Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Agustus 2026 | 00.42 WIB

Jika Anda Mencoba Memulai Ulang Sebuah Hubungan, Lakukan 6 Cara Ini Menurut Psikologi

seseorang yang memulai ulang sebuah hubungan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Memulai kembali sebuah hubungan bukanlah hal yang sederhana.Ada pasangan yang pernah saling mencintai, kemudian berpisah karena konflik, keadaan, kesalahpahaman, atau luka yang belum terselesaikan.
 
Setelah beberapa waktu berlalu, keduanya kembali berkomunikasi dan mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk bersama lagi.

Pada titik ini, perasaan biasanya menjadi sangat rumit.

Ada rasa rindu, tetapi juga ketakutan untuk kembali terluka. Ada keinginan untuk memperbaiki keadaan, tetapi di sisi lain masih ada ingatan tentang alasan mengapa hubungan tersebut pernah berakhir.

Karena itu, memulai kembali hubungan sebaiknya bukan sekadar bertanya, "Apakah kita masih saling mencintai?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah kita mampu membangun hubungan yang berbeda dari sebelumnya?"

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (9/8), dalam psikologi hubungan, kesempatan kedua dapat menjadi sesuatu yang positif apabila kedua orang tidak hanya menghidupkan kembali perasaan lama, tetapi juga memperbaiki pola yang dahulu membuat hubungan tersebut bermasalah.

Jika Anda sedang mencoba memulai ulang sebuah hubungan, enam cara berikut dapat membantu.

1. Jangan langsung kembali ke pola hubungan yang lama

Kesalahan yang sering terjadi ketika dua orang kembali bersama adalah menganggap bahwa mereka hanya perlu melanjutkan hubungan dari titik terakhir sebelum berpisah.

Padahal, hubungan yang pernah berakhir biasanya memiliki masalah tertentu yang belum terselesaikan.

Jika masalah tersebut tidak berubah, hubungan yang baru kemungkinan besar hanya akan mengulang cerita yang lama.

Misalnya, dahulu Anda sering bertengkar karena salah satu pihak merasa tidak didengarkan. Setelah beberapa bulan berpisah, Anda kembali bersama. Perasaan memang mungkin masih kuat, tetapi jika cara berkomunikasi tetap sama, konflik yang sama dapat muncul kembali.

Karena itu, memulai ulang hubungan sebaiknya dianggap sebagai membangun hubungan baru dengan orang yang sudah memiliki sejarah bersama Anda.

Jangan terburu-buru mengembalikan semua kebiasaan lama.

Tidak harus langsung kembali bertemu setiap hari, menghabiskan seluruh waktu bersama, atau membuat janji-janji besar tentang masa depan.

Berikan ruang untuk melihat apakah perubahan yang terjadi benar-benar nyata.

Tanyakan kepada diri sendiri:

Apa yang membuat hubungan kami dahulu gagal?
Apa yang sudah berubah sejak kami berpisah?
Apa yang masih menjadi masalah?
Apakah kami berdua benar-benar belajar dari pengalaman sebelumnya?
Apakah saya kembali karena cinta atau hanya karena merasa kesepian?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat membantu Anda membedakan antara keinginan membangun kembali hubungan dan keinginan menghilangkan rasa kehilangan.

Memulai kembali bukan berarti kembali ke masa lalu.

Memulai kembali berarti mencoba menciptakan cara baru untuk menjalani hubungan.

2. Bicarakan alasan hubungan tersebut pernah berakhir

Salah satu hal yang paling tidak nyaman ketika mencoba kembali bersama adalah membicarakan masa lalu.

Banyak orang memilih menghindarinya karena merasa, "Yang penting sekarang kami sudah kembali bersama."

Padahal, mengabaikan masalah lama tidak sama dengan menyelesaikannya.

Jika sebuah hubungan berakhir karena komunikasi yang buruk, rasa tidak dihargai, kecemburuan, kurangnya kepercayaan, perbedaan prioritas, atau konflik lainnya, kedua pihak perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Bukan untuk saling menyalahkan.

Bukan juga untuk membuka kembali semua luka hanya demi memenangkan argumen.

Tujuannya adalah memahami pola yang pernah membuat hubungan tersebut tidak sehat.

Cobalah berbicara dengan cara seperti:

"Menurutmu, apa yang sebenarnya membuat hubungan kita dulu tidak berjalan baik?"

Kemudian dengarkan jawabannya tanpa langsung membela diri.

Anda mungkin menemukan bahwa Anda memiliki versi cerita yang berbeda.

Bagi Anda, sebuah pertengkaran mungkin terlihat seperti masalah kecil. Namun bagi pasangan, pertengkaran tersebut mungkin menjadi bukti bahwa ia merasa tidak dihargai.

Begitu juga sebaliknya.

Dalam hubungan yang sehat, kemampuan untuk memahami pengalaman emosional pasangan sangat penting. Anda tidak harus selalu setuju dengan sudut pandangnya untuk mengakui bahwa perasaannya nyata.

Percakapan seperti ini memang tidak selalu nyaman.

Tetapi terkadang, hubungan tidak membutuhkan lebih banyak janji.

Hubungan membutuhkan pemahaman yang lebih jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi.

3. Bangun kembali kepercayaan secara perlahan

Jika hubungan sebelumnya berakhir karena kebohongan, pengkhianatan, ketidakjujuran, atau tindakan yang membuat kepercayaan rusak, jangan berharap semuanya langsung kembali normal hanya karena Anda sudah memutuskan untuk bersama lagi.

Kepercayaan tidak bekerja seperti sakelar yang bisa dinyalakan kembali.

Ia lebih mirip sebuah bangunan yang harus dibangun sedikit demi sedikit.

Karena itu, jangan terlalu fokus pada kata-kata.

Perhatikan perilaku.

Seseorang mungkin berkata bahwa dirinya sudah berubah. Namun perubahan yang sebenarnya biasanya terlihat dari konsistensi perilaku dalam waktu yang cukup panjang.

Misalnya:

Dulu ia sering menghilang ketika terjadi konflik. Sekarang ia belajar memberi tahu bahwa ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan kembali berbicara setelah emosinya lebih stabil.

Dulu ia sering menyembunyikan sesuatu. Sekarang ia mulai lebih terbuka tanpa harus dipaksa.

Dulu ia mudah membuat janji tetapi tidak menepatinya. Sekarang ia lebih berhati-hati dalam berjanji dan berusaha memenuhi apa yang sudah dikatakannya.

Perubahan-perubahan kecil seperti ini mungkin terlihat sederhana.

Namun justru konsistensi dalam hal-hal kecil dapat menjadi dasar munculnya kembali rasa aman.

Dan jangan lupa, membangun kembali kepercayaan juga berarti memberi kesempatan kepada pasangan untuk menunjukkan perubahan.

Jika seseorang benar-benar berusaha memperbaiki dirinya, jangan terus-menerus menghukumnya dengan kesalahan masa lalu.

Namun ini bukan berarti Anda harus melupakan semuanya.

Memaafkan tidak sama dengan mengabaikan batasan.

Anda tetap berhak memiliki batas yang jelas tentang apa yang dapat dan tidak dapat Anda terima dalam hubungan.

4. Fokus pada kualitas komunikasi, bukan seberapa sering berbicara

Ketika baru kembali bersama, pasangan sering kali ingin menghabiskan banyak waktu untuk berbicara.

Ini wajar.

Ada banyak hal yang ingin diceritakan setelah lama berpisah.

Namun hubungan yang sehat bukan hanya tentang seberapa sering Anda berkomunikasi.

Yang lebih penting adalah bagaimana Anda berkomunikasi ketika muncul perbedaan atau konflik.

Salah satu perubahan paling penting adalah belajar mengganti komunikasi yang menyerang dengan komunikasi yang menjelaskan perasaan.

Daripada mengatakan:

"Kamu memang tidak pernah peduli sama aku."

Cobalah mengatakan:

"Aku merasa tidak dianggap ketika hal itu terjadi. Aku ingin kita membicarakannya supaya aku bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi."

Perbedaannya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya dapat besar.

Kalimat pertama menyerang karakter seseorang.

Kalimat kedua menjelaskan pengalaman emosional Anda.

Komunikasi seperti ini memberi pasangan kesempatan untuk memahami masalah tanpa langsung merasa harus mempertahankan diri.

Selain itu, belajar mendengarkan juga sama pentingnya dengan belajar berbicara.

Jangan hanya menunggu giliran untuk menjawab.

Dengarkan untuk memahami.

Tanyakan:

"Apa yang membuat kamu merasa seperti itu?"

atau:

"Apa yang sebenarnya kamu butuhkan dariku ketika itu terjadi?"

Pertanyaan sederhana seperti ini dapat mengubah percakapan dari pertengkaran menjadi proses memahami satu sama lain.

Jika hubungan lama penuh dengan reaksi spontan, hubungan baru membutuhkan lebih banyak kesadaran.

Berhenti sejenak.

Tarik napas.

Pahami apa yang Anda rasakan.

Kemudian pilih kata-kata yang tidak memperbesar masalah.

5. Jangan menjadikan masa lalu sebagai senjata setiap kali bertengkar

Ini mungkin salah satu tantangan terbesar ketika memulai kembali sebuah hubungan.

Ketika seseorang pernah menyakiti Anda, ingatan tentang kejadian tersebut tidak otomatis hilang hanya karena hubungan dimulai kembali.

Dalam konflik baru, Anda mungkin tergoda mengatakan:

"Kamu dulu juga melakukan hal yang sama."

atau:

"Aku sudah tahu kamu memang seperti ini."

Masalahnya, jika setiap konflik baru selalu dikaitkan dengan semua kesalahan masa lalu, hubungan akan sulit bergerak maju.

Masa lalu memang perlu dibicarakan ketika masih relevan.

Tetapi ada perbedaan antara memproses luka lama dan menggunakan luka lama untuk menghukum pasangan dalam setiap konflik.

Jika sebuah masalah sudah dibicarakan dan benar-benar diselesaikan, cobalah tidak menggunakannya sebagai senjata ketika muncul masalah baru.

Sebaliknya, jika luka lama ternyata belum pulih, jangan berpura-pura bahwa semuanya sudah baik-baik saja.

Katakan dengan jujur:

"Aku ingin mempercayaimu lagi, tetapi ada bagian dari diriku yang masih takut karena pengalaman kita sebelumnya."

Kalimat seperti ini lebih sehat daripada menyimpan ketakutan lalu meledak ketika konflik muncul.

Hubungan yang dimulai kembali membutuhkan dua hal sekaligus:

kejujuran tentang masa lalu dan keberanian untuk tidak terus hidup di dalamnya.

6. Pastikan Anda kembali karena ingin membangun, bukan karena takut kehilangan

Ini mungkin pertanyaan yang paling penting.

Mengapa Anda ingin kembali?

Karena Anda benar-benar melihat kemungkinan hubungan yang lebih sehat?

Atau karena Anda takut melihat mantan pasangan bersama orang lain?

Karena Anda merasa kesepian?

Karena Anda merindukan rutinitas lama?

Karena Anda takut tidak akan menemukan orang lain?

Atau karena Anda memang masih mencintainya dan melihat bahwa kalian berdua telah belajar sesuatu dari perpisahan tersebut?

Motivasi sangat penting.

Rasa rindu dapat membuat masa lalu terlihat lebih indah daripada kenyataannya.

Ketika seseorang pergi, kita sering kali mengingat momen-momen bahagia dan melupakan alasan mengapa hubungan tersebut tidak berjalan.

Karena itu, sebelum kembali bersama, cobalah melihat hubungan secara utuh.

Jangan hanya bertanya:

"Apakah aku masih mencintainya?"

Tanyakan juga:

"Apakah hubungan ini baik untuk kami berdua?"

"Apakah kami bisa menjadi diri sendiri dalam hubungan ini?"

"Apakah masalah utama kami memiliki kemungkinan untuk diperbaiki?"

"Apakah kami memiliki nilai dan tujuan yang cukup sejalan?"

"Apakah kami berdua bersedia melakukan perubahan, bukan hanya salah satu pihak?"

Cinta memang penting.

Tetapi cinta saja tidak selalu cukup untuk membuat hubungan bertahan.

Hubungan juga membutuhkan rasa aman, komunikasi, kepercayaan, batasan yang sehat, tanggung jawab emosional, dan kemauan untuk memperbaiki diri.

Memulai Kembali Tidak Harus Berarti Melupakan Semuanya

Ketika dua orang memutuskan untuk mencoba lagi, mereka tidak perlu berpura-pura bahwa masa lalu tidak pernah terjadi.

Justru pengalaman masa lalu dapat menjadi sumber pembelajaran.

Anda sudah mengetahui bagaimana pasangan menghadapi konflik.

Anda mungkin sudah mengetahui apa yang membuatnya merasa dicintai, apa yang membuatnya terluka, dan apa yang sebelumnya tidak berhasil dalam hubungan tersebut.

Gunakan pengetahuan itu untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik.

Namun perubahan harus datang dari kedua pihak.

Satu orang tidak bisa sendirian memperbaiki sebuah hubungan.

Jika hanya Anda yang berusaha berkomunikasi dengan lebih baik sementara pasangan tetap melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, hubungan tersebut mungkin belum benar-benar mendapatkan kesempatan kedua.

Kesempatan kedua yang sehat bukan hanya tentang:

"Kita masih saling mencintai."

Tetapi juga:

"Kita bersedia belajar mencintai dengan cara yang lebih sehat."

Itulah perbedaan antara mengulang hubungan lama dan membangun hubungan yang baru.

Tidak Semua Hubungan Harus Dimulai Kembali

Ada satu hal yang juga perlu diingat.

Memulai kembali sebuah hubungan bukan selalu keputusan yang tepat.

Jika hubungan sebelumnya melibatkan kekerasan, manipulasi, ancaman, kontrol yang ekstrem, atau pola perilaku yang membahayakan, cinta dan rasa rindu bukan alasan yang cukup untuk kembali.

Dalam situasi seperti itu, keselamatan dan kesehatan diri harus menjadi prioritas.

Bahkan dalam hubungan yang tidak melibatkan kekerasan sekalipun, Anda tidak wajib kembali hanya karena masih memiliki perasaan.

Terkadang dua orang masih saling menyayangi tetapi tetap tidak cocok untuk menjalani kehidupan bersama.

Dan itu tidak selalu berarti hubungan tersebut gagal.

Ada hubungan yang hadir untuk mengajarkan sesuatu, kemudian berakhir.

Ada pula hubungan yang memang membutuhkan jarak dan perubahan sebelum dapat dipertimbangkan kembali.

Yang terpenting adalah membuat keputusan dengan kesadaran, bukan hanya dengan nostalgia.

Pada Akhirnya, Kesempatan Kedua Adalah Tentang Perubahan

Jika Anda sedang mencoba memulai kembali sebuah hubungan, jangan terburu-buru mencari kepastian bahwa semuanya akan berhasil.

Tidak ada hubungan yang bisa dijamin akan bertahan.

Yang bisa dilakukan adalah melihat apakah ada fondasi yang lebih sehat untuk mencoba lagi.

Bicarakan alasan perpisahan.

Bangun kembali kepercayaan.

Perbaiki komunikasi.

Tetapkan batasan.

Amati konsistensi perubahan.

Dan yang paling penting, pastikan Anda berdua benar-benar ingin membangun sesuatu yang baru.

Karena hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa masalah.

Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana dua orang dapat menghadapi masalah tanpa terus-menerus menghancurkan satu sama lain.

Jadi, jika seseorang dari masa lalu kembali ke kehidupan Anda, jangan hanya bertanya:

"Apakah kita masih saling mencintai?"

Cobalah bertanya lebih jauh:

"Apa yang sudah berubah sejak terakhir kali kita bersama?"

Jika jawabannya hanya perasaan, mungkin Anda sedang menghidupkan kembali kenangan.

Tetapi jika jawabannya adalah pemahaman, kedewasaan, komunikasi yang lebih baik, batasan yang lebih sehat, dan usaha dari kedua pihak, mungkin kali ini Anda tidak sedang kembali ke hubungan yang lama.

Anda sedang mencoba membangun hubungan yang benar-benar baru dengan orang yang sama.***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore