seseorang yang suka saat bertengkar dengan pasangan. (Magnific)
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (27/7), setiap hubungan memiliki dinamika yang berbeda. Ada pasangan yang menghindari konflik demi menjaga kedamaian, sementara ada pula yang lebih memilih mengungkapkan semua perasaan secara langsung, meskipun harus berakhir dengan adu argumen. Selama pertengkaran dilakukan tanpa kekerasan fisik maupun verbal yang merendahkan, konflik justru dapat menjadi sarana untuk memperkuat hubungan.
Lalu, mengapa ada pasangan yang tampak "menyukai" pertengkaran? Berikut penjelasan psikologinya.
1. Pertengkaran Menjadi Cara Melepaskan Emosi yang Terpendam
Salah satu alasan utama adalah pertengkaran memberikan kesempatan bagi kedua pasangan untuk mengeluarkan emosi yang selama ini dipendam. Menyimpan rasa kecewa, marah, atau sedih dalam waktu lama justru dapat meningkatkan stres dan menciptakan jarak emosional.
Dalam psikologi, mengungkapkan emosi secara sehat dapat membantu mengurangi tekanan batin. Setelah semua unek-unek disampaikan, pasangan sering kali merasa lebih lega dan lebih mudah memahami satu sama lain.
Namun, pelepasan emosi ini harus dilakukan dengan cara yang sehat. Berteriak, menghina, atau merendahkan pasangan justru akan memperburuk keadaan.
2. Konflik Membuat Komunikasi Menjadi Lebih Jujur
Banyak pasangan yang pada hari-hari biasa enggan membicarakan masalah kecil karena takut memicu konflik. Akibatnya, berbagai persoalan menumpuk hingga akhirnya meledak menjadi pertengkaran.
Saat bertengkar, mereka cenderung lebih jujur mengenai kebutuhan, harapan, maupun rasa kecewa yang selama ini disembunyikan. Dari sudut pandang psikologi komunikasi, keterbukaan merupakan salah satu fondasi hubungan yang sehat.
Setelah konflik selesai, banyak pasangan justru merasa komunikasi mereka menjadi lebih terbuka dibanding sebelumnya.
3. Adanya Sensasi Emosional yang Intens
Pertengkaran memicu berbagai reaksi biologis di dalam tubuh, seperti meningkatnya detak jantung, adrenalin, dan hormon stres. Setelah konflik berhasil diselesaikan, tubuh mulai melepaskan hormon yang berkaitan dengan rasa nyaman dan kedekatan.
Perubahan emosi yang drastis dari marah menuju damai membuat sebagian orang merasakan hubungan yang lebih intens. Itulah sebabnya beberapa pasangan mengaku merasa semakin dekat setelah berhasil berdamai.
Fenomena ini bukan berarti pertengkaran harus dicari, melainkan menunjukkan bahwa proses rekonsiliasi dapat memperkuat ikatan emosional.
4. Proses Berdamai Memberikan Rasa Bahagia
Bagi sebagian pasangan, momen setelah bertengkar justru menjadi bagian yang paling mereka sukai. Mereka saling meminta maaf, berpelukan, berbicara dari hati ke hati, hingga kembali menunjukkan kasih sayang.
Dalam psikologi hubungan, proses rekonsiliasi sering kali memperkuat rasa aman karena kedua belah pihak merasa tetap diterima meskipun memiliki perbedaan pendapat.
Perasaan bahwa hubungan mampu melewati konflik menciptakan keyakinan bahwa hubungan tersebut cukup kuat untuk menghadapi tantangan berikutnya.
5. Konflik Menjadi Cara Mengenal Pasangan Lebih Dalam
Seseorang sering kali menunjukkan sisi dirinya yang paling jujur ketika sedang berada di bawah tekanan. Saat bertengkar, pasangan dapat mengetahui apa yang sebenarnya membuat pasangannya sedih, marah, takut, atau merasa tidak dihargai.
Pengetahuan tersebut membantu masing-masing memahami batasan, kebutuhan emosional, serta nilai-nilai yang dimiliki pasangan.
Semakin sering konflik diselesaikan dengan baik, semakin dalam pula pemahaman terhadap karakter masing-masing.
6. Mereka Memiliki Gaya Hubungan yang Ekspresif
Tidak semua orang dibesarkan dalam lingkungan yang sama. Ada individu yang terbiasa mengungkapkan perasaan secara terbuka, bahkan dengan nada suara tinggi. Bagi mereka, berdebat bukan berarti membenci pasangan, tetapi merupakan bentuk komunikasi yang normal.
Dalam psikologi dikenal bahwa setiap individu memiliki gaya komunikasi berbeda. Pasangan dengan gaya komunikasi ekspresif sering kali terlihat lebih sering bertengkar dibanding pasangan yang tenang, padahal tingkat kepuasan hubungan mereka bisa saja sama baiknya.
Yang membedakan adalah bagaimana konflik tersebut diakhiri.
7. Pertengkaran Memberikan Kesempatan untuk Memperbaiki Hubungan
Setiap konflik sebenarnya mengandung informasi penting mengenai apa yang perlu diperbaiki dalam hubungan.
Misalnya, pertengkaran tentang pembagian waktu bisa menunjukkan bahwa salah satu pasangan merasa kurang diperhatikan. Konflik mengenai keuangan mungkin menandakan perlunya perencanaan bersama yang lebih matang.
Dengan kata lain, pertengkaran dapat menjadi "alarm" yang mengingatkan bahwa ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Pasangan yang mampu melihat konflik sebagai kesempatan belajar cenderung lebih mudah berkembang bersama dibanding mereka yang terus menghindari masalah.
8. Mereka Merasa Hubungan Tetap Aman Meski Berbeda Pendapat
Alasan terakhir adalah adanya rasa aman secara emosional. Pasangan yang memiliki kepercayaan tinggi satu sama lain tidak mudah menganggap pertengkaran sebagai ancaman putus hubungan.
Mereka percaya bahwa meskipun sedang berbeda pendapat, hubungan tetap dapat diperbaiki melalui komunikasi dan kompromi.
Dalam psikologi, kondisi ini disebut sebagai emotional security atau rasa aman emosional. Ketika seseorang merasa diterima apa adanya, ia lebih berani menyampaikan pendapat tanpa takut kehilangan pasangan.
Akibatnya, pertengkaran tidak lagi dipandang sebagai akhir dari hubungan, melainkan bagian alami dari proses bertumbuh bersama.
Kapan Pertengkaran Menjadi Tidak Sehat?
Meskipun konflik bisa memberikan manfaat, bukan berarti semua pertengkaran baik untuk hubungan. Konflik sudah tergolong tidak sehat apabila melibatkan:
Kekerasan fisik.
Ancaman atau intimidasi.
Penghinaan dan kata-kata yang merendahkan.
Manipulasi emosional.
Mengungkit kesalahan lama tanpa tujuan menyelesaikan masalah.
Mendiamkan pasangan dalam waktu lama sebagai bentuk hukuman.
Jika pola-pola tersebut terus terjadi, hubungan berisiko mengalami kerusakan emosional yang serius dan mungkin memerlukan bantuan profesional.
Cara Bertengkar yang Sehat Menurut Psikologi
Agar konflik benar-benar membawa manfaat, beberapa prinsip berikut dapat diterapkan:
Fokus pada masalah, bukan menyerang karakter pasangan.
Dengarkan hingga pasangan selesai berbicara.
Hindari kata-kata yang bersifat mutlak seperti "selalu" atau "tidak pernah".
Ambil jeda jika emosi sudah terlalu tinggi.
Cari solusi bersama, bukan mencari siapa yang menang.
Akhiri konflik dengan saling memahami dan memaafkan.
Kesimpulan
Pertengkaran bukan selalu pertanda hubungan yang buruk. Menurut psikologi, konflik dapat menjadi sarana untuk memperbaiki komunikasi, mengenal pasangan lebih dalam, memperkuat ikatan emosional, serta meningkatkan rasa saling percaya. Tidak sedikit pasangan yang merasa hubungan mereka justru semakin erat setelah berhasil melewati konflik dengan cara yang sehat.
Meski demikian, manfaat tersebut hanya dapat diperoleh apabila pertengkaran dilakukan dengan saling menghormati dan berfokus pada penyelesaian masalah. Jika konflik berubah menjadi kekerasan, penghinaan, atau manipulasi, maka pertengkaran tidak lagi bersifat membangun, melainkan merusak hubungan.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
