Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Juli 2026 | 06.19 WIB

8 Alasan Mengapa Sebagian Orang Tetap Bertahan dalam Hubungan yang Kerap Menyakiti Dirinya Menurut Psikologi

seseorang yang bertahan dalam hubungan yang sulit. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Hubungan asmara seharusnya menjadi tempat yang memberikan rasa aman, nyaman, dan saling mendukung. Namun, pada kenyataannya tidak sedikit orang yang justru bertahan dalam hubungan yang dipenuhi luka emosional, manipulasi, penghinaan, bahkan kekerasan. Dari luar, keputusan tersebut mungkin tampak sulit dipahami. Banyak orang bertanya, "Mengapa tidak segera pergi?"


Menurut psikologi, keputusan untuk tetap bertahan dalam hubungan yang menyakitkan bukanlah sekadar soal lemah atau tidak berani. Ada banyak faktor psikologis yang saling berkaitan, mulai dari pengalaman masa kecil, kondisi emosional, hingga cara seseorang memandang dirinya sendiri. Memahami alasan-alasan ini dapat membantu kita melihat situasi tersebut dengan lebih empati, bukan dengan menghakimi.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (27/7), terdapat delapan alasan mengapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang terus menyakitinya menurut sudut pandang psikologi.

1. Takut Kesepian

Salah satu alasan paling umum adalah rasa takut akan kesendirian. Dalam psikologi, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa diterima dan memiliki ikatan dengan orang lain.

Bagi sebagian orang, membayangkan hidup sendiri terasa lebih menakutkan daripada tetap berada dalam hubungan yang tidak sehat. Mereka khawatir tidak akan menemukan pasangan lain, kehilangan tempat berbagi cerita, atau merasa hidupnya menjadi kosong.

Akibatnya, mereka memilih bertahan meskipun harus terus mengalami rasa sakit secara emosional.

2. Memiliki Harga Diri yang Rendah

Harga diri yang rendah membuat seseorang merasa dirinya tidak layak mendapatkan perlakuan yang lebih baik.

Korban sering kali mulai mempercayai ucapan-ucapan negatif dari pasangannya, seperti dianggap tidak cukup baik, tidak menarik, atau tidak akan dicintai oleh orang lain. Lama-kelamaan keyakinan tersebut tertanam dalam pikirannya.

Psikologi menjelaskan bahwa ketika seseorang memiliki self-esteem yang rendah, ia lebih mudah menerima perlakuan buruk karena merasa itulah yang pantas ia terima.

3. Terjebak dalam Siklus Kekerasan

Dalam banyak hubungan yang tidak sehat terdapat pola yang disebut cycle of abuse atau siklus kekerasan.

Biasanya hubungan berjalan melalui beberapa tahap:

Terjadi konflik atau pertengkaran.
Pasangan melakukan kekerasan atau menyakiti.
Setelah itu ia meminta maaf, menunjukkan penyesalan, dan menjadi sangat perhatian.
Hubungan kembali terasa harmonis untuk sementara sebelum akhirnya kekerasan terulang.

Fase "bulan madu" ini sering memberikan harapan bahwa pasangan benar-benar telah berubah, sehingga korban kembali bertahan.

4. Ikatan Trauma (Trauma Bonding)

Trauma bonding merupakan kondisi ketika seseorang membentuk ikatan emosional yang sangat kuat dengan orang yang justru menyakitinya.

Ikatan ini muncul karena adanya pergantian antara perlakuan buruk dan kasih sayang. Ketika pasangan sesekali menunjukkan perhatian atau cinta, otak melepaskan hormon yang memberikan rasa lega dan bahagia.

Akibatnya, korban menjadi semakin sulit melepaskan hubungan tersebut meskipun sadar dirinya sering terluka.

5. Berharap Pasangan Akan Berubah

Harapan adalah salah satu alasan terbesar seseorang tetap bertahan.

Korban sering mengingat masa-masa indah di awal hubungan atau percaya bahwa pasangan sebenarnya orang baik yang sedang mengalami masalah. Mereka yakin bahwa dengan lebih banyak kesabaran, perhatian, atau pengorbanan, pasangan akhirnya akan berubah.

Sayangnya, perubahan yang nyata hanya dapat terjadi apabila pelaku benar-benar menyadari perilakunya dan berkomitmen untuk memperbaikinya secara konsisten.

6. Ketergantungan Emosional atau Finansial

Hubungan yang tidak sehat sering kali membuat seseorang kehilangan kemandiriannya.

Ada yang bergantung secara emosional karena merasa hanya pasangan tersebut yang memahami dirinya. Ada pula yang bergantung secara ekonomi sehingga khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup apabila hubungan berakhir.

Ketergantungan ini membuat keputusan untuk pergi terasa jauh lebih rumit daripada yang terlihat dari luar.

7. Pengalaman Masa Kecil

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil dapat memengaruhi cara seseorang menjalin hubungan saat dewasa.

Seseorang yang tumbuh dalam keluarga penuh konflik, kekerasan verbal, atau kurang kasih sayang mungkin menganggap hubungan yang penuh pertengkaran sebagai sesuatu yang "normal". Tanpa disadari, ia mengulangi pola hubungan yang pernah ia lihat sejak kecil.

Inilah mengapa pengalaman masa lalu sering memiliki pengaruh besar terhadap pilihan pasangan dan cara seseorang mempertahankan hubungan.

8. Takut Akan Konsekuensi Setelah Berpisah

Tidak semua orang dapat meninggalkan hubungan beracun dengan mudah.

Sebagian korban takut terhadap ancaman pasangan, takut kehilangan anak, takut dijauhi keluarga, malu terhadap lingkungan, atau khawatir menjadi sasaran balas dendam.

Ketakutan tersebut dapat membuat seseorang merasa bahwa bertahan adalah pilihan yang lebih aman, meskipun sebenarnya ia terus mengalami penderitaan.

Penutup

Bertahan dalam hubungan yang menyakitkan bukan berarti seseorang lemah atau tidak memiliki harga diri. Dalam banyak kasus, keputusan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis yang kompleks, seperti trauma, rasa takut, ketergantungan, hingga pengalaman masa kecil.

Karena itu, orang yang berada dalam situasi seperti ini lebih membutuhkan dukungan, empati, dan akses terhadap bantuan profesional daripada penilaian atau kritik. Dengan dukungan yang tepat, seseorang dapat membangun kembali kepercayaan dirinya, mengenali pola hubungan yang tidak sehat, dan mengambil keputusan yang lebih baik bagi kesejahteraan emosionalnya.

Catatan: Jika hubungan melibatkan kekerasan fisik, ancaman, kontrol yang berlebihan, atau membuat Anda merasa tidak aman, penting untuk mencari bantuan dari orang yang dipercaya, layanan pendampingan korban, atau psikolog. Keselamatan dan kesehatan mental merupakan prioritas utama.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore