
Salah satu keterampilan hidup yang paling penting sering kali tidak diajarkan secara formal: kemampuan mengelola emosi.
Kita semua marah.
Kita semua kecewa.
Kita semua takut.
Kita semua pernah merasa iri, cemas, malu, kesepian, atau frustrasi.
Masalahnya bukan karena kita memiliki emosi tersebut.
Masalah muncul ketika setiap emosi langsung berubah menjadi tindakan.
Marah sedikit, langsung membalas pesan dengan kasar.
Kecewa, langsung menyerah.
Cemas, langsung menghindari sesuatu.
Merasa tidak dihargai, langsung memutus hubungan.
Merasa gagal, langsung menyimpulkan bahwa diri kita memang tidak mampu.
Padahal emosi adalah informasi, bukan selalu perintah.
Dalam psikologi, kemampuan mengenali, memahami, dan mengatur respons terhadap emosi merupakan bagian penting dari regulasi emosi. Orang yang mampu mengelola emosi bukan berarti orang yang tidak pernah marah atau sedih.
Justru mereka tetap merasakan emosi tersebut.
Bedanya, mereka memiliki sedikit ruang antara apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka lakukan.
Dan ruang kecil itu sangat berharga.
Cobalah latihan sederhana ini
Ketika emosi sedang kuat, jangan langsung bertanya:
"Bagaimana caranya agar saya tidak merasa seperti ini?"
Coba ubah menjadi:
"Apa sebenarnya yang sedang saya rasakan?"
Kemudian tanyakan:
Apa yang memicu emosi ini?
Apa yang sebenarnya saya butuhkan?
Apakah respons saya sekarang akan membantu keadaan?
Jika saya menunggu satu jam sebelum bertindak, apakah keputusan saya akan berbeda?
Misalnya, Anda menerima kritik dari atasan dan langsung merasa bahwa pekerjaan Anda tidak dihargai.
Respons otomatis mungkin:
"Percuma saya bekerja keras."
Tetapi setelah memberi jeda, Anda mungkin menemukan bahwa yang sebenarnya muncul adalah rasa malu, takut gagal, atau kebutuhan untuk diakui.
Dengan memahami emosi, Anda menjadi lebih mampu memilih respons.
Itulah inti keterampilan ini.
Bukan menghilangkan emosi, tetapi memperbesar kemampuan untuk memilih apa yang dilakukan setelah emosi muncul.
Dan semakin baik Anda mengelola emosi, semakin sedikit hidup Anda dikendalikan oleh reaksi sesaat.
2. Belajar Berkonsentrasi pada Satu Hal
Kita hidup dalam lingkungan yang membuat perhatian menjadi komoditas.
Notifikasi muncul.
Pesan masuk.
Email bertambah.
Video pendek terus berganti.
Pekerjaan menunggu.
Media sosial menawarkan sesuatu yang baru setiap beberapa detik.
Akibatnya, kita sering merasa sibuk sepanjang hari tanpa benar-benar hadir dalam apa yang sedang kita lakukan.
Kita bekerja sambil membuka media sosial.
Makan sambil menonton sesuatu.
Berbicara dengan seseorang sambil memeriksa ponsel.
Belajar sambil berpindah-pindah aplikasi.
Tubuh kita berada di satu tempat, tetapi perhatian kita berada di lima tempat sekaligus.
Padahal kemampuan untuk mengarahkan dan mempertahankan perhatian adalah keterampilan yang sangat penting untuk belajar, bekerja, dan menikmati kehidupan.
Dan menariknya, konsentrasi tidak harus dilatih berjam-jam.
Anda bisa memulainya dengan sangat sederhana.
Latih "satu hal pada satu waktu"
Pilih satu aktivitas.
Selama 20–30 menit, lakukan hanya aktivitas tersebut.
Jika sedang membaca, membaca.
Jika sedang bekerja, bekerja.
Jika sedang makan, makan.
Jika sedang berbicara dengan orang lain, dengarkan.
Matikan notifikasi yang tidak penting.
Letakkan ponsel sedikit lebih jauh.
Ketika pikiran mulai ingin berpindah, sadari keinginan tersebut tanpa langsung mengikutinya.
Kemudian kembali.
Itulah latihan.
Bukan berarti Anda harus memiliki konsentrasi sempurna.
Justru setiap kali perhatian Anda teralihkan dan Anda berhasil mengembalikannya, Anda sedang melatih kemampuan tersebut.
Dan keterampilan ini bisa mengubah kualitas hidup secara perlahan.
Karena ada perbedaan besar antara:
"Saya menghabiskan dua jam bersama keluarga."
dan
"Selama dua jam itu, saya benar-benar hadir bersama keluarga."
Waktu yang sama bisa terasa sangat berbeda ketika kualitas perhatian berubah.
Pada akhirnya, hidup kita bukan hanya terdiri dari jumlah jam yang kita miliki.
Hidup juga ditentukan oleh ke mana perhatian kita diberikan.
3. Belajar Mendengarkan dengan Sungguh-Sungguh
Banyak orang ingin menjadi pembicara yang baik.
Lebih sedikit yang benar-benar ingin menjadi pendengar yang baik.
Padahal hubungan manusia sering kali menjadi lebih dekat bukan karena kita memiliki kalimat yang sempurna, tetapi karena orang lain merasa didengar dan dipahami.
Dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengarkan sambil menunggu giliran berbicara.
Seseorang bercerita tentang masalahnya.
Kita langsung mencari solusi.
Seseorang mengatakan bahwa ia sedang lelah.
Kita menjawab:
"Saya juga lebih capek."
Seseorang bercerita tentang kegagalannya.
Kita buru-buru mengatakan:
"Jangan dipikirkan."
Niat kita mungkin baik.
Tetapi terkadang orang tidak membutuhkan solusi terlebih dahulu.
Mereka membutuhkan seseorang yang benar-benar hadir.
Cobalah tiga kebiasaan ini
Pertama, jangan langsung memotong.
Biarkan orang menyelesaikan pikirannya.
Kedua, tanyakan pertanyaan lanjutan.
Misalnya:
"Bagian mana yang paling berat buat kamu?"
atau:
"Setelah kejadian itu, kamu merasa bagaimana?"
Ketiga, ulangi inti yang Anda pahami.
Misalnya:
"Jadi yang membuatmu paling kecewa bukan masalah pekerjaannya, tetapi karena kamu merasa tidak dihargai, ya?"
Kalimat sederhana seperti itu menunjukkan bahwa Anda tidak sekadar mendengar suara, tetapi berusaha memahami pengalaman orang tersebut.
Keterampilan ini sangat berguna dalam hubungan romantis, persahabatan, keluarga, maupun pekerjaan.
Dan ada satu hal yang sering kita lupakan:
orang tidak selalu mengingat nasihat kita, tetapi mereka sering mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berbicara dengan kita.
Jika di sisa tahun ini Anda ingin memperbaiki kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat, mungkin Anda tidak perlu mengatakan lebih banyak.
Mungkin Anda hanya perlu mendengarkan lebih baik.
4. Belajar Menunda Kepuasan
Salah satu kemampuan yang sangat berharga dalam hidup adalah kemampuan mengatakan:
"Tidak sekarang."
Kita hidup dalam budaya yang membuat hampir semua hal terasa harus segera.
Ingin hiburan? Ada video.
Ingin makanan? Bisa dipesan.
Ingin membeli sesuatu? Tinggal klik.
Ingin mendapatkan informasi? Cari sekarang.
Ingin merasa lebih baik? Cari distraksi.
Kemudahan ini tentu memiliki banyak manfaat.
Tetapi ada sisi lain.
Jika kita selalu mengikuti keinginan pertama yang muncul, kita perlahan kehilangan kemampuan untuk bertahan dalam ketidaknyamanan demi sesuatu yang lebih bernilai.
Inilah alasan kemampuan menunda kepuasan begitu penting.
Menunda kepuasan bukan berarti menyiksa diri atau menolak semua kesenangan.
Artinya adalah mampu berkata:
"Saya menginginkannya sekarang, tetapi saya memilih sesuatu yang lebih penting untuk jangka panjang."
Misalnya:
Anda ingin membuka media sosial, tetapi memilih menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu.
Anda ingin menghabiskan uang, tetapi memilih menabung untuk tujuan yang lebih besar.
Anda ingin menyerah ketika belajar terasa sulit, tetapi memilih menyelesaikan satu halaman lagi.
Anda ingin membalas pesan ketika sedang marah, tetapi memilih menunggu sampai emosi lebih stabil.
Hal-hal kecil seperti ini membangun rasa bahwa Anda memiliki kendali atas diri sendiri.
Dan perasaan mampu mengarahkan tindakan sendiri sangat berkaitan dengan motivasi dan keyakinan terhadap kemampuan diri.
Latihan sederhana
Tidak perlu langsung membuat aturan ekstrem.
Pilih satu kebiasaan.
Kemudian buat jeda kecil antara dorongan dan tindakan.
Misalnya:
"Kalau ingin membuka media sosial saat bekerja, saya akan menunggu 10 menit."
Atau:
"Kalau ingin membeli sesuatu yang tidak direncanakan, saya akan menunggu 24 jam."
Tujuannya bukan selalu mengatakan "tidak".
Tujuannya adalah memastikan bahwa keputusan Anda berasal dari pilihan, bukan sekadar dorongan.
5. Belajar Berbicara kepada Diri Sendiri dengan Lebih Sehat
Ada satu suara yang kita dengar lebih sering daripada suara siapa pun di dunia:
suara dalam kepala kita sendiri.
Sayangnya, suara itu terkadang sangat kejam.
Ketika gagal:
"Saya memang bodoh."
Ketika melakukan kesalahan:
"Kenapa saya selalu seperti ini?"
Ketika melihat orang lain berhasil:
"Saya tertinggal jauh."
Ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana:
"Hidup saya berantakan."
Bayangkan jika seorang teman berbicara kepada Anda seperti itu setiap hari.
Mungkin Anda akan menjauh.
Namun kita sering membiarkan diri sendiri menerima kata-kata yang tidak akan pernah kita ucapkan kepada orang yang kita sayangi.
Ini bukan berarti Anda harus selalu mengatakan hal-hal positif yang tidak realistis.
Bukan:
"Saya pasti hebat."
ketika kenyataannya Anda sedang menghadapi masalah.
Yang lebih sehat adalah mengembangkan self-talk yang realistis dan penuh belas kasih.
Alih-alih:
"Saya gagal. Berarti saya tidak mampu."
coba:
"Saya gagal dalam hal ini. Apa yang bisa saya pelajari?"
Alih-alih:
"Saya tertinggal dari semua orang."
coba:
"Saya sedang berada di tahap yang berbeda. Apa langkah yang bisa saya ambil sekarang?"
Alih-alih:
"Saya selalu membuat kesalahan."
coba:
"Saya membuat kesalahan kali ini. Bagaimana saya bisa memperbaikinya?"
Perbedaannya terlihat kecil.
Tetapi bahasa yang kita gunakan kepada diri sendiri memengaruhi cara kita memaknai pengalaman.
Kegagalan bisa menjadi bukti bahwa kita tidak mampu.
Atau menjadi informasi tentang apa yang perlu diperbaiki.
Kesalahan bisa menjadi identitas.
Atau menjadi pengalaman.
Masalah yang sama dapat menghasilkan cerita yang berbeda tergantung bagaimana kita berbicara kepada diri sendiri.
Jadi jika Anda ingin sisa tahun ini menjadi lebih baik, jangan hanya memperbaiki jadwal Anda.
Perbaiki juga cara Anda berbicara kepada diri sendiri.
6. Belajar Menentukan Apa yang Benar-Benar Penting
Mungkin ini keterampilan yang paling menentukan.
Karena hidup tidak hanya membutuhkan kemampuan melakukan lebih banyak hal.
Kadang-kadang, hidup membutuhkan kemampuan mengetahui hal mana yang tidak perlu dilakukan.
Kita sering mengejar terlalu banyak hal sekaligus.
Ingin karier berkembang.
Ingin tubuh lebih sehat.
Ingin punya banyak uang.
Ingin membaca banyak buku.
Ingin punya hubungan yang baik.
Ingin belajar keterampilan baru.
Ingin bepergian.
Ingin membangun bisnis.
Ingin selalu tersedia untuk semua orang.
Masalahnya adalah waktu, energi, dan perhatian kita terbatas.
Karena itu, hidup yang bermakna membutuhkan kemampuan memilih.
Dalam psikologi positif, makna hidup sering dibahas bukan sekadar sebagai perasaan senang, tetapi sebagai pengalaman bahwa hidup memiliki arah, nilai, dan tujuan.
Dengan kata lain:
Anda tidak harus melakukan semuanya untuk memiliki kehidupan yang berarti.
Anda perlu mengetahui apa yang memang berarti bagi Anda.
Coba lakukan latihan ini malam ini
Ambil selembar kertas.
Bagi menjadi tiga bagian:
Yang ingin saya pertahankan.
Yang ingin saya kurangi.
Yang ingin saya mulai.
Kemudian isi dengan jujur.
Misalnya:
Yang ingin saya pertahankan
Hubungan dengan keluarga.
Kebiasaan olahraga.
Waktu membaca.
Pertemanan yang sehat.
Yang ingin saya kurangi
Membandingkan diri dengan orang lain.
Menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial.
Mengatakan "iya" pada semua permintaan.
Pekerjaan yang sebenarnya bisa didelegasikan.
Yang ingin saya mulai
Belajar keterampilan baru.
Menghabiskan waktu berkualitas bersama orang tua.
Menabung untuk tujuan tertentu.
Menyelesaikan proyek pribadi.
Kemudian tanyakan satu pertanyaan yang sederhana tetapi kuat:
"Jika enam bulan ke depan berjalan persis seperti enam bulan terakhir, apakah saya akan puas?"
Jika jawabannya tidak, Anda tidak perlu mengubah semuanya.
Cari satu hal yang paling penting.
Kemudian mulai dari sana.
Jangan Tunggu Hidup Menjadi Sepi untuk Mulai Bertumbuh
Salah satu kesalahan terbesar dalam pengembangan diri adalah mengira kita harus memiliki kehidupan yang sempurna terlebih dahulu untuk mulai berubah.
Kita menunggu waktu luang.
Padahal waktu luang mungkin tidak pernah datang dalam jumlah yang kita bayangkan.
Karena itu, keterampilan-keterampilan ini sebaiknya tidak diperlakukan sebagai proyek besar.
Anda bisa melatihnya di sela kehidupan yang sudah Anda jalani.
Regulasi emosi bisa dilatih ketika Anda menerima kritik.
Konsentrasi bisa dilatih ketika mengerjakan tugas selama 25 menit tanpa gangguan.
Mendengarkan bisa dilatih ketika pasangan, teman, atau rekan kerja sedang bercerita.
Menunda kepuasan bisa dilatih ketika muncul keinginan impulsif.
Self-talk yang sehat bisa dilatih setelah Anda melakukan kesalahan.
Menentukan prioritas bisa dilatih setiap kali Anda memutuskan apa yang layak mendapatkan waktu dan energi.
Dengan kata lain, Anda tidak membutuhkan kehidupan baru untuk menjadi pribadi yang berbeda.
Anda hanya membutuhkan cara yang berbeda untuk menjalani kehidupan yang sudah Anda miliki.
Sisa Tahun Ini Tidak Harus Sempurna
Mungkin ketika membaca artikel ini, Anda menyadari bahwa ada banyak hal dalam hidup yang belum sesuai harapan.
Target belum tercapai.
Rencana tertunda.
Beberapa hubungan berubah.
Karier belum seperti yang dibayangkan.
Ada keputusan yang disesali.
Ada kesempatan yang terlewat.
Tetapi kalender yang terus berjalan bukan berarti kesempatan untuk bertumbuh sudah habis.
Justru mungkin sisa tahun ini bisa menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan bertanya:
"Orang seperti apa yang ingin saya menjadi ketika tahun ini berakhir?"
Bukan hanya:
"Apa yang ingin saya miliki?"
Tetapi:
"Kemampuan apa yang ingin saya kuasai?"
"Bagaimana saya ingin memperlakukan orang-orang yang saya sayangi?"
"Bagaimana saya ingin menghadapi masalah?"
"Apa yang ingin saya prioritaskan?"
"Kehidupan seperti apa yang ingin saya bangun secara perlahan?"
Karena pada akhirnya, tahun yang bermakna tidak selalu ditandai oleh pencapaian yang besar.
Kadang-kadang ia terlihat jauh lebih sederhana.
Anda menjadi sedikit lebih sabar.
Sedikit lebih sadar.
Sedikit lebih berani.
Sedikit lebih mampu mengatakan tidak.
Sedikit lebih hadir ketika bersama orang yang Anda cintai.
Sedikit lebih baik dalam menghadapi kegagalan.
Sedikit lebih mampu memilih apa yang penting.
Dan jika semua perubahan kecil itu terjadi berulang kali, beberapa bulan dari sekarang Anda mungkin melihat ke belakang dan menyadari:
Anda memang tidak mengubah seluruh hidup dalam satu malam.
Tetapi Anda mengubah cara menjalani hidup.
Dan mungkin, justru di situlah perubahan yang paling bermakna dimulai.
Enam Keterampilan yang Bisa Mulai Anda Latih Hari Ini
Jika semuanya terasa terlalu banyak, jangan mulai dengan enam sekaligus.
Pilih satu.
1. Regulasi emosi
Belajar memberi jeda antara perasaan dan tindakan.
2. Konsentrasi
Melatih kemampuan memberikan perhatian penuh pada satu hal.
3. Mendengarkan
Membuat orang lain merasa benar-benar didengar dan dipahami.
4. Menunda kepuasan
Belajar memilih manfaat jangka panjang daripada dorongan sesaat.
5. Self-talk yang sehat
Berbicara kepada diri sendiri dengan jujur tanpa menjadi kejam.
6. Menentukan prioritas
Memilih hal yang benar-benar penting daripada mencoba melakukan semuanya.
Anda tidak harus menjadi versi terbaik dari diri Anda sebelum akhir tahun.
Cukup menjadi versi yang sedikit lebih sadar daripada kemarin.
Karena kehidupan yang bermakna jarang dibangun melalui satu keputusan besar.
Ia dibangun melalui keputusan-keputusan kecil yang kita ulang setiap hari.
Dan mungkin, ketika tahun ini akhirnya berakhir, hal terbaik yang bisa Anda katakan bukan:
"Saya berhasil melakukan semuanya."
Melainkan:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Sidang Kasus Pemuda Dipukul Pengusaha Buah di Surabaya, Saksi Sebut Tak Melihat Kejadian Jelas
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Toulouse vs Lille di Liga Prancis: Les Dogues Berpeluang Sikat Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Bali United vs PSS Sleman: Dominikus Dion Harap Super Elja Main Pede
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
