Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Agustus 2026 | 05.30 WIB

Menurut Psikologi, 7 Kebiasaan Harian Ini Membantu Menjaga Otak Tetap Tajam Seiring Bertambah Usia

seseorang yang otaknya tetap tajam di usia tua. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Banyak orang mengira bahwa penurunan kemampuan berpikir adalah bagian yang tidak bisa dihindari dari proses penuaan. Memang benar bahwa seiring bertambahnya usia, otak mengalami berbagai perubahan alami. Namun, penelitian psikologi dan ilmu saraf menunjukkan bahwa gaya hidup sehari-hari memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan otak.


Kabar baiknya, menjaga ketajaman otak tidak harus dimulai ketika usia sudah lanjut. Justru, kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten sejak sekarang dapat membantu mempertahankan daya ingat, konsentrasi, kemampuan mengambil keputusan, hingga kestabilan emosi di masa tua.

Konsep ini dikenal sebagai brain reserve dan cognitive reserve, yaitu kemampuan otak membangun "cadangan" yang membuatnya lebih tahan terhadap penurunan fungsi akibat penuaan. Psikolog menekankan bahwa kebiasaan sehari-hari berperan besar dalam membentuk cadangan tersebut.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (7/8), jika Anda ingin menua dengan pikiran yang tetap tajam, berikut tujuh kebiasaan yang layak diterapkan setiap hari.

1. Terus Belajar Hal Baru

Otak bekerja seperti otot. Semakin sering digunakan untuk menghadapi tantangan baru, semakin kuat pula koneksi antar sel saraf yang terbentuk.

Psikologi kognitif menjelaskan bahwa mempelajari keterampilan baru dapat meningkatkan neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak membentuk jalur-jalur saraf baru sepanjang hidup.

Belajar tidak selalu berarti kembali ke bangku sekolah. Anda bisa mencoba:

Mempelajari bahasa asing.
Bermain alat musik.
Memasak resep baru.
Membaca buku dengan topik berbeda.
Mengikuti kursus daring.

Yang terpenting bukan seberapa sulit materi yang dipelajari, melainkan seberapa sering otak diajak keluar dari rutinitasnya.

2. Bergerak Aktif Setiap Hari

Aktivitas fisik bukan hanya baik untuk jantung, tetapi juga sangat bermanfaat bagi otak.

Berjalan kaki selama 30 menit, bersepeda, berenang, atau melakukan olahraga ringan terbukti membantu meningkatkan aliran darah menuju otak. Hal ini membuat sel-sel otak mendapatkan pasokan oksigen dan nutrisi yang lebih optimal.

Dalam perspektif psikologi kesehatan, olahraga juga membantu menurunkan hormon stres seperti kortisol sekaligus meningkatkan produksi endorfin yang berperan dalam menjaga suasana hati dan fungsi kognitif.

Tidak harus berolahraga berat. Konsistensi jauh lebih penting dibandingkan intensitas yang berlebihan.

3. Tidur yang Berkualitas

Banyak orang menganggap tidur hanya sebagai waktu untuk beristirahat. Padahal, saat tidur otak sedang bekerja membersihkan limbah metabolik, memperkuat memori, dan memproses informasi yang diperoleh sepanjang hari.

Kurang tidur dalam jangka panjang dapat mengganggu perhatian, kemampuan belajar, serta daya ingat.

Psikolog menyarankan orang dewasa untuk memperoleh tidur berkualitas sekitar 7–9 jam setiap malam.

Beberapa cara meningkatkan kualitas tidur antara lain:

Mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur.
Tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari.
Menghindari konsumsi kafein pada malam hari.
Menciptakan suasana kamar yang nyaman dan gelap.
4. Menjaga Hubungan Sosial

Manusia adalah makhluk sosial. Berinteraksi dengan orang lain ternyata juga menjadi latihan yang sangat baik bagi otak.

Saat berbicara, mendengarkan, memahami ekspresi lawan bicara, hingga mengelola emosi, otak mengaktifkan banyak area sekaligus.

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa orang yang memiliki hubungan sosial yang sehat cenderung memiliki risiko lebih rendah mengalami penurunan fungsi kognitif dibandingkan mereka yang hidup dalam kesepian berkepanjangan.

Tidak perlu memiliki ratusan teman. Yang lebih penting adalah kualitas hubungan dengan keluarga, sahabat, atau komunitas yang memberikan dukungan positif.

5. Melatih Kesadaran Penuh atau Mindfulness

Mindfulness adalah kemampuan memusatkan perhatian pada momen saat ini tanpa menghakimi pengalaman yang sedang dirasakan.

Berbagai penelitian psikologi menemukan bahwa latihan mindfulness secara rutin dapat membantu meningkatkan konsentrasi, mengurangi stres, dan memperbaiki regulasi emosi.

Anda bisa memulainya dengan:

Meditasi selama 10–15 menit.
Fokus pada napas.
Berjalan santai sambil memperhatikan lingkungan sekitar.
Mengurangi kebiasaan melakukan banyak hal sekaligus (multitasking).

Semakin tenang pikiran, semakin efisien pula otak memproses informasi.

6. Mengonsumsi Makanan yang Mendukung Kesehatan Otak

Apa yang kita makan juga memengaruhi cara otak bekerja.

Pola makan yang kaya buah-buahan, sayuran hijau, ikan berlemak, kacang-kacangan, serta biji-bijian dikaitkan dengan fungsi kognitif yang lebih baik.

Sebaliknya, konsumsi gula berlebihan, makanan ultra-proses, dan lemak trans dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme yang berdampak pada kesehatan otak.

Psikologi perilaku juga menunjukkan bahwa kebiasaan makan sehat sering kali berjalan beriringan dengan gaya hidup sehat lainnya sehingga memberikan manfaat yang saling memperkuat.

7. Menjaga Pikiran Tetap Positif dan Mengelola Stres

Stres sesekali adalah hal yang normal. Namun, stres kronis dapat memengaruhi area otak yang berhubungan dengan pembelajaran dan memori.

Psikolog menekankan pentingnya memiliki strategi menghadapi tekanan hidup, seperti:

Menulis jurnal.
Berlatih rasa syukur.
Berbicara dengan orang yang dipercaya.
Mengatur waktu istirahat.
Menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan.

Sikap optimistis bukan berarti mengabaikan masalah, melainkan mampu melihat tantangan dengan cara yang lebih sehat dan realistis.

Kemampuan mengelola stres inilah yang membantu menjaga kesehatan mental sekaligus mempertahankan fungsi otak dalam jangka panjang.

Ketajaman Otak Dibangun dari Kebiasaan Kecil

Tidak ada pil ajaib yang bisa membuat otak tetap tajam selamanya. Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari memiliki dampak luar biasa terhadap kesehatan otak di masa depan.

Belajar hal baru, rutin bergerak, tidur cukup, menjaga hubungan sosial, melatih mindfulness, mengonsumsi makanan bergizi, dan mengelola stres merupakan investasi jangka panjang yang nilainya jauh lebih besar daripada yang sering kita sadari.

Semakin dini kebiasaan-kebiasaan tersebut diterapkan, semakin besar peluang untuk menikmati usia tua dengan daya ingat yang baik, kemampuan berpikir yang tetap tajam, serta kualitas hidup yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, proses menua memang tidak bisa dihentikan. Namun, bagaimana kualitas otak kita saat menua sebagian besar ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil yang kita lakukan setiap hari.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore