Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 Agustus 2026 | 23.11 WIB

7 Alasan Mengapa Seseorang Suka Menaiki Roller Coaster dan Menonton Film Horor Menurut Psikologi

seseorang yang suka menaiki roller coaster. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Banyak orang merasa heran ketika melihat seseorang rela mengantre berjam-jam hanya untuk menaiki roller coaster dengan kecepatan tinggi, atau sengaja memilih menonton film horor yang membuat jantung berdebar dan sulit tidur. Bukankah manusia secara alami menghindari rasa takut?


Menariknya, psikologi menjelaskan bahwa rasa takut tidak selalu dipersepsikan sebagai sesuatu yang negatif. Dalam situasi tertentu, rasa takut justru dapat berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan. Selama seseorang mengetahui bahwa dirinya berada dalam kondisi yang aman, otak dapat mengubah respons ancaman menjadi sensasi yang memicu kesenangan.

Inilah sebabnya wahana ekstrem dan film horor memiliki jutaan penggemar di seluruh dunia.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (7/8), terdapat tujuh alasan psikologis yang menjelaskan mengapa banyak orang menikmati pengalaman yang menegangkan tersebut.

1. Adrenalin Memberikan Sensasi Menyenangkan

Ketika seseorang menaiki roller coaster atau menyaksikan adegan menyeramkan dalam film horor, tubuh menganggap situasi tersebut sebagai ancaman sementara. Otak kemudian mengaktifkan sistem "fight or flight" (lawan atau lari).

Akibatnya, tubuh melepaskan beberapa hormon, seperti:

Adrenalin
Noradrenalin
Kortisol (dalam jumlah tertentu)

Hormon-hormon tersebut menyebabkan:

Detak jantung meningkat.
Napas menjadi lebih cepat.
Pupil mata melebar.
Tubuh menjadi lebih waspada.

Menariknya, ketika pengalaman tersebut berakhir tanpa bahaya nyata, otak memberikan "hadiah" berupa rasa lega dan senang. Kombinasi adrenalin dan perasaan berhasil melewati situasi menegangkan menciptakan sensasi euforia yang membuat seseorang ingin mengulanginya.

2. Otak Menikmati Tantangan yang Aman

Psikolog menyebut fenomena ini sebagai safe fear atau rasa takut yang aman.

Saat menonton film horor atau menaiki roller coaster, otak mengetahui bahwa ancaman tersebut sebenarnya tidak nyata.

Misalnya:

Monster di layar hanyalah efek visual.
Roller coaster telah dirancang dengan standar keselamatan tertentu.
Penonton dapat keluar dari bioskop kapan saja.

Karena adanya rasa aman tersebut, seseorang dapat menikmati sensasi takut tanpa menghadapi risiko yang sesungguhnya.

Dalam psikologi, pengalaman ini sering dianggap sebagai bentuk simulasi bahaya yang memungkinkan manusia "berlatih" menghadapi ancaman tanpa benar-benar berada dalam situasi berbahaya.

3. Pelepasan Dopamin Membuat Ketagihan

Setelah pengalaman menegangkan berakhir, otak melepaskan dopamin.

Dopamin merupakan neurotransmiter yang berkaitan dengan:

Motivasi
Penghargaan
Kepuasan
Kesenangan

Semakin besar ketegangan yang dialami, semakin kuat pula rasa lega ketika semuanya selesai.

Fenomena ini sering disebut sebagai excitation transfer, yaitu ketika energi emosional akibat rasa takut berubah menjadi perasaan senang setelah ancaman berlalu.

Karena otak mengingat sensasi menyenangkan tersebut, seseorang terdorong untuk mengulang pengalaman yang sama.

4. Sebagian Orang Memiliki Kepribadian Pencari Sensasi (Sensation Seeking)

Psikolog Marvin Zuckerman memperkenalkan konsep sensation seeking, yaitu kecenderungan seseorang untuk mencari pengalaman baru, intens, dan menantang.

Orang dengan tingkat sensation seeking yang tinggi biasanya:

Menyukai olahraga ekstrem.
Gemar bepergian ke tempat baru.
Menikmati permainan yang memacu adrenalin.
Tidak mudah merasa takut.
Mudah bosan dengan aktivitas yang monoton.

Bagi individu seperti ini, roller coaster dan film horor memberikan tingkat stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sebaliknya, orang dengan sensation seeking rendah cenderung lebih memilih aktivitas yang tenang karena rangsangan ekstrem terasa tidak nyaman.

5. Menghadapi Ketakutan Dapat Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Setelah berhasil melewati pengalaman yang menegangkan, seseorang sering merasa bangga terhadap dirinya sendiri.

Misalnya:

"Ternyata aku berani naik roller coaster tertinggi."

atau

"Aku berhasil menonton film horor sampai selesai."

Keberhasilan kecil seperti ini meningkatkan self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa seseorang mampu menghadapi tantangan.

Semakin sering seseorang berhasil mengatasi rasa takut dalam lingkungan yang aman, semakin besar pula rasa percaya dirinya ketika menghadapi tantangan lain dalam kehidupan sehari-hari.

6. Pengalaman Menegangkan Dapat Mempererat Hubungan Sosial

Rasa takut merupakan emosi yang kuat.

Ketika dialami bersama teman, pasangan, atau keluarga, pengalaman tersebut dapat mempererat hubungan.

Mengapa demikian?

Karena setelah mengalami ketegangan bersama, orang cenderung:

Tertawa bersama.
Berdiskusi mengenai pengalaman tersebut.
Saling menghibur.
Merasa memiliki kenangan yang sama.

Dalam psikologi sosial, pengalaman emosional yang intens sering kali meningkatkan rasa kebersamaan dan kedekatan antarindividu.

Inilah alasan mengapa banyak pasangan memilih menonton film horor sebagai kegiatan berkencan atau teman-teman mengunjungi taman hiburan bersama.

7. Rasa Takut Menjadi Sarana Pelepasan Emosi (Catharsis)

Kehidupan sehari-hari dipenuhi tekanan pekerjaan, tugas, maupun berbagai tanggung jawab.

Film horor dan wahana ekstrem dapat menjadi media pelepasan emosi atau catharsis.

Selama beberapa menit, perhatian seseorang sepenuhnya terfokus pada pengalaman yang sedang dialami.

Akibatnya:

Pikiran mengenai pekerjaan berkurang.
Beban mental sementara terlupakan.
Emosi yang terpendam dapat tersalurkan.

Setelah pengalaman selesai, banyak orang justru merasa lebih rileks dibandingkan sebelumnya.

Mengapa Tidak Semua Orang Menyukainya?

Meskipun banyak orang menikmati pengalaman menegangkan, tidak semua individu merasakan hal yang sama.

Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

Kepribadian.
Pengalaman masa lalu.
Tingkat kecemasan.
Sensitivitas terhadap rangsangan.
Kondisi psikologis.
Faktor biologis dan genetik.

Seseorang yang memiliki tingkat kecemasan tinggi mungkin menganggap film horor sebagai pengalaman yang terlalu mengganggu. Sebaliknya, individu dengan kebutuhan stimulasi tinggi justru merasa aktivitas tersebut sangat menyenangkan.

Dengan kata lain, tidak ada respons yang benar atau salah. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari variasi alami dalam karakter manusia.

Kesimpulan

Dari sudut pandang psikologi, kesenangan terhadap roller coaster maupun film horor bukan berarti seseorang menyukai bahaya. Yang dinikmati adalah kombinasi antara rasa takut, sensasi adrenalin, dan keyakinan bahwa situasi tersebut sebenarnya aman.

Terdapat tujuh alasan utama mengapa banyak orang menyukai pengalaman tersebut, yaitu:

Adrenalin menciptakan sensasi yang memacu semangat.
Otak menikmati rasa takut dalam lingkungan yang aman.
Dopamin memberikan rasa puas setelah ketegangan berakhir.
Kepribadian pencari sensasi membuat seseorang menyukai pengalaman ekstrem.
Mengatasi ketakutan meningkatkan rasa percaya diri.
Pengalaman emosional mempererat hubungan sosial.
Ketegangan menjadi sarana pelepasan emosi atau catharsis.

Pada akhirnya, roller coaster dan film horor menunjukkan bahwa emosi manusia sangat kompleks. Rasa takut tidak selalu harus dihindari. Dalam kondisi yang terkendali, emosi tersebut justru dapat menjadi sumber hiburan, pembelajaran, dan kepuasan psikologis yang membuat seseorang ingin mengalaminya kembali.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore