seseorang yang mengatur keuangan. (Magnific)
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (9/8), cara kita menggunakan, menyimpan, membelanjakan, atau bahkan memikirkan uang tidak selalu ditentukan oleh kondisi keuangan saat ini. Pengalaman masa kecil, hubungan dengan orang tua, lingkungan sosial, pengalaman kehilangan, rasa aman, keyakinan pribadi, hingga cara kita memandang keberhasilan dapat memengaruhi perilaku finansial.
Itulah sebabnya dua orang dengan penghasilan yang sama dapat memiliki perilaku terhadap uang yang sangat berbeda. Seseorang mungkin merasa tenang ketika memiliki tabungan yang besar, sementara orang lain justru merasa harus terus bekerja dan mengumpulkan uang karena takut suatu hari kehilangan semuanya.
Ada pula orang yang sulit menikmati hasil kerja kerasnya. Mereka merasa bersalah setiap kali membeli sesuatu untuk diri sendiri. Sebaliknya, ada orang yang menggunakan belanja sebagai cara untuk mendapatkan rasa senang, mengurangi stres, atau melarikan diri dari emosi yang tidak nyaman.
Dengan kata lain, masalah keuangan terkadang bukan hanya tentang "berapa banyak uang yang kita punya", tetapi juga tentang apa arti uang bagi kita.
Untuk mulai memahami hubungan tersebut, Anda dapat mengajukan empat pertanyaan berikut kepada diri sendiri.
1. Apa yang sebenarnya Anda rasakan ketika memikirkan uang?
Pertanyaan pertama tampak sederhana, tetapi jawabannya dapat membuka banyak hal.
Ketika memikirkan uang, apakah Anda merasa tenang? Cemas? Bersalah? Takut? Bersemangat? Malu? Tertekan? Atau justru tidak merasakan apa-apa?
Cobalah memperhatikan respons emosional Anda ketika memikirkan beberapa situasi finansial.
Misalnya, bagaimana perasaan Anda ketika melihat saldo rekening?
Bagaimana perasaan Anda ketika menerima gaji?
Apa yang Anda rasakan ketika harus membayar tagihan?
Bagaimana reaksi Anda ketika seseorang meminta uang kepada Anda?
Dan apa yang Anda rasakan ketika harus membeli sesuatu yang sebenarnya Anda butuhkan tetapi harganya cukup mahal?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai hubungan emosional Anda dengan uang.
Uang sering dikaitkan dengan rasa aman
Bagi sebagian orang, uang terutama berarti keamanan.
Memiliki tabungan membuat mereka merasa terlindungi. Ketika jumlah tabungan menurun, kecemasan dapat meningkat, bahkan ketika kondisi keuangan mereka sebenarnya masih cukup sehat.
Pada tingkat tertentu, hal ini sangat wajar. Uang memang dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar dan menghadapi ketidakpastian.
Namun, masalah dapat muncul ketika kebutuhan akan rasa aman menjadi begitu kuat sehingga seseorang merasa tidak pernah memiliki "cukup".
Penghasilan meningkat, tetapi kecemasan tetap ada.
Tabungan bertambah, tetapi rasa takut kehilangan uang juga semakin besar.
Seseorang mungkin berkata, "Saya akan merasa tenang kalau tabungan saya sudah mencapai jumlah tertentu."
Ketika jumlah tersebut tercapai, target baru muncul.
Akhirnya, rasa aman selalu terasa berada beberapa langkah di depan.
Uang juga bisa menjadi sumber rasa bersalah
Sebaliknya, ada orang yang merasa bersalah ketika menggunakan uang untuk dirinya sendiri.
Mereka mungkin tidak keberatan mengeluarkan uang untuk kebutuhan keluarga, pasangan, atau anak, tetapi merasa tidak nyaman ketika membeli sesuatu untuk diri sendiri.
Pikiran seperti:
"Seharusnya uang ini ditabung."
"Saya sebenarnya tidak pantas membeli ini."
"Masih banyak kebutuhan lain."
dapat muncul meskipun pembelian tersebut sebenarnya masuk akal dan sesuai kemampuan.
Jika hal ini terjadi berulang kali, mungkin ada keyakinan tertentu yang menghubungkan pengeluaran dengan sesuatu yang negatif.
Perhatikan emosi, bukan hanya angka
Karena itu, ketika mengevaluasi hubungan Anda dengan uang, jangan hanya melihat laporan keuangan.
Perhatikan juga emosi yang muncul.
Anda dapat mencoba menulis:
"Ketika saya memikirkan uang, saya biasanya merasa..."
Kemudian lanjutkan kalimat tersebut tanpa terlalu banyak menyensor diri sendiri.
Tidak ada jawaban yang benar atau salah.
Tujuannya bukan menghakimi perilaku finansial Anda, tetapi mengenali pola yang selama ini mungkin berjalan secara otomatis.
2. Apa yang Anda pelajari tentang uang ketika masih kecil?
Banyak keyakinan mengenai uang terbentuk jauh sebelum seseorang memiliki penghasilan sendiri.
Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat.
Misalnya, seorang anak mungkin tumbuh dalam keluarga yang sering mengatakan bahwa uang sulit didapat. Anak tersebut kemudian dapat membawa keyakinan itu hingga dewasa.
Ada pula anak yang melihat orang tuanya sering bertengkar karena masalah keuangan. Bagi anak tersebut, uang mungkin secara tidak sadar dikaitkan dengan konflik dan ketidakamanan.
Sebaliknya, seseorang yang tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi relatif stabil mungkin memiliki hubungan yang berbeda dengan uang.
Pesan-pesan sederhana dapat membentuk keyakinan jangka panjang
Cobalah mengingat kalimat-kalimat yang sering Anda dengar ketika kecil.
Mungkin Anda pernah mendengar:
"Uang itu susah dicari."
"Jangan boros."
"Orang kaya biasanya..."
"Kita tidak boleh terlalu banyak berharap."
"Yang penting hidup sederhana."
"Kalau ingin sesuatu, harus bekerja keras."
"Uang bukan segalanya."
Kalimat-kalimat tersebut tidak selalu buruk. Bahkan banyak di antaranya mengandung nilai positif.
Namun, ketika pesan tertentu diterima berulang kali tanpa banyak ruang untuk refleksi, pesan tersebut dapat menjadi semacam aturan internal.
Misalnya, seseorang yang sejak kecil selalu mendengar "jangan boros" mungkin menjadi sangat berhati-hati dalam mengeluarkan uang.
Kehati-hatian tersebut dapat menjadi kekuatan.
Tetapi dalam kondisi tertentu, ia juga dapat berubah menjadi kesulitan menikmati hasil kerja, rasa bersalah saat berbelanja, atau ketakutan berlebihan terhadap kehilangan uang.
Sebaliknya, seseorang yang tumbuh dengan pengalaman bahwa uang selalu tersedia mungkin menjadi lebih nyaman membelanjakan uang.
Hal ini juga tidak otomatis berarti buruk. Tetapi tanpa kesadaran, pola tersebut dapat menyebabkan seseorang sulit membangun batas pengeluaran.
Bukan hanya tentang apa yang dikatakan orang tua
Pengalaman finansial masa kecil juga dapat membentuk cara seseorang memandang uang.
Pernahkah keluarga mengalami kesulitan ekonomi?
Pernahkah kebutuhan penting tidak terpenuhi karena keterbatasan uang?
Pernahkah Anda melihat orang tua bekerja sangat keras hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Atau mungkin Anda tumbuh dengan melihat uang sebagai simbol keberhasilan, status, atau kekuasaan?
Semua pengalaman tersebut dapat meninggalkan kesan psikologis.
Yang menarik, dua orang dapat mengalami situasi yang sama tetapi mengambil kesimpulan berbeda.
Seseorang yang mengalami kekurangan uang mungkin belajar menjadi sangat hemat.
Orang lain mungkin justru berpikir, "Saya tidak ingin hidup seperti itu lagi," lalu mengejar penghasilan sebesar mungkin.
Keduanya dapat berasal dari pengalaman yang serupa, tetapi menghasilkan perilaku yang berbeda.
Karena itu, memahami masa lalu bukan berarti menyalahkan keluarga atau lingkungan.
Tujuannya adalah memahami dari mana beberapa keyakinan kita berasal.
3. Apa yang ingin Anda dapatkan dari uang selain barang atau jasa?
Ini mungkin merupakan pertanyaan yang paling penting.
Karena sering kali kita tidak benar-benar mengejar uang.
Kita mengejar perasaan yang kita yakini akan diberikan oleh uang.
Seseorang mungkin ingin mendapatkan lebih banyak uang karena ingin merasa aman.
Orang lain mungkin mengejar uang karena ingin merasa bebas.
Ada yang menginginkan kekayaan karena ingin diakui.
Ada yang ingin memiliki banyak uang karena ingin membuktikan bahwa dirinya berhasil.
Ada pula yang ingin mendapatkan uang sebanyak mungkin karena takut bergantung kepada orang lain.
Dengan demikian, uang dapat menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang lebih dalam.
Uang dan kebebasan
Bagi sebagian orang, uang berarti kebebasan.
Mereka ingin memiliki cukup uang agar dapat memilih pekerjaan, tempat tinggal, gaya hidup, atau cara menggunakan waktu tanpa terlalu banyak bergantung kepada orang lain.
Dalam konteks ini, uang bukan tujuan akhir.
Uang adalah sarana untuk mendapatkan otonomi.
Kesadaran seperti ini dapat membantu seseorang membuat keputusan finansial yang lebih terarah.
Jika kebebasan adalah nilai utama Anda, misalnya, mungkin Anda akan lebih tertarik membangun dana darurat dan mengurangi utang daripada membeli barang mahal untuk menunjukkan status.
Uang dan pengakuan
Namun, uang juga dapat digunakan untuk mendapatkan pengakuan sosial.
Mobil, rumah, pakaian, gadget, liburan, atau gaya hidup tertentu dapat menjadi simbol keberhasilan.
Masalahnya bukan pada barang tersebut.
Masalah dapat muncul ketika keputusan finansial terutama didorong oleh kebutuhan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Cobalah bertanya:
"Kalau tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa saya memiliki barang ini, apakah saya masih menginginkannya?"
Pertanyaan tersebut dapat membantu membedakan antara keinginan pribadi dan kebutuhan akan validasi sosial.
Uang dan harga diri
Hal yang lebih kompleks terjadi ketika seseorang menghubungkan jumlah uang dengan nilai dirinya.
Misalnya:
"Saya gagal karena penghasilan saya kecil."
"Saya baru merasa sukses kalau punya banyak uang."
"Kalau saya kehilangan pekerjaan, berarti saya tidak berharga."
Jika uang menjadi ukuran utama harga diri, naik turunnya kondisi finansial dapat memengaruhi kesehatan emosional seseorang secara signifikan.
Ketika penghasilan meningkat, rasa percaya diri ikut naik.
Ketika mengalami kerugian, harga diri ikut runtuh.
Padahal, nilai seseorang tidak dapat direduksi menjadi angka di rekening bank.
Penghasilan adalah salah satu aspek kehidupan, bukan ukuran keseluruhan kualitas seseorang.
Temukan kebutuhan di balik tujuan finansial
Cobalah mengambil satu tujuan finansial yang sedang Anda kejar.
Misalnya:
"Saya ingin memiliki tabungan Rp100 juta."
Kemudian tanyakan:
"Mengapa saya menginginkan Rp100 juta?"
Mungkin jawabannya:
"Supaya aman."
Lalu tanyakan lagi:
"Mengapa rasa aman itu penting bagi saya?"
Mungkin jawabannya:
"Karena saya takut mengalami kondisi sulit seperti dulu."
Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membawa kita dari angka menuju kebutuhan psikologis yang sebenarnya.
Dan ketika kebutuhan tersebut sudah terlihat, kita dapat mencari cara yang lebih sehat untuk memenuhinya.
4. Apakah keputusan finansial Anda dibuat berdasarkan nilai pribadi atau emosi sesaat?
Setiap orang sesekali membuat keputusan finansial yang emosional.
Kita mungkin membeli makanan karena sedang stres.
Membeli barang karena merasa sedih.
Berbelanja setelah mendapatkan kabar baik.
Mengeluarkan uang untuk mengikuti teman.
Atau justru menolak membeli sesuatu yang kita butuhkan karena sedang diliputi rasa takut.
Hal tersebut merupakan bagian dari perilaku manusia.
Masalah muncul ketika emosi sesaat secara konsisten mengambil alih keputusan finansial.
Belanja dapat menjadi cara mengatur emosi
Dalam psikologi, perilaku tertentu dapat digunakan seseorang untuk mengubah atau meredakan keadaan emosional.
Belanja adalah salah satu contoh yang dapat memberikan perasaan menyenangkan dalam jangka pendek.
Seseorang yang sedang mengalami stres mungkin merasa lebih baik setelah membeli sesuatu.
Namun, jika pola tersebut berulang, masalah awal belum tentu terselesaikan.
Yang tersisa justru bisa berupa pengeluaran yang tidak direncanakan, penyesalan, atau masalah keuangan baru.
Karena itu, sebelum melakukan pembelian yang bersifat impulsif, cobalah berhenti sebentar dan bertanya:
"Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau saya sedang mencoba mengubah perasaan saya?"
Tidak semua pembelian emosional harus dihindari.
Namun, mengenali motivasinya dapat membuat keputusan kita lebih sadar.
Sebaliknya, rasa takut juga dapat membuat keputusan menjadi tidak rasional
Emosi tidak hanya mendorong seseorang untuk berbelanja.
Rasa takut juga dapat membuat seseorang terlalu menahan uang.
Misalnya, seseorang memiliki tabungan yang cukup tetapi terus merasa tidak aman untuk menggunakan uang bahkan untuk kebutuhan yang penting.
Ia mungkin melewatkan kesempatan, menunda kebutuhan kesehatan, atau terus bekerja tanpa memberi ruang untuk istirahat karena takut kehilangan keamanan finansial.
Dalam situasi seperti ini, masalahnya bukan sekadar "terlalu hemat".
Ada kemungkinan rasa takut memiliki pengaruh besar terhadap pengambilan keputusan.
Gunakan nilai pribadi sebagai kompas
Salah satu cara untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang adalah menentukan apa yang benar-benar penting bagi Anda.
Misalnya:
keluarga,
kebebasan,
pendidikan,
pengalaman,
kesehatan,
keamanan,
kreativitas,
kontribusi kepada orang lain,
atau waktu luang.
Setelah mengetahui nilai tersebut, Anda dapat melihat apakah penggunaan uang Anda sudah mencerminkannya.
Jika Anda mengatakan keluarga adalah prioritas utama, tetapi sebagian besar uang digunakan untuk mempertahankan gaya hidup demi mendapatkan pengakuan sosial, mungkin terdapat ketidaksesuaian.
Jika Anda mengatakan kebebasan adalah nilai penting, tetapi seluruh penghasilan habis untuk cicilan konsumtif, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi.
Uang menjadi lebih bermakna ketika penggunaannya selaras dengan nilai hidup.
Mengapa memahami hubungan dengan uang itu penting?
Literasi keuangan biasanya mengajarkan hal-hal seperti membuat anggaran, menabung, berinvestasi, dan mengelola utang.
Semua itu penting.
Namun, pengetahuan saja tidak selalu cukup.
Seseorang bisa mengetahui bahwa ia harus menabung, tetapi tetap sulit melakukannya.
Seseorang bisa mengetahui bahwa belanja impulsif merugikan, tetapi tetap mengulanginya.
Seseorang bisa memiliki penghasilan tinggi, tetapi tetap merasa tidak pernah cukup.
Di sinilah faktor psikologis menjadi penting.
Kita tidak hanya perlu belajar bagaimana mengelola uang, tetapi juga memahami mengapa kita memperlakukan uang dengan cara tertentu.
Ketika alasan di balik perilaku menjadi lebih jelas, perubahan dapat dilakukan dengan lebih sadar.
Cobalah melakukan refleksi sederhana
Luangkan waktu sekitar 15–20 menit untuk menjawab empat pertanyaan berikut secara jujur:
1. Apa yang saya rasakan ketika memikirkan uang?
Tuliskan emosi yang muncul tanpa menilai apakah emosi tersebut baik atau buruk.
2. Apa yang saya pelajari tentang uang ketika kecil?
Tuliskan pengalaman, ucapan, kebiasaan keluarga, atau kejadian penting yang masih Anda ingat.
3. Apa yang sebenarnya ingin saya dapatkan dari uang?
Apakah keamanan, kebebasan, status, kenyamanan, pengakuan, kesempatan, atau sesuatu yang lain?
4. Apakah keputusan finansial saya sesuai dengan nilai hidup saya?
Perhatikan apakah cara Anda memperoleh dan menggunakan uang mendukung kehidupan yang sebenarnya ingin Anda bangun.
Jangan terburu-buru mencari jawaban yang "benar".
Tujuan latihan ini bukan membuat Anda merasa bersalah atas keputusan masa lalu.
Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran.
Hubungan yang sehat dengan uang bukan berarti mencintai uang atau membencinya
Hubungan yang sehat dengan uang tidak selalu berarti seseorang harus sangat hemat.
Begitu pula tidak berarti seseorang harus mengejar kekayaan sebanyak mungkin.
Yang lebih penting adalah adanya kesadaran dan fleksibilitas.
Anda dapat menikmati uang tanpa merasa harus menghabiskannya.
Anda dapat menabung tanpa hidup dalam ketakutan.
Anda dapat mengejar penghasilan yang lebih tinggi tanpa menjadikan uang sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Anda dapat membeli sesuatu yang Anda inginkan tanpa merasa bersalah, selama keputusan tersebut sesuai dengan kemampuan dan nilai Anda.
Dan Anda dapat mengatakan "tidak" terhadap pengeluaran tertentu tanpa merasa kehilangan harga diri.
Pada akhirnya, uang adalah bagian dari kehidupan, bukan keseluruhan kehidupan.
Ia dapat memberikan keamanan, pilihan, dan kesempatan. Tetapi uang juga dapat menjadi sumber kecemasan apabila kita memberikan makna yang terlalu besar kepadanya.
Dengan memahami emosi, pengalaman masa lalu, kebutuhan psikologis, serta nilai pribadi yang berada di balik perilaku finansial, kita dapat mulai membangun hubungan yang lebih sadar dengan uang.
Bukan sekadar bertanya:
"Bagaimana cara saya mendapatkan lebih banyak uang?"
Tetapi juga:
"Untuk kehidupan seperti apa saya ingin menggunakan uang saya?"
Pertanyaan kedua mungkin jauh lebih penting.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
Siaran Tunda Moto3 Inggris 2026! Ini Jadwal dan Link Live Streaming Veda Ega Pratama di Silverstone
Juara Piala Presiden 2026! 3 Pemain Persebaya Jalani Pemulihan Jelang Super League 2026/2027
