Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 Juli 2026 | 15.50 WIB

Penelitian Psikologi Menunjukkan 6 Alasan yang Mendorong Gaya Mendengarkan Musik Anda

seseorang yang yang senang mendengarkan musik. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Musik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir setiap orang memiliki lagu favorit, genre kesukaan, hingga kebiasaan mendengarkan musik yang berbeda-beda. Ada yang hanya mendengarkan musik saat bekerja, ada yang selalu memakai headphone ketika bepergian, dan ada pula yang menjadikan musik sebagai teman setia saat menghadapi berbagai emosi.


Menariknya, psikologi modern menemukan bahwa preferensi musik bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Cara seseorang memilih lagu, kapan mereka mendengarkannya, bahkan genre yang mereka sukai sering kali dipengaruhi oleh faktor psikologis yang kompleks. Penelitian menunjukkan bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga menjadi alat untuk mengatur emosi, membangun identitas, mempererat hubungan sosial, hingga membantu fungsi otak.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (15/7), terdapat enam alasan utama menurut penelitian psikologi yang mendorong gaya seseorang dalam mendengarkan musik.

1. Mengatur dan Menenangkan Emosi

Alasan paling umum orang mendengarkan musik adalah untuk mengelola emosi. Psikolog menyebutnya sebagai emotion regulation, yaitu kemampuan seseorang menggunakan musik untuk mengubah atau mempertahankan suasana hati.

Ketika merasa sedih, seseorang mungkin memilih lagu yang lembut atau melankolis karena merasa lagu tersebut "memahami" perasaannya. Sebaliknya, saat membutuhkan semangat, musik dengan tempo cepat dan ritme energik sering menjadi pilihan.

Penelitian menunjukkan bahwa musik dapat membantu menurunkan tingkat stres dengan mengurangi produksi hormon kortisol. Selain itu, mendengarkan musik yang disukai juga dapat meningkatkan pelepasan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan.

Karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang memiliki playlist khusus untuk bekerja, berolahraga, belajar, bersantai, atau bahkan untuk mengatasi kecemasan.

2. Mencerminkan Kepribadian

Selera musik sering kali menjadi cerminan karakter seseorang. Berbagai penelitian menemukan adanya hubungan antara preferensi musik dan dimensi kepribadian.

Sebagai contoh:

Pecinta musik klasik dan jazz cenderung memiliki tingkat keterbukaan terhadap pengalaman (openness) yang tinggi.
Penggemar musik rock sering dikaitkan dengan sifat kreatif dan ekspresif.
Penikmat musik pop biasanya menyukai interaksi sosial dan hal-hal yang familier.
Pecinta musik elektronik sering mencari stimulasi dan pengalaman baru.

Meskipun hubungan ini tidak berlaku mutlak untuk semua orang, pola tersebut cukup konsisten ditemukan dalam berbagai penelitian lintas budaya.

Dengan kata lain, musik menjadi salah satu cara seseorang mengekspresikan siapa dirinya kepada dunia.

3. Membentuk Identitas Diri

Musik juga membantu seseorang memahami dan membangun identitasnya.

Pada masa remaja, misalnya, banyak orang mulai mengeksplorasi berbagai genre musik untuk menemukan komunitas yang sesuai dengan nilai dan minat mereka. Genre tertentu sering dikaitkan dengan gaya berpakaian, pandangan hidup, hingga budaya tertentu.

Playlist pribadi bahkan dapat berfungsi layaknya "buku harian". Lagu-lagu tertentu mengingatkan seseorang pada masa sekolah, hubungan asmara, perjalanan hidup, atau pencapaian penting.

Dalam psikologi perkembangan, musik dianggap membantu seseorang membangun narasi tentang dirinya sendiri. Oleh karena itu, lagu favorit seseorang sering kali memiliki makna emosional yang jauh lebih besar daripada sekadar melodi.

4. Membangun Hubungan Sosial

Musik memiliki kekuatan untuk menyatukan orang-orang dengan minat yang sama.

Konser, festival musik, komunitas penggemar, hingga aktivitas berbagi playlist di media sosial memperlihatkan bahwa musik merupakan sarana membangun koneksi sosial.

Penelitian psikologi sosial menemukan bahwa orang cenderung merasa lebih dekat dengan individu yang memiliki selera musik serupa. Kesamaan preferensi musik bahkan dapat meningkatkan rasa percaya, empati, dan kenyamanan dalam berinteraksi.

Selain itu, bernyanyi bersama atau memainkan musik dalam kelompok dapat meningkatkan rasa kebersamaan karena memicu pelepasan hormon oksitosin yang berkaitan dengan ikatan sosial.

Tidak heran jika musik sering hadir dalam berbagai perayaan, upacara adat, hingga kegiatan keagamaan di hampir seluruh budaya di dunia.

5. Menyesuaikan Aktivitas Sehari-hari

Banyak orang memilih musik berdasarkan aktivitas yang sedang dilakukan.

Misalnya:

Musik instrumental untuk meningkatkan fokus saat belajar.
Musik berirama cepat ketika berolahraga.
Musik santai saat berkendara.
Musik ambient ketika ingin tidur atau bermeditasi.

Psikologi kognitif menjelaskan bahwa musik dapat memengaruhi tingkat kewaspadaan, konsentrasi, dan motivasi seseorang.

Tempo, ritme, serta intensitas musik memberikan sinyal kepada otak mengenai tingkat energi yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, lagu dengan tempo tinggi sering membuat seseorang bergerak lebih cepat, sedangkan musik lambat membantu tubuh memasuki kondisi lebih rileks.

Namun, efek ini juga dipengaruhi oleh preferensi individu. Musik yang membantu seseorang fokus belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain.

6. Membangkitkan Kenangan dan Nostalgia

Salah satu kekuatan terbesar musik adalah kemampuannya membangkitkan memori.

Otak menyimpan hubungan yang kuat antara musik, emosi, dan pengalaman hidup. Ketika seseorang mendengar lagu yang pernah populer pada masa tertentu, kenangan lama dapat muncul secara spontan.

Fenomena ini dikenal sebagai music-evoked autobiographical memory.

Misalnya, sebuah lagu dapat langsung mengingatkan seseorang pada masa SMA, perjalanan pertama bersama keluarga, atau momen penting dalam hidupnya. Karena emosi ikut tersimpan bersama memori tersebut, kenangan yang muncul sering terasa sangat nyata.

Inilah sebabnya banyak orang tetap menyimpan lagu-lagu lama di playlist mereka meskipun tren musik telah berubah.

Faktor Lain yang Turut Memengaruhi Selera Musik

Selain enam alasan utama di atas, gaya mendengarkan musik juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, antara lain:

Usia dan tahap perkembangan kehidupan.
Budaya tempat seseorang tumbuh.
Pengaruh keluarga dan teman sebaya.
Paparan media sosial serta platform streaming.
Pengalaman hidup dan kondisi emosional.
Lingkungan tempat tinggal.

Semua faktor tersebut saling berinteraksi sehingga setiap orang memiliki pengalaman bermusik yang unik.

Apakah Selera Musik Bisa Berubah?

Jawabannya adalah ya.

Selera musik bersifat dinamis. Seiring bertambahnya usia, perubahan lingkungan, serta pengalaman hidup, seseorang dapat mulai menikmati genre yang sebelumnya tidak disukai.

Misalnya, seseorang yang semasa remaja gemar mendengarkan musik rock mungkin kemudian menyukai jazz atau musik klasik ketika memasuki usia dewasa karena kebutuhan emosional dan gaya hidupnya berubah.

Perubahan ini merupakan bagian normal dari perkembangan psikologis manusia.

Kesimpulan

Psikologi menunjukkan bahwa gaya mendengarkan musik dipengaruhi oleh lebih dari sekadar selera. Musik membantu manusia mengatur emosi, mencerminkan kepribadian, membangun identitas diri, memperkuat hubungan sosial, mendukung berbagai aktivitas sehari-hari, serta membangkitkan kenangan yang bermakna.

Pada akhirnya, playlist yang Anda dengarkan setiap hari bukan hanya kumpulan lagu. Di balik setiap pilihan musik terdapat cerita tentang pengalaman hidup, kondisi emosional, nilai-nilai, dan cara otak Anda berinteraksi dengan dunia. Itulah sebabnya musik menjadi salah satu bentuk ekspresi manusia yang paling universal sekaligus paling personal.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore