Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 Juli 2026 | 16.04 WIB

8 Alasan Mengapa Kerja Jarak Jauh Lebih Merugikan Karier Awal Dibandingkan dengan Kemunculan AI Menurut Psikologi

seseorang yang kerja jarak jauh. (magnific)

 

 
JawaPos.com - Kemunculan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sering dianggap sebagai ancaman terbesar bagi dunia kerja. Banyak pekerja muda khawatir bahwa AI akan menggantikan pekerjaan mereka, mengurangi peluang karier, atau membuat keterampilan yang mereka pelajari menjadi usang. Namun, dari sudut pandang psikologi organisasi dan psikologi perkembangan karier, terdapat faktor lain yang sering luput dari perhatian: kerja jarak jauh (remote work).


Bagi karyawan yang sudah berpengalaman, bekerja dari rumah menawarkan fleksibilitas, keseimbangan hidup, dan efisiensi. Akan tetapi, bagi mereka yang baru memasuki dunia kerja, kerja jarak jauh justru dapat menghambat perkembangan karier secara signifikan. AI memang mengubah cara bekerja, tetapi kerja jarak jauh dapat mengurangi kesempatan seseorang untuk belajar, membangun relasi, memperoleh bimbingan, hingga membentuk identitas profesional.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (15/7), terdapat delapan alasan mengapa kerja jarak jauh berpotensi lebih merugikan karier awal dibandingkan kemunculan AI jika ditinjau dari perspektif psikologi.

1. Hilangnya Pembelajaran Sosial (Social Learning)

Psikolog Albert Bandura menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi terhadap orang lain. Di tempat kerja, karyawan baru tidak hanya belajar dari pelatihan resmi, tetapi juga dari mengamati bagaimana rekan kerja berkomunikasi, menyelesaikan konflik, menghadapi pelanggan, hingga mengambil keputusan.

Ketika bekerja secara jarak jauh, kesempatan belajar melalui pengamatan menjadi jauh lebih sedikit. Pertemuan virtual biasanya hanya berfokus pada tugas, bukan proses berpikir di balik keputusan.

Sebaliknya, AI justru dapat membantu proses belajar melalui tutorial, simulasi, atau pemberian umpan balik secara instan. Dengan kata lain, AI tidak menghilangkan kesempatan belajar sosial, sedangkan kerja jarak jauh dapat menguranginya secara drastis.

2. Mentor Menjadi Kurang Mudah Diakses

Karier awal sangat bergantung pada keberadaan mentor.

Dalam lingkungan kantor, percakapan singkat di lorong, saat makan siang, atau setelah rapat sering kali menjadi momen berharga untuk mendapatkan arahan dan masukan.

Secara psikologis, hubungan mentor dan mentee berkembang melalui interaksi yang spontan dan berulang. Hubungan seperti ini jauh lebih sulit tercipta melalui panggilan video yang harus dijadwalkan terlebih dahulu.

AI memang dapat menjawab pertanyaan teknis, tetapi AI belum mampu menggantikan empati, pengalaman hidup, serta penilaian kontekstual yang dimiliki mentor manusia.

3. Sulit Membangun Identitas Profesional

Menurut teori Identitas Sosial, seseorang membangun identitas dirinya melalui interaksi dengan kelompok tempat ia berada.

Karyawan baru membutuhkan pengalaman menjadi bagian dari budaya organisasi. Mereka belajar mengenai nilai perusahaan, gaya komunikasi, hingga norma kerja melalui interaksi sehari-hari.

Dalam sistem kerja jarak jauh, rasa memiliki terhadap organisasi cenderung lebih rendah. Akibatnya, proses pembentukan identitas profesional menjadi lebih lambat.

AI tidak menghambat proses ini secara langsung. Sebaliknya, AI hanyalah alat yang digunakan dalam pekerjaan.

4. Visibilitas Menurun dan Peluang Promosi Berkurang

Fenomena yang dikenal sebagai proximity bias menunjukkan bahwa atasan cenderung lebih mengenal dan mengingat karyawan yang sering berinteraksi secara langsung.

Walaupun banyak perusahaan berusaha bersikap objektif, penelitian psikologi organisasi menunjukkan bahwa kedekatan fisik masih memengaruhi persepsi mengenai kontribusi, komitmen, dan potensi kepemimpinan seseorang.

Karyawan baru yang bekerja sepenuhnya dari rumah berisiko kurang dikenal oleh manajemen.

AI mungkin mengubah jenis pekerjaan, tetapi AI tidak secara langsung mengurangi visibilitas individu di dalam organisasi sebagaimana kerja jarak jauh dapat melakukannya.

5. Berkurangnya Umpan Balik yang Bersifat Spontan

Pembelajaran paling efektif sering terjadi melalui umpan balik yang diberikan segera setelah suatu tindakan dilakukan.

Di kantor, seorang atasan dapat langsung mengatakan:

"Presentasimu tadi bagus, tetapi bagian penutup bisa diperkuat."
"Cara kamu menjawab klien sudah tepat."
"Coba gunakan pendekatan yang berbeda pada rapat berikutnya."

Masukan seperti ini sering muncul secara alami.

Dalam lingkungan remote, umpan balik biasanya baru diberikan saat evaluasi mingguan atau bulanan sehingga kehilangan momentum pembelajaran.

Secara psikologis, semakin cepat umpan balik diberikan, semakin besar kemungkinan seseorang memperbaiki perilakunya.

6. Jaringan Profesional Berkembang Lebih Lambat

Kesuksesan karier tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh jaringan sosial.

Psikologi jaringan (social network theory) menunjukkan bahwa banyak peluang karier muncul dari hubungan informal.

Percakapan santai sebelum rapat, makan siang bersama, atau sekadar bertemu di pantry sering kali menghasilkan koneksi yang berguna di masa depan.

Kerja jarak jauh menghilangkan sebagian besar kesempatan tersebut.

Sementara itu, AI bahkan dapat membantu memperluas jaringan melalui rekomendasi kontak, analisis profil profesional, atau otomatisasi komunikasi.

7. Risiko Kesepian dan Penurunan Motivasi

Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa terhubung dengan orang lain.

Self-Determination Theory menjelaskan bahwa rasa memiliki (relatedness) merupakan salah satu kebutuhan psikologis utama selain kompetensi dan otonomi.

Karyawan baru yang bekerja sendirian di rumah lebih rentan mengalami:

kesepian,
stres,
motivasi menurun,
serta keterikatan yang rendah terhadap perusahaan.

Penelitian menunjukkan bahwa isolasi sosial dalam pekerjaan dapat menurunkan kepuasan kerja dan meningkatkan keinginan untuk resign.

AI memang dapat mengubah cara bekerja, tetapi AI bukan penyebab utama hilangnya hubungan sosial antarmanusia.

8. AI Lebih Mudah Dipelajari daripada Pengalaman Sosial

Keterampilan menggunakan AI dapat dipelajari melalui kursus, latihan, dan pengalaman dalam waktu yang relatif singkat.

Sebaliknya, kemampuan membangun hubungan kerja, membaca dinamika organisasi, memahami politik kantor, bernegosiasi, memimpin rapat, dan mengembangkan kepercayaan membutuhkan pengalaman sosial bertahun-tahun.

Psikologi perkembangan karier menunjukkan bahwa kompetensi interpersonal berkembang melalui paparan situasi nyata, bukan sekadar teori.

Jika kesempatan memperoleh pengalaman tersebut berkurang akibat kerja jarak jauh, maka perkembangan karier dapat tertunda dalam jangka panjang.

Apakah Ini Berarti Remote Work Selalu Buruk?

Tentu tidak.

Kerja jarak jauh memiliki banyak manfaat, seperti fleksibilitas, efisiensi waktu, pengurangan biaya transportasi, serta peningkatan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Namun manfaat tersebut lebih banyak dirasakan oleh pekerja yang sudah memiliki:

pengalaman,
jaringan profesional,
reputasi,
serta kemampuan bekerja secara mandiri.

Sebaliknya, bagi mereka yang baru memulai karier, bekerja sepenuhnya dari rumah dapat mengurangi kesempatan belajar yang sangat penting pada fase awal perkembangan profesional.

Model kerja hibrida sering dianggap sebagai jalan tengah yang lebih ideal karena memungkinkan karyawan memperoleh manfaat fleksibilitas sekaligus tetap mendapatkan pembelajaran sosial yang sulit digantikan oleh teknologi.

Kesimpulan

AI memang mengubah dunia kerja dan mendorong setiap individu untuk terus belajar keterampilan baru. Namun, dari perspektif psikologi, ancaman terbesar bagi perkembangan karier pada tahap awal bukanlah AI itu sendiri, melainkan hilangnya kesempatan untuk belajar melalui interaksi langsung dengan manusia.

Karier tidak hanya dibangun melalui kemampuan teknis, tetapi juga melalui hubungan sosial, observasi, bimbingan mentor, umpan balik, dan pengalaman sehari-hari di lingkungan kerja. Semua aspek tersebut jauh lebih sulit diperoleh ketika seseorang bekerja sepenuhnya secara jarak jauh.

Oleh karena itu, bagi lulusan baru atau profesional muda, tantangan terbesar bukan sekadar beradaptasi dengan AI, melainkan memastikan bahwa mereka tetap memperoleh pengalaman sosial dan pembelajaran langsung yang menjadi fondasi pertumbuhan karier jangka panjang.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore