Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Agustus 2026 | 04.43 WIB

8 Alasan Mengapa dalam Suatu Keluarga Ada Seseorang yang Selalu Disalahkan Meski Bukan Perbuatannya

seseorang yang selalu disalahkan oleh keluarga. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa bahwa dalam keluarga, ada satu orang yang seolah-olah selalu menjadi pihak yang paling mudah disalahkan?


Ketika terjadi masalah, namanya disebut. Ketika suasana rumah menjadi buruk, dia dianggap sebagai penyebabnya. Ketika ada kesalahan yang dilakukan orang lain, entah bagaimana kesalahan itu bisa berakhir menjadi tanggung jawabnya.

Lebih membingungkan lagi, terkadang orang tersebut sebenarnya tidak melakukan apa-apa.

Dia hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Atau mungkin karena sejak dulu keluarga sudah terbiasa melihatnya sebagai "biang masalah". Akibatnya, apa pun yang terjadi seolah-olah selalu mempunyai hubungan dengannya.

Dalam psikologi keluarga, pola seperti ini dapat dipahami melalui berbagai konsep tentang peran dalam keluarga, proyeksi, kambing hitam (scapegoating), atribusi kesalahan, dan pola komunikasi yang tidak sehat.

Tentu, tidak berarti setiap keluarga yang mengalami konflik sedang mengalami gangguan psikologis. Namun, jika pola menyalahkan satu orang berlangsung terus-menerus, terutama tanpa mempertimbangkan fakta dan konteks, hal tersebut dapat menjadi dinamika keluarga yang tidak sehat.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (9/8), terdapat delapan alasan mengapa seseorang bisa terus-menerus disalahkan dalam keluarganya, bahkan ketika ia bukan pelakunya.

1. Ia Telah Dijadikan "Kambing Hitam" Keluarga

Salah satu kemungkinan terbesar adalah terbentuknya peran sebagai kambing hitam keluarga.

Kambing hitam adalah seseorang yang secara berulang dijadikan sasaran untuk menanggung kesalahan, kemarahan, frustrasi, atau masalah yang sebenarnya jauh lebih kompleks.

Misalnya, sebuah keluarga sedang mengalami masalah ekonomi. Alih-alih membicarakan penyebab sebenarnya secara terbuka, orang tua justru mengatakan:

"Semuanya gara-gara kamu."

Padahal persoalan keuangan tersebut mungkin disebabkan oleh banyak faktor: keputusan finansial, kehilangan pekerjaan, utang, kondisi ekonomi, atau keputusan anggota keluarga lainnya.

Namun, daripada menghadapi masalah yang kompleks, keluarga menemukan satu orang yang mudah dijadikan sasaran.

Mengapa bisa demikian?

Karena menyalahkan satu orang sering terasa lebih mudah daripada mengakui bahwa seluruh sistem keluarga memiliki masalah.

Jika seseorang sudah lama mendapatkan label seperti "anak pembuat masalah", "anak keras kepala", "yang paling egois", atau "selalu merepotkan", maka ketika masalah baru muncul, keluarga mungkin secara otomatis menghubungkan masalah tersebut kepadanya.

Lama-kelamaan, orang tersebut bukan lagi dinilai berdasarkan perilakunya saat ini, tetapi berdasarkan reputasi yang sudah terbentuk di dalam keluarga.

Akibatnya, fakta menjadi kurang penting.

Yang lebih kuat justru adalah persepsi:

"Dia memang dari dulu seperti itu."

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang bisa disalahkan meskipun bukti menunjukkan bahwa dia tidak melakukan kesalahan.

2. Keluarga Sudah Terbiasa Memberinya Label Tertentu

Manusia cenderung menggunakan pola berpikir yang sederhana untuk memahami orang lain.

Jika seseorang sudah diberi label tertentu, perilaku berikutnya sering ditafsirkan berdasarkan label tersebut.

Dalam keluarga, label ini bisa terbentuk sejak masa kanak-kanak.

Misalnya:

Anak pertama dianggap paling bertanggung jawab.
Anak kedua dianggap paling sulit diatur.
Anak ketiga dianggap paling sensitif.
Salah satu anak dianggap paling malas.
Satu anggota keluarga dianggap paling egois.
Ada yang selalu dianggap sebagai sumber konflik.

Masalahnya, label dapat bertahan lebih lama daripada perilakunya sendiri.

Seorang anak yang dulu memang sering melakukan kesalahan ketika masih kecil bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. Namun, keluarganya mungkin masih melihatnya melalui kacamata masa lalu.

Ketika terjadi sesuatu, responsnya menjadi otomatis:

"Pasti dia lagi."

Padahal orang tersebut mungkin sudah berubah.

Fenomena seperti ini berkaitan dengan kecenderungan manusia mencari informasi yang sesuai dengan keyakinan yang sudah dimiliki. Dalam psikologi, hal ini sering dikaitkan dengan confirmation bias.

Ketika seseorang sudah percaya bahwa A adalah "pembuat masalah", mereka cenderung lebih mudah memperhatikan kejadian yang mendukung keyakinan tersebut dan mengabaikan kejadian yang bertentangan.

Akhirnya, ketika A melakukan sepuluh hal baik dan satu kesalahan, kesalahan itu bisa menjadi jauh lebih menonjol.

Sebaliknya, ketika orang lain melakukan kesalahan, keluarga mungkin lebih mudah memberikan alasan:

"Dia kan sedang capek."

Tetapi ketika A melakukan kesalahan:

"Memang dari dulu begitu."

Perbedaan cara menilai inilah yang dapat membuat seseorang merasa bahwa dirinya tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk dinilai secara adil.

3. Masalah Orang Lain Diproyeksikan Kepadanya

Alasan berikutnya adalah proyeksi.

Secara sederhana, proyeksi terjadi ketika seseorang sulit mengakui atau menghadapi emosi, kelemahan, konflik, atau dorongan tertentu dalam dirinya, kemudian secara tidak sadar mengaitkannya kepada orang lain.

Contohnya, seseorang dalam keluarga sebenarnya sedang merasa gagal, marah, kecewa, atau tidak berdaya.

Namun, perasaan tersebut sulit diakui.

Daripada berkata:

"Aku sedang frustrasi karena hidupku tidak berjalan sesuai harapan,"

orang tersebut mungkin mengatakan:

"Kamu yang membuat keluarga ini kacau."

Dengan begitu, masalah internal dirinya dipindahkan ke orang lain.

Dalam dinamika keluarga, anggota yang paling mudah dijadikan tempat proyeksi bisa menjadi sasaran berulang.

Misalnya, seseorang yang lebih pendiam bisa dianggap menyimpan masalah. Seseorang yang lebih tegas dianggap kasar. Seseorang yang berani menyampaikan pendapat dianggap pembangkang.

Padahal perilaku tersebut belum tentu menjadi penyebab masalah.

Kadang-kadang justru orang tersebut hanya menjadi tempat yang nyaman untuk menaruh emosi yang tidak berhasil diselesaikan oleh anggota keluarga lainnya.

Ini bukan berarti setiap tuduhan dalam keluarga adalah proyeksi.

Namun, jika tuduhan terasa tidak proporsional, berulang, dan tidak sesuai dengan fakta, ada kemungkinan masalah yang lebih besar sedang terjadi di baliknya.

4. Ia Adalah Orang yang Paling Berani Menolak Pola Lama

Menariknya, orang yang paling sering disalahkan tidak selalu merupakan orang yang paling bermasalah.

Kadang-kadang justru dia adalah orang yang paling berani mempertanyakan pola keluarga yang sudah lama dianggap normal.

Misalnya, dalam sebuah keluarga terdapat kebiasaan:

"Anak harus selalu menuruti orang tua."

Kemudian ada seorang anggota keluarga yang mulai berkata:

"Aku tidak setuju."

Atau:

"Menurutku cara seperti ini tidak benar."

Atau bahkan:

"Aku tidak mau terus diperlakukan seperti itu."

Bagi keluarga yang terbiasa dengan pola lama, keberanian tersebut dapat dianggap sebagai ancaman.

Orang tersebut kemudian diberi label:

"Susah diatur."

"Tidak menghormati keluarga."

"Sudah berubah."

"Sekarang merasa paling benar."

Padahal bisa jadi dia hanya sedang menetapkan batas yang lebih sehat.

Dalam dinamika keluarga, perubahan satu orang dapat membuat sistem keluarga terasa tidak nyaman.

Bayangkan sebuah keluarga yang selama bertahun-tahun terbiasa dengan pola komunikasi tertentu. Ketika satu orang mulai menolak pola tersebut, keseimbangan lama terganggu.

Akibatnya, keluarga bisa berusaha mengembalikan keadaan seperti sebelumnya.

Salah satu caranya adalah dengan menekan orang yang berubah melalui kritik, rasa bersalah, atau menyalahkannya.

Karena itu, terkadang orang yang dianggap "pembuat masalah" sebenarnya adalah orang yang pertama kali berani menunjukkan bahwa memang ada masalah.

5. Ia Dianggap Paling Mudah Disalahkan

Ada keluarga yang secara tidak sadar memilih orang yang dianggap paling aman untuk menjadi sasaran.

Orang tersebut mungkin memiliki sifat:

tidak suka melawan,
cenderung diam,
mudah merasa bersalah,
selalu berusaha menjaga hubungan,
takut mengecewakan orang lain,
atau terbiasa meminta maaf meskipun tidak melakukan kesalahan.

Karena responsnya selalu menerima, pola tersebut dapat terus berulang.

Misalnya:

"Kamu yang salah."

Dia menjawab:

"Maaf."

Ketika hal itu terjadi berkali-kali, anggota keluarga lain bisa belajar bahwa menyalahkan orang tersebut adalah cara yang mudah untuk mengakhiri konflik.

Bukan karena dia benar-benar bersalah, tetapi karena dia tidak memberikan perlawanan yang berarti.

Di sinilah pentingnya membedakan antara menjadi orang yang baik dengan selalu mengambil tanggung jawab atas kesalahan orang lain.

Meminta maaf ketika memang salah adalah bentuk kedewasaan.

Namun, meminta maaf hanya untuk menghentikan konflik, padahal kita tidak melakukan kesalahan, dapat membuat pola yang tidak sehat semakin kuat.

Lama-kelamaan, orang tersebut mungkin mulai berpikir:

"Mungkin memang aku yang selalu salah."

Padahal belum tentu.

6. Keluarga Mengalami Pola Komunikasi yang Tidak Sehat

Kadang-kadang akar masalahnya bukan satu orang, tetapi cara keluarga berkomunikasi.

Dalam komunikasi yang sehat, ketika terjadi masalah, anggota keluarga membicarakan:

apa yang terjadi,
siapa yang terlibat,
apa faktanya,
bagaimana perasaan masing-masing,
dan bagaimana solusinya.

Dalam pola komunikasi yang tidak sehat, proses tersebut bisa berubah menjadi:

"Siapa yang harus disalahkan?"

Perbedaannya sangat besar.

Fokus pertama adalah pemecahan masalah.

Fokus kedua adalah mencari pihak yang harus menanggung kesalahan.

Dalam keluarga yang sering menggunakan pola kedua, konflik menjadi seperti permainan mencari tersangka.

Akibatnya, orang yang tidak bersalah pun bisa terseret.

Contohnya, seorang saudara bertengkar dengan orang tua. Kemudian anggota keluarga lain ikut marah kepada seseorang yang bahkan tidak terlibat:

"Kalau kamu dari awal tidak begini, semua ini tidak akan terjadi."

Hubungan sebab-akibat menjadi sangat jauh.

Namun, karena emosi sedang tinggi, logika sering tidak digunakan secara objektif.

Jika pola ini berlangsung bertahun-tahun, anggota keluarga dapat kehilangan kemampuan untuk membedakan antara fakta, asumsi, emosi, dan tuduhan.

7. Keluarga Kesulitan Mengakui Kesalahan Sendiri

Ada keluarga yang sangat sulit mengatakan:

"Aku salah."

Mengakui kesalahan dianggap sebagai kehilangan wibawa, kelemahan, atau kekalahan.

Akibatnya, ketika terjadi masalah, orang-orang akan mencari alasan untuk mempertahankan citra dirinya.

Misalnya, seorang orang tua membuat keputusan yang keliru.

Daripada mengatakan:

"Keputusan saya memang kurang tepat,"

lebih mudah mengatakan:

"Kalau kamu tidak melakukan itu, saya tidak akan mengambil keputusan seperti ini."

Kesalahan akhirnya dipindahkan.

Dalam psikologi, manusia memang memiliki berbagai mekanisme untuk mempertahankan harga diri dan citra dirinya. Salah satunya adalah kecenderungan untuk mencari penyebab eksternal ketika mengalami kegagalan.

Dalam keluarga, mekanisme ini bisa menjadi pola yang berlangsung lama.

Ketika tidak ada yang bersedia menjadi pihak yang bertanggung jawab, satu orang akhirnya menjadi tempat untuk menampung semua kesalahan.

Yang lebih menyakitkan, orang tersebut mungkin justru menjadi korban dari keputusan orang lain.

Namun karena keluarga tidak siap menghadapi kenyataan tersebut, menyalahkan satu orang dianggap lebih mudah.

8. Peran Keluarga Sudah Terbentuk Sejak Lama dan Sulit Diubah

Keluarga bukan hanya kumpulan individu.

Keluarga juga merupakan sebuah sistem dengan pola hubungan yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Dalam sistem tersebut, setiap orang bisa mendapatkan "peran" tertentu.

Ada yang menjadi penengah.

Ada yang menjadi pencari nafkah.

Ada yang menjadi anak kebanggaan.

Ada yang menjadi pembuat suasana cair.

Ada yang menjadi tempat curhat.

Dan ada pula yang menjadi pihak yang selalu disalahkan.

Masalahnya, ketika seseorang mencoba keluar dari peran tersebut, keluarga belum tentu langsung menerimanya.

Misalnya, seseorang yang sejak kecil selalu dianggap "anak bermasalah" kemudian tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri.

Dia mulai membuat keputusan sendiri.

Dia mulai mengatakan tidak.

Dia mulai menetapkan batas.

Dia tidak lagi menerima tuduhan begitu saja.

Bagi dirinya, itu mungkin merupakan perkembangan yang sehat.

Namun bagi sistem keluarga, perubahan tersebut bisa terasa asing.

Karena itu, keluarga mungkin secara tidak sadar mencoba mengembalikannya ke posisi lama.

"Kamu memang dari dulu seperti itu."

"Jangan sok berubah."

"Kamu tetap anak yang paling susah."

Kalimat seperti itu bukan hanya kritik.

Kadang-kadang kalimat tersebut berfungsi untuk mempertahankan peran lama dalam keluarga.

Padahal manusia bisa berubah.

Seseorang tidak harus selamanya menjadi versi dirinya yang dikenal keluarganya ketika masih kecil.

Mengapa Selalu Disalahkan Bisa Berdampak Besar pada Seseorang?

Jika seseorang terus-menerus disalahkan, dampaknya tidak berhenti pada rasa kesal.

Dalam jangka panjang, pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan hubungannya dengan orang lain.

Dia mungkin mulai mengalami:

1. Meragukan dirinya sendiri

Ketika berkali-kali diberitahu bahwa dirinya adalah sumber masalah, seseorang bisa mulai mempertanyakan penilaiannya sendiri.

"Jangan-jangan memang aku yang salah."

Bahkan ketika fakta sebenarnya menunjukkan sebaliknya.

2. Terlalu cepat meminta maaf

Karena terbiasa menjadi pihak yang disalahkan, seseorang bisa meminta maaf secara otomatis hanya agar konflik berhenti.

3. Takut mengambil keputusan

Jika setiap keputusan selalu dikritik, seseorang dapat menjadi terlalu takut melakukan kesalahan.

4. Selalu berusaha menyenangkan orang lain

Dia mungkin belajar bahwa cara mendapatkan penerimaan adalah dengan tidak mengecewakan siapa pun.

Akibatnya, kebutuhan dirinya sendiri sering dikesampingkan.

5. Menjadi sangat defensif

Sebaliknya, seseorang juga bisa menjadi sangat sensitif ketika dikritik karena pengalaman masa lalu membuat kritik terasa seperti serangan.

6. Sulit mempercayai keluarga

Jika seseorang merasa bahwa keluarganya tidak pernah mau mendengarkan fakta, hubungan emosional dapat menjadi semakin jauh.

Bagaimana Mengetahui Apakah Kita Memang Disalahkan Secara Tidak Adil?

Tidak semua kritik berarti kita sedang dijadikan kambing hitam.

Kadang-kadang kita memang melakukan kesalahan.

Karena itu, penting untuk melakukan evaluasi secara objektif.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

"Apa fakta yang sebenarnya terjadi?"

Bukan:

"Apa kata mereka?"

Tetapi:

"Apa yang benar-benar aku lakukan?"

Kemudian tanyakan:

"Apakah standar yang digunakan sama untuk semua anggota keluarga?"

Jika orang lain melakukan hal yang sama tetapi mendapatkan pemakluman, sementara kita langsung disalahkan, mungkin terdapat standar yang berbeda.

Pertanyaan berikutnya:

"Apakah saya selalu menjadi tersangka pertama?"

Jika jawabannya iya, terutama tanpa adanya pemeriksaan fakta, ada kemungkinan pola lama sedang bekerja.

Dan yang tidak kalah penting:

"Apakah saya benar-benar bertanggung jawab atas masalah tersebut?"

Tanggung jawab harus berdasarkan perilaku nyata, bukan sekadar kedekatan kita dengan masalah.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Jika kamu berada dalam posisi sebagai orang yang selalu disalahkan, langkah pertama bukanlah membuktikan kepada semua orang bahwa kamu benar.

Terkadang, hal itu justru akan menguras energi.

Mulailah dengan memisahkan antara kesalahan yang memang menjadi tanggung jawabmu dan kesalahan yang bukan milikmu.

Jika memang salah, akui.

Jika tidak salah, tidak selalu perlu meminta maaf hanya untuk membuat orang lain berhenti marah.

Kamu juga dapat belajar menggunakan komunikasi yang lebih tegas.

Misalnya:

"Saya bersedia membicarakan masalah ini, tetapi saya ingin kita membicarakan fakta, bukan saling menyalahkan."

Atau:

"Kalau memang saya melakukan kesalahan, tolong jelaskan bagian mana yang saya lakukan."

Kalimat seperti ini mengubah percakapan dari tuduhan menjadi pembahasan konkret.

Jika seseorang berkata:

"Semuanya gara-gara kamu."

kamu dapat bertanya:

"Bagian mana yang menurutmu menjadi tanggung jawab saya?"

Pertanyaan tersebut memaksa percakapan kembali kepada fakta.

Namun, jika komunikasi terus berubah menjadi penghinaan, ancaman, manipulasi, atau tekanan yang berat, menjaga jarak dan mencari dukungan dari orang yang dapat dipercaya mungkin menjadi pilihan yang lebih sehat.

Dalam situasi keluarga yang sangat kompleks, berbicara dengan psikolog atau konselor juga dapat membantu seseorang memahami pola hubungan yang sedang terjadi tanpa harus mengambil kesimpulan secara terburu-buru.

Tidak Semua Tuduhan Harus Kamu Terima

Salah satu pelajaran penting dalam hubungan keluarga adalah bahwa rasa bersalah dan tanggung jawab bukanlah hal yang sama.

Kamu bisa merasa bersalah tanpa benar-benar bersalah.

Sebaliknya, seseorang juga bisa melakukan kesalahan tetapi tidak merasa bersalah.

Karena itu, perasaan saja tidak cukup untuk menentukan siapa yang benar-benar bertanggung jawab.

Jika selama bertahun-tahun kamu selalu menjadi orang pertama yang dituduh ketika terjadi masalah, cobalah berhenti sejenak.

Jangan langsung membela diri.

Jangan juga langsung meminta maaf.

Tanyakan:

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apa yang benar-benar saya lakukan?

Apa yang dilakukan orang lain?

Apakah penilaian terhadap saya sama dengan penilaian terhadap anggota keluarga lainnya?

Dan yang paling penting:

Apakah saya sedang bertanggung jawab atas kesalahan saya sendiri, atau sedang memikul kesalahan orang lain?

Karena keluarga yang sehat bukanlah keluarga yang tidak pernah memiliki konflik.

Keluarga yang sehat adalah keluarga yang mampu menghadapi konflik tanpa harus selalu mencari satu orang untuk dijadikan korban.

Setiap orang memiliki tanggung jawab atas perilakunya sendiri.

Dan seseorang tidak seharusnya terus-menerus menjadi tempat pembuangan kesalahan hanya karena keluarga sudah terbiasa menempatkannya di posisi tersebut.

Terkadang, hal paling dewasa yang bisa dilakukan bukanlah terus berusaha meyakinkan semua orang bahwa kita tidak bersalah.

Melainkan belajar memahami:

"Kesalahan yang bukan milikku, tidak harus menjadi beban yang terus kubawa."***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore