Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 26 Juli 2026 | 23.36 WIB

Narsisme dan Hubungan Romantis: Mengapa Kita Sering Mengulangi Pola yang Sama?

ilustrasi gambar dari pinterest/myriam van

 

 
JawaPos.com – Hubungan romantis dengan pasangan yang memiliki sifat narsistik sering kali membuat seseorang merasa terjebak.
 
Meski hubungan tersebut dipenuhi konflik, kekecewaan, atau rasa tidak dihargai, banyak orang tetap sulit untuk pergi.
 
Dikutip dari Psychology Today, kondisi ini tidak semata-mata disebabkan oleh cinta, tetapi juga berkaitan dengan luka emosional lama yang belum terselesaikan.
 
Penjelaskan bahwa pengalaman emosional di masa kecil dapat membentuk pola hubungan ketika seseorang dewasa.
 
Luka akibat kurangnya penerimaan, pengabaian, atau kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dapat mendorong seseorang tanpa sadar mencari pasangan yang memunculkan dinamika serupa.
 
Fenomena ini dikenal sebagai repetition compulsion, yaitu kecenderungan mengulang pola hubungan yang menyakitkan dengan harapan memperoleh hasil yang berbeda.
 
Dalam hubungan seperti ini, pasangan yang memiliki sifat narsistik sering tampak menawan, percaya diri, dan penuh perhatian pada awal hubungan.
 
Namun seiring waktu, hubungan dapat berubah menjadi lebih berat karena muncul kebutuhan akan validasi yang berlebihan, kesulitan berempati, atau pola interaksi yang berpusat pada diri sendiri.
 
Bagi pasangannya, dinamika tersebut dapat memicu kebingungan emosional dan membuat hubungan terasa sulit diputus meski sudah tidak sehat.
 
Pil pahit yang perlu diterima adalah menyadari bahwa seseorang tidak bisa mengubah pasangan hanya dengan memberikan lebih banyak cinta, kesabaran, atau pengorbanan.
 
Langkah pertama untuk memutus siklus tersebut justru dimulai dengan mengenali pola hubungan yang berulang, memahami asal-usul luka emosional diri sendiri, dan menerima bahwa perubahan hanya mungkin terjadi jika kedua belah pihak benar-benar ingin berubah.
 
Meski demikian, memiliki sifat narsistik tidak selalu berarti seseorang mengalami Narcissistic Personality Disorder (NPD), dan tidak semua hubungan yang sulit disebabkan oleh narsisme.
 
Jika pola hubungan terus menimbulkan tekanan emosional, rasa tidak aman, atau mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari dukungan dari psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat membantu memahami dinamika hubungan serta membangun relasi yang lebih sehat di masa depan.
 
 
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore