seseorang yang membuat keributan dengan pasangan. (Magnific)
JawaPos.com - Dalam sebuah hubungan, pertengkaran sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk.
Dua orang yang saling mencintai tetap bisa memiliki pendapat berbeda, merasa kecewa, salah memahami ucapan, atau mengalami hari yang buruk. Perbedaan adalah bagian alami dari hubungan. Bahkan, pasangan yang terlihat selalu akur pun bukan berarti tidak pernah mengalami konflik.
Yang sering menjadi masalah bukanlah adanya pertengkaran, melainkan bagaimana seseorang berbicara ketika sedang marah.
Saat emosi memuncak, seseorang terkadang mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia katakan. Kalimat itu mungkin hanya keluar dalam hitungan detik, tetapi dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama. Pasangan mungkin memaafkannya, tetapi belum tentu langsung melupakan perasaan yang muncul setelah mendengarnya.
Dalam psikologi hubungan, cara seseorang berkomunikasi saat konflik sangat penting. Kritik yang menyerang pribadi, penghinaan, sikap meremehkan, atau ancaman untuk meninggalkan hubungan dapat membuat konflik menjadi jauh lebih sulit diselesaikan.
Karena itu, jika Anda tidak ingin pertengkaran kecil berubah menjadi masalah besar, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak Anda lontarkan kepada pasangan—bahkan ketika Anda sedang sangat kesal.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (9/8), terdapat enam di antaranya.
1. "Kamu memang selalu seperti itu."
Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sering kali menjadi bahan bakar bagi pertengkaran.
Perhatikan kata "selalu".
Ketika Anda mengatakan, "Kamu selalu seperti itu," Anda tidak lagi membicarakan satu masalah yang sedang terjadi. Anda seolah-olah sedang memberikan label terhadap seluruh kepribadian pasangan.
Misalnya, pasangan terlambat datang dan Anda merasa kecewa. Masalah sebenarnya adalah keterlambatan tersebut.
Namun ketika Anda mengatakan:
"Kamu memang selalu seperti itu. Tidak pernah bisa menghargai waktu."
Pembicaraan langsung berubah.
Pasangan mungkin tidak lagi fokus pada masalah keterlambatan. Ia justru merasa sedang diserang sebagai pribadi. Akibatnya, respons yang muncul bisa berupa pembelaan diri:
"Aku tidak selalu begitu."
"Kamu juga sering terlambat."
"Kenapa semua kesalahan selalu dianggap salahku?"
Akhirnya, masalah awal justru semakin jauh dari penyelesaian.
Dalam komunikasi yang sehat, jauh lebih baik membicarakan perilaku tertentu daripada memberikan label terhadap seseorang.
Daripada mengatakan:
"Kamu memang selalu seperti itu."
Anda bisa mengatakan:
"Aku kecewa karena tadi kamu datang terlambat dan tidak memberi kabar. Aku ingin ke depannya kita saling memberi tahu kalau ada perubahan rencana."
Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.
Kalimat pertama menyerang identitas seseorang.
Kalimat kedua membahas masalah yang bisa diperbaiki.
Jangan mengubah satu kesalahan menjadi vonis terhadap seluruh kepribadian pasangan.
2. "Terserah kamu."
Banyak orang menggunakan kalimat ini ketika sedang kecewa.
"Terserah."
"Ya sudah, terserah kamu."
"Lakukan saja sesukamu."
Sekilas, kalimat tersebut terdengar seperti bentuk mengalah. Padahal, dalam banyak situasi, "terserah" justru bukan berarti benar-benar tidak peduli.
Sering kali, kalimat itu mengandung pesan tersembunyi:
"Aku sebenarnya kecewa, tetapi aku tidak ingin menjelaskan lagi."
Masalahnya, pasangan belum tentu mampu membaca maksud tersebut.
Ia mungkin menganggap Anda memang tidak keberatan. Atau sebaliknya, ia justru merasa sedang dihukum dengan sikap diam dan dingin.
Inilah mengapa komunikasi tidak langsung dapat memperumit konflik.
Jika Anda merasa kecewa, lebih sehat untuk mengatakannya secara jelas.
Misalnya:
"Aku sebenarnya tidak setuju dengan keputusan itu, tetapi aku ingin kita membicarakannya dulu sebelum memutuskan."
Atau:
"Aku sedang kecewa dan butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri. Setelah itu aku ingin membicarakannya denganmu."
Kalimat seperti ini jauh lebih jelas daripada sekadar mengatakan "terserah".
Dalam hubungan, pasangan bukan pembaca pikiran.
Jika Anda mengharapkan pasangan memahami perasaan Anda, berikan informasi yang cukup agar ia bisa memahaminya.
Diam sejenak untuk menenangkan diri berbeda dengan menggunakan diam sebagai hukuman.
3. "Kamu sama sekali tidak pernah mengerti aku."
Ketika sedang merasa tidak dipahami, wajar jika seseorang ingin mengatakan hal tersebut.
Namun kata-kata seperti "sama sekali", "tidak pernah", atau "selalu" dapat membuat percakapan menjadi lebih defensif.
Bayangkan pasangan Anda mendengar:
"Kamu sama sekali tidak pernah mengerti aku."
Yang mungkin ia dengar bukan:
"Aku sedang membutuhkan pengertian darimu."
Melainkan:
"Apa pun yang selama ini aku lakukan tidak ada artinya."
Akibatnya, ia mungkin mulai menghitung semua hal yang pernah dilakukan untuk Anda.
"Aku sudah melakukan ini untukmu."
"Aku sudah menemanimu selama ini."
"Kapan aku tidak mengerti kamu?"
Konflik pun berubah menjadi perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling benar.
Padahal, mungkin kebutuhan Anda sebenarnya sangat sederhana: ingin didengarkan.
Karena itu, ubahlah kalimat yang bersifat menyeluruh menjadi kalimat yang menjelaskan kebutuhan.
Misalnya:
"Saat aku cerita tadi, aku merasa belum didengarkan. Aku sebenarnya tidak membutuhkan solusi dulu. Aku hanya ingin kamu mendengarkan dan memahami perasaanku."
Kalimat tersebut memberikan pasangan sesuatu yang bisa dilakukan.
Bukan sekadar memberitahunya bahwa ia gagal menjadi pasangan.
Dalam hubungan yang sehat, mengungkapkan kebutuhan jauh lebih efektif daripada menyerang kemampuan pasangan untuk memahami Anda.
4. "Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu pasti akan..."
Ini salah satu kalimat yang perlu diwaspadai.
Bukan karena seseorang tidak boleh mengharapkan sesuatu dari pasangannya, tetapi karena cinta tidak seharusnya digunakan sebagai alat untuk memaksa.
Kalimat seperti:
"Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu pasti akan menuruti aku."
"Kalau kamu sayang, kamu seharusnya tahu apa yang aku mau."
"Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak mungkin menolak."
dapat membuat pasangan merasa bahwa cinta mereka sedang diuji.
Padahal, dua orang yang saling mencintai tetap memiliki batas, kebutuhan, pendapat, dan pilihan masing-masing.
Seseorang bisa mencintai pasangannya sekaligus mengatakan tidak.
Seseorang bisa mencintai pasangannya tetapi membutuhkan waktu sendiri.
Seseorang bisa mencintai pasangannya tanpa selalu menyetujui semua keinginannya.
Karena itu, daripada menguji cinta pasangan melalui tuntutan, sampaikan kebutuhan secara langsung.
Misalnya:
"Aku akan merasa lebih dihargai kalau kamu memberi kabar ketika sedang sibuk."
Atau:
"Aku ingin kita meluangkan waktu berdua setidaknya satu kali dalam seminggu."
Dengan begitu, pasangan tidak perlu membuktikan cintanya melalui tekanan emosional. Ia memahami apa yang Anda butuhkan dan bisa mempertimbangkannya secara sadar.
Cinta seharusnya menjadi dasar untuk berkomunikasi, bukan senjata untuk memenangkan perdebatan.
5. "Kalau begitu, kita putus saja."
Ada pasangan yang mengatakan ini setiap kali bertengkar.
Awalnya mungkin hanya dianggap sebagai luapan emosi.
Namun jika ancaman putus terus-menerus digunakan dalam konflik, hubungan bisa kehilangan rasa aman.
Pasangan akhirnya tidak lagi hanya memikirkan masalah yang sedang dibicarakan. Ia mulai berpikir:
"Apakah hubungan ini benar-benar aman?"
"Apakah setiap pertengkaran berarti hubungan kami akan berakhir?"
"Apakah dia sungguh ingin bersamaku?"
Ancaman untuk mengakhiri hubungan juga dapat membuat percakapan menjadi tidak produktif. Alih-alih menyelesaikan masalah, kedua orang justru sibuk mempertahankan hubungan atau mempertanyakan masa depannya.
Tentu ada situasi ketika seseorang memang sudah mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan. Jika demikian, pembicaraan tersebut sebaiknya dilakukan dengan serius dan tenang, bukan dijadikan senjata setiap kali terjadi konflik.
Jika sebenarnya Anda hanya sedang marah, katakan bahwa Anda membutuhkan jeda.
Contohnya:
"Aku sedang terlalu emosi untuk melanjutkan pembicaraan ini. Aku takut mengatakan sesuatu yang akan aku sesali. Kita berhenti dulu dan membicarakannya lagi setelah aku lebih tenang."
Kalimat tersebut bukan berarti menghindari masalah.
Justru Anda sedang berusaha mencegah masalah menjadi lebih besar.
Jangan menggunakan perpisahan sebagai ancaman jika sebenarnya Anda tidak ingin hubungan itu berakhir.
6. "Aku menyesal pernah bersamamu."
Dari semua kalimat dalam daftar ini, mungkin inilah salah satu yang paling menyakitkan.
Sebab ketika seseorang mengatakan:
"Aku menyesal pernah bersamamu."
yang diserang bukan lagi perilaku tertentu.
Yang dipertanyakan adalah keberadaan hubungan itu sendiri.
Tentu seseorang bisa merasa sangat kecewa kepada pasangannya. Bahkan dalam hubungan yang tidak sehat, seseorang mungkin memang akhirnya menyadari bahwa hubungan tersebut bukan pilihan yang tepat.
Tetapi jika kalimat seperti ini hanya keluar karena emosi sesaat, dampaknya dapat sangat besar.
Pasangan mungkin akan mengingatnya bahkan setelah pertengkaran selesai.
Anda mungkin berpikir:
"Aku kan cuma sedang marah."
Tetapi orang lain tidak selalu bisa mengetahui bahwa kalimat tersebut tidak sungguh-sungguh Anda maksudkan.
Karena itu, ketika sedang sangat marah, berhati-hatilah dengan kalimat yang menyerang nilai diri atau keberadaan pasangan.
Jika yang membuat Anda kecewa adalah tindakan tertentu, bicarakan tindakan tersebut.
Misalnya:
"Aku sangat terluka dengan apa yang kamu lakukan tadi. Aku butuh kamu memahami kenapa hal itu begitu menyakitiku."
Bukan:
"Aku menyesal pernah bertemu denganmu."
Keduanya sama-sama menunjukkan kemarahan.
Tetapi hanya satu yang masih membuka pintu untuk penyelesaian.
Mengapa Kalimat-Kalimat Seperti Ini Bisa Memperbesar Konflik?
Masalah utama dalam pertengkaran pasangan sering kali bukan sekadar isi pembicaraan.
Cara pesan tersebut disampaikan juga sangat menentukan.
Ketika seseorang merasa diserang, ia cenderung lebih fokus melindungi dirinya daripada memahami lawan bicara.
Itulah sebabnya pertengkaran bisa berkembang menjadi pola yang berulang.
Satu orang menyerang.
Yang lain membela diri.
Kemudian ia membalas.
Pasangannya kembali menyerang.
Akhirnya, keduanya lupa apa masalah awalnya.
Contohnya:
"Kamu tidak pernah menghargai aku."
dibalas:
"Aku tidak menghargai kamu? Aku sudah melakukan banyak hal untukmu!"
Lalu:
"Memang! Kamu selalu merasa paling benar."
Kemudian:
"Kamu juga sama saja!"
Dan dalam beberapa menit, pertengkaran sudah membahas lima tahun hubungan sekaligus.
Padahal, masalah awal mungkin hanya karena satu pesan yang tidak dibalas.
Inilah mengapa pasangan perlu belajar membedakan antara membahas masalah dan menyerang orangnya.
Bukan Berarti Anda Harus Memendam Semuanya
Menghindari kalimat yang menyakitkan bukan berarti Anda harus selalu diam.
Ini bagian yang sangat penting.
Hubungan yang sehat bukan hubungan di mana seseorang tidak pernah mengeluh, tidak pernah marah, atau selalu mengatakan hal-hal manis.
Anda tetap berhak kecewa.
Anda berhak marah.
Anda berhak mengatakan bahwa sesuatu membuat Anda terluka.
Anda juga berhak menetapkan batas.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana Anda menyampaikannya.
Daripada:
"Kamu egois banget."
cobalah:
"Aku merasa kebutuhanku tidak dipertimbangkan dalam keputusan tadi."
Daripada:
"Kamu tidak pernah peduli."
cobalah:
"Aku merasa kurang diperhatikan ketika aku sedang bercerita dan kamu sibuk dengan ponsel."
Daripada:
"Kamu memang tidak bisa dipercaya."
cobalah:
"Aku kehilangan rasa percaya ketika janji itu tidak ditepati. Aku ingin kita membicarakan bagaimana supaya hal seperti ini tidak terulang."
Perhatikan perbedaannya.
Pesannya tetap tegas.
Kekecewaannya tetap disampaikan.
Tetapi Anda tidak sedang merendahkan pasangan.
Gunakan Prinsip "Masalahnya, Bukan Orangnya"
Salah satu kebiasaan komunikasi yang dapat membantu pasangan menghadapi konflik adalah memisahkan perilaku dari identitas seseorang.
Pasangan melakukan kesalahan bukan berarti ia adalah orang yang sepenuhnya buruk.
Pasangan lupa sesuatu bukan berarti ia tidak peduli.
Pasangan berbeda pendapat bukan berarti ia musuh Anda.
Dan satu konflik tidak otomatis menentukan kualitas seluruh hubungan.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri sebelum berbicara:
"Apa sebenarnya yang ingin aku ubah dari situasi ini?"
Jika jawabannya adalah:
"Aku ingin dia lebih menghargai waktuku."
Maka bicarakan soal waktu.
Jika jawabannya:
"Aku ingin dia lebih mendengarkan."
Maka bicarakan soal mendengarkan.
Jika jawabannya:
"Aku ingin dia memberi kabar ketika ada perubahan rencana."
Maka bicarakan soal komunikasi.
Jangan mengubah kebutuhan tersebut menjadi serangan terhadap karakter pasangan.
Karena ketika Anda menyerang karakter, kemungkinan besar pasangan akan sibuk membela karakter tersebut.
Sementara kebutuhan Anda justru tidak pernah dibahas.
Jika Sedang Terlalu Marah, Lebih Baik Berhenti Sebentar
Tidak semua konflik harus diselesaikan saat itu juga.
Kadang-kadang, keputusan paling dewasa dalam sebuah pertengkaran adalah mengatakan:
"Aku ingin membicarakan ini, tetapi sekarang emosiku terlalu tinggi. Aku butuh waktu sebentar untuk tenang. Nanti kita lanjutkan."
Jeda bukan berarti mengabaikan masalah.
Jeda juga bukan berarti menghukum pasangan dengan silent treatment.
Jeda yang sehat memiliki tujuan: menurunkan intensitas emosi agar pembicaraan berikutnya menjadi lebih rasional dan konstruktif.
Yang penting, jika Anda meminta jeda, jangan biarkan pasangan menggantung tanpa kepastian.
Anda bisa mengatakan:
"Aku butuh waktu sekitar satu jam untuk menenangkan diri. Setelah itu kita bicarakan lagi."
Dengan begitu, pasangan tahu bahwa masalah tersebut tidak sedang dihindari.
Anda hanya sedang memilih waktu yang lebih baik untuk membahasnya.
Pada Akhirnya, Pasangan Bukan Lawan yang Harus Dikalahkan
Dalam sebuah hubungan, ada pertengkaran yang dimenangkan tetapi hubungan justru kalah.
Anda mungkin berhasil membuktikan bahwa Anda benar.
Anda mungkin berhasil membuat pasangan meminta maaf.
Anda mungkin bahkan berhasil membuat pasangan diam.
Tetapi jika setelah itu pasangan merasa dipermalukan, tidak dihargai, atau tidak aman untuk berbicara dengan Anda, kemenangan tersebut sebenarnya tidak banyak berarti.
Tujuan komunikasi dalam hubungan bukan selalu untuk menentukan siapa yang benar.
Terkadang tujuannya adalah memahami apa yang terjadi, menyampaikan kebutuhan, memperbaiki kesalahan, dan menemukan cara agar masalah yang sama tidak terus berulang.
Karena itu, sebelum mengucapkan sesuatu ketika sedang marah, cobalah berhenti beberapa detik dan bertanya:
"Apakah kalimat ini akan membantu menyelesaikan masalah, atau hanya membuat pasangan semakin terluka?"
Jika jawabannya adalah yang kedua, mungkin kalimat tersebut tidak perlu diucapkan.
Enam kalimat tadi bukan berarti harus menjadi "kata-kata terlarang" dalam setiap situasi. Konteks hubungan tetap penting. Ada hubungan yang memang membutuhkan percakapan serius, termasuk membicarakan kemungkinan berpisah jika hubungan sudah tidak sehat.
Namun satu prinsip tetap berlaku:
Jangan menggunakan kata-kata yang menghancurkan rasa aman hanya karena Anda sedang marah.
Kemampuan menahan satu kalimat yang menyakitkan terkadang jauh lebih berharga daripada kemampuan memenangkan satu perdebatan.
Sebab pada akhirnya, pasangan bukanlah orang yang harus Anda kalahkan.
Ia adalah orang yang, jika hubungan tersebut masih ingin dipertahankan, seharusnya Anda ajak mencari jalan keluar bersama.***